
"Kita akan segera mempunyai cucu." ucap Fadly.
"Papa serius. Tapi kenapa Kevin ataupun Hana tidak memberitahu sama kita." ucap Sinta sedikit kecewa.
"Mungkin mereka belum sempat. Atau mau memberi kejutan buat kita, saat kembali kesana." ucap Fadly diangguki oleh Sinta.
*****
Sementara di dalam markas Singa Merah anak buah mereka lengannya terluka parah bahkan sampai sekarat dirawat di rumah sakit ilegal milik ketua mafia.
Mereka mengurungkan niatnya untuk menyerang ke rumah Kevin karena rencananya digagalkan oleh anak buah Lee Tae Yeong yang sudah terlebih dahulu menangkap anak buahnya bahkan dikembalikan ke Singa Merah dengan keadaan tak bernyawa.
"Sial. Rencana kita gagal, ini semua karena teman perempuan itu, ternyata mereka tidak bisa diremehkan." ucap laki laki setengah wajahnya tertutup topeng karena cacat sedari remaja karena melindungi adiknya Fadly.
Mereka kakak beradik tapi semenjak kejadian itu ia selalu dikucilkan oleh teman temannya karena tidak punya fisik seperti mereka ia juga tidak diakui oleh keluarganya sendiri.
Selalu membedakan antara dia dan Fadly sebagai anak kesayangan orang tuanya.
Pada akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan anggota mafia dan dijadikan ketua karena menikah dengan anak dari ketua mafia itu.
"Ayah tenang aja. Sebentar lagi rencana kita akan berhasil, tinggal tunggu waktu saja, akan kupastikan hidupnya tidak akan pernah tenang, setidaknya aku sudah berhasil menyelakai Kevin." ucap seseorang dibelakang.
"Ini baru awal. Selanjutnya akan ada pertunjukan yang lebih menarik lagi, haa..haa..haa." ucapnya tertawa menggema diseluruh ruangan itu.
*****
Dirumah Kevin
"My Prince. My Prince, bangun dulu. Kita makan malam yuk! jangan tidur terus, kamu kan harus minum obat." ajak Hana menepuk pundak suaminya yang masih bergelut dengan selimutnya.
"Nanti nggak sembuh-sembuh lho! kalau kamu seperti ini, My Prince?" panggil Hana ditelinga suaminya.
Kevin sebenarnya sudah bangun saat Hana memasuki kamar mereka ia cuma malas untuk makan atau minum obat ia terpaksa harus bangun.
Karena tidak akan pernah berhenti sebelum memastikan Kevin bangun.
"Hmm. Aku sudah kenyang." ucap Kevin hanya sedikit membuka matanya.
"Kamu nglindur. Kenyang makan apa? kasihan mereka dari tadi nungguin kita." ucap Hana pelan tetapi Kevin masih tetap tak mau bangun juga.
"Oke. Kalau kamu tidak makan, aku tidak mau makan juga." ucap ikut berbaring di samping suaminya.
Kevin yang tak tega akhirnya mau tidak mau ia harus menurutinya karena Hana juga sedang hamil ia takut kalau bayi yang ada dikandungan istrinya ikut kelaparan gara gara tidak mendapat asupan makanan dari ibunya.
"Iya. Ayo kita turun, makan malam." ajak Kevin membuat Hana tersenyum senang.
Sesampainya di meja makan mereka langsung di sapa Kwak Hyun tapi bukan Lee Tae Yeong yang melirik Kevin yang duduk di sebelahnya.
"Lama banget kamu. Lima belas menit kita duduk disini, perut sudah kelaparan, orang sakit kok malas, seharusnya kamu banyak olahraga, gerakin badan agar tidak kaku." ucap Lee Tae Yeong.
"Aku tidak pernah suruh kamu menunggu. Kalau mau makan silahkan saja, lagi pula aku cuma menemani Hana, begitu saja repot." ucap Kevin santai sangat tak bersemangat.
Hana mengambilkan makanan yang suaminya mau walaupun cuma sedikit Kevin hanya makan nasi putih saja sama sayur ia tak begitu selera makan padahal didepanya banyak lauk pauk yang enak- enak.
"Kamu yakin ini saja. Aku ambilkan udang ya! biar nggak sepi, ya ampun My Prince, makan segitu mana kenyang, ini baru tiga sendok lho!" ucap Hana sembari menyuapi suaminya yang memalingkan mukanya.
"Sudahlah Honey. Jangan dipaksa, dia bukan anak kecil lagi kan, yang harus dipaksa makan, bukan begitu Hyun?" ucap Lee Tae Yeong melihat ke arah Hana beralih ke Kwak Hyun.
"Kenapa sifat dia sama sepertiku. Cara bicaranya, gayanya, apa benar Lee saudara kembarku, yang benar saja, wajahnya saja tidak sama, sungguh aneh." batin Kevin dalam hatinya ia memperhatikan ke arah Lee Tae Yeong lumayan lama.
Lee Tae Yeong yang tau Kevin sedang memperhatikan dirinya ia langsung menoleh tapi Kevin pura pura bertanya pada Hana.
"BABY. Obatku dimana?" tanya Kevin basa basi padahal apa yang dia cari berada di depannya.
"Matamu masih berfungsi dengan baik kan. Ini apa?" ucap Lee Tae Yeong mengambil obat Kevin ia tempatkan ditangan kiri Kevin.
Kemudian Lee Tae Yeong mengajak Kwak Hyun ke Ruftop yang ada di rumahnya Kevin.
"Honey. Di rumah ini apa ada ruftop, sepertinya seru malam-malam begini, malam ini panas sekali." tanya Lee Tae Yeong menoleh ke arah Kevin.
"Ada. Kak, tunggu, kalian mau kemana?" tanya Hana ketika Lee Tae Yeong dan Kwak Hyun berjalan menaiki tangga mau ke Ruftop.
Hana bilang kalau di Ruftop tidak bisa dimasuki sembarang orang karena pintu masuknya menggunakan sidik jari Kevin beserta kata sandinya.
Begitupun ruangan kerjanya dan kamar Kevin dan Hana.
Selama Hana tinggal di rumah suaminya ia tak pernah menginjakkan kakinya ke Ruftop apalagi Kevin tidak pernah mengajaknya kesana.
"What? memangnya disana ada apa? sampai harus di kunci segala. Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu diatas sana." ucap Lee Tae Yeong mendekati Kevin yang sedari tadi hanya diam saja.
"Sesuatu apa? tidak ada. Nggak usah aneh-aneh." ucap Kevin menatap Lee Tae Yeong santai.
Setelah sampai di Ruftop mereka berdecak kagum karena disana terdapat sebuah ruangan setengah dari Ruftop rumah Kevin.
"Bagus juga. Ini ruangan apa? boleh aku mau masuk." ucap Lee Tae Yeong.
"Kamu itu dikasih hati minta jantung yah?" ucap Kevin ia membukakan ruangan yang berada di Ruftop.
Didalamnya ternyata banyak lukisan-lukisan yang indah dan juga ada peralatan melukis yang lengkap.
Lee Tae Yeong dibuat kagum dengan apa yang sedang ia lihat pasalnya ia sangat menyukai karya seni lukisan.
BERSAMBUNG