
"Apa kamu benar-benar ingin mengikuti pelatihan khusus? karena saya sudah memberikan pekerjaan itu tanpa memberikan syarat untukmu."
"Saya siap mengikutinya besok... karena hal ini bisa menjadi sebuah pengalaman baru untuk saya yang masih baru bekerja di keluarga besar anda."
"Aku merasa kamu berbeda dengan dirimu satu tahun yang lalu... tetapi aku akan menghargai keputusanmu itu... kalau begitu saya akan langsung memberikan akses untukmu dengan mudah, dan jangan memikirkan tentang sekolahmu... karena hal itu akan diurus dengan mudah."
"Maaf, saya jadi merepotkan anda, saya akan mengikutinya dengan sungguh sungguh."
"Saya sudah sedikit menaruh harapanku padamu, dan kepercayaan saya bukanlah suatu hal yang murah... jadi saya akan menyerahkan segalanya tentang putri saya untukmu."
"( Bukannya itu diluar topik pembicaraan?...) Saya akan berusaha melakukannya."
"Baiklah, kalau begitu kamu hanya datang ketempat pelatihan langsung, dan semuanya sudah diurus... semoga berhasil."
"Terimakasih banyak atas bantuan dari anda..."
Disaat pagi hari sebelum aku berangkat sekolah, aku dikejutkan oleh orang yang meneleponku pada pagi hari..
Dan dia adalah Kepala Keluarga Shiraishi, lebih tepatnya ayah dari Yuuki...
Aku tidak tahu mengapa beliau secara mendadak menghubungiku, bahkan aku tidak tahu dia mendapat nomor telepon milikku darimana.
Tapi aku tidak memikirkannya, karena ada jadwal sekolah yang harus aku kejar.
Dan begitu aku keluar, aku melihat Yuuki yang berdiri sambil menungguku didepan gerbang rumahku.
"Apa kau dari tadi berdiri disana menungguku."
"Aoyama... a-aku hanya sedang tidak ingin berangkat sendirian saja..'
"Ada apa dengan Sakura."
"Katanya dia pergi ketempat lain terlebih dahulu... jadi kita tidak berangkat bersama.."
"Kasihan sekali, sekarang kau juga dijauhi olehnya." Sambil membuka gerbang dan keluar dari sana.
"I-Itu juga karena kamu yang membuatnya marah! lagipula aku tidak merasa dia menghindariku..."
"Lagipula besok aku tetap pergi kesana."
"Apa kamu sudah diberikan izinnya?."
"Izin? apa maksudmu?."
"Izin dari ayahku untuk pelatihan tersebut."
"Jadi... kau yang memberikan nomor teleponku kepada ayahmu?."
"Y-Ya... karena aku sendiri sulit untuk mendapatkan izin masuknya..."
"Kau membuat ayahmu menaruh harapan padaku, dan itu sangat merepotkan."
"Harapan?."
"Aku tidak tahu, yang pastinya seperti dia telah mempercayaiku, dan menyerahkan kau padaku."
"M-M-Menyerahkan?!!." Dia terkejut karena ucapanku yang begitu membuatnya salah paham.
"Ada apa?."
"T-Tidak... aku hanya sedikit terkejut saja... l-lalu, apa yang kamu katakan selanjutnya..."
"Sepertinya... aku mengatakan, aku akan berusaha."
"Uh... kenapa aku merasa malu sendiri..."
"Apa aku salah mengatakan itu?."
"Setidaknya kamu harus memikirkan apa yang kamu katakan."
"Aku rasa tidak ada yang aneh dengan pembicaraannya maupun perkataanku."
"Kenapa kamu tidak peka sama sekali." Sambil memegang dahinya seakan dia sudah tidak bisa mengatasiku.
......................
*Ding Dong! Ding Dong!
"Aoyama, apa kau ingin makan siang bersama?." Touya yang langsung menghampiriku begitu bel istirahat berbunyi.
Saat aku ingin menerimanya, tiba tiba mataku teralihkan oleh Sakura yang pergi sendirian keluar kelas, dan aku melihat Yuuki juga sibuk mengobrol bersama teman temannya.
"Sepertinya aku ingat ada urusan yang harus kulakukan, maaf."
"Kalau begitu ya tidak apa apa, kalau begitu aku duluan."
"Ya."
Dia pun pergi tanpa berhasil mengajakku, tadinya aku ingin mempelajari kembali materi yang baru saja diberikan saat jam pelajaran terakhir, tapi sepertinya aku memiliki sedikit urusan.
.
.
.
Tetapi begitu aku ingin membuka pintunya, tiba tiba pintu itu terbuka duluan dan seseorang keluar dari sana.
"Ao- maksudku kenapa kamu ada disini?."
Sakura yang terkejut begitu ia membuka pintunya, dia melihatku tepat didepan matanya.
"Kau juga, mengapa kau ada disini?."
"Hanya ada sedikit urusan."
"Kalau begitu aku juga ingin mengurus sedikit hal didalam."
Dan dia pun langsung menyingkir dari pintu dan membiarkanku masuk.
"Apa kau masih marah selama ini?."
"Sudah kubilang, aki sama sekali tidak marah denganmu."
"..."
Aku langsung masuk kedalam dan meminta izin untuk mengikuti pelatihan dan juga satu hari tidak masuk...
Tetapi kepala sekolah mengatakan jika sudah ada yang meminta izinku padanya, akan tetapi dia menghargaiku yang sudah datang kedalam ruangannya.
Jadi semua sudah selesai tanpa adanya keresahan, dan begitu aku keluar, ternyata Sakura masih berada didepan ruang kepala sekolah.
Aku pun menanyakan keberadaannya yang masih berada disini.
"Kau masih ada urusan disini?."
"Apa yang kamu lakukan didalam?."
"Kau bertanya padaku?."
".."
"Tidak ada yang penting, hanya urusan kecil."
"Kalau hanya urusan kecil, kenapa kamu pergi ketempat kepala sekolah, tentunya itu bukan urusan kecil."
"Yah, memang benar apa yang kau katakan, tapi bukan sesuatu hal yang penting..."
Aku pun berjalan meninggalkannya hingga dia mengatakan sesuatu yang sudah aku ketahui.
"Besok, aku akan pergi selama tiga hari..."
"Pergi berlibur? kalau begitu selamat bersenang-senang."
"Apa kamu bisa memberikan respon yang berbeda dari itu?."
"Asalkan kau ingin terbuka, aku pun akan berbicara seadanya..."
"..."
"Jam istirahat sebentar lagi habis, sebaiknya jangan telat kembali kedalam kelas."
Dan kali ini aku benar-benar meninggalkannya...
Aku yakin dia masih belum mengetahui tentang aku yang mengikuti pelatihan khusus yang juga akan dia ikuti besok, karena itu aku tidak akan memberitahukan kepadanya hingga dia melihatku sendiri disana.
Sesampainya dikelas, aku melihat Touya yang seperti sedang mencari seseorang.
Dan ternyata itu adalah aku.
"Ini dia, Aoyama... apa kau ada waktu besok? aku dengan yang lainnya kekurangan orang untuk tanding basket, dan tentunya mereka juga setuju jika kau ikut mengisi tim... kau bisa bermain basket bukan?."
"Ah... bukan masalah bisa atau tidaknya... tetapi aku ada urusan hingga tiga hari kedepan... baru saja aku ingin memberitahukannya."
"Kau memiliki urusan didalam hari liburmu?."
"Ya... seperti itu."
"Terlihat bukan seperti Aoyama yang sebenarnya dan mengurung diri didalam kamar."
"Aku juga tidak selamanya berada didalam kamar, tapi begitulah intinya."
"Apa boleh buat... kalau begitu aku mencari orang lain."
"Maaf tentang itu."
"Tidak, aku yang meminta waktumu, jadi tidak masalah."
Ada banyak hal yang aku lewati begitu aku mengikuti pelatihan itu, tetapi semuanya hanya kebiasaan yang sama seperti orang normal diluar sana.
Aku hanya menunggu hari esok dengan lebih banyak belajar agar tidak tertinggal pelajaran meskipun hanya satu hari...
Aku pun sesekali berpikir, apa yang dilakukan dalam pelatihan menjadi asisten dan pengawal... menjinakkan bom? atau melindungi orang penting? apapun itu seharusnya aku tidak mengikuti hal yang merepotkan seperti itu...