Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
29. Bercanda bersama



"Ayo masuk." ajak Kevin kedalam ruang kerjanya.


"Ini rumah atau kantor. Kenapa lengkap sekali didalam nya." ucap Hana dalam hatinya melihat dinding ada foto Kevin dengan senyum manisnya bersama kedua tuanya mata Hana berhenti dia melihat foto masa kecil Kevin bersama perempuan ia memperjelas penglihatannya.


"Itu kok mirip banget seperti aku waktu kecil." ucap Hana memegang foto itu dilihat nya Kevin sedang memeluk anak kecil disamping nya.


"Itu aku masih. Kecil jelek ya!" ucap Kevin membuat Hana kaget.


"Tidak juga. Kamu lucu sekali, terlihat imut." ucap Hana mengusap wajah Kevin masih kecil.


"Kalo sekarang apa masih imut." ucap Kevin memasang wajah imutnya dan senyum manisnya.


"Emm. Enggak juga sekarang bukan imut, tapi." ucap Hana berhenti.


"Tapi apa?" tanya Kevin penasaran.


"Amit. Amit, Ha..Ha..Ha." ucap Hana ragu ragu kemudian tertawa.


"Kamu." ucap Kevin menatap tajam Hana kemudian mendekat menggelitiki perut Hana hingga tertawa keras begitu juga Kevin yang tidak mau berhenti.


"Kevin. Sudah, sudah ini geli." ucap Hana tertawa geli dan berusaha melepaskan tangan Kevin.


"Itu salahmu sendiri. Akan ku buat kamu tertawa lebih keras lagi." ucap Kevin masih saja tangannya menggelitiki Hana hingga ada seseorang yang datang mereka tak mengetahuinya.


Hemm.... suara deheman seseorang membuat Kevin dan Hana menoleh seketika mereka terkejut dan segera merapikan bajunya masing masing.


"Papa. Sejak kapan ada disitu, kok nggak bilang dulu atau salam gitu pah?" ucap Kevin kaget ternyata yang datang adalah orang tuanya.


"Sejak dari tadi. Sudah lima menit yang lalu." ucap Fadly santai melihat jam yang ada di tangannya dan menyilang kedua tangannya.


"Lima menit." ucap Kevin dan Hana bersamaan.


"Kalian ini kompak sekali. Dikantor saja bisa bisanya berpacaran." ucap Fadly pelan tapi menekan.


"B-bukan seperti itu. Papa salah lihat." ucap Hana melihat wajah Fadly marah.


Ha..Haa..Haa.... suara tawa Fadly mengagetkan Hana dan juga Kevin merasa heran pasalnya ia marah dan tiba tiba tertawa.


"Kenapa papa ketawa?" tanya Kevin.


"Kalian ini lucu sekali. Papa hanya pura pura marah untuk ngerjain kalian." ucap Fadly masih menahan tawanya.


Hufff..... Hana membuang nafasnya kasar merasa lega.


"Kevin kira papa beneran marah." ucap Kevin.


"Ooh! Iya. Papa menyuruhku kesini ada apa?" tanya Kevin penasaran.


"Kita duduk dulu Hana. Berdiri terus capek." ajak Fadly duduk di Sofa yang ada di dalam ruangan Kevin.


"Kalian benar benar berpacaran." ucap Fadly membuat Kevin memeluk pinggang Hana meyakinkan papanya.


"Y-ya. Iyalah pah?" ucap Kevin tersenyum manis ke Hana.


"Kalau begitu. Minggu depan kalian harus menikah." ucap Fadly membuat Kevin dan Hana saling pandang kemudian menatap Fadly kaget.


"What?" ucap Hana dan Kevin bersamaan.


"Kenapa kalian kaget. Udah seharusnya menjalankan hubungan yang lebih serius." ucap Fadly menatap Kevin tajam.


"T-tapi kan pah?" ucap Kevin.


Hana hanya terdiam harus jawab apa pertanyaan Fadly.


"Tidak ada tapi tapian. Pokoknya Papa tidak mau tahu kalian harus menikah, kalau perlu sekarang juga." tegas Fadly menatap Kevin dan Hana tajam kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Kita harus bagaimana?" tanya Hana memang belum siap untuk menikah.


"Menikah." jawab Kevin santai.


"Oke. Aku akan bicara sama papa lagi nanti." ucap Kevin tak mau karena ia juga belum siap untuk menikah.


"Kamu turuti saja yang dikatakan oleh Papa. Tidak baik melawan perintah orang tua." ucap Hana pasrah menasehati Kevin.


"Lalu bagaimana dengan kita. Aku akan tetap berpura pura menikah denganmu." ucap Kevin membuat Hana sedih dan sebisa mungkin ia menutupinya.


"Kamu tenang aja. Walaupun kita pura pura menikah, aku akan tetap menafkahimu lahir batin, bertanggung jawab sebagai layaknya seorang suami pada istrinya." ucap Kevin melihat Hana terlihat sedih padahal yang Hana inginkan Kevin benar benar mencintainya bukan hanya pura pura.


"*A*pa kamu tidak pernah mencintaiku. Apa aku tidak pantas dicintai olehmu." ucap Hana dalam hatinya karena sebenarnya Hana sudah mencintai Kevin walaupun mereka sering bertengkar.


"Ayo! Kita jalan jalan." ajak Kevin menarik tangan Hana.


"Ke Mall?" ucap Hana antusias padahal baru saja ia terlihat sedih seketika berubah ketika Kevin mengajak nya jalan jalan bersama.


"Apa yang mereka lakukan?" Hana melihat para pegawai yang berlari di parkiran.


"Itu pelajaran buat mereka karena berani menghinamu." seeu Alfian dari belakang.


"Kak Al?" ucap Hana menoleh.


"Kalian mau kemana?" tanya Alfian kepada Hana dan Kevin.


"Bukan urusanmu." jawab Kevin ketus.


"Saya bertanya sama Hana. Kenapa jadi boss yang menawab?" ucap Alfian menatap bossnya kesal.


"Sudah. Ayo!" ajak Kevin menarik tangan Hana menuju ke mobilnya.


"Boss?" teriak Alfian tapi tak dipedulikan.


"Hana pergi dulu Kak Al?" ucap Hana melambaikan tangannya ke Alfian.


"Dasar boss gila." umpat Alfian melihat kepergian mereka.


"Kevin. Kamu jahat banget jadi orang." ucap Hana melirik pria di sampingnya.


"Tidak. Aku biasa seperti itu sama siapa pun termasuk Al?" ucap Kevin tak mau disalahkan.


"Ya. Jangan di biasakan." ucap Hana memalingkan muka ke jendela.


Kevin tak memperdulikan ucapan Hana hanya fokus menyetir.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Hana yang sudah berada di parkiran Mall yang mewah.


"Ya. Ayo? cepat turun." ajak Kevin yang sudah keluar terlebih dahulu dari Hana.


"Beneran ini Mall nya. Kenapa sepi sekali, Apa tidak laku atau bagaimana? ku rasa Mall nya sangat besar." ucap Hana bertanya tanya berjalan memasuki halaman Mall yang luas.


"Ini bukan sepi." ucap Kevin melirik Hana yang digandeng tangannya seperti anak kecil.


"Lalu orang orang pada kemana? Hanya ada satpam penjaga didepan pintu masuk." ucap Hana menunjuk ke pintu masuk Mall.


"Kamu jangan bawel bisa enggak sih!" celetuk Kevin frustasi mengacak rambutnya kesal.


"Hey! Rambut mu kenapa diberantakin. Sini biar ku rapikan kembali, apa kata orang nanti, kalau penampilanmu acak acakan." ucap Hana merapikan rambut Kevin yang berantakan.


BERSAMBUNG