Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
181. Bersamamu aku bahagia



Kevin mencengkram leher Gino, tatapannya menyorot tajam, ia mencekik nya begitu kuat hingga kuku kuku jarinya seakan masuk mengenai kulit leher Gino.


"Tuan Sombong. Lepaskan, dia bisa mati kalau begini caranya." ucap Lee memisahkan mereka berdua.


"Untuk apa kau disini. Apa tujuanmu datang lagi? pengkhianat seperti mu tak pantas menghirup udara segar." ujar Kevin mendorong tubuh Gino keras hingga terpental jauh darinya.


"Kevin. Hentikan, jangan kotori tanganmu, demi dia." ucap Lee menahan Kevin ketika ingin mengajar nya lagi.


"Siapa yang membebaskanmu?" tanya Kevin, Gino melirik ke arah Lee.


Kevin tiba tiba merasa sakit lagi di bagian dadanya.


Agrh...! "Kenapa kau melakukan itu? sudah jelas dia itu bersalah." pekik Kevin ia menolak uluran tangan Lee yang akan membantunya.


Gino dia orang yang telah menembak Kevin hingga menembus ke organ jantung nya, ia menyamar sebagai asisten hanya untuk membalaskan dendam ayahnya.


Setiap kali melihatnya Kevin terasa seperti tersayat oleh benda tajam, ia mengingat bagaimana asisten sekaligus sahabatnya sendiri berkhianat padanya.


"Tuan Sombong. Kau mau kemana? kita belum selesai bicara." panggil Lee kalah cepat, Kevin keburu masuk ke dalam mobil taxi.


*****


"My Prince. Akhirnya kamu pulang juga, aku menunggumu dari tadi." ucap Hana memeluk suaminya.


"Tadi kak Tae Yeong menghubungi ku. Katanya ingin bicara denganmu, pasti dia membahas tentang pernikahannya." lanjutnya, Kevin cuma tersenyum membalasnya.


Tubuhnya terasa dingin berbeda dari biasanya Kevin juga tak berbicara sepatah kata pun ia masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


"My Prince. Pintunya kenapa di kunci? kamu marah padaku." ucap Hana mengetuk pintu kamar.


"Apa kamu sudah makan? tubuhmu kelihatan lemas, wajahmu juga pucat." tanya Hana segera masuk disaat suaminya membuka kan pintu kamar untuknya.


"Belum. Bisa buatkan aku bubur, perutku sangat lapar." pinta Kevin.


"Oke. Kamu tunggu sebentar, aku akan membuatkan nya untukmu." ucap Hana tersenyum.


Kevin menyusul istrinya ke dapur. "Lho! My Prince. Kamu pasti lelah kan, tunggu didalam kamar saja." ucap Hana ia belum selesai memasak.


"No. Pemandangan disini lebih indah." ucap Kevin tiba tiba memeluk Hana dari belakang mesra.


"Bisa aja. Dasar gombal." ujar Hana sembari mengaduk bubur.


*****


"Bagaimana? anak anak. Apakah seharian ini mereka merepotkanmu?" tanya Kevin menikmati bubur buatan istrinya.


"Hmm...! lumayan sih! tapi itu kan tugas ku sebagai seorang ibu. Mengurus anak anak nya, justru aku sangat menyukainya." ucap Hana duduk di depan suaminya menyangga dagunya dengan kedua tangannya.


"Berhenti menatapku." pinta Kevin.


"Mengapa? kamu mulai bosan pada istrimu sendiri. Tapi aku akan berusaha mempercantik diri demi kamu." ujar Hana berkaca di layar ponsel nya.


"No. BABY, kamu ini selalu salah mengerti ucapanku." ucap Kevin mencubit gemas hidung istrinya.


"Terus apa? wajahku membosankan." ucap Hana cemberut ia semakin salah paham.


"Di hari pertama kamu kerja. Ada nggak karyawan kamu yang menyapamu, laki laki atau perempuan." lanjutnya menatap dalam wajah suaminya.


"Perempuan. Dia manis, kulitnya putih, cantik." ucap Kevin memujinya.


"Tuh! kan. Kamu mulai tertarik sama wanita lain, aku juga cantik, manis, kulitku berkilau, tapi kurang tinggi, satu lagi." ucap Hana memuji dirinya sendiri.


"Smart." sebut Hana tersenyum.


"Kamu memang pandai. Juga sangat gesit." ujar Kevin.


"Maksudmu. Gesit dalam hal apa? aku saja tidak pandai berlari." ucap Hana mulutnya sampai menganga.


"Saat kita berdua bermain." ucap Kevin mengedipkan sebelah matanya genit.


Hana mencubit lengan suaminya keras. "Ternyata yang ada di otak kamu hanya itu. Dasar mesum." umpatnya ia diam diam mengulaskan senyuman.


"Melihatmu tersenyum itu sudah cukup membuatku bahagia. Kamu obat terampuh untuk menyembuhkan semua lukaku, I Love You." ucap Kevin dalam hatinya.


Setelah selesai makan Kevin mengajak Hana untuk bersantai di balkon kamarnya dulu.


"Nyaman sekali rasanya. Kangen juga pengen tidur di kamar ini." ucap Hana mendongak menatap suaminya, memeluknya erat.


"Kamu tau. Kesedihan itu ibarat hujan, berawal dari gelap berubah menjadi terang, seperti kehidupan, ada kebahagiaan ada pula kesedihan." ucap Kevin mengusap rambut istrinya yang berbaring di sebelahnya.


"Terkadang jika kita terlalu memikirkan kesedihan. Akan selalu membuat hati semakin sakit dan berlarut larut, lupakan masa lalu, itu lebih baik daripada mengingatnya." ucap Hana tertuju pada suaminya.


"Kamu menyindirku." ujar Kevin.


"Kenapa? kamu merasa tersinggung. Jadi ketahuan deh! kalau sekarang suamiku sedang memikirkan sesuatu." ucap Hana beralih mengusap rambut lelaki dalam pelukan nya.


"Kamu jangan sok tau. Tapi benar juga tebakanmu." ujar Kevin.


Haa...Haa...Haa...


"Itu kan. Ragamu ada disini, tapi pikiranmu entah kemana?" ujar Hana di sela sela tawanya.


"Yang paling penting hatiku ada bersamamu. BABY." ucap Kevin memanggil nya, Hana sudah terlelap.


"Baru juga diajak bicara." ujar Kevin tersenyum melihat raut wajah istrinya, begitu tenang, setiap kali memandang ia selalu di buat terpana.


"Good Night. BABY, sweet dreams." ucap Kevin mengecup rambut Hana.


*****


Di kamar atas ada rumah kaca yang sengaja di buat oleh Kevin, di balkon jadi jika hari mulai pagi, sinar matahari akan menyorot.


"Jam berapa ini? kenapa silau sekali?" gumam Hana membuka sedikit matanya karena terasa begitu silau.


"Good Morning. BABY, kamu pasti lapar, udah sana cuci muka, setelah itu kita sarapan bareng." titah Kevin dituruti olehnya.


Akan tetapi Hana tidak sekedar cuci muka ia sekalian mandi, jadi butuh waktu cukup lama untuk keluar dari dalam sana.


"My Prince. Sedang apa kamu disitu?" tanya Hana terkejut, ketika suaminya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Dua puluh menit. Apa cuci muka selama itu?" tanya Kevin menatap istrinya dekat.


"Ya sudah. Ayo! Papa, Mama pasti sekarang sedang menunggu kita di bawah." ajak Hana merangkul lengan suaminya.


Kevin mengangkat tubuh Hana ia membawanya ke Ruftop rumahnya.


"Buat apa kita kesini. Turunkan aku, kamu nanti kelelahan, lagi pula di dalam kan ada lift kenapa harus menaiki tangga?" ujar Hana terheran heran.


BERSAMBUNG...