
"Laki laki yang memberikan bunga untukmu." ucap Kevin menebak.
"Aku tidak tau." ucap Hana mengangkat bahunya acuh.
"Apa kamu mempunyai cinta pertama?" tanya Kevin membuat Hana menatapnya tersenyum.
"Mungkin orang yang terakhir menjadi pacarku." ucap Hana asal
Padahal yang ia maksud adalah Kevin ia sudah menganggap Kevin pacarnya sendiri karena tidak lama lagi Hana akan menikah dengan nya walaupun ia tau itu bukan pernikahan yang di impikan nya selama ini.
"Pacar-mu yang terakhir." ucap Kevin tak mengerti maksud ucapan Hana.
"Iya. Dia sangat tampan, tinggi, kulit putih, imut tapi sayangnya angkuh." ucap Hana sebenarnya sedang memuji Kevin.
"Apa dia lebih tampan dariku?" ucap Kevin.
"Hmm. Dia sama tampan nya denganmu, tampan sekali, apalagi disaat tersenyum, menambah aura ketampanan nya semakin terpancar." ucap Hana tersenyum menatap Kevin.
"Sesempurna itu." ucap Kevin sebenarnya merasa kesal tapi ia tidak memperhatikan kepada Hana.
"Tidak juga. Didunia ini tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihan masing masing." ucap Hana kini pandangannya ke mawar merah yang ada di depannya.
"Cantik. Kamu pasti merawat nya dengan baik." ucap Hana masih memandangi bunga Mawar merah itu dengan teliti.
"Iya. Cantik." ucap Kevin menatap Hana dari samping ia sedang tersenyum melihat bunga bunga yang ada di hadapannya.
"Kamu tau. Kenapa didunia ini tidak ada yang sempurna, Bunga Mawar ini contohnya mereka sangat indah tapi berduri sehingga siapapun pasti akan berfikir dua kali untuk memetiknya." ucap Hana sembari duduk dihadapan Kevin.
"Seperti diriku. Aku sudah berfikir dua kali sebelum menikah denganmu, kalau aku tidak mencintaimu, pasti aku sudah pergi darimu, pasti ada cara untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku." ucap Hana dalam hatinya.
"Hayoo. Kamu diam diam memikirkanku ya!" ucap Kevin mengagetkan Hana yang sedang melamun menatap nya.
"T-idak juga. Aku ingin pergi ke sana, bolehkan." ucap Hana menghampiri ayun ayun yang ada di sisi kanan bunga mawar.
"Aku kira kau tidak melihatnya." ucap Kevin.
"Bolehkan." ucap Hana memohon.
"Pegang tanganku. Karena di sisi kanan dan kirimu ada banyak bunga mawar, kamu tidak mau kan tertusuk duri durinya." ucap Kevin mengulurkan tangannya.
Tanpa berpikir lama Hana menerima uluran tangan Kevin.
"Kok cuma satu ayunan. Terus aku duduk dimana?" ucap Hana bingung karena Kevin terlebih dahulu mendudukinya.
"Sini bareng sama aku. Ini masih muat untuk dua orang." ucap Kevin menarik tangan Hana dan duduk di bersebelahan dengan jaraknya begitu dekat sehingga Kevin merangkul bahu Hana dan memegang tiang.
"Aaah. Iya aku sampai lupa." ucap Hana menatap Kevin beralih ke langit malam.
"Lupa kenapa?" tanya Kevin ikut menatap langit seperti yang Hana lakukan.
"Hee...Hee. Maksudku itu, aku menunggunya." ucap Hana membuat Kevin tak mengerti.
"Menunggu siapa?" tanya Kevin masih tak mengerti.
"Kamu lihat itu. Bulan purnama, indah bukan kamu tau disaat aku sedih, cukup melihat bulan walaupun sebentar itu rasanya hati aku jauh lebih tenang." ucap Hana tersenyum memandangi nya.
"Kenapa harus bulan. Bukan matahari misalnya." ucap Kevin.
"Emang ada yang lucu." ucap Kevin menatap Hana sebal.
"Nggak ada. Kesukaan orang kan berbeda beda, contohnya aku, suka banget sama bulan, kadang aku merasa sedih karena bulan purnama tidak muncul karena ya! hujan atau mendung." ucap Hana tersenyum menatap Kevin.
"Apa kamu selama ini kamu bahagia?" tanya Kevin membuat Hana mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu menayakan hal seperti itu. Aku bahagia, sangat bahagia." ucap Hana tersenyum.
"*A*ku bahagia asal. Bisa selalu dekat denganmu, karena aku sangat mencintaimu." ucap Hana dalam hatinya.
"Oh Iya. Aku baru ingat saat kamu bilang, apa maksudnya kamu sudah terbiasa dihina?" tanya Kevin menatap Hana intens.
"Ooh. Pas dikantor kamu, ya! aku kan itu kan wanita tercantik di kampus, bahkan sejak pertama aku memasuki sekolah, banyak pria yang menyukaiku." ucap Hana.
"Dasar sok cantik. Saya juga banyak yang suka semua cewek yang ada di sekolah selalu mengejar cintaku tapi aku tak pernah membalas nya." ucap Kevin mengacak acak rambut Hana.
"Hissss. Kamu tidak percaya, aku ini memang cantik, primadona para lelaki, termasuk." ucap Hana jari telunjuk nya mengarah ke Kevin.
"Jangan terlalu percaya diri. Siapa juga yang menyukaimu." ucap Kevin memutar bola matanya malas.
"Kamu." Hana kembali menunjuk jarinya ke Kevin ia hampir saja di gigit olehnya kalau tidak segera menghindar.
"Asal kamu tau. Walaupun aku cantik tapi sering berantem sama teman perempuan, mereka selalu menghinaku, karena kecerdasan yang ku miliki, jadi aku tidak disalahkan oleh guruku tapi mereka, aku terbebas dari hukuman." ucap Hana bangga.
"Pintar sih! tapi pintar mencari alasan." ucap Kevin malas.
"Salah sendiri mereka cari perkara denganku. Bukan salahku." ucap Hana acuh.
"Hmm. Siapa mantan pacarmu yang paling kamu sukai?" tanya Kevin membuat Hana mengerutkan dahinya.
"Ada. Tapi rahasia, yang paling penting dia itu tampan sepertimu, dan sampai sekarang kita belum putus, karena aku belum pernah berjumpa dengannya lagi." ucap Hana.
"Bagaimana bisa?" tanya Kevin.
"Bisalah. Masa enggak." jawab Hana santai.
"Apa dia masih mencarimu?" tanya Kevin lagi.
"Nggak tau. Aku harap sih dia sudah menganggap hubunganku dengannya sudah putus, jadi dia tak perlu mencariku lagi." jawab Hana.
"Apa kamu masih menyukainya?" tanya Kevin masih penasaran.
"Tidak tau. Mungkin iya, mungkin saja tidak." jawab Hana.
"Masa perasaan sendiri tidak tau. Kamu punya hati kan." ucap Kevin.
"Aku tipe wanita yang hanya menyukai satu pria. Para mantanku cuma status saja, tidak lebih." ucap Hana tersenyum menatap Kevin.
•
•
•
BERSAMBUNG***