
"My Prince. Kamu marah, jangan gitu dong! aku kan tadi salah dengar." panggil Hana disaat Kevin keluar dari kamar mereka.
Hana ingin menghampiri suaminya ia lupa harus menghubungi Doni yang pastinya lagi panik sekarang.
~>>[[Hana: Hallo? Doni, sorry banget nih!]] belum selesai bicara ia sudah dicela oleh asistennya.
~>>[[Doni: Nona Hana? akhirnya. Dari tadi saya hubungi kenapa tidak diangkat, Nona ada dimana? sekarang saya akan kesana. ]]
~>>[[Hana: Aman, kamu tenang saja. Coba tebak saya dimana? ]] Hana malah bertanya padahal Doni masih panik.
~>>[[Doni: Jangan bercanda Nona. bahaya lho! apalagi tadi Nona naik sepeda motor, nanti kalau sampai Tuan Kevin tau, bisa kena marah saya.]]
~>>[[Hana: Sudahlah, lagi pula Kevin tau semuanya. Ternyata dia ada disini, sekarang saya ada di rumahnya, nggak nyangka sekali kan.]]
Doni menyerngitkan dahinya mencerna ucapan Hana.
~>>[[Doni: Maksudnya apa Nona?]]
"BABY. Kamu tidak berniat untuk mengejarku tau menghibur suamimu apa?" panggil seseorang sampai terdengar di dalam ponsel Doni.
~>>[[Hana: Doni? nanti saya kirim alamatnya, sebaiknya kamu pulang saja, istirahat.]]
Baru saja Doni akan berbicara panggilannya sudah terputus.
"Nona. Ya ampun dimatikan, tapi tadi suaranya Tuan Kevin, dia ada disini juga." gumam Doni melajukan mobilnya kembali karena ia sempat berhenti di pinggir jalan untuk mengangkat panggilan dari Hana.
Rumah itu walaupun tidak sebesar rumahnya Hana kebingungan harus mencari suaminya kemana karena ternyata didalamnya sangat luas.
"My Prince. Perasaan tadi dia memanggilku, tapi dimana?" panggilannya menggaruk kepala yang tak gatal.
"Aku ada disini BABY?" ucap seseorang dari belakang memeluk Hana erat.
Awalnya Hana terkejut tapi setelah mencium bau parfum ia tersenyum. "My Prince. Aku kira siapa? mengagetkan saja." ucap Hana sedikit menoleh ke belakang.
Kevin memberikan sebuah bunga mawar berbagai macam warna. Yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang untuk memberi kejutan kecil ke istrinya.
Manik mata Hana berkaca kaca ternyata suaminya sangat romantis terhadapnya. "Waah? beautiful. Indah sekali, kenapa tidak satu warna saja, putih, merah, atau yang lainnya, ini pasti susah carinya, hmm...! thank you very much, you are the best." ucap Hana mengalungkan tangannya ke kebelakang.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Ikutlah denganku sekarang." ajak Kevin melepaskan pelukannya kemudian menggandeng tangan Hana.
"Kemana?" tanya Hana tak ada jawaban dari suaminya.
Mereka sampai di sebuah Ruftop yang didesain sendiri oleh Kevin. Dan jadi dalam waktu sebentar saja, disaat Hana baru saja sampai di rumahnya.
"Keren sekali. Pemandangannya juga tak kalah cantiknya, waah! rumah kaca, aaaaa...! so sweet." ucap Hana menepuk tangannya kegirangan.
"Hey! hati hati dengan tanganmu. Baru juga diperban, nanti kalau darahnya keluar lagi bagaimana?" ucap Kevin menghampiri Hana dan menahan kedua tangannya.
"Emm...! Galak sekali suamiku ini. Mana senyum manismu." pinta Hana mengalungkan tangannya ke leher Kevin.
"Kamu itu paling pintar yah!kalau soal goda menggoda." ucap Kevin menaik turunkan alisnya.
"Hmm! galak, bawel. Kenapa harus ada kata kata itu sih!" ucap Kevin cemberut melepaskan rangkulannya Hana darinya.
"Ngambek lagi. Sensitifnya suamiku ini, jadi gemes deh! haa...haa...haa." ucap Hana dalam hatinya tertawa.
Kevin sedari tadi mengamati mimik wajah Hana ia seperti tau isi pikirannya.
"E' emm...! hayoo! lagi mikirin apa? pasti kamu." tanya Kevin menenggol bahu istrinya terlalu keras Hana yang tidak siap hampir saja jatuh tapi ia langsung sigap untuk menangkapnya.
Aaaaaa. "My Prince?" teriak Hana refleks merentangkan kedua tangan ke suaminya.
Keduanya malah tertawa bersama mereka mengingat masa dimana pacaran setelah menikah.
Haa...haa...haa. "Kita berasa lagi pacaran tau. Aku jadi ingat waktu awal awal menikah, kerjaannya berantem mulu, tiada hari tanpa bertengkar." ucap Kevin disela sela tawanya.
"Yang pertama kali ku ingat saat pertama kali kita bertemu. Dipinggir jurang, waktu mau bunuh diri itu, jangan pura pura lupa, aneh sekali cuma gara gara putus saja." ucap Hana menahan tawanya.
Bagaimana pun Kevin tidak dapat memungkiri nya ia sendiri juga heran kenapa dulu mau melakukan hal bodoh seperti itu.
"My Prince. Apa kamu nggak pegal terus diposisi ini terus, cepat turunkan aku." pinta Hana walaupun Kevin memegangi nya ia tidak kuat karena ia sedang hamil.
Kevin dengan segera mengangkat tubuh Hana dibawanya ke rumah kaca yang ada di ruftop suhu didalamnya sangat hangat. Berbeda disaat mereka diluar tadi.
"Ini tempat yang paling cocok buat kita berdua kencan." ucap Kevin menurunkan tubuh Hana.
Hana mengarahkan ibu jarinya ke Kevin. "Cakep! Keren sekali design interior rumah kaca ini. Nanti malam bulan purnama bukan sih!" ucap Hana membanting tubuhnya di atas kasur merentangkan kedua tangannya.
Kevin menggeleng. "Belum. Mungkin dua minggu lagi, ini masih bulan baru, jadi hanya terlihat sedikit." ucap Kevin membaringkan tubuhnya di samping Hana.
"Yah! kenapa lama sekali. Ooh iya, kamu masih lama kan tinggal disini." ucap Hana menatap manik mata suaminya dalam.
Tidak ada jawaban dari suaminya. "Jangan bilang kamu. Terus buat apa beli rumah disini, kalau ujung ujungnya pergi juga." ucap Hana sedikit kecewa tapi berusaha tetap tersenyum.
Dua Minggu kemudian...
Hari ini jadwal cek kehamilan Hana, sedangkan Kevin sendiri ia harus langsung pergi setelah mengantarkan nya ke rumah sakit.
"My Prince. Apa kamu yakin akan pergi sendiri, tanpa didampingi Gino? lagi pula disini aku kan sudah ada Doni dia bisa menjagaku." tanya Hana setelah mereka keluar dari ruangan pemeriksaan.
Kevin menggeleng. "Ada kok, nanti yang mendampingiku." jawab Kevin membuat Hana menatapnya seakan bertanya.
"Siapa?" tanya Hana penasaran.
"Ayo! apa kamu tidak mau mengantarku."ucap Kevin malah bertanya.
Hana sebenarnya masih ingin bersama suaminya tapi apalah daya. Memang dari awal Kevin kesana hanya sebentar untuk mengurus bisnis barunya.
BERSAMBUNG