
PARIS
"BABY? tunggu. Pakai jaketnya dulu, diluar dingin." panggil Kevin ketika Hana terburu buru keluar dari mobil.
"Nggak mau. Lagi pula itu tidak muat di tubuhku, terlalu kecil, kamu lihat perutku semakin membesar." tolak Hana memperagakan.
Hufftt... "Iya juga. Kenapa aku lupa, tadi pagi terlalu gugup jadi, kamu pakai punyaku saja, ini pasti muat." ujar Kevin memakaikan jaket miliknya ke Hana.
"Tapi kamu bagaimana? nanti kedinginan." seru Hana ingin menolaknya tapi suaminya menahan tangannya.
"Setidaknya pikirkan kesehatan calon anak kita. Dan juga kamu, okay!" tegas Kevin.
Hana mengangguk mengiyakan selama kehamilannya ia selalu diperlakukan seperti ratu oleh suaminya tidak boleh beraktifitas terlalu berat bahkan hanya sekedar ingin berolahraga selalu disampingi kemanapun dirinya melangkah sejak urusannya selesai.
"Hey! kalian. Sedang apa didalam? ayo masuk! diluar sangat dingin." ajak Lee karena mereka masih didalam mobil tak kunjung keluar juga.
"Iya bawel. Mama sama Papa dimana?" tanya Kevin.
"Makanya kalau punya mata itu dipakai. Ini dunia bukan milikmu." ucap Lee melangkahlah kakinya pergi.
Kevin terlebih dahulu keluar membukakan pintu mobil untuk istrinya menuntunnya pelan.
"Hati hati. Ini agak licin, biar aku tuntun kamu." ujar Kevin merangkul bahu Hana untuk memasuki rumah tempat tinggalnya sekarang.
"Thanks. My Prince, kamu baik sekali." ucap Hana tersenyum.
"Dari dulu kamu kemana aja. Aku kan suamimu, sudah kewajiban ku untuk membahagiakan kamu istriku yang cantik." ujar Kevin membalas senyumannya lebih manis diwajah nya.
Sinta memandangi anak juga menantunya merasa bahagia. Mereka begitu romantis sama halnya saat ia muda dulu suaminya selalu memperlakukan penuh kasih sayang walaupun dengan cara berbeda.
"Kamu pasti iri pada mereka. Iya kan." ucap Fadly membuyarkan lamunannya.
"Aah! sok tau kamu sayang." ujar Sinta menyenggol perut suaminya tersenyum genit.
Lee melihat kedua pasangan suami istri tingkah lakunya sama selalu membuat dirinya merasa iri karena dirinya tak punya pasangan.
"Astaga. Lagi lagi aku harus melihat adegan seperti itu, menyebalkan sekali." gumam Lee menempatkan kedua tangannya ke pinggang beralih pergi ke kamarnya.
Didalam kamarnya Lee merebahkan diri ke kasur pikiran dan tubuhnya terasa lelah.
Tiba tiba saja Lee mengingat kejadian pertama kali bertemu dengan wanita di bar saat itu baginya peristiwa paling peristiwa sangat memalukan dalam hidupnya.
"Wanita itu lagi. Kenapa dia selalu ada di pikiranku?" gumam Lee melemparkan bantal guling sembarang arah.
#FLASHBACK
"Tuan? help me. Please..!" panggil seorang terlihat sangat mabuk berat.
"Kau siapa? lepaskan tanganmu." ujar Lee menghempaskan nya.
Lee tak menghiraukan teriakan yang memanggilnya berkali kali hingga dari jarak jauh masih terdengar suaranya.
Ketika Lee menoleh ke belakang ia tak mendapati siapa siapa padahal baru saja ia melihat perempuan muda berpakaian seragam sekolah SMA menghilang.
"Cepat sekali menghilang. Dimana dia? huff..! bikin repot orang saja." gumam Lee celingukan.
Tiba tiba saja ada suara teriakan kencang dari depan bar seorang remaja diseret paksa oleh sekumpulan pria dan wanita seumuran dengannya.
Aaaaaaa. "Tolong lepaskan. Kalian mau apa?" pinta nya ketika rambutnya dijambak keras hingga terasa seperti akan terlepas dari tempatnya.
Haa...haa...haa. "Lihatlah dia. Dasar ******! beraninya menggoda ayahku." ujar salah satunya disela sela tawanya sembari melucuti satu persatu kain yang menempel di tubuhnya.
Tak selang berapa lama polisi datang menghampiri mereka untuk menangkap aksi perundungan terhadap remaja seusia nya itu.
Sebelumnya Lee sengaja merekam kemudian diserahkan sebagai barang bukti.
Didalam hotel...
"Hey! apa yang kau lakukan. Toilet nya disebelah sana, astaga! susah sekali dikasih tau." teriak Lee ketika remaja itu dengan santainya ingin berganti baju di depan matanya kemudian ia mengarahkan ke kamar mandi dan memberikan pakaian untuknya.
Satu jam lamanya tak kunjung keluar juga, Lee sebenarnya sedang buru buru karena ada urusan jadi tertunda karenanya.
Tok...tok...tok...
"Kau sedang apa didalam sana? sudah selesai belum. Setelah ini aku akan antar ke rumahmu, cepatlah keluar." teriak Lee mengetuk pintu kamar mandi keras.
Yang ditunggu keluar juga, tapi anehnya tak mengenakan sehelai benang pun.
"Akhirnya kau keluar ju-ga. Astaga Lee? sadarlah, tahan dirimu, dia masih bocah sekolahan." ucap Lee membulatkan mata menelan ludahnya kasar melihat pemandangan penuh gairah didepan matanya.
Brukkk...
Seketika remaja itu tak sadarkan diri...
#FLASHBACK
Lamunannya buyar ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok...tok...tok...
"Kak Lee? keluarlah. Kita makan malam bersama, kau ada didalam kan." panggil nya.
"Iya Honey. Aku akan mandi dulu, kamu duluan saja, suamimu pasti sekarang kelaparan." ujar Lee membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali.
"Lho! kak. Ta-tapi aku ingin bicara denganmu sebentar, dari tadi ngapain aja, satu jam lamanya baru mau mandi." gumam Hana bingung.
"BABY. Sedang apa kamu di atas sana? tunggu disitu, jangan bergerak." tanya Kevin dari lantai bawah menaiki lift saat istrinya akan menuruni tangga.
"Why? aku bisa sendiri. Lagipula ini tangganya tidak licin." ucap Hana saat suaminya datang.
"Kamu lupa tadi ku bilang apa?" tanya Kevin.
Hana tersenyum kaku ia lupa kalau dirinya tak boleh menaiki anak tangga oleh suaminya.
"My Prince. Okey! aku salah." ujar Hana ia mendapatkan tatapan tajam dari Kevin.
Kedua orang tuanya terlebih dahulu menunggu di meja makan melihat anak dan menantunya tak mau menatap satu sama lain.
"Kalian kenapa sih! bertengkar lagi. Kamu juga, istrimu sedang mengandung, mengalah sedikit, kasihan dia." tanya Sinta.
"Mama. Ini salah Hana? karena telah melanggar apa perintah Kevin untuk tidak menaiki tangga." jelasnya.
"Ya sudah. Kalian duduklah, Kevin?" seru Fadly diangguki oleh keduanya.
"BABY. Maaf, aku khawatir kamu kenapa kenapa tadi." bisik Kevin.
"Nggak apa apa kok! aku tidak akan seperti itu lagi." ucap Hana tersenyum sembari mengambilkan makanan ke piring suaminya.
BERSAMBUNG...