
Keadaan nenek setelah kita berhasil membawanya kerumah sakit, dengan bantuan Kuchima menggunakan mobil kendaraannya...
Dokter hanya mengatakan jika beliau hanya sakit batuk dan kelelahan... maka jika dibiarkan istirahat beberapa waktu, mungkin keadaannya akan membaik.
"Kuchima... Nami... terima kasih karena sudah membantuku membawa nenekku."
"Jangan terlalu sungkan kepada kami... apa kamu ingat beberapa bulan yang lalu, kamu menyelamatkan adikku?."
"Benar! jadi tidak ada yang merasa tidak enak bukan?."
"Baiklah kalau begitu... aku ingin menemui Mai terlebih dahulu didalam."
"Pergilah... Mai terlihat sangat khawatir dari saat kita mulai membawa beliau."
"Ya."
Setelah itu aku perlahan membuka pintu kamar pasien perlahan agar tidak mengganggu orang lain...
Disana terlihat Mai yang duduk dipinggir tempat tidur dimana nenek sedang istirahat disana.
"Mai."
"K-Kakak!."
Karena kami tidak boleh mengeluarkan suara terlalu kencang, jadi kami berdua hanya berbisik agar pasien lain tidak terganggu.
Dan Mai memelukku dengan erat saat isak tangisnya masih belum terhentikan.
"Dokter mengatakan jika nenek hanya kelelahan, dan harus istirahat beberapa waktu... jadi kau tidak perlu khawatir."
"T-Tapi... aku tidak bisa tenang jika nenek masih terbaring lemas disini... aku khawatir jika nenek tidak bisa kembali pulih seperti semula."
"Jangan berkata seperti itu... nenek pasti akan kembali sehat dan bugar seperti biasanya... jadi kau harus berpikir positif dan terus mendoakannya yang terbaik."
"Um..."
"Kau belum makan kan? ini, aku membawakan makanan untukmu."
"Terima kasih..." Saat dia ingin membuka bungkusnya, ia masih melihat neneknya dengan khawatir.
"Nanti biar aku yang membantu nenek makan saat sudah bangun... pikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu."
"Kalau begitu Mai keluar dulu."
"Ya... ada Kuchima dan juga Nami diluar, jika butuh apa apa panggil saja aku."
"Um."
Lalu dia keluar untuk memakan makanan yang sudah dibeli saat berangkat tadi...
Aku duduk disampingnya dan menatapnya yang sedang tertidur lemas diatas ranjang.
"Kuharap... nenek baik baik saja..."
Sambil menunggunya bangun, aku membaca buku yang selalu kubawa kemanapun dan kapan pun waktu senggang akan kubaca.
"Aoyama?."
"Nenek? sudah bangun?."
"Iya... nenek ada dimana?."
"Nenek ada dirumah sakit... karena nenek pingsan karena kelelahan."
"Begitu ya... maaf ya, nenek merepotkanmu."
"Nenek jangan mengatakan seperti itu... oh, nenek belum makan kan?
Sambil membuka bungkus makanannya, aku membantunya makan dengan menyuapinya.
"Tidak usah, nenek bisa sendiri.."
"Tanganmu saja begitu lemas... sudah, biar aku yang membantu nenek makan."
Dengan lemas pun ia mengangguk sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang.
Lalu aku membantunya makan dengan menyuapinya.
......................
Diluar ruangan rumah sakit...
"Mai!."
"Kak Sakura, kak Yuuki!."
"Bagaimana keadaan nenek?."
"Kata dokter sih baik baik saja... tapi tetap saja Mai khawatir."
"Tenang saja, nenek Mai pasti baik baik saja, jadi Mai tetap harus mendoakan yang terbaik ya?." Yuuki mencoba untuk menenangkannya.
"Um."
"Kuchima, Nami... kalian berdua juga ada disini?."
"Ah iya, kami tadinya mengantar Aoyama kerumah neneknya, tapi begitu kita tiba, neneknya jatuh pingsan, dan kami langsung membawanya kerumah sakit."
"Begitu ya..."
"Oh ya, dimana Aoyama?."
"Kakak ada didalam, sedang menemani nenek."
"Kalau begitu aku dan Sakura ingin menjenguk sebentar."
"Iya."
Lalu mereka berdua berjalan kearah pintu masuk ruang inap pasien... tetapi saat Yuuki membuka pintunya sedikit.
"( Sepertinya Aoyama sedang sibuk... aku tidak boleh mengganggunya..)" Dia tertegun saat melihatku yang sedang menyuapi nenek untuk makan, lalu perlahan dia menutup pintunya kembali.
"Yuuki, kena-."
"Sshh."
Yuuki memberi isyarat kepada Sakura untuk jangan berisik dan mereka berdua sepertinya tidak boleh masuk sekarang...
Jadi mereka berdua kembali ketempat Mai, Kuchima dan juga Nami...
"Sakura, Yuuki... kenapa kalian meninggalkanku, aku hanya membayar uang taksi saja, aku pun juga ingin menjenguk neneknya Aoyama!."
Seperti anak kecil yang tidak ditinggal ibunya ke toko, tetapi ini adalah versi dewasa.
"Namanya juga buru buru."
"Lagipula kami tidak masuk kedalam ruangannya kok."
"Eh? kenapa?."
"Benar juga, kalian cepat sekali kembali."
"Aoyama sedang membantu neneknya makan, jadi tidak baik kalau kita mengganggunya." Jelas Yuuki
"Ouhh..."
"Lebih baik kita tunggu disini saja, sampai Aoyama keluar."
"Benar."
.
.
.
30 menit kemudian...
"Sakura, Yuuki, Touya? kalian disini daritadi?."
Setelah aku membantu nenek untuk makan, aku pergi keluar untuk membuang plastik makanannya, tetapi saat keluar aku melihat mereka bertiga berada dirumah sakit.
"Aoyama..."
"Tidak terlalu lama kok, hanya sekitar setengah jam yang lalu." Yuuki melihat jam yang ada di ponselnya.
"Maaf, aku tidak tahu kalian disini."
"Kami tahu kok, jangan terlalu bersalah pada kami... karena prioritas lebih diutamakan." Touya membuat suasananya menjadi baik.
"Baiklah, Aoyama, boleh kita menjenguk nenekmu didalam?." Tanya Sakura sambil memegang sebuah keranjang berisi buah buahan.
"Silahkan, tetapi jangan terlalu berisik, bisa mengganggu pasien yang lain."
"Um!."
"Tenang saja, aku bisa mengontrol diriku kapan aku harus bersemangat."
"Baiklah, ayo."
Mereka bertiga pun masuk untuk menjenguknya didalam.
Sampai disana, mereka melihat nenek yang sedang merebahkan diri...
"Nenek."
"Hm? Sakura? ah... bagaimana kabarmu?."
Saat melihat Sakura dan lainnya, beliau berusaha untuk duduk, tetapi dihentikan oleh Sakura.
"Nenek tidak perlu bangun, tidak apa apa."
"Baiklah kalau begitu... kalian berdua? temannya?." Beliau melihat Touya dan juga Yuuki.
"Mereka teman sekelas Aoyama dan juga aku... Touya dan juga Yuuki."
Mereka berdua membungkukkan badannya sebagai tanda memberikan sopan santun.
"Oh... iya, nenek tahu... Mai suka membicarakan kalian berdua... yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik."
"N-Nenek bisa saja..." Yuuki tersipu malu.
"Hahaha, terima kasih nenek." Dengan percaya diri, Touya dengan suara pelan tertawa senang.
"Maaf ya... kalian bertemu dengan nenek saat nenek sedang terbaring sakit... nenek tidak bisa membuatkan makanan enak untuk kalian."
"Nenek tidak perlu dipikirkan... melihat nenek sehat saja sudah membuat kami senang." Sambil memegang tangan beliau, Yuuki mengatakan dengan sungguh-sungguh.
"Benar! asalkan nenek sehat, kuta semua sudah lebih dari senang."
"Um."
"Nenek tidak menyangka... Aoyama mempunyai teman yang begitu baik... dari dulu, anak itu tidak pernah membawa teman selain Sakura... nenek khawatir jika dia tidak bisa mempunyai teman hingga dewasa... tetapi sepertinya nenek tidak perlu khawatir sekarang."
Beliau melihat mereka bertiga dengan bahagia... karena cucu lelakinya yang selalu ia khawatirkan, bisa memiliki teman yang baik... beliau merasa jika melepaskannya akan baik baik saja sekarang...
"Oh iya nek, Sakura membawa banyak buah disini... nenek makan ya?."
"Terima kasih... nenek akan memakannya nanti."
"Kalau begitu kami pergi dulu ya nek, nenek harus istirahat."
"Iya..."
Setelah itu mereka bertiga pergi keluar dari ruangan...
Tetapi saat Yuuki ingin pergi, nenek menghentikannya karena ada yang ingin dibicarakan padanya, jadi Yuuki meminta Sakura Touya untuk pergi terlebih dahulu.
"Nenek ingin memakan apelnya... apa kamu ingin membantu mengupasnya?."
"Oh iya, tentu saja! biar aku yang mengupasnya..."
Yuuki pun mengambil pisau dan duduk disamping ranjangnya dan mengupas apelnya.
"Yuuki."
"A-Ada apa nek?."
"Menurutmu... bagaimana perasaanmu saat melihat cucuku Aoyama pertama kali?."
"P-Perasaanku???."
Saking terkejutnya, tangannya berhenti bergerak dan seketika menjadi gugup.