
"Tidak. Aku mau mandi dulu, semoga saja setelah ini kantuknya hilang." ucap Kevin mengambil tas yang berisi baju ganti.
"Ya sudah sana?" ucap Lee Tae Yeong.
"Aku tidak bertanya padamu. Minggir." ucap Kevin menyenggol bahu Lee Tae Yeong keras.
"Kak? Jangan diladenin. Tidak ada ujungnya juga." ucap Hana.
"Untung suami kamu. Kalau tidak sudah aku lempar dia dari sini." ucap Lee Tae Yeong.
"Dia memang seperti itu kak?" ucap Hana tersenyum mereka saling cerita begitupun Doni ia tidak bisa lama lama karena ada kerjaan di luar negeri.
Jadi harus pulang terlebih dahulu meninggalkan mereka.
"Apa kamu sungguh mencintai orang seperti dia?" tanya Lee Tae Yeong.
Hana menganggukan kepalanya ia memegang tenggorokan yang terasa haus.
"Kamu haus. Sebentar aku ambilkan." ucap Lee Tae Yeong.
Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi ia malah mendapati Lee Tae Yeong sedang membantu Hana minum air putih dengan tangannya sedikit menyangga tubuh Hana agar tidak dalam posisi berbaring.
"Sudah selesai kamu. Maaf nih! sebelumnya, aku cuma bantu Hana." ucap Lee Tae Yeong.
"Dimana Doni? Dia pergi." tanya Kevin menatap sekeliling nya.
"Pergi. Katanya masih ada kerjaan." jawab Lee Tae Yeong.
"Padahal masih ada yang ingin aku tanyakan, sudah pergi aja. Bagaimana pelakunya, Apa sudah ditangkap, Siapa sebenarnya yang ada di balik semua kejadian waktu itu, tidak ada bukti sama sekali, seperti jalan buntu." batin Kevin.
"My Prince. Ada apa?" tanya Hana melihat Kevin yang melamun.
"Hmm, Tidak ada. Cuma memikirkan pekerjaan saja." jawab Kevin.
"Ooh! Itu tadi Doni bawa makanan untuk kalian. Kamu tenang saja, Itu aman, kak Tae Yeong sudah makan juga karena Doni sendiri yang masak." ucap Hana.
"My Prince. Kenapa diam saja, Apa kamu belum lapar?" tanya Hana terlihat Kevin masih saja berdiri ditempat tanpa bergerak sedikitpun.
"Iya aku makan nanti. BABY, ssebenarnya aku masih ada urusan sebentar, tapi bagaimana denganmu?" jawab Kevin.
"Biar saya yang jaga. Tapi ingat jangan terlalu lama, karena saya juga masih ada urusan lain." ucap Lee Tae Yeong.
"Baiklah. BABY, aku pergi dulu, sebentar saja." ucap Kevin mengusap rambut Hana.
"Hati hati. Jangan ngebut." ucap Hana.
"Siap Tuan Putri?" ucap Kevin mengedipkan sebelah matanya ke Hana.
*****
Di Cafe
"Tuan Kevin?" tanya seseorang
Sedangkan Kevin baru saja sampai langsung duduk disampingnya.
"Sorry terlambat." ucap Kevin tergesa gesa.
"Anda kenapa? seperti sedang habis berkelahi." tanya Gino Abraham asisten yang ia tugaskan di luar negeri.
"Iya tadi ada sedikit masalah. Tapi bukan apa apa?" jawab Kevin.
"Apa ada masalah?" tanya Kevin.
"Soal penyelidikan kita. Sepertinya ada yang berusaha untuk menyingkirkan Tuan Kevin, Apa anda tidak merasa janggal" ucap Gino.
"Kamu benar. Akhir akhir ini aku merasa ada mengawasiku." ucap Kevin.
"Ini Tuan?" ucap Gino memberikan sebuah saputangan berlambang kepala Singa berwarna merah.
"Lambang ini. Bukannya." ucap Kevin.
"Saya menemukan itu di sekitar lokasi penyerangan anda, lebih tepatnya di pinggir hutan, dekat persimpangan jalan." ucap Gino.
"Singa merah. Lambang ketua mafia itu, beraninya mereka mencari masalah denganku." ucap Kevin mengepalkan tangannya.
"Mereka tidak hanya menyerang anda. Tapi juga kedua orang tua anda." ucap Gino.
"Apa? Sebenarnya apa masalah mereka dengan keluargaku?" ucap Kevin.
"Saya ada rencana." ucap Kevin menyuruh Gino untuk mendekat ke arahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Gino.
"Apa kamu mengerti. Jalankan tugas ini dengan benar, mereka licik, jadi kita harus lebih pintar darinya." ucap Kevin menyeringai.
"Mengerti Tuan. Ide anda sangat bagus, saya akan menjalankan perintah dengan sebaik mungkin." ucap Gino tersenyum.
"Bagus. Saya percaya padamu." ucap Kevin menepuk pundak Gino pelan.
Setelah selesai Kevin langsung menjalankan mobilnya ke rumah sakit ia bertukar mobil dengan Gino yang sebelumnya ia persiapkan.
Sedangkan mobil yang dibawa oleh anak buah Gino untuk mengelabui musuh.
*****
Rumah Sakit
"Lama banget. Kemana saja kamu, kenapa penampilanmu berantakan begitu?" tanya Lee Tae Yeong penuh curiga disaat Kevin baru saja ingin memasuki ruangan Hana.
"Bukan urusanmu. Permisi." ucap Kevin mau masuk tapi ditahan oleh Lee Tae Yeong.
"Setidaknya kamu rapikan dulu penampilanmu. Apa kamu mau membuat Hana khawatir." ucap Lee Tae Yeong.
Kevin yang berpenampilan terkesan berantakan baju sobek, celana kotor, rambut acak acakan tidak seperti saat ia pergi tadi.
"Oh Iya lupa. Tapi bajuku ada didalam." gumam Kevin.
"Ini ambil punyaku." ucap Lee Tae Yeong kebetulan ia membawa baju ganti untuk dirinya tapi ia berikan ke Kevin.
"Thanks. Aku ke toilet dulu." ucap Kevin menerima hoodie kemudian berlalu pergi.
"Jangan pakai lama." ucap Lee Tae Yeong sedangkan Kevin hanya menoleh tanpa menjawab.
"Al? Kapan kamu kesini?" tanya Kevin melihat Alfian yang ada diruangan Hana.
"Baru saja boss." jawab Alfian.
"Ooh! Dimana Lee?" tanya Kevin lagi.
"Kak Tae Yeong baru saja pergi." jawab Hana.
"BABY. Bagaimana keadaan kamu, apa masih sakit?" tanya Kevin pada Hana.
"Kamu tau kan luka ini. Hampir saja urat nadiku putus, pasti sembuhnya juga butuh waktu yang lama." ucap Hana.
"Maaf BABY. Ini semua karena aku." ucap Kevin dengan suara parau menahan tangisnya.
"Ini bukan salahmu." ucap Hana.
"Boss. Ini aku bawakan makanan untukmu, pasti kamu belum makan." sahut Alfian.
"Iya terima kasih. Aku makan nanti." ucap Kevin.
TOK TOK TOK
"Masuk." ucap Kevin Kwak Hyun datang untuk memeriksa Hana.
"Kita ke balkon sebentar." ajak Kevin pada Alfian.
"Baik boss." ucap Alfian.
"Hyun. Kamu mau periksa Hana." ucap Kevin sedangkan Hyun mengangguk.
"Al? kamu yang mendonorkan darah buat Hana?" tanya Kevin.
"Benar boss." jawab Alfian mengangguk.
"Thanks. Sebagai rasa terima kasih aku, kamu mau minta apa dariku?" tanya Kevin lagi.
"Saya ikhlas menolong Hana. Dia juga sudah aku anggap adik sendiri." jawab Alfian.
•
•
•
***BERSAMBUNG***