Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
15.Terhibur oleh senyumanmu



Sesampainya dirumah orang tua Kevin mereka masih tidak mau saling bicara ataupun menatap satu sama lain.


"Turun. Kita sudah sampai." perintah Kevin kepada Hana.


"Hmm. Baik tuan Kevin yang terhormat." ucap Hana membungkukkan badannya.


"Apa apaan sih kamu!" ucap Kevin membenarkan badan Hana.


"Kamu sudah tidak marah sama Kevin." ucap Alfian kepada Hana.


"Marah. Tenang kak aku nggak akan bisa marah sama kakak Alfian kan baik." ucap Hana tersenyum senang terhadap Alfian melirik kearah Kevin.


"Kamu nyindir aku." ucap Kevin berbisik karena tidak mau orang tuanya mendengar ucapan nya.


"Aku cuma. Agrh! aduh!" ucap Hana memegang tangan karena merasa nyeri.


"Hey! kamu kenapa?" tanya Kevin kepada Hana.


"Tanganku rasanya nyeri sekali." ucap Hana merintih kesakitan.


"Apa kamu sudah minum obatmu." tanya Kevin kepada Hana.


"Belum." ucap Hana menggeleng kan kepalanya.


"Kok bisa." ucap Kevin sedikit keras sehingga Alfian segera memperingati nya.


"Kevin bicara kamu jangan keras keras ingat kita sekarang ada dimana." ucap Alfian lirih.


"Kamu bawa obatnya." ucap Alfian kepada Hana.


"Ada didalam tasku." ucap Hana menyerahkan tasnya.


"Mau apa kamu." ucap Kevin menahan tangan Alfian ketika membuka tas milik Hana.


"Ya mau cari obat nya lah!" ucap Alfian menemukan obatnya Hana.


"Kamu itu bodoh atau bagaimana?" ucap Kevin memukul kepala Alfian sedikit keras.


"Aduh! Hana butuh obatnya sekarang harus segera diminum." ucap Alfian mengelus elus kepalanya.


"Kita semua kan belum makan termasuk Hana. Sedangkan aturan obatnya harus makan dulu baru minum obat bodoh." ucap Kevin menekan.


"Ooh iya. Aku baru ingat Hana belum makan apa pun tadi sebelum berangkat kesini." ucap Alfian menepuk jidatnya.


"Sekarang baru sadar. Dari tadi kemana aja." ucap Kevin kepada Alfian.


"Ya terus bagaimana?" ucap Alfian bingung melihat Wajah Hana sedikit pucat karena kesakitan.


"Hana. Kamu tahan dulu kita ke Cafe terdekat buat makan." ucap Kevin mengajak nya.


"Siapa yang mau ke Cafe?" tanya seseorang dari balik pintu karena Kevin belum masuk kedalam rumah orang tuanya.


"Eeeh! Mama.Papa?" ucap Kevin memaksakan tersenyum.


"Tangan kamu kenapa Hana?" tanya Fadly kepada Hana.


"Aaah! tidak apa apa om. Eeh! papa?" jawab Hana keceplosan.


"Kami tau kamu sedang berbohong." ucap Sinta menghampirinya.


"Lho ini kenapa?" tanya Sinta melihat tangannya diperban.


"Jangan bilang ini perbuatan Kevin." ucap Sinta panik melirik ke putranya.


"Bukannya. Kemarin mama sudah melihatnya." ujar Kevin.


"Tuan. Nyonya? sebaiknya kita masuk dulu, nanti biar di jelaskan semuanya di dalam." ucap Alfian kepada mereka.


"Baiklah. Ayo! Hana kita masuk." aja Sinta kepada mereka.


"Awas aja kalo ini perbuatan kamu." ucap Fadly menatap anaknya tajam, Kevin hanya terdiam tidak menjawab apa apa.


"Kejadian kemaren didekat kolam renang Hana sama Kevin tidak berbuat yang aneh aneh kok Mah? Pah?" ucap Hana.


"Maksudnya. Udah jelas kita lihat kamu sama Kevin kemarin itu berciuman sambil berpelukan dengan baju kalian basah semua." ucap Fadly tidak percaya.


"Bukan itu. Kevin punya buktinya." ucap Kevin menyerahkan rekaman CCTV lewat ponselnya dan memberikan nya kepada orang tuanya Kevin.


Setelah melihat nya mereka terkejut ternyata hanya salah paham.


"Ooh! jadi Hana menyelamatkan kamu dari kolam renang. Luka itu terjadi karena Hana terjatuh saat kamu menarik kakinya Hana." ucap Fadly sedikit tertawa melihat kelakuan anaknya.


"Iya. Kevin tidak bermaksud melukainya iya kan sayang." ucap Kevin mengiyakan ucapan orang tuanya kemudian melihat kearah Hana dengan pura pura tersenyum.


"Iya Mah. Pah?" jawab Hana berbohong.


"Dasar pembohong jelas jelas ini semua gara gara dia. Aku sakit itu karena Kevin andai saja mereka tau sebenarnya pasti akan sangat marah sekali sama Kevin kalau saja aku tidak punya hati pastinya aku udah beritahukan semuanya ke mereka."ucap Hana didalam hatinya melirik kearah Kevin.


"Kenapa sih! Hana kamu berbohong. Tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya." batin Alfian didalam hatinya.


"Maafkan aku Hana." ucap Kevin menatap nya.


"Kalian ini kenapa? saling memandang satu sama lain."ucap Sinta heran.


"Kevin cuma khawatir karena Hana belum minum obatnya jadi tangannya sakit." ucap Kevin merangkul bahu Hana.


"Hana belum sarapan mah? jadi nggak berani minum obatnya." ucap Hana berusaha melepaskan rangkulan Kevin dari nya.


"Ya udah kalau begitu kita sarapan bareng. Setelah itu kamu janji harus di minum obatnya." ajak Sinta kepada mereka menuju ke ruang makan.


"Kevin. Kamu suapin Hana, kasihan tangan nya masih sakit." ucap Fadly kepada anaknya melihat Hana kesusahan memegang sendok.


"Aaaaa." ucap Kevin menyuruh Hana membuka mulutnya.


"Enak." ucap Kevin menyuapinya Hana hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ya pasti enak lah Vin? siapa dulu yang masak pasti rasanya sangat enak apalagi kamu yang suapin Hana." ucap Sinta tersenyum senang ke calon mantu.


Setelah selesai Sinta dan Fadly menyuruh anaknya membantu Hana meminum obat.


"Kevin kalau kamu sudah selesai. Cepat bantu Hana meminum obatnya, sayang kamu bawa obatnya." ucap Fadly menyuruh anaknya kemudian beralih ke Hana.


"Bawa pah?" ucap Hana mengeluarkan obatnya dari dalam tas.


"Sini biar aku bantu." ucap Kevin membantu mengeluarkan obatnya satu per satu Hana hanya menganggukan kepalanya.


"*S*ebenarnya Kevin itu perhatian atau hanya pura pura karena ada orang tuanya." batin Hana terus menatap Kevin.


"Terima kasih." ucap Hana tersenyum kepada Kevin.


"Sama sama." ucap Kevin membalas senyumannya.


"Dia cantik sekali kalau tersenyum terasa seperti tidak ada beban sama sekali, biasanya dia hanya tersenyum kepada orang lain tapi saat ini Hana benar-benar tersenyum kepada ku terasa seperti terhibur oleh senyumannya." ucap Kevin tersenyum lepas.


"Mereka romantis ya sayang." ucap Sinta kepada Fadly ikut tersenyum melihat Kevin dan Hana.


"Sangat romantis. Seperti kita dulu." ucap Sinta kepada suaminya.


"Memang nya sekarang tidak romantis." ucap Fadly pura pura ngambek.


"Ya tidak begitu juga sayang." ucap Sinta membujuk mengelus pundak suaminya lembut Fadly hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya yang begitu manja padanya.


"Aku terasa mempunyai keluarga sendiri. Keluarga ini begitu harmonis, sementara ayah kandungku sendiri lebih memilih percaya istri baru nya dari pada anak kandungnya itu sangat menyakitkan." ucap Hana dihatinya mengingat perlakuan keluarga nya.





Bersambung...