
"Semoga aku bisa hidup bahagia bersamamu. Kamu adalah hidupku, apa kamu akan marah kalau tau yang sebenarnya." batin Kevin ia menatap Kevin dalam.
"Ada apa sama Kevin. Kenapa dia menatapku seperti itu, atau ada yang salah sedang wajahku, Aduh! Kenapa aku jadi salting gini dilihatin Kevin." ucap Hana dalam hatinya.
"Hello? My Prince. Kamu kenapa menatapku seperti itu." tanya Kevin mengibas ngibaskan tangannya ke wajah Kevin.
"Cantik." gumam Kevin.
"Maksud kamu. Siapa yang cantik." ucap Hana.
"Ahh. Maksudku suasana malam ini sangat cantik apalagi dihiasi bulan purnama." ucap Kevin.
"Ooh! Aku kira kamu." ucap Hana menggantung.
"Aku Kenapa?" tanya Kevin.
"Sudahlah. Sebaiknya kita kembali ke kamar, nanti dokter nyariin kita berdua." ucap Hana.
"Ayo! ini juga sudah malam. Sudah ngantuk juga." ajak Kevin.
"Gendong. Kamu tau kan pinggang aku masih sakit." ucap Hana manja memegang tangan Kevin menatapnya penuh permohonan.
"Dasar manja." ucap Kevin tersenyum mencubit hidung Hana gemas.
"Aku minta gendong bukan mengangkatku." ucap Hana.
"Sama aja. Ini juga gendong kan namanya." ucap Kevin berjalan menuju ke lift.
"Malu tau My Prince. Nanti kalau ada orang bagaimana?" ucap Hana menutup wajahnya.
"Udah diam aja." ucap Kevin berjalan ke kamar inap mereka.
"Kevin Sanjaya Pratama. Dia sama siapa? Romantis banget, harus diabadikan pasti beritanya viral." ucap seseorang dari belakang Kevin diam diam memotretnya.
*
*
*
Dua hari kemudian Kevin dan juga Hana baru keluar dari rumah sakit.
Diperjalan Hana meminta Kevin untuk melihat rumah Ayahnya berharap bisa melihatnya walaupun dari jauh.
"BABY. Kamu kenapa?" tanya Kevin melihat wajah Hana gelisah.
"Tidak apa apa. Tapi." jawab Hana tidak meneruskan ucapannya.
"Pasti kangen ya sama Ayah kamu." ucap Kevin.
"Bagaimana kamu tau?" tanya Hana.
"Aku kan suamimu. Bagaimana tidak tau." ucap Kevin tersenyum.
"Al? kita kerumah Ayah Hana sekarang." perintah Kevin pada Alfian.
"Siap Boss." jawab Alfian.
"Kak Al? dari jauh saja. Aku cuma ingin memastikan kalau Ayah baik baik saja." ucap Hana.
"Lho! Bukannya kamu mau bertemu Ayah kamu." tanya Alfian.
"Sudah. Kamu turuti saja." timpal Kevin.
"Baiklah." ucap Alfian.
Sesampainya disana mereka berhenti tak jauh dari rumahnya Ayah nya Hana.
Beberapa menit kemudian Ayah Hana keluar bersama dengan anaknya.
"Kamu bener nggak mau kesana." ucap Kevin melihat Hana seperti ingin sekali bertemu Ayah nya.
"Disini aja nggak apa apa. Males banget ketemu sama nenek sihir itu." ucap Hana membuat Kevin menahan tawanya.
"Ooh. Aku tau pasti ibu tiri kamu." ucap Kevin.
"Ya. Bener banget." ucap Hana mengacungkan jempol ke Kevin dan menyembunyikan wajahnya.
"Apa yang kamu tertawaan." ucap Kevin kepada Alfian yang tertawa disembunyikan.
"Nggak ada boss. Dia itu adik tiri Hana, sekaligus anak dari nenek sihir itu." ucap Alfian menjelaskan.
Tak lama kemudian Mi Kyong Seok datang menghampiri Lee Yoo Joon suaminya tak lain adalah Ayah Hana mereka begitu bahagia.
"Adik. Berarti dia anak mami, adikku juga, dia bisa hidup bahagia diatas penderitaan orang lain, penderitaan anak yang dia terlantarkan." batin Kevin tanpa sengaja meneteskan air mata.
"Hana kangen sama Ayah. Apa Ayah kangen juga sama Hana, andai saja Ayah tau kalo bukan Hana yang menyebabkan bunda meninggal tapi istri ayah sendiri, jahat sekali nenek sihir itu, sayangnya tidak ada bukti apapun." ucap Hana dalam hatinya ia juga meneteskan air mata nya membuka jendela*.
"Sayang. Aku tinggal ke dalam dulu ya, jagain Ayah." ucap Mi Kyong Seok pada suaminya dan juga anaknya.
"Iya mami." jawab Sun Hee Jieun.
"Ayah. Itu seperti kak Hana, apa cuma perasaan Jieun aja." ucap Jieun pada Ayahnya.
"Dimana? Tidak ada orang disana?" ucap Lee Yoo Joon.
"Itu Ayah. Yang ada didalam mobil hitam." ucap Sun Hee Jieun.
"Hana. Hana?" gumam Ayah Hana kemudian memanggilnya kemudian menyuruh putrinya untuk menghampiri mobil yang ditumpangi Hana.
Hana belum menyadari kalau dia dipanggil Ayahnya sedangkan Kevin ia juga tak menyadarinya Alfian menoleh kebelakang melihat keduanya melamun bingung karena dipanggil panggil tidak ada sahutan dari salah satunya.
"Boss. Hana?" panggil Alfian mengibas ngibaskan ke wajah Kevin beralih ke Hana tapi tak ada reaksi apapun.
Alfian langsung menancap gas menyadarkan lamunan Kevin dan juga Hana.
"Kevin. Hana?" panggil Alfian keras mengagetkan mereka kemudian menekan tombol klakson keras.
"Al?, Apa apaan sih kamu. Mau buat kita jantungan." ucap Kevin kesal menatap Alfian tajam.
"Maaf Boss. Apa yang kalian pikirkan, Itu Ayah Hana mau kesini." ucap Alfian.
"Kak Al?, Kita jalan sekarang. Cepat kak Al?" ucap Hana panik.
"Kamu yakin Hana. Tidak mau bertemu Ayahmu." ucap Alfian.
"Belum saatnya kak? Nunggu saat yang tepat. Ayo kak cepat jalan." ucap Hana menepuk jok kursi kemudi Alfian.
"Al?, Apa kamu nggak dengar." sahut Kevin.
"Baiklah Boss." ucap Alfian segera memutar balik arah mobilnya.
"Hana?" panggil Ayah Hana.
"Maafkan Hana Ayah?, Untuk saat ini tidak bisa menemuimu" ucap Hana dalam hatinya ia mengusap air matanya memalingkan wajahnya ke jendela.
"BABY. Kamu nangis?" ucap Kevin melihat wajah Hana dekat.
"Tidak My Prince. Ini cuma kemasukan debu." ucap Hana berbohong.
Kevin membenamkan Hana kedalam pelukannya.
"Kalau mau menangis keluarkan saja, kasian itu air mata kamu mau keluar tapi kamu tahan tahan." ucap Kevin mencoba menghibur Hana.
"Hiks...Hiks...Hiks" suara Hana menangis ia beralih memeluk Kevin.
"Cup... Cup...Cup. Babyku sayang, jngan menangis lagi, susunya habis yah! Nanti akan kubuatkan untukmu." ucap Kevin membuat Hana menatapnya.
"Kamu pikir aku anak kecil apa?" ucap Hana menatap Kevin kesal.
"BABY. Kamu lihat itu, tau tidak kenapa langit tiba tiba hujan, padahal cuaca panas." tanya Kevin.
"Tidak." jawab Hana menggeleng.
"Ketika bidadari yang ada disampingku ini menangis. Langitpun turut menangis." ucap Kevin membuat Hana tersenyum.
•
•
•
BERSAMBUNG♡♡♡