
"Sepertinya aku mendengar sesuatu." ucap Kevin ia merasakan bunyi di perut Hana.
Kevin melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Hana ke meja makan yang hanya ditempati mereka berdua saja.
"Kenapa nggak dari tadi sih? perutku kan udah nggak bisa di ajak bicara." ucap Hana menduduki kursi berhadapan dengan Kevin.
"Memang ada. Kamu menyukainya." ucap Kevin melihat ke meja makan penuh dengan makanan khas indonesia kesukaan Hana.
"Tentu. Aku menyukainya." ucap Hana tersenyum senang mengambil sendok dan garpu untuk segera menyantapnya.
"Apa tangan mu masih sakit?" tanya Kevin melihat Hana dengan lahapnya memakan makanannya.
Hana menggeleng pelan. "Hmm. Ini berkatmu karena sudah merawatku dengan baik, tapi masih ada bekasnya." ucap Hana melihat tangannya yang ada bekas luka karena ia baru saja dilepas perban nya.
"Pastinya. Setiap luka pasti meninggalkan bekas, ibarat kita terkena goresan, rasanya akan sakit jika tidak segera di sembuh kan, semuanya butuh waktu. " ucap Kevin memakan makanannya.
"Termasuk luka karena sakit hati. Susah tuh menyembuhkannya, tidak ada obatnya kalau bukan kita sendiri." ucap Hana yang sedang mengunyah makanan didalam mulutnya.
"Apa kamu tidak ingin berterima kasih kepadaku." ucap Kevin mencari topik pembicaraan lain.
"Untuk apa? aku sudah berterima kasih kepadamu dengan mau menikah denganmu. jadi aku tidak ada hutang budi denganmu lagi." jawab Hana santai tersenyum.
"Maksudmu kamu mau menikah denganku karena hutang budi." ucap Kevin berharap Hana memiliki alasan lain selain itu.
"Yes." ucap Hana santai melanjutkan aktifitas makannya.
Wajah Kevin terlihat termenung karena alasan Hana mau menikah dengannya bukan karena Hana mencintainya.
"Aku mencintaimu Kevin. Ku harap pernikahan ini atas kemauan kamu sendiri bukan karena orang tuamu menyuruhmu agar cepat menikah karena dengan alasan bukan karena mencintaiku tapi karena ingin mendapatkan warisan dari orang tuamu." ucap Hana dalam hatinya mencoba tersenyum dihadapan Kevin yang menatap kearah nya menyembunyikan kesedihan didepan orang yang ia cintai.
"*K*enapa ada rasa yang berbeda mendengar jawaban dari Hana. Dari awal aku mau menikahinya karena ingin membalas sakit hatiku karena ayahnya telah merebut kasih sayang dari ibu kandungku, tapi apa dia akan marah kalau tau semua ini, melihat wajahnya aku tak sanggup untuk melakukannya melihat wajahnya yang imut seperti itu sudah membuatku ingin selalu ada didekatnya." batin Kevin menatap Hana tanpa berkedip membuat Hana merasa risih.
"*Ke*napa Kevin menatapku seperti itu?, Apa dia tau isi hatiku." ucap Hana bertanya tanya dalam hatinya.
Kevin cukup lama menatap Hana sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya karena Hana sendiri merasa gugup Kevin menatapnya tidak seperti biasanya.
"Kevin. Apa kamu sakit? kenapa makanan nya tidak dimakan, sayangkan terbuang sia sia." ucap Hana mengibas ngibaskan tangannya ke wajah Kevin sehingga mengagetkan Kevin yang sedang melamun.
"Aaah. Tidak, aku sudah kenyang, kita bagikan saja makanan ini kepada orang lain yang lebih membutuhkan." ucap Kevin melihat ada banyak makanan yang belum dimakan diatas meja.
"Kamu sih! suka banget buang buang uang. Huh! kita hanya berdua tidak perlu makanan sebanyak ini, itu kenapa pelayan kesini lagi, yang ini saja masih banyak." ucap Hana kesal menatap pelayan yang akan mendekati mereka membawa nampan berisi makanan.
"Ya sudah. Kan aku bilang tadi, makanan nya dibagikan orang yang sedang membutuhkan, itu pelayan aku yang suruh, kamu jangan melototin dia seperti itu." ucap Kevin melihat Hana menatap tajam kearah pelayan.
"Ooh!" Hana singkat tersenyum kepada pelayan tersebut.
"Saya minta, kamu tolong bagikan semua makanan yang belum di makan, ke orang yang ada disekitar restoran ini, aku tadi lihat banyak anak anak yang diusir kalian ketika mau memasuki restoran ini." ucap Kevin.
"Kalo begitu ajak orang orang itu untuk makan di restoran ini. Saya yang akan membayar semuanya." ucap Kevin mendapat anggukan dari pelayan tersebut.
"Kamu serius Kevin. Selain tampan kamu juga sangat dermawan." ucap Hana memuji Kevin dengan memegang kedua bahu Kevin menatapnya kagum.
Kevin yang melihat Hana sedekat itu membuatnya langsung tersenyum ingin rasanya ia memeluknya tapi ia menahannya dengan menarik kedua tangan Hana dengan pelan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Kevin.
"Tidak " jawab Hana menggeleng kan kepalanya melihat ekpresi Kevin yang terlihat serius.
"Ayo kita turun sekarang." ajak Kevin menarik tangan Hana menuju ke lift.
"Mau apa?" tanya Hana kini mereka berada didalam lift.
Shutttt.... Kevin meletakkan telunjuknya ke mulut Hana.
"Dia mau apa sebenarnya?" tanya Hana dalam hatinya.
"Mau buat kejutan buat mereka." ucap Kevin seakan tau isi hati Hana.
"Darimana kamu tau isi hatiku. Jangan bilang kamu bisa mendengar suara hati orang termasuk aku." ucap Hana bingung membuat Kevin langsung mencubit kedua pipi Hana gemas.
"Kevin. Lepas, sakit tau." pinta Hana berusaha melepaskan tangan Kevin dari pipinya.
"Oke. Tapi kamu itu seperti boneka yang menggemaskan, sehingga aku tidak bisa melepaskanmu." ucap Kevin menahan tawanya melihat ekpresi Hana yang menggemaskan ketika ia sedang marah.
"Kevin?" teriak Hana menginjak kaki Kevin keras sehingga Kevin langsung melepaskan cubitannya dari pipi Hana dan memegang kaki yang diinjak Hana keras.
"Aduh! muka ku jadi merah kan." ucap Hana mengambil Handphone dan berkaca memegangi pipinya yang memerah karena ulah usil Kevin.
"Hey! sebenarnya kamu ini perempuan atau lelaki sih! kakiku sakit tau." ucap Kevin menatap tajam Hana.
"Enak saja kamu. Aku ini perempuan, siapa suruh kamu mencubit pipiku, merah lagi." ucap Hana mengusap wajahnya membalas tatapan tajam Kevin melotot kearah nya.
"Kamu ini." ucap Kevin belum selesai pintu lift terbuka mereka telah sampai di lantai bawah.
Hana berjalan kearah anak kecil yang berjongkok dibawahnya karena tempat duduknya sudah penuh dengan orang orang.
"Adek. Mau duduk bersama kakak disana?" tanya Hana menunjuk kearah sofa yang didepanya ada meja.
"Tidak. nanti sofanya bau karena aku menduduki nya." ucap anak kecil itu menolak dan celingukan kesana kemari mencari kursi yang kosong tapi tidak ada.
"Tidak apa apa. Ayo ikut kakak kamu duduk disana saja." ajak Hana mengulurkan tangannya keatas karena ia masih berjongkok menatap wajah anak kecil itu.
Bersambung***