
"Sekarang kamu kerja apa?" tanya Alfian ia belum tau.
"Kebetulan saya asisten Nona Hana. Kakak ketemu gede." jawab Doni.
"Maksudnya kakak ketemu gede." sahut Kevin.
"Tuan Kevin bisa tau. Saya dan Hana bersahabat." jawab Doni.
"Ya karena semua teman laki lakinya dia anggap kakak. Termasuk Alfiann" ucap Kevin melirik kearah Alfian.
"Hmm. Sepertinya aku mencium bau terbakar deh!" goda Alfian tersenyum kearah Kevin.
"Bau apa? aku tidak mencium bau apapun." ucap Kevin pura pura tidak tau.
"Api yang ada di dalam hati Tuan Kevin?" bisik Doni ke telinga Kevin.
Doni mendapat tatapan tajam dari Kevin ia segera berjalan menghampiri Hana yang menikmati makanan yang ia inginkan.
"Hei. Kalian bicara apa sih? asyik banget, sampai sampai ada orang disini dikacangin." ucap Hana santai menikmati Tteteokbokki terlebih dahulu.
"Maaf. Kita sudah lama tidak bertemu." ucap Doni mengambil Tteteokbokki kedalam piring kecil menggunakan sumpit.
"My Prince. Kak Al?, Kalian tidak makan, ini enak banget loh!" ucap Hana menikmatinya.
Kevin dan Alfian saling pandang pasalnya mereka memang tidak menyukai pedas.
"Perutku sudah kenyang Hana. Kamu lihat sendiri kan tadi makan banyak banget, boss aja sana dia suka sekali sama makanan pedas." ucap Alfian mendorong tubuh Kevin ke Hana.
Hana berdiri menghampiri Kevin menarik tangannya ke didudukkan ke kursi bersama.
"Kamu mau mengerjaiku." ucap Kevin tanpa suara ke Alfian.
"Selamat menikmati boss." balas Alfian tersenyum karena sudah mengerjai bossnya.
"Buka mulutmu. Aaaaaaa." ucap Hana menyodorkan Tteteokbokki ke mulut Kevin.
"Aku tidak makan itu. Kamu makan sendiri saja." ucap Kevin menolak memalingkan mukanya ke samping.
"Kamu takut ya sama pedas. Masa laki laki nggak suka pedas, lihat tuh! Doni aja lahap makannya." ucap Hana.
"Bukan begitu. Apa kamu nggak ingat kita baru keluar dari rumah sakit, aku nggak mau lah balik kesana lagi." ucap Kevin mencari alasan.
"Kamu benar juga. Tapi tak apa kan." ucap Hana kembali menyodorkan Tteteokbokki didepan mulut Kevin.
"Oke. Kalau kamu tidak mau, aku habiskan nih?" ucap Hana menyuapkan pada diri sendiri.
Hana melihat Kevin menatapnya tajam ia lebih memilih tersenyum sembari mengunyah makanannya sampai penuh didalam mulutnya.
"Pelan pelan. Kamu seperti nggak pernah makan satu tahun aja." Cibir Kevin mengambil tisue mengusap bibir Hana yang belepotan.
"Hmm. Habisnya enak, lain kali kamu masak lagi ya buat aku, tapi aku mau cabai merah nya lebih banyak lagi yah?" ucap Hana.
"Memangnya makanan itu apa kurang pedas." tanya Kevin heran.
"Masih kurang. Aku pengen pedasnya yang W.O.W, banget." jawab Hana.
"Serius kamu Hana. Cabai dua puluh kamu bilang kurang pedas, tadi aku sama Kevin, mencoba sedikit rasanya seperti terbakar di tenggorokan pedas banget." sahut Alfian.
"Itu belum seberapa. Bahkan Nona pernah memecahkan rekor makan makanan pedas dan dapat piala juga, waktu itu kita ada dikorea." sahut Doni.
"Kapan yah! Udah lama sih!waktu SMA kalau nggak salah aku sama teman teman pergi liburan kesana?dan pastinya itu gratis." ucap Hana menempatkan telunjuknya ke dagu.
"Itu pertama kamu bertemu Doni?" ucap Alfian.
"Tidak juga. Kita bersahabat waktu aku masih balita deh! Dulu waktu ibuku masih ada sering mengunjungi panti dimana Doni dibesarkan." ucap Hana.
"Panti asuhan.Ternyata kita semua senasip." ucap Alfian.
"Ya itu sudah takdir yang maha kuasa. Kita tinggal menjalani saja." ucap Hana dengan senyum getir.
Sebenarnya Hana tak sekuat mereka ia sendiri semenjak ibunya tidak ada ayahnya tidak pernah memperdulikan dia bahkan sekedar menyapa saja tidak mau.
Ayah Hana beranggapan kalau penyebab kematian mendiang istrinya karena Hana, ia dihasut oleh selingkuh nya yaitu ibu kandung Kevin.
Hana masih ingat ia sendiri tidak diberi kasih sayang oleh ayahnya padahal dia sangat menyayanginya.
"Aku sudah kenyang. Doni, kamu habiskan saja, tidak baik membuang buang makanan." ucap Hana tak berselera makan padahal tadinya dia sangat lahap menyantap makanan kesukaannya.
"Lho kenapa? Ini masih banyak. Bukannya kamu tadi sangat bersemangat tapi sekarang jadi tidak bernafsu makan." ucap Alfian merasa heran.
"Apa Hana merindukan keluarganya?, Didepan kita semua kelihatan baik baik saja. Pasti saat ini hatinya sakit, Apalagi Hana masih mempunyai Ayah tapi tak menyayanginya, Apa Hana akan membenciku kalau tau aku adalah anak dari pembunuh ibunya sendiri?" batin Kevin menatap Hana dalam.
"Aku ke toilet dulu. Doni, Apa kamu masih ada kerjaan?" tanya Hana kepada Doni.
"Tidak ada Nona. Cuma mempersiapkan jadwal meeting kita nanti sore." ucap Doni.
"Kamu stay here. Istirahat dulu disini, kalian juga masih pengen ngobrol lagi kan." ucap Hana.
"Baik Nona. Tuan Kevin? bolehkan saya keliling taman ini, baru kali ini saya melihat taman seindah ini." ucap Doni kemudian beralih ke Kevin.
"Silahkan. Al?, Kamu temani Doni." ucap Kevin.
"Siap Boss. Kalian mau kemana? ke toilet berduaan, hayo mau ngapain." goda Alfian menunjuk ke arah Hana dan juga Kevin.
"Biasalah mandi bareng. Kamu nggak tau aja, cepat cepat kamu nyusul kita, menikmati surga dunia."
ucap Kevin membuat Hana menyenggol perut Kevin keras.
"BABY. Kamu nggak sabaran banget, tenang saja aku akan buat kamu puas di ranjang hanya ada kita berdua." ucap Kevin membuat wajah Hana memerah karena malu didepan Alfian dan Doni.
"Al?, kalau Kamu iri cepatlah kamu nyusul mereka. Biar bisa merasakan yang namanya surga dunia." Sahut Doni meledek.
"Kamu juga secepatnya nyusul mereka. Ayo kita kesana? Daripada kita jadi nyamuk buat kemesraan mereka." ajak Alfian merangkul bahu Doni untuk keliling taman.
"Sekarang Doni beda banget. Nggak seperti dulu, Penampilan dia juga yah! Oke, tapi tetap saja masih tampan aku kemana mana? apa kamu mau merasakan surga dunia." ucap Kevin mengedipkan sebelah matanya ke Hana.
"Sebenarnya kamu itu memuji Doni atau dirimu sendiri." ucap Hana cuek kemudian pergi.
•
•
•
BERSAMBUNG ***