
"Senki..."
"Apa yang sedang kau lakukan disini?."
Dengan datarnya dia berkata seperti itu, dan tatapannya yang sangat berbeda dari dirinya dulu... Semuanya telah berubah sampai saat ini...
"Tidak ada yang penting... Aku hanya bertemu dengan Sakura dan berbincang bincang dengannya."
"Oh..."
"Kau... Apa ada perlu dengannya juga?."
"Maaf, tapi bukan urusanmu."
Dengan diam dia melewatiku begitu saja, tanpa ada kata kata tambahan untuk memperjelas sikapnya itu.
"Ada apa denganmu."
"..."
Saat dia berada tepat di sebelahku, aku menahan tangannya dan mempertanyakan atas sikap dirinya yang begitu berbeda sekarang..
"Kenapa kau tidak tanya saja pada dirimu sendiri... Teman."
Dia langsung menghempaskan tangannya hingga lepas dari pegangan ku.. lalu dia kembali melangkah menuju ke rumah Sakura.
Namun saat aku masih berada dibelakangnya, dia pun berhenti dan berbalik kearahku.
"Apa yang kau perlukan lagi disini?."
"Aku hanya..."
"Sampai kapan kau terus menghalangi diriku? Apa kau belum cukup puas dengan hal ini?."
"Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik, bagaimana bisa aku tahu kesalahanku jika kau hanya terus menghindar dariku?."
Dia langsung berjalan padaku dan menarik kerah bajuku.
"Kau tahu kita saat ini sedang berada dimana? jika Sakura tahu tentang ini, dan dia menjadi khawatir... aku tidak akan memaafkanmu.." Sambil berbisik didekatku agar tidak terdengar oleh Sakura yang berada didalam rumah.
"..."
"Aku tidak ada urusan denganmu saat ini, jadi aku ingin kau pergi sekarang juga... kau tidak ingin Sakura melihat hal ini bukan?."
"..."
Aku memikirkan perkataan dirinya yang memang ada benarnya... meskipun aku ingin berbicara padanya, tapi dia tidak terlihat ingin berbicara baik-baik sedikitpun denganku.
"Kau benar..."
Dengan menerima hal ini, aku pun pergi dari sana tanpa mengetahui apapun alasan dari sikapnya.
Seandainya aku bisa mengetahui isi pikirannya, maka aku sudah pasti akan melakukan sesuatu agar kita bisa bersama-sama lagi bertiga seperti sedia kala.
Namun apa yang tidak aku ketahui kini telah berjalan sesuai dirinya, dan saat ini mungkin dia akan bergerak terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
......................
"Senki? kamu... datang kesini dari rumahmu?."
"Ya... aku datang."
"Ada apa? malam malam seperti, jarang sekali aku melihatmu seperti ini."
"Sakura... ada yang ingin aku katakan padamu.."
"Tentang... apa? wajahmu terlihat serius sekali."
"Tapi aku tidak ingin mengatakannya disini, apa kau ingin pergi berjalan-jalan sebentar? di sekitar sini saja."
"Uhm... memangnya sangat penting? atau kita bicarakan hal itu didalam saja."
"Tidak..."
"Baiklah aku mengerti... kalau begitu tunggu sebentar, aku ingin bersiap-siap dulu."
"Ya."
Tanggapan yang begitu datar, dia hanya ingin memaksa Sakura untuk ikut dengannya keluar, karena hal yang ingin dia bicarakan... begitu penting bagi dirinya.
.
.
"Jadi, apa kamu ada masalah?."
"Tidak..."
"Ada yang ingin dibicarakan? sampai kamu datang kesini jauh-jauh, pasti sangat penting bukan?."
"Mungkin menurutku, sangat penting."
"Apa itu?."
".."
Mungkin bagi Sakura, Senki adalah orang yang paling ia percayai, dan dia sudah menganggap Senki adalah saudaranya sendiri...
Namun berbeda dengan apa yang ada didalam pikiran Senki... dia tidak menganggap hal seperti itu, namun dia sudah menyukai Sakura sejak dulu.
Namun semenjak datangnya diriku kedalam hubungan mereka berdua, yang pada awalnya semua berjalan dengan lancar dan baik-baik saja...
Hingga perasaan yang tumbuh tak bersalah ini disalahkan olehnya, dan menganggap diriku akan segera mengambil Sakura darinya.
Hal itulah yang membuat hubungan kita bertiga renggang, dan semua yang tidak diketahui Sakura, diketahui oleh kita berdua... hanya kita berdua.
Dan saat ini, pada saat mereka berdua berbicara di jalan dekat rumah Sakura... Senki berencana untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa merebut Sakura darinya... dari dulu hingga sekarang, Senki tidak ingin hubungan ini berubah ataupun menghilang.
Dia hanya membenci diriku, karena suatu hal yang dinamakan sebuah cinta... hingga pertemanan hancur dengan mudahnya oleh seorang gadis yang tidak mengetahui apapun.
"Sakura, aku tahu ini terlalu mendadak... tapi jika aku bisa membayangkan, saat kita sudah saling mengenal selama kita kecil... aku terus bersamamu dan menjagamu seperti adikku sendiri."
"Memangnya kenapa? jangan membuatku takut seperti ini... aku tahu, dan aku juga selalu melakukan hal yang sama kepadamu selama ini."
"Ya, tapi... bagaimana jika hubungan ini... kita ubah menjadi hubungan yang lebih... dekat lagi."
"Maksudmu? bukannya kita sudah sangat dekat, ayolah, jangan berkata seperti i-."
"Aku menyukaimu."
"..."
"Sejak kita saling mengenal, dan sampai sekarang, aku masih menyukaimu... aku tahu ini adalah waktu yang panjang, namun aku hanya ingin mengatakan pada waktu yang tepat... meskipun sekarang juga bukan waktu yang tepat... tapi jika aku tidak mengatakan hal ini padamu... aku tahu... kau akan pergi dariku."
"A-Apa yang kamu katakan? kami tidak perlu seperti ini, dan aku pasti tidak akan meninggalkanmu... kita sudah berjanji untuk bersama sampai kita berada di jalan masing-masing bukan? dan aku pikir, ada cara yang lebih baik lagi daripada seperti ini."
"Tapi perasaanku benar benar nyata! aku mengatakan yang sesungguhnya! bahwa aku menyukaimu, sangat menyukaimu... Sakura..."
"Kita bisa pikirkan ini bersama, tidak perlu melakukan hal seperti i-."
"Aku hanya ingin kau menjawab perasaanku..."
Senki langsung meraih kedua pundaknya dan membuat matanya hanya tertuju pada dirinya... tanpa dia bisa menghindarinya lagi.
"Aku hanya butuh jawaban... tidak ada lagi jalan yang harus dipikirkan, aku menyukaimu... apa kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik lagi?."
"..."
"..."
"Maaf... aku tidak bisa."
"Kenapa.."
"..."
Wajah yang mengharapkannya kini menjadi sebuah kekecewaan dan kesedihan... dia tidak menduga hal ini menjadi lebih berantakan dari apa yang dia rencanakan.
"Aku... sudah menyukai seseorang, dan aku tidak bisa menerima perasaanmu... karena aku sudah menganggap dirimu sebagai saudaraku... tidak lebih."
Kenyataan yabg ia terima sungguh sangat berbeda dari apa yang dia inginkan... selama ini dia menahan perasaannya hanya untuk Sakura... namun waktu yang sangat panjang ini seakan hanya sia sia.
"Apa Aoyama."
"..."
"Apakah.. orang yang kau suka itu... adalah dia?."
Tatapan matanya yang kini berpaling dari dirinya seperti mengatakan hal yang dia pertanyakan adalah benar...
"Baiklah, aku mengerti.. aku mengerti."
"Senki."
"Aku tahu... diriku memang bukan siapa siapa bagimu, sekarang sepertinya aku yang merasa diriku sendiri bodoh."
"Kamu tidak perlu mengatakan hal seperti itu! kita sudah bersama dari waktu yang lama... dan aku hanya ingin kita bisa saling mengerti."
"Mengerti akan dirimu yang sudah tidak peduli dengan hubungan dekat ini?."
"Tidak... aku tidak bermaksud seperti itu."
"Apa bagimu apa yang kau lakukan itu tidak apa-apa? sedangkan kau sendiri yang membuat hubungan kita hancur."
"Kenapa kamu menganggap diriku seolah-olah yang bersalah disini?."
"..."
"Apa perasaanku yang menjadi rusaknya kebersamaan kita? apa pilihanku yang membuat hancur hubungan dekat ini?."
"Tidak, maaf... bukan itu maksudku."
"Dari awal kamu sendiri yang memaksa aku berbicara tentang hal itu... dan aku juga tidak ingin hubungan ini retak... hingga kamu membuat pernyataan seperti itu... dan membuatku merasa bersalah atas apa yang aku katakan."
"Sakura... hentikan saja pembicaraan ini, aku sudah kelewatan padamu, aku minta maaf."
"Benar... pembicaraan ini memang sudah selesai."
Dengan rasa kecewa yang dimiliki oleh Sakura, membuat Sakura pergi meninggalkannya disana dengan rasa bersalah saat dia mengatakan hal seperti itu kepada Sakura.
Karena ketakutan yang dialami Senki terhadap hubungannya dengan Sakura semakin jauh, maka dia ingin membuat pagar agar ketakutannya tidak terjadi... namun bukan sebuah pagar yang dia buat, melainkan sebuah api yang membuat hubungan ini semakin hancur.
Dan sekarang dia sudah tidak bisa memperbaiki apapun, dengan rasa kecewanya Sakura, hingga hubungan mereka yang sudah tidak bisa seperti biasa lagi...
Karena dia merasa bersalah dan tidak ingin membuat Sakura bersedih...
Mungkin saat ini hanya ada satu harapan yang dia inginkan, dan harapan tersebut bukanlah pada dirinya... yaitu seseorang yang disukai oleh Sakura...