
Hana mengikuti langkah kaki Lee Tae Yeong ia matanya sampai terbelalak melihat lukisan sketsa wajah dirinya di pajang dengan ukuran besar.
"Wajah ini tidak asing. My Prince?" gumam Hana ia menoleh ke arah Kevin yang berada dibelakangnya.
Kevin menggeleng pelan ia tak percaya kalau Hana tidak mengenali lukisan dirinya sendiri.
"Honey. Kamu punya kembaran, ya ini kamulah, masa sama wajah sendiri lupa." ucap Lee Tae Yeong.
"Hee..Hee. Lupa, lukisan ini terlalu cantik dari aslinya." ucap Hana tertawa memperlihatkan giginya ke Lee Tae Yeong.
Kwak Hyun penasaran sama lukisan yang tertutup kain putih sampai berdebu ia berniat membukanya tapi ia bertanya terlebih dahulu.
"Kevin. Boleh aku buka lukisan ini." ucap Kwak Hyun diangguki oleh Kevin.
Setelah dibuka ternyata sebuah lukisan tiga anak kecil dia dua laki laki satu perempuan berada di posisi diangkat oleh kedua anak laki laki nya.
"Dua anak lelaki ini Kevin sama Alfian kan. Lalu siapa perempuan ini, kenapa mukanya tidak asing, seperti pernah melihatnya, tapi dimana?" gumam Kwak Hyun pada dirinya sendiri menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Kevin mendengar ucapan Kwak Hyun tapi ia pura pura tak mendengarnya dan berjalan mundur hingga menabrak tubuh Lee Tae Yeong yang berada disampingnya.
"Hei. Kalau jalan pakai mata, bukan cuma kaki aja yang digunakan." ucap Lee Tae Yeong ia hampir terjatuh ia tak sengaja melihat lukisan yang tidak asing dimatanya.
"Sorry. Aku tidak sengaja, hmm! BABY, kita duduk disana yuk?" ajak Kevin meraih tangan Hana mengajaknya keluar ruangan itu.
"Anak perempuan ini. Kenapa mirip sekali sama Hana, iya benar itu." batin Lee Tae Yeong mengamatinya.
"Tuan Sombong. Siapa anak perempuan ini?" tanya Lee Tae Yeong mencekal tangan Kevin.
Kevin berusaha melepaskan tangannya dari Lee Tae Yeong tapi tenaganya seperti tidak ada.
"Sial. Susah banget digerakkan, apa kamu selemah ini Kevin, melepaskan tanganku darinya saja tak bisa, bagaimana untuk melindungi Hana?" batin Kevin kesal.
"Memangnya kenapa? kamu mengenalnya." ucap Kevin dengan wajah datar.
"Ooh tentu. Tidak usah berpura pura, aku tau ini siapa?" ucap Lee Tae Yeong.
"Kalau sudah tau. Kenapa bertanya padaku?" ucap Kevin memalingkan muka.
Hana berjalan mendekati lukisan itu lebih dekat ia sampai mengamatinya dalam dalam.
"Aaaaa. My Prince, itu aku kan, lalu siapa dua anak laki laki yang berada disampingku?" tanya Hana ia sampai berteriak ditelinga suaminya sampai terkejut.
"BABY, bisa pelankan suaramu. Tidak baik buat buatmu, kalau misalnya kamu berteriak didepan orang yang lebih tua dari kita, mereka bisa saja terkena serangan jantung, ngerti kan." ucap Kevin sepelan mungkin karena ia sedang menahan kesalnya.
Hana mengangguk angguk saja ia tau kalau suaminya berbicara dengan nada seperti itu berarti sedang kesal tapi Kevin tak mau melampiaskan padanya.
"Kalian malah ngobrol sih! Aku tanya siapa dia?" tanya Lee Tae Yeong menunjuk ke arah lukisannya.
"Penting banget emangnya. Aduh, aaaaah! iya aku jelaskan semuanya, lepas dulu tanganmu." ucap Kevin tangan kanannya dicekal oleh Lee Tae Yeong.
"Honey, sakit tau. Tuh! kan dia kabur, hei Tuan sombong, mau kemana kamu." keluhnya kemudian memanggil Kevin yang sudah pergi dari ruangan itu.
Kwak Hyun dan Hana saling pandang mereka bingung harus ngapain.
Setiap kali berbicara selalu bertengkar tak ada hentinya karena salah satu darinya tidak ada yang mau mengalah.
"Hana. Bagaimana dengan mereka, sebaiknya kesana saja. nanti urusannya akan semakin panjang." ajak Kwak Hyun kepada Hana tapi menolak.
"Biarkan saja mereka. Terserah mau apa, lagi pula kak Tae Yeong tidak akan mungkin menyakiti Kevin?" tolak Hana ia malah duduk di bangku untuk melukis.
Lee Tae Yeong sampai bertanya berkali kali tapi Kevin masih tetap saja tak mau menjawab.
"Hei. Ya ampun anak ini, susah sekali ditanyain." gerutu Lee Tae Yeong ia memperdalam langkahnya untuk mencegah Kevin memasuki lift.
Hal yang paling Kevin tidak sukai terjadi tiba tiba saja turun hujan ia bergegas memasuki lift tapi tangannya dicekal lagi oleh Lee Tae Yeong yang masih penasaran dengan jawaban dari pertanyaan nya.
"Kamu lagi. Lepaskan tanganmu, jangan mengikutiku lagi." ucap Kevin melihat ke arah langit ia menahan rasa takutnya.
Dan berusaha tetap tenang walaupun hatinya sedang gelisah karena panik ketika hal yang paling ditakuti terjadi.
Sedangkan Hana disana sedang melukis ia menggambar wajah suaminya dan Lee Tae Yeong sedang merangkul satu sama lain.
"Kak Hyun. Bagaimana menurutmu, bagus tidak." tanya Hana ia menoleh ke arah Kwak Hyun.
"Haa...Haa...Haa. Kamu ada ada saja, mereka sangat akrab dan terlihat akur, cepat sekali kamu menggambar, padahal baru lima menit." ucap Kwak Hyun tertawa ia tak menyangka kalau Hana menggambar suaminya bersama Lee Tae Yeong dengan raut wajah gembira.
"Sepertinya hujan. Kita masuk kedalam rumah, lagi pula cuacanya dingin sekali, takutnya kamu bisa masuk angin." ajak Kwak Hyun membuat Hana langsung bergegas pergi ia berjalan ke arah Lee Tae Yeong dan suaminya yang masih disana.
Hana langsung mengajak suaminya masuk sebelum hal yang terjadi hal yang tidak diinginkan.
"My Prince, ayo kita masuk. Sebentar lagi akan hujan, apa kamu mau pingsan disini." ajak Hana ia melepaskan cekalan tangan Lee.
Lee Tae Yeong dibuat bingung oleh ucapan Hana ia tak mengerti apa yang dikatakannya ia mengikuti mereka masuk kedalam rumah.
Pagi pagi sekali Hana sudah bangun ia menyiapkan sarapan untuk semuanya.
"Honey, sudah bangun. Suamimu dimana? jam segini dia belum bangun, manja banget." tanya Lee Tae Yeong ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air.
"Masih dikamar. Semalam dia tidak bisa tidur, biasalah efek kehamilan" jawab Hana.
"Kenapa? kangen." goda Hana ia tersenyum kearah Lee Tae Yeong.
"Buat apa? aku heran. Kenapa kamu sangat mencintainya, anak manja, sombong seperti dia, kelebihannya apa coba, kriteria suamimu bukan seperti Tuan Sombong itu?" tanya Lee Tae Yeong duduk di meja dapur.
BERSAMBUNG***