Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
7. Hana dan Kwak Hyun



"Panggil saja Hyun atau terserah kamu." ucap dokter dengan senyum manisnya.


"Dokter Hyun" jawab Hana membalas senyumnya.


"Itu lebih bagus." ucap dokter kepada Hana.


"Kita sudah saling mengenal. Kalau gitu saya pamit keluar karena banyak pasien yang sedang menunggu saya dirumah sakit" ucap dokter lagi.


"Iya dok? Hati hati dijalan." ucap Hana.


"Jaga dirimu baik baik. Ingat kamu harus menjaga kesehatan dan jangan stress." pesan dokter Hyun mengusap rambutnya dijawab anggukan pelan dari Hana.


"Dokter Hyun baik banget sama aku. Udah ganteng, ramah manis lagi senyumnya." ucap Hana memuji senyum senyum sendiri.


"Apaan sih dia? Giliran sama aku di jelek jelekin.


Kwak Hyun lembut banget, tapi lebih tampan aku kemana mana kali." ucap Kevin dalam hatinya kesal.


Karena sedari tadi ia sudah ada didepan pintu mendengarkan ucapan mereka karena kamar Kevin dan Hana sebelahan ketika dokter keluar ia pura pura sedang ingin memasuki kamarnya kemudian ia kembali melihat kearah Hana yang sedang bicara sendiri.


"Dokter Hyun baik ya? nggak seperti aku yang sudah menolong kamu dari kecelakaan." ucap Kevin terdengar ketus mengejutkan Hana.


"Maaf. Tapi itukan sesuai kenyataan. Upps!" ucap Hana keceplosan menutup kedua tangannya.


"Beraninya kamu. Seharusnya itu kamu sadar diri. Bukannya terima kasih malah nyolot." ucap Kevin mendekatkan wajahnya dan membulatkan matanya.


Hana yang merasa wajahnya sangat dekat dengan Kevin ia menggeser pelan tubuhnya sehingga infus yang ada di tangannya lepas, tetapi Kevin terus saja mendekatkan diri ke sehingga Hana terus menerus menggeser tubuhnya karena ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit.


"K-kamu. M-mau ngapain." ucap Hana takut karena Kevin terus mendekatinya.


"Aku mau." ucap Kevin menyeringaikan senyum diujung bibirnya.


"Agrhh. Aduh! infus aku lepas." pekik Hana menahan sakit di tangannya karena mengeluarkan darah akan tetapi Kevin tidak menghiraukan ucapan Hana ia merasa senang karena sudah menggodanya.


"Auuu...? ini sakit tangan ku. Bisa jauh jauh nggak mukanya." ucap Hana menahan sakitnya merintih kesakitan Kevin menyadari itu langsung menjauhkan wajahnya darinya.


"Suster cepat kemari." teriak Kevin keras sehingga Hana segera menutup telinganya dengan satu tangannya.


"Itu orang gila kali ya.Teriak teriak didalam kamar udah suaranya keras banget seperti petir." ucap Hana didalam hati.


"Nona harus tenang jangan banyak gerak dulu." ucap Suster memasang kembali infusnya.


"Itu semua karena." ucap Hana menggantung melirik Kevin.


"Karena dia banyak tingkah suster. Dan sengaja mau melepas infusnya." ucap Kevin memotong karena tidak mau disalahkan.


"Sudah selesai. Saya permisi dulu Tuan." pamit Suster kepada Kevin dan Hana.


"Dasar bermuka dua" umpat Hana memalingkan wajahnya.


"Egois banget sih! Bisa bisanya bilang kalau aku banyak tingkah. Padahal dia yang berulah, sudah bersalah nggak mau ngaku lagi." ucap Hana dalam hati.


"Hey! aku mau bicara sama kamu." ucap Kevin duduk menyilangkan kedua kakinya menatap tajam ke Hana.


"Kalau mau bicara. Bicara aja nggak usah basa basi." ucap Hana kesal tidak melihat kearah Kevin.


Hana menganga dibuatnya. "Aduh! sakit tau. Kamu pikir aku ini apa? main lempar lempar aja ke mukaku." ucap Hana.


"Baca." ucap Kevin singkat.


"Apa ini?"ucap Hana membuka map yang ada di depannya.


"What? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti." ucap Hana nggak ngerti sama sekali isi di dalamnya.


"Itu surat perjanjian. Bodoh." ucap Kevin menekan.


"Ya. Aku tau ini surat perjanjian, tapi kenapa kamu berikan sama padaku, Apa hubungannya coba?" ucap Hana tak mengerti.


"Tentu saja ada. Itu yang harus kamu penuhi." ucap Kevin dengan senyum getir.


Lalu Hana membaca satu persatu perjanjian itu.


1.Pihak kedua harus memenuhi semua permintaan pihak pertama tanpa penolakan.


2.Pihak kedua mau tidak mau harus menuruti semua permintaan pihak pertama.


3.jika pihak kedua melanggar akan dikenakan hukuman sesuai kesalahan pihak kedua.


4.Perjanjian ini berlaku untuk pihak kedua sampai batas waktu yang ditentukan oleh pihak pertama.


"Cepat. Kamu tanda tangan disini, saya nggak punya banyak waktu." titah Kevin memberikan pulpen dan menunjukkan dimana Hana harus bertanda tangan.


"Nggak mau." tegas Hana melemparkan Map dan pulpennya sembarang arah.


"Kamu." teriak Kevin Kesal mengambil kembali Map berisi surat perjanjian.


"Saya tidak sudi memenuhi semua permintaan anda. Memangnya aku budak kamu." ucap Hana ketus.


"Kamu pilih tanda tangani surat ini. Atau aku akan kirim kamu ke keluarga tiri kamu sekarang juga." ucap Kevin keras sehingga membuat Hana ketakutan memejamkan kedua matanya.


"Ooh! rupanya kamu lebih memilih bersama mereka." ucap Kevin membulatkan matanya sementara Hana masih memejamkan kedua matanya.


"Oke. Aku akan tanda tangani surat perjanjian itu." jawab Hana menahan tangisannya.


"Nah gitu dong. Kenapa nggak dari tadi, jadi dari saya tidak perlu marah marah." ucap Kevin menekankan suaranya tersenyum tipis dan mengusap pelan rambutnya.


"Bagaimana dia tau? aku punya saudara tiri. Nggak masalah Hana, yang penting aku tidak balik lagi ke rumah penuh siksaan itu, pasti mereka senang kalo aku pergi dari rumah, bukannya itu impiannya sejak dulu." batin Hana bersedih.


"Ayah? Ibu. Kenapa kalian tinggalin Hana sendiri. Dan kenapa pergi tanpa mengajak ku, kenapa?" ucap Hana lirih dan terus menerus menangis hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.





Bersambung...