Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
56.Berita Mengejutkan



"Mau apa?" tanya Hana menutupi mulutnya.


"Datang saja nanti. Nggak usah bawel." pekik Kevin berbisik.


"Kalian lagi ngapain." ucap Fadly menatap Kevin dan Hana.


"Hmm. Bukan apa apa Pah? Kita cuma mau bicara setelah ini." ucap Hana sopan.


"Ohh. Mungkin mereka malu karena ada kita disini pah?" ucap Sinta.


"Iya juga sayang. Ya sudah kita siap siap sekarang." ucap Fadly.


"Mau kemana pah?" tanya Kevin.


"Hana. Kamu ke kamar dulu, kita mau bicara sebentar." ucap Fadly.


"Iya pah?" ucap Hana yang sudah selesai makan.


"Kalian mau bicara apalagi?" tanya Kevin.


"Sementara pernikahan kalian dirahasiakan dulu." ucap Sinta.


"Lho! Kenapa? Bukannya kalian sendiri yang menginginkan kita menikah. Syarat untuk mewarisi perusahaan Papa?" ucap Kevin.


"Gini lho Kevin. Banyak dari rekan bisnis yang mau putrinya menikah denganmu, karena putri mereka banyak yang suka sama kamu." ucap Fadly.


"Terus apa hubungannya?" tanya Kevin tak mengerti.


"Ada. Kalau sampai mereka tau kamu mau menikah, musuh dari keluarga kita akan mengincar Hana, dia nggak tau apa apa?" ucap Fadly.


"Status hubunganku bagaimana?" tanya Kevin.


"Sudah. Tapi tetap kita rahasiakan identitas Hana sebagai istri kamu." jawab Fadly.


"Sebaiknya kalian berikan saja pada mereka yang menginginkan warisan dari keluarga Pratama, Kevin tidak menginginkan itu semua, aku juga bukan anak kandung kalian." ucap Kevin.


"Tidak bisa begitu Kevin. Kamu berhak mewarisi apa yang kita punya, kalau sampai jatuh ketangan orang lain bisa di salahgunakan, dan pasti setelah tujuan mereka tercapai kita akan disingkirkan olehnya." ucap Fadly.


"Sebenarnya siapa musuh kalian. Kenapa tidak pernah memberi tahu Kevin?" tanya Kevin.


"Nanti kamu juga akan tau sendiri." jawab Fadly.


"Dari dulu. Kalau aku tanya tentang hal ini pasti jawabannya sama." gerutu Kevin kesal melenggang pergi meninggalkan mereka.


"Mereka punya musuh. Kenapa Kevin sangat kesal pernikahan ini dirahasiakan didepan public, status nya sudah menikah, bukan nya itu bagus kita kan cuma pura pura saja." ucap seseorang dari dalam kamarnya.


"Apa mungkin kalau Kevin cinta. Ahh tidak mungkin, sifatnya aja nyebelin sama aku." ucap seseorang itu siapa lagi kalau bukan Hana yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Kevin dan orang tuanya.


Tiba tiba ponselnya bergetar Hana langsung menerima panggilan dari Kevin.


"Orang itu. Dekat aja pake telpon segala." ucap Hana.


~>> [[ Lama banget. Kemana aja kamu.]] teriak Kevin.


Hana langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


~>> [[ Kenapa diam saja. Cepat kamu kesini sekarang.]] ucap Kevin kemudian menutup teleponnya.


"Kemana? Ishh. Aku kan nggak tau taman ada dimana? rumah ini begitu luas, kalau sampai nyasar bagaimana?" gumam Hana keluar dari kamar.


"Sepi banget. Orang tua Kevin ada dimana?" ucap Hana tiba tiba ada yang mengagetkan dari belakang.


"Hana. Kamu cari siapa?" tanya Sinta disampingnya ada suaminya.


"Pasti cari Kevin ya?" seru Fadly.


"I-iya." ucap Hana tersenyum malu malu.


"Dia ada di taman belakang." ucap Fadly.


"Maaf Mah? Taman nya ada disebelah mana?" tanya Hana sopan.


"Ternyata kamu bingung ya! Dari sini lurus aja. Itu ada gerbang belakang, masuk aja nggak papa, disana ada penjaga kamu bilang aja nama lengkap kamu, mereka akan langsung mengerti." ucap Fadly.


"Terimakasih. Hana permisi dulu." ucap Hana menunduk tersenyum membalikkan badanya menuju ke taman belakang.


"Nona siapa?" tanya penjaga yang bertubuh kekar berpakaian serba hitam dan wajah seram.


"Saya. Hana Seo Yeon." jawab Hana.


"Silahkan masuk. Tuan Kevin sudah menunggu Nona?" ucap penjaga itu membukakan pintu gerbangnya.


"Terimakasih." ucap Hana.


"Mereka seram juga. Perasaan pengawalku aja kebanyakan berwajah tampan semua walaupun tubuhnya sama seperti mereka." gumam Hana.


Hana mencari keberadaan Kevin tapi tak ketemu juga.


"Dimana dia? Ini taman apa rumah sih! keluarga ini sepertinya suka sama taman, Ini seperti dirumah Kevin." gumam Hana lagi.


Hana melewati rumah kaca tapi kalau dilihat dari dalam bisa melihat sekitarnya tapi kalo diluar tidak bisa melihat barang atau apa yang ada didalamnya.


Kevin yang melihat kedatangan Hana berniat usil membuka pintu pelan sedangkan ia tidak menyadari Kevin ada dibelakangnya.


Tiba tiba tangan Hana ditarik kebelakang ia mau berteriak tapi sudah dibekap oleh Kevin.


Hana menginjak keras dan menyikut Kevin dengan kerasnya hingga terjatuh.


"Kevin.Ternyata itu kamu." ucap Hana kaget.


"Sakit tau. Tenagamu kuat juga, seperti laki laki saja." ucap Kevin memegang perutnya.


"Salah kamu sendiri. Mau mengerjaiku, nggak akan bisa." ucap Hana.


"Aduh!" Kevin pura pura kesakitan memegangi perutnya.


"Kamu kenapa? Dimana yang sakit. Sini aku bantu berdiri." ucap Hana panik.


"Disini." ucap Kevin menunjuk ke dadanya tersenyum.


"Ooh. Kamu pura pura." ucap Hana kesal.


"Tidak juga. Tadi memang sakit, tapi sudah sembuh kamu pasti khawatir sama aku." ucap Kevin.


"Nggak. Apa yang harus di khawatir kan?" ucap Hana kesal.


"Ngaku aja." goda Kevin kini pipi Hana merah seperti tomat.


"Kamu menyuruh aku datang kesini ada apa? apa soal pernikahan kita." ucap Hana menebak.


"Dari mana kamu tau?" tanya Kevin.


"Aah! tebakanku benar." ucap Hana menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Kita duduk dulu disana." ajak Kevin menarik tangan Hana.


"Dari luar kelihatan kecil. Disini juga ada kasur dan juga sofa." ucap Hana duduk di sofa menatap ke atas.


"Wahh. Malam ini bulan purnama aku hampir lupa, bisa rugi aku jika melewatkan nya." ucap Hana lagi.


"Besok kita menikah." ucap Kevin.


"Kamu jangan bercanda. Kamu sendiri bilang kalo satu atau dua minggu lagi." ucap Hana tanpa melihat Kevin masih melihat keindahan bulan purnama.


"Aku serius. Besok kita menikah." ucap Kevin tegas.


"What? Besok. K-kita menikah, aku belum siap." ucap Hana.


"Itu permintaan orang tuaku. Kamu tenang aja, Pernikahan ini dirahasiakan didepan public, tidak akan ada yang tau selain kita dan orang tuaku." ucap Kevin.


Shuttt... "Tidak ada bantahan. Sesuai perjanjian kita sebelumnya." ucap Kevin meletakkan telunjuknya ke bibir Hana.





*Bersambung*