Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
64. Menggodanya



"Kamu nggak mau cerita sama aku." ucap Kevin.


"Ayah aku." ucap Hana menangis masih memeluk Kevin.


"Ayah kamu kenapa? Cerita saja. Siap tau suamimu ini bisa bantu." tanya Kevin.


"Dia kecelakaan. Dan sekarang membutuhkan donor darah AB- Sedangkan stok darah dirumah sakit tempat ayahku dirawat kosong, aku sendiri untuk sekarang tidak bisa mendorkan darahku, kamu lihat sendiri kan kondisiku sekarang." ucap Hana melepaskan pelukannya menunduk sedih.


"Apa kamu tidak tau siapa lupa keluargaku. Punya cabang rumah sakit dikota ini, bahkan diluar negeri." ucap Kevin.


"Berarti kamu bisa bantu aku." ucap Hana tersenyum.


"Iya. Tapi aku minta kamu cium aku sekarang." ucap Kevin menujuk ke bibirnya.


"Apa? Kamu ikhlas nggak sih! Nolongin aku." ucap Hana menjauh.


"Ikhlas. Anggap saja tanda terima kasih kamu, atau aku minta yang lain, lebih dari ini, sepele kan." ucap Kevin.


Hana memalingkan mukanya tak mau melihat Kevin.


"*Apa yang harus aku lakukan sekarang. Nanti Kevin tidak mau membantu Ayah, akan kulakukan demi Ayah, dia kan suami aku jadi boleh boleh saja." ucap Hana dalam hatinya.


"Aku yakin kamu tidak akan berani melakukannya." batin Kevin kemudian tersenyum.


"Apa ini ciuman pertama ku. Ahh! Waktu itu Kevin menciumku paksa, berarti ini ciuman kedua aku dong!" ucap Hana dalam hatinya.


Tanpa aba aba Hana langsung memulai mencium Kevin sehingga orang yang diajak berciuman terkejut dia kira Hana tidak akan berani melakukannya apalagi memulainya terlebih dahulu.


Kevin membalas ciuman Hana hingga lidah mereka semakin dalam mereka berciuman sangat lama sampai nafas Hana terengah engah baru Kevin melepaskannya kalau saja ia tidak didorong pelan oleh Hana.


Mereka mengusap bibir mereka masing masing sedangkan Hana memalingkan mukanya malu dia tidak mengira kalau akan melakukan hal itu.


"Hebat juga ya kamu. Aku kira tidak berani melakukannya apa lagi kamu yang mulai, lain kali lagi yah!" ucap Kevin menggoda Hana.


"Stop. Jangan dibahas lagi, niat nggak sih! mau nolongin aku dan ingat NGGAK ADA LAIN KALI." ucap Hana menekan dan cemberut.


"Ya terus aku harus melakukannya sama siapa? Apa aku cari wanita lain saja. Kamu kan istri aku jadi nggak papa kan aku memintanya dan aku mau lebih dari ini." ucap Kevin.


"Ya udah sana cari wanita lain. Dasar mesum, mata keranjang, sudah punya istri masih saja cari yang lain kalau mama tau, abis kamu." ucap Hana kesal.


Kevin hanya menahan tawanya melihat ekpresi Hana yang sedang marah.


"Hmm. Istriku ini kalau cemburu tambah cantik deh!" ucap Kevin mencubit kedua pipi Hana hingga memerah gara gara ulah Kevin.


"Kevin. Lepas dong sakit tau, siapa juga yang cemburu." ucap Hana berusaha melepaskan tangan Kevin dari pipinya.


"Kamu melakukan kesalahan lagi. Ini itu sudah beberapa kali kamu mengulanginya." ucap Kevin.


"Kevin. Aku tidak melakukan kesalahan apapun." ucap Hana baru ingat kalau ia memanggil Kevin dengan namanya saja bukan My Prince.


"Sesuai perjanjian kita berdua. Kamu harus menerima hukuman." ucap Kevin mendekatkan wajahnya sampai Hana berbaring di brankar dengan kedua tangan dikunci oleh Kevin.


Hana tidak bisa apa apa selain pasrah memikirkan bagaimana bisa lepas dari Kevin.


"Aduh Hana. Kenapa aku selalu deg degan kalau dekat dengan Kevin." ucap Hana berusaha melepaskan dirinya dari Kevin ia terlalu memaksakan lepas dari Kevin sampai Hana lupa kalau pinggang nya terasa sakit.


Kevin langsung melepaskan Hana yang terlihat kesakitan.


"Sorry. Sorry, aku cuma bercanda tadi, dimana yang sakit." ucap Kevin tadinya tadinya kelihatan senang berubah raut wajah khawatir.


"Aku panggil dokter yah! Tunggu sebentar." ucap Kevin beranjak turun tapi tangannya dicekal oleh Hana.


"Nggak usah. Sudah agak mendingan tapi masih nyeri." ucap Hana.


"Syukurlah?, Rasa sakit ini menyelamatkan aku darinya." ucap Hana dalam hatinya.


"Kamu bohongi aku kan." ucap Kevin curiga.


"Hei. Ini sakit tau. Kamu anggap aku pura pura gitu, tega banget." teriak Hana kesal.


"Biasa aja ngomongnya. Nanti disangka kita sedang bertengkar lagi." ucap Kevin melihat kearah pintu takut ada yang datang.


"Biar saja aku nggak peduli." teriak Hana lagi karena ia sedang kesal.


"Kamu nggak takut sama aku." ucap Kevin.


"Tidak." teriak Hana lagi membuat Kevin takut nanti ada yang datang akan ketauan semuanya karena Hana.


"Yakin tidak takut. Oke, Kalau gitu aku akan melakukan disini bersama kamu, tapi jangan salahkan aku kalau nanti ada yang datang melihat kita." ucap Kevin membuat Hana menutup mulutnya.


"Apa maksudmu. Melakukan apa?" tanya Hana menyilangkan tangannya seperti memeluk tubuh nya sendiri ia juga masih berbaring.


"Masa sih kamu nggak tau. Kita kan pasangan suami istri, jadi suamimu yang tampan ini berhak melakukan apa saja pada istrinya." ucap Kevin menaik turunkan alisnya.


Membuka kancing baju nya membuat Hana mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Jangan macam macam kamu. Ingat ini rumah sakit bukan rumahmu." ucap Hana dari dalam selimut ia memegangnya erat erat.


"Baiklah. Aku akan turuti kemauan kamu, kita melakukannya di rumah." ucap Kevin sengaja menggoda Hana.


"Bukan itu maksudku." ucap Hana.


"Aduh?, Mati aku. Bagaimana ini kalau Kevin benar benar melakukannya? kenapa aku tadi buat alasan seperti itu, Dia pikir aku mau apa? udah gitu dia menganggap serius lagi." ucap Hana dalam hatinya.


"Haa...Haa..Haa" suara Kevin tertawa.


Hana membuka selimut yang menutupi dirinya ia baru menyadari kalau sedang dikerjai oleh Kevin.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Hana kesal.


"Kamu. Lucu juga ternyata kalau sedang panik." ucap Kevin masih dengan tawanya.


"Crazy?" ucap Hana melempar bantal ke arah Kevin hingga mengenai wajahnya.


Saat Kevin ingin menghampiri Hana seseorang datang dia adalah dokter Carlos dan juga suster membawakan makan siang untuk mereka.


BERSAMBUNG