
"My Prince. Kau mengejutkanku." pekik Hana bajunya jadi basah kesiram air.
Kevin tertawa tanpa suara. "Sorry. Ku cari cari ternyata disini, aku kira siapa? malam malam ada orang di dapur." ujarnya duduk di kursi.
"Kamu lihat bajuku. Basah kan, dingin tau." seru Hana menepuk paha suaminya keras.
Agrhh.... "Sakit. Sadis sekali jadi perempuan, aku mau tanya kamu ngapain disini, sendirian apa tidak takut ada hantu." ujar Kevin meringis mengusap usap pahanya.
"Tentu saja tidak. Itu belakangmu." ucap Hana menunjuk.
"Apa? nggak ada siapa siapa?" tanya Kevin menoleh.
"Itu sih! wajahnya menyeramkan sekali. Kamu lihat bulu di tanganku sampai berdiri." ujarnya lagi Hana berkata sangat meyakinkan.
Kevin segera berlari memeluk Hana ia terlihat ketakutan.
"Bukan aku yang penakut tapi kamu." ujar Hana terkekeh melihat ekpresi suaminya begitu panik.
"Maksudku itu benda di belakangmu tadi." jelas Hana ternyata cuma lukisan wajah Kevin yang sengaja ia pajang di dapur.
Setelah tau Kevin berlagak keren di depan istrinya ia tak mau di anggap penakut olehnya.
"Kamu mau apa?" tanya Hana ketika suaminya membuka kulkas.
"Mancing. Kamu tidak lihat, disini sudah ada nasi, sayuran dan juga bumbu dapur." ketus Kevin.
"Hmm...! suami idaman. Tau aja kalau aku sedang lapar." ucap Hana menyenggol bahu Kevin dengan bahunya.
Akan tetapi Kevin tak menjawab atau memberikan respon apapun.
"My Prince. Punyaku mana, kenapa cuma satu?" tanya Hana membuntuti kemana suaminya melangkah.
Kevin menunjuk ke telfon menggunakan dagunya, kemudian pergi tanpa sepengetahuan istrinya.
"Nggak ada apa apa. Satu suap saja mana cukup." seru Hana celingukan mencari suaminya.
"Kemana perginya. Cepat sekali menghilang, jangan bilang dia itu bukan Kevin tapi, tidak mungkin tadi nyata kok! aneh sekali." gumam Hana bingung ia kemudian ke kamarnya.
"Tadi bukannya." ujar Hana melihat suaminya masih tertidur di dalam kamarnya.
Di atas nakas ada sepiring nasi goreng dan sepucuk kertas berwarna pink berbentuk love.
♡♡♡ Selamat Menikmati BABY ♡♡♡
Sorry tidak bisa menemanimu....
~>> Isi dari surat itu.
"Thanks you. My Prince." ucap Hana mengecup telapak tangan suaminya.
"Ini sulit sekali. Aku tidak terbiasa makan pakai tangan kiri." gerutu Hana kesal ia mencobanya beberapa kali.
Dengan terpaksa Hana menggunakan tangan kanan, walaupun rasanya sedikit sakit tapi ia menahannya hingga suap terakhir.
"Emm...! kenyang." ucap Hana kembali ke dapur menempatkan piring kotor nya.
*****
"Sayang. Kamu tidur di kamar anak anak." ucap Sinta disaat ia terbangun.
Mertuanya itu menatap menantunya curiga ia mengira jika Hana bertengkar jadi memutuskan pisah kamar.
"Mama jangan salah paham dulu. Hana tidur disini karena semalam perutku lapar, lalu Kevin membuatkan aku nasi goreng, setelah itu kesini deh! ketiduran di kamar anak anak." ucap Hana menjelaskan.
"Ooh. Begitu ceritanya, Mama kira kalian pisah kamar karena masalah itu, tapi suamimu sudah tau yang sebenarnya kan." ujar Sinta takut jika Kevin akan meninggalkan Hana setelah tau semuanya.
"E-enggak. Mana mungkin Kevin mau menerimaku apa adanya, jadi Mama tenang saja." ucap Hana tersenyum.
"Syukurlah kalo begitu. Mama ikut senang mendengarnya, sebaiknya kamu bersih bersih, setelah itu ajak Kevin turun kita sarapan bareng, biar anak anak Mama yang urus." ucap Sinta membalas senyumannya.
"Siap mah?" ucap Hana mengacungkan jempol.
Sinta menggeleng ia merentangkan kedua tangan nya untuk menerima pelukan menantu sekaligus anak baginya.
"Papa gak di ajak nih!" seru Fadly.
"Udah aah! sana mandi." titahnya Sinta melepas pelukannya.
*****
"My Prince. Kamu mau kemana? rapih sekali." tanya Hana suaminya berpakaian setelan kemeja abu abu.
"Jangan bilang mau ke kantor. Kondisi mu kan belum pulih benar." lanjutnya.
"Kamu tidak lihat. Hari ini pertama kali aku masuk ke kantor, setelah sekian lamanya, sebagai suami dan ayah yang baik aku harus bertanggung jawab." ujar Kevin memegang kedua bahu istrinya.
"Aku bau ya! awalnya tadi mau mandi." Hana melenggang pergi namun langkah nya di tahan oleh suaminya.
"Jangan bilang kamu mau ikut. Should not, okey!" tegasnya namun tetap saja Kevin masih mencekal tangan nya.
Kevin memberikan luv ke Hana. "I love you. BABY." ucapnya tersenyum.
Wajah Hana seketika memerah bak udang rebus.
"I love you too." balas nya.
"Romantic. Tapi bisa lepaskan tanganku." pinta Hana, suaminya mencekal terlalu kencang.
"I'm sorry." ucap Kevin baru juga romantis, ujung ujungnya membuat istrinya kesal.
Hana menahan dada suaminya. "Stop!" ucapnya menutup pintu kamar mandinya keras.
"BABY. Sorry, tadi aku gak sengaja, apa masih sakit?" seru Kevin mengetuk pintu.
Tok tok tok...
"Bisa tidak sehari saja tidak membuatku pusing." gumam Hana di dalam sana.
"Mau heran tapi Kevin. Bagaimana bisa aku menikah dengannya?" gumamnya menepuk jidatnya sendiri.
*****
Di Meja Makan
"Kevin. Kamu yakin mau berangkat ke kantor." ucap Fadly di sela sela mengunyah makanan nya.
"Kalian semua kenapa sih! menanyakan hal yang sama, aku baik baik saja." ujar Kevin nampak bersemangat.
"Nggak apa apa. Papa senang kamu bisa bekerja lagi, tapi nanti menunggu keadaan tubuhmu benar benar pulih, kamu juga belum lama ini baru sadar dari koma." serunya.
"Mereka gak perlu tau. Sebenarnya keadaan ku belum pulih sepenuhnya." batin Kevin ada rasa nyeri di bagian dadanya.
"Ooh iya. My Prince, aku sudah merekrut asisten baru buat kamu." seru Hana ia mendapat tatapan aneh dari sang suami.
"Siapa yang menyuruhmu. Aku tidak butuh seorang asisten." tolaknya terang terangan.
"Kamu menolakku." ujar Hana mengerutkan dahinya.
"Bukan begitu. BABY." ucap Kevin tak enak hati, tujuan istrinya baik, tapi entah kenapa ada rasa trauma dalam benaknya.
Suara klakson mobil terdengar hingga ke dalam, Hana melihatnya dari jendela.
"Itu dia orangnya. Kamu mau berangkat kan, udah sana." ucap Hana.
"Kamu mengusirku. Tega sekali, aku suamimu lho!" ujar Kevin.
Hana mengambilkan tas kerja Kevin. "Sebentar. Dasimu sedikit miring, tampan sekali suamiku." ujarnya ia merapihkan nya.
BERSAMBUNG