
"Kevin? kamu panggil Lee sana. Suruh dia untuk turun, Papa lihat seharian ini nggak menyentuh makanan ataupun minum." titah Fadly disela sela makan nya.
"Nanti juga turun. Mungkin dia sedang pms, jadi malas, makan aja harus dipanggil, dasar bocah." ujar Kevin masih enggan ia tak peduli.
Tak selang lama Lee baru datang bergabung dengan mereka.
"Itu kak Tae Yeong." ucap Hana.
"Nak! kamu sakit. Atau kenapa? kok kelihatan tidak bersemangat." tanya Fadly.
"No. Aku hanya kelelahan, banyak pekerjaan juga yang harus dikerjakan." jawab Lee.
Hana menyenggol lengan suaminya. "Ada apa?" tanya Kevin menaikkan dagunya mendekatkan telinganya.
Terjadilah saling berbisik di ruang makan, asyik sendiri.
"Kevin? Hana. Habiskan makanan nya, kalian malah bermain." ucap Sinta mengamatinya.
"I-iya mah? maaf. My Prince, kamu mau nambah lagi." ujar Hana suaminya ketiga kalinya menambah makanan.
"Honey. Suamimu memang rakus, semua makanan dia makan." lirih Lee pelan.
Kevin menatap saudara kembarnya tajam ia sedikit mendengar ucapannya kalau tidak ada orang tuanya sudah dipastikan terjadi perdebatan diantara keduanya gara gara masalah sepele.
Di dalam kamar...
"My Prince. Menurutmu, melahirkan itu sakit atau tidak." ucap Hana sembari memainkan ponselnya.
"Kamu tanya aku. Lah! aku mau tanya siapa? mungkin mama tau." ujar Kevin memijat kaki istrinya.
"Memang mama pernah melahirkan. Kapan? dimana anaknya? berarti kamu punya adik dong! atau kakak sambung, kenapa baru kasih tau? kita menikah sudah beberapa lama sih! ceritanya mau main rahasia nih! sama istri sendiri." tanya Hana berkali kali.
Pipi Hana dicubit gemas oleh suaminya dan mengecup bibirnya.
"BABY. Aku tidak bermaksud begitu, kita semua sepakat untuk tidak membahasnya, sama saja telah membuka luka lama." ucap Kevin meraih tangan istrinya.
"Maksudmu. Luka apa?" tanya Hana memelankan suaranya.
Kevin menjelaskan tentang Sinta ibu angkatnya, dulu sempat mengandung sampai usia delapan bulan, sayangnya janinnya tidak selamat dikarenakan menyelamatkan dirinya dari aksi penculikan dan perampokan di keluarga Pratama, Sinta tertembak dibagian perut sampai pendarahan hebat, pilihannya ada dua, nyawa ibunya atau anak dikandungnya, akan tetapi Fadly lebih memilih istrinya, walaupun hatinya sakit karena kehilangan calon anaknya sendiri.
"My Prince. Maaf aku tidak tau, apa itu sebabnya kamu bersikap posesif." ujar Hana.
"Bukan, tapi lebih tepatnya khawatir. BABY?" ucap Kevin menekankan mengecup perut istrinya.
"Kamu melupakan sesuatu. Aku juga mau." ujar Hana melirik suaminya.
"Ooh. BABY junior? ceritanya mommy kamu cemburu nih!" goda Kevin.
Hana tersenyum ketika dirinya dicium beberapa kali oleh Kevin di bagian wajahnya.
"Aaah! aku rasa terjadi sesuatu pada hatiku. Seperti." ucap Hana sedikit manja.
"Ada apa? kamu sakit. BABY? jawab dong!" cela Kevin.
Rasanya ingin tertawa melihat ekpresi wajah sang suami, Hana bermaksud untuk menggodanya jawabannya malah sebaliknya.
"Hmm...! hatiku terasa meleleh karena sikap romantismu padaku." jelas Hana dianggukinya.
Esok harinya...
Kevin dan Hana bersantai di balkon kamarnya sembari menyantap cemilan merangkul satu sama lain menikmati pemandangan menara eiffel di pagi hari.
"My Prince. Bagaimana kalau kita kesana." ujar Hana menunjuk ke arah menara eiffel menjulang tinggi dari kejauhan.
"Bisa saja. Tapi tidak untuk sekarang." ujar Kevin.
Hana menyerngitkan dahinya. "lho! kenapa?" tanya nya.
"BABY. Setidaknya bisa kan nurut sama suami, sebagai istri tidak boleh membantah, kita tunggu sampai baby junior lahir, setelah itu aku ajak kamu kemana saja." jawab Kevin menyangga wajah istrinya dengan kedua tangannya tak lupa untuk mengecup bibir manisnya.
Hana masih saja cemberut melirik suaminya tajam.
"Aku pegang janjimu. Kamu harus menepati nya, nggak boleh ingkar ataupun mencari alasan lain." ucap Hana.
"Siap Tuan Putri cantikku. Memangnya kamu mau kemana?" tanya Kevin.
"Emm...! keliling dunia." jawab Hana.
Kevin terlihat berfikir manik matanya kenan dan kiri.
"Bagaimana caranya. Dunia ini sangat luas, kita akan sangat susah untuk menjelajahi nya." ujar Kevin mendapat cubitan keras.
Haa...haa...haa. "Bercanda. Ya ampun BABY, wajahmu semakin lucu deh! seperti bapau, emm...! gemes." ujar Kevin disela sela tawanya memasang wajah imutnya.
"Ishh...! bapau. Mau dong! kayaknya enak pagi pagi makan itu, ada nggak disini." ucap Hana bermaksud untuk mengerjai nya.
"Mana ada. Palingan juga kue macaron, ini sudah ada di depan kita." ujar Kevin menunjukan cemilan berbentuk warna warni itu ada di atas meja.
"Nggak mau ah! aku kan udah manis. Nanti diabetes karena kelebihan gula." ucap Hana sembari memakan macaron nya.
Kevin hanya menggeleng pelan melihat kelakuan istrinya baginya itu sangat menggemaskan.
Tanpa sadar Hana memakannya sampai habis hingga gigitan terakhir ia teramat menikmatinya.
"Bagaimana? enak nggak rasanya. Katanya takut diabetes, ini malah dihabiskan semuanya, setidaknya sisakan satu untukku." ujar Kevin membuat Hana tersenyum kaku mengunyah gigitan terakhirnya.
"Hmm...! lumayan. Pertama kalinya aku merasakan kue seenak ini, kenapa di rumah kita tidak ada, tapi perutku masih lapar." ucap Hana memegangi perutnya.
"Lah! makan segitu banyaknya belum kenyang. Sepuluh lho! dihabiskan semua." ujar Kevin.
"Belum. Kita keluar yuk! cari makan, jalan jalan gitu cari udara segar, disini juga ada bunga sakura kan, mau yah! please." ajak Hana merengek.
DISNEYLAN PARIS
"My Prince. Ayo! malah diam disana." ajak Hana tak sabar.
Kevin yang saling melirik ke Lee ia kelihatan tidak suka akan kehadirannya. Niat hati untuk berduaan dengan istrinya, tapi malah sebaliknya, ada orang ketiga diantara mereka.
"Kau pasti tidak suka. Kenapa tadi mengiyakan, disaat aku pengen ikut tadi, apa karena tak enak sama Hana dan juga, Mama, Papa." ujar Lee bersandar di mobil memakai kaca mata hitamnya tersenyum genit ke para wanita muda berlalu lalang disana terpesona akan wajah tampan keduanya.
"Dasar playboy. Cap crazy, BABY? ayo kita masuk, jangan perdulikan dia, biarlah menjadi patung pajangan." ajak Kevin merangkul bahu Hana.
BERSAMBUNG...