Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
65. Gadis Polos



"Kamu sedang apa Kevin. Kenapa duduk dilantai, disana kan ada sofa, atau itu tempat tidur lebar lagi gak seperti pasien yang lain, mau sakit kamu bertambah parah." tanya dokter Carlos tegas.


"Iya Dok? tadi Hana sudah bilang. Tapi suamiku ini ingin sekali duduk di lantai katanya biar nggak sakit lagi." ucap Hana menyudutkan.


"Maaf dok? Bisa minta tolong bicara sama suamiku. Duduk di Sofa, dingin takutnya nanti sakitnya nggak sembuh sembuh lagi." ucap Hana tersenyum pada dokter Carlos.


"Dengarkan istrimu. Buat apa kamu mau tidur disini." ucap Carlos membantu Kevin duduk di sofa.


"Itu juga. Pake bawa bantal kalau bukan buat tidur disini." ucap Dokter Carlos mengajak Kevin ke sofa.


"Sudahlah My Prince. Duduk di sofa aja kan lebih nyaman, bisa buat tidur juga kan." ucap Hana tersenyum diujung bibirnya menatap Kevin.


"*Rasain tuh! salah sendiri ngerjain orang. Kevin dengan ekpresi seperti itu mirip anak kecil yang dimarahi." ucap Hana dalam hatinya.


"Lihat saja kamu Hana. Akan ku balas kamu nanti malam, dijamin nggak bisa tidur semalaman." batin Kevin.


"Hana. Kevin, kalian kenapa? dirumah sakit aja masih tatap tatapan, tapi ingat jangan melakukan yang aneh aneh dirumah sakit." ucap Dokter Carlos.


"Melakukan apa dok?" tanya tak mengerti.


"BABY. Masa sih kamu nggak tau, kamu kan yang paling semangat memulai duluan." ucap Kevin mengedipkan matanya.


"Apaan sih Kevin. Mulai, Mulai apa?" ucap Hana dalam hatinya.


"Bagus Hana. Kamu istri idaman suamimu, biar Kevin semakin betah dirumah." ucap Dokter Carlos tersenyum.


"Iya dokter." ucap Hana sebenarnya tak mengerti.


"Panggil saja Carlos. atau kakak, wajahku kan masih muda." ucap Carlos.


"Memang umur dokter berapa?" tanya Hana penasaran.


"Tiga puluh lima. Kemarin baru ulang tahun." jawab Carlos.


"Wahh! Tapi kak Carlos seperti seumuran suamiku. Kalau begitu Happy Birth Day semoga panjang umur dan sehat selalu." ucap Hana tersenyum.


"My Prince. Umur kak Carlos masih muda kenapa dipanggil paman, apa kalian saudara?" tanya Hana pada Kevin.


"Memang dia pantas dipanggil paman." jawab Kevin acuh memilih memakan makanan nya.


"Sudah. Sudah kamu makan dulu ya! jangan lupa minum obatnya di minum." ucap Carlos memegang pundaknya.


"Kak Carlos. Boleh minta tolong nggak." ucap Hana.


"Boleh. Apapun buat wanita secantik kamu." ucap Carlos.


"Sungguh" ucap Hana tersenyum.


"Issh! Sok akrab banget Hana. Kakak beradik sama saja gak ada bedanya, sok bersikap baik sama istri orang." batin Kevin kesal melihat Hana membisikkan sesuatu ke telinga Carlos.


"Siap. Hana cantik, kalau begitu saya permisi." ucap Carlos pada Hana mengatupkan kedua jari telunjuk dan ibu jari membentuk hati.


"Oke. Kak Carlos, sampai jumpa nanti yah!" ucap Hana melambaikan tangannya.


Kevin melihatnya semakin kesal memilih pergi ke balkon meninggalkan Hana.


"Kesal kali dia. Merasa tidak diperdulikan." ucap Hana yang melihat Kevin keluar balkon.


"My Prince. Sedang apa kamu disini." tanya Hana yang berjalan berpegangan tembok dan benda yang ada didekat nya untuk ia jadikan pegangan.


"Cuci baju." jawab Kevin asal.


"Kamu marah yah! sama aku. atau Kamu." ucap Hana menghentikan kata kata nya.


"Atau apa?" tanya Kevin melirik Hana yang berdiri disampingnya kemudian melihat kearah lain.


"Nggak jadi. Kak Carlos baik juga ya dia itu berparas tampan, tinggi, bak seorang pangeran dari kerajaan inggris, apa dia blasteran atau memang asli orang Eropa." ucap Hana tersenyum.


"My Prince. Dari dulu aku pengen banget keliling Eropa, apalagi kalau bersama orang yang spesial." ucap Hana duduk di meja yang ada di balkon.


Kevin tetap tidak menanggapi ucapan Hana hanya memalingkan mukanya.


"My Prince. Ini yang ketiga kalinya, aku panggil kamu, aku bicara saja sama lampu ajaib." ucap Hana.


"Buat apa?" tanya Kevin.


"Ya. Biar seperti Aladin yang mengusap lampu ajaib langsung tuh keluar." jawab Hana.


"Keluar apa?" tanya Kevin lagi.


"Jin? Lah. Bisa minta apa aja yang aku mau." jawab Hana.


"Maksud kamu aku jin gitu." ucap Kevin.


"Aku nggak bilang seperti itu lho!Kamu sendiri yang mengatakan." ucap Hana.


"Kamu ini banyak alasan. Mau kamu apa? kita jalan jalan keliling eropa." ucap Kevin.


"Hmm. Pengen nya sih gitu." ucap Hana.


"Kamu mau kesana?" tanya Kevin.


"Iya. Kapan kita kesana? sekarang juga tidak apa apa?" ucap Hana antusias.


"Tapi. Ada syarat yang harus kamu penuhi." ucap Kevin serius.


"Syaratnya apa? spapun akan ku penuhi. Selagi aku mampu, cepat katakan." ucap Hana tak sabar.


"Yakin. Kamu BABY." ucap Kevin manja mendekatkan wajahnya ke wajah Hana hingga jarak diantara mereka sangat dekat hanya satu centi saja.


"I-iyalah. Yakin masa nggak." ucap Hana gugup.


"Aku ingin kamu." ucap Kevin menggantung.


"Apa? aku janji akan penuhi syarat itu. Katakan apa syaratnya." ucap Hana.


"Kamu berikan aku anak." ucap Kevin membuat Hana membulatkan matanya.


"Haah! Itu nggak mungkin. Kita kan cuma pura pura, aku nggak akan lakukan itu." ucap Hana gugup.


"Apa kamu nggak ada syarat lain?" tanya Hana.


"Hmm. Ada." jawab Kevin.


"Apa?" ucap Hana tersenyum.


"Aku mau mahkotamu. Yang selama ini kamu jaga baik baik." ucap Kevin.


"Mahkota. Tapi aku nggak punya, tapi nanti aku akan belikan buat kamu." ucap Hana polos.


"Gadis polos. Atau bodoh sih! begitu aja nggak tau, apa aku harus jelaskan semuanya biar dia ngerti." batin Kevin menghembuskan nafas kasar hingga mengenai wajah Hana.


"Kenapa hembusan nafasnya terasa hangat. Dia begitu tampan, wanita mana yang tidak jatuh cinta kalau lelakinya setampan ini, aku nggak kuat dekat dekat dengannya." ucap Hana dalam hatinya.


"Kamu layani aku sebagai seorang istri yang sesungguhnya kepada suami tampanmu ini. Walaupun hanya satu malam, aku janji akan menjadikan momen yang indah seumur hidupmu." ucap Kevin sedangkan Hana baru menyadari.





**Bersambung**