
"Apa Tuan tidak suka pedas. Sorry, Tuan? biar ku buatkan lagi yang baru." ucap Gino tak enak hati.
"No. Saya mau sarapan diluar saja. dimana kunci mobilnya?" tolak Kevin menodongkan tangannya ke depan wajah Gino.
"Biar saya antarkan Tuan?" ucap Gino enggan memberikan kuncinya, tapi Kevin menatapnya tajam.
"Baiklah ini. Hati hati Tuan, jangan ngebut, kalo ada apa apa langsung saja hubungi saya." ucap Gino mendapat anggukan dari Kevin.
Restoran
"Maaf Tuan. Tolong buka penutup wajah anda." ucap Penjaga yang berada di depan pintu masuk restoran itu.
"Baiklah." ucap Kevin membuka masker dan kaca matanya beserta topi hitam dan hoodie yang menutupi kepalanya.
"Silahkan masuk Tuan?" ucap penjaga itu sopan mempersilahkan Kevin.
Kemudian Kevin menutup wajahnya kembali setelah ia memasuki restoran dan duduk bersilah di atas sofa melipat kedua tangannya ke dada.
Pengunjung disana sangat ramai dan Kevin Sengaja memesan ruangan VIP agar lebih privasi.
"Silahkan dimakan Tuan?" ucap Pelayan itu sopan berjalan mundur ke pintu keluar ruangan itu sembari mengamati wajah Kevin yang masih tertutup oleh masker dan hoodie.
Kevin hanya menatapnya santai ia tau penampilannya sedikit aneh. Karena dirinya memakai pakaian serba hitam dan aksesoris lainnya untuk menutup wajahnya.
Saat Kevin sedang menikmati makanannya tiba tiba ada seseorang laki laki yang memasuki ruangan itu tanpa permisi.
"Maaf Tuan? sebelumnya. Karena sudah mengganggu, tapi bolehkah sekarang anda bisa keluar dulu, kami sudah persiapan meja lain diluar." ucap seseorang itu adalah manajer di restoran.
Tapi Kevin tidak memperdulikan ucapan manajer itu ia hanya menatapnya santai.
"Mengganggu saja. Restoran macam apa? pelayanannya sangat tidak baik, masa' ada orang lagi makan diusir, dia pikir aku tidak mampu membayarnya." batin Kevin menahan rasa kesalnya tapi wajahnya tetap santai seperti tidak ada apa apa.
"Mohon kerjasamanya Tuan. Kami akan kasih voucher gratis untuk anda." ucap manajer itu sampai duduk bersimpuh di hadapannya Kevin.
Selera makan Kevin seketika hilang karenanya. memakai masker dan kaca matanya memberikan segepok uang cash di berikan ke manager restoran itu kemudian pergi dengan hati yang menahan kesalnya.
"Cihh? dasar mata duitan. Untung saja aku lagi belajar sabar, kalo tidak sudah ku tendang dari restoran ini." umpat Kevin melangkahkan kakinya ke arah mobilnya.
Dari kejauhan terlihat ada seorang yang tak asing dimatanya. Kevin mengamatinya intens dengan melangkah lebih dekat lagi tanpa diketahui orang lain.
"Claudia?" ucapnya dalam hati.
Perempuan itu berjalan cepat menghampirinya. "Kevin?" panggil Claudia tersenyum.
"Hei? apa kabar?" tanya Kevin tersenyum kaku karena dirinya mau menghindarinya malah ketahuan.
"Baik. Kamu sendiri." jawabnya membalas senyumannya.
Claudia mengajak Kevin masuk ke dalam restoran awalnya tak mau. Tapi karena dorongan darinya terpaksa Kevin ikut kedalam karena tidak enak mengobrol di luar, apalagi suasana sangat dingin.
Kevin menggeleng sembari menyingkirkan tangan yang melingkar di lehernya.
"Hmm...! kamu pemilik Restoran ini kan. Ku rasa kita jangan terlalu dekat seperti ini." ucap Kevin berdiri sedikit menjauh.
"Iya. Ini memang restoran ku, jadi kita bebas melakukan apapun disini." kini Claudia malah berjalan maju mendekati Kevin sampai mendorongnya ke sofa.
"Kenapa kamu buang kuncinya. Cepat cari dan berikan padaku." bentak Kevin awalnya cuma mau mengikuti permainannya malah dirinya terjebak dalam situasi itu.
Kepala Kevin tiba tiba pusing pandangannya buyar sehingga menyebabkan dirinya langsung tak sadarkan diri.
KANTOR HSY GROUP
"Nona. Ini berkasnya." ucap seseorang itu menempatkan beberapa berkas yang berkaitan dengan kerjasama perusahaan.
Hana mengerutkan dahinya melihat satu berkas yang sudah ditanda tangani olehnya. "Sanjaya Company." gumamnya. Karena baru pertama kali dirinya mendengar.
"Itu Perusahaan properti Nona. Yang kemarin mengajukan kerja sama dengan kita." jelas Doni melihat raut wajah Hana terlihat bingung.
"Ooh! tapi kenapa nama perusahaan nya terdengar tidak asing, sepertinya saya pernah mendengarnya." ucap Hana menyangga dagunya dengan jari telunjuknya.
Doni juga bingung pasalnya ia sendiri juga baru pertama kali mendengarnya. "Nona? sekarang saya tau. Itu perusahaan tersukses di negara Eropa." ucapnya mengagetkan Hana yang sedang melamun.
"Maaf Nona?" ucap Doni membungkukkan badannya.
Hana menatap asistennya tajam. Pandangannya sangat mirip dengan Kevin ketika sedang menahan kesal.
"Kamu tau siapa pemilik perusahaan ini. Kemarin saya hanya bertemu dengan asistennya saja, padahal saya sangat penasaran kenapa bukan bossnya yang menemuiku." tanya Hana melirik ke arah asistennya yang terlihat bengong.
Brakkkkk
suara meja terdengar keras ditelingannya. Doni akhirnya tersadar dari lamunannya. Hana menatapnya tajam.
"Hmm...! Nona. Tadi tanya apa? bisa diulangi lagi." bukannya jawab Doni malah bertanya balik.
Karena kesal Hana menyuruh Doni keluar dari ruangannya.
"Ini sudah jam istirahat. Sebaiknya kamu makan dulu sana, dan silahkan keluar dari ruangan ini, saya ingin sendiri." tangan kirinya mengarah ke pintu keluar dan sedangkan yang kanan menempatkan di pinggangnya.
"Tapi Nona? saya mau. Baiklah." ucap Doni menggantung dan menuruti keinginan Hana. Karena sebenarnya ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya.
Doni masih belum juga pergi. "Doni? mengagetkan saja. Ngapain kamu mondar mandir seperti setrika." tanya Hana memundurkan langkah kakinya terkejut melihatnya berdiri di depan pintu ruangannya.
"Nona. Saya ingin menunjukkan sesuatu." jawab Doni.
"Kita bicara didalam ruanganku saja. Takutnya ada yang mendengar pembicaraan kita." ajaknya setelah itu Doni menunjukkan rekaman CCTV padanya.
Didalamnya ada seorang laki laki yang sangat mirip dengan Kevin. Hana sampai memutarnya berkali kali hanya untuk memastikannya dan memang itu suaminya yang baru saja keluar dari Restoran bersama laki laki berpakaian serba hitam. Bahkan wajahnya saja tertutup.
"My Prince?" gumamnya.
"Darimana kamu dapatkan rekaman CCTV ini? kenapa baru kasih tau saya sekarang?" tanya Hana tegas menatap asistennya seakan ingin memakannya.
Doni menelan ludahnya kasar. Kali ini Hana terlihat marah mirip sekali dengan Kevin. Apalagi sekarang sedang keadaan hamil. Jadi emosinya masih labil."Maaf Nona?" hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
BERSAMBUNG
Mau lanjut nggak nih ceritanya~~~