My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 22



"( Dingin...tetapi sangat sejuk...apa ini? aku mencium wangi sesuatu..)"


Mataku secara perlahan membuka sedikit demi sedikit, dalam penglihatanku yang masih sedikit buram, aku melihat seorang gadis berpakaian maid dihadapan ku...


"Hm?." Sambil membuka seluruh mataku, aku memastikan dengan apa yang aku lihat.


"K-Kamu sudah bangun ya....b-baru saja aku ingin membangunkanmu.." Terkejut karena melihat aku yang terbangun saat dia sedang menatap wajahku, dia mencari cari alasan yang tepat.


"Yang benar....saja.." Aku melamun melihatnya.


"Eh?."


"Kenapa aku masih memimpikan hal seperti ini! bagaimana caranya bangun dari sini!." Sambil menepuk wajahku pelan berkali kali tetapi aku masih belum sadar.


"A-Apa yang kamu maksud?."


"Tidak mungkin...aku bisa mendengarnya berbicara! bagaimana bisa mimpi ini lebih seperti nyata dari kemarin?." Aku bergumam sendiri menghiraukannya.


"Tunggu dulu...mimpi?."


"Dia bisa berbicara dan bergerak...apa ini memang benar benar mimpi? jika benar...aku harus memastikannya." Aku menatapnya dan berdiri dari kursi tempat aku duduk.


Lalu aku mendekatinya perlahan dengan rasa penasaran.


"T-Tunggu! apa yang kamu lakukan?? ini didalam tempat umum!."


"D-Dia cukup realistis...tetapi jika didalam mimpi, tidak akan ada yang bisa menghalangiku." Sambil berhenti sebentar untuk memikirkannya, lalu kembali memojokkannya.


"J-Jangan mendekat lebih lagi.."


Aku mulai memegang pergelangan tangannya dan mendorongnya ke dinding dibelakangnya.


"J-Jangan...lebih...dekat lagi.."


"Saat aku mendekati wajahnya, aku merasa perasaan yang timbul ini juga terasa seperti nyata..


Sampai aku bisa sangat dekat dengan wajahnya.


"A-Aku bilang...jangan mendekat!."


*Plak!


Sebuah tamparan yang dia berikan, menimbulkan rasa sakit dan panas di wajahku, sontak aku terkejut.


"A-Aoyama bodoh!!." Lalu dia berlari keluar dari perpustakaan.


"Yuuki? ada a-." Sakura yang tidak sengaja lewat didepan perpustakaan melihat Yuuki yang berlari dari dalam dengan wajah yang sangat merah.


Melihat itu, dia langsung berinisiatif untuk mengecek apa yang ada didalam.


"Sakit...panas...ini bukan...mimpi.." Sambil menyentuh wajah yang terkena pukulan itu, aku hanya bisa melamun memikirkan apa yang terjadi.


"Eh? Ao??."


"Sakura.."


"Ternyata kamu ada disini...ada apa dengan Yuuki tadi? dia berlari keluar dari sini."


"Maaf...aku memang bodoh.."


"Memangnya ada apa?."


"Cukup rumit...untuk dijelaskan.."


"Huhh...kalau begitu jangan terus menerus berada disini...lebih baik kamu keluar untuk berkeliling.."


"Tidak...aku ingin disini saja."


"Walaupun kamu tidak ingin berada di keramaian, tetapi jika disini terus untuk kamu datang kesini?."


"Lagipula aku dari awal tidak ingin mengikuti ini.."


"Hngg...sudahlah ikut aku saja." Sambil menarik tanganku.


"Baiklah baiklah, jangan tarik tanganku!."


"Bagus kalau begitu.."


"Huhh.."


Lalu dengan pasrah aku mengikuti jalan Sakura yang dia inginkan aku untuk berkeliling disini.


Hanya melihat mereka semua saja sudah membuat kepalaku pusing, suara berisik ini bahkan mengganggu lagu yang kudengar dengan sebelah earphone...jadi aku langsung melepasnya saja karena merasa pusing mendengar dari 2 arah.


"Kita ingin kemana?."


"Berkeliling."


"Untuk apa?."


"Untuk bersenang senang."


"Tolong jangan menguras tenagaku hanya untuk hal yang sia sia.."


"Sudahlah, nikmati saja."


"Bagaimana aku bisa menikmatinya..."


"Ah ada permen apel, kamu mau?."


"Tidak...aku tidak terlalu suka yang manis nya berlebihan.."


"Kamu bisa membeli buahnya saja kan?."


"Kalau begitu namanya bukan permen apel...lebih baik membeli buah di toko buah langsung karena lebih terpercaya."


"Huhh...dari dulu kamu selalu merepotkan."


"Siapa yang harusnya mengatakan itu?."


"Tentu saja diriku."


"Baiklah terserah apa yang kau mau, tunggu disini sebentar." Setelah menyuruhnya untuk menunggu dibelakang, aku membelikannya permen apel itu dengan uangku.


Karena antriannya cukup panjang, tapi untungnya aku bisa mengambil antrian yang lebih dekat terlebih dahulu, lalu aku memberikan permen apel itu kepadanya.


"K-Kenapa.."


"Kenapa apanya? aku membelikanmu ini...tidak mau?."


"T-Tentu saja mau...terima kasih.." Sambil merampas permen itu dariku dan memalingkan pandangannya.


Saat melihat ada jajanan yang dia suka, pasti dia langsung menunjuknya setelah makanan yang dia pegang habis, lalu dengan sendirinya dia pergi kesana kemari tanpa sadar kalau aku ada disampingnya.


Lalu aku mendekatinya dengan langsung memberi uang kepada murid penjual itu setiap kali dia ingin membelinya.


"Kenapa kamu terus yang membayarnya!."


"Karena dari tadi kau selalu keluyuran mondar mandir dan langsung mendekat ke arahku lagi... jika orang lain melihatnya, mereka mengira aku lelaki yang tidak punya hati."


"Tapi aku juga punya uang dari hasil kerjaku."


"Aku juga, bulan lalu ayahnya Yuuki telah memberiku gaji cukup banyak...( Mungkin saja langsung habis saat Mai kesini..)."


"Tapi aku jadi merepotkanmu.." Sambil termenung melihat makanan yang dia pegang.


"Dari awal kau sudah merepotkanku, jadi semua ini juga termasuk."


"B-Bisakah kamu sedikit menyembunyikan kejujurannya sedikit?."


"Cepatlah, masih banyak makanan yang bisa kau makan." Sambil meninggalkannya dan berjalan duluan.


"T-Tunggu!."


Setelah banyak hal yang sudah kami lewati, dan dirasa sudah cukup untuk berkelilingnya, kami berdua pun kembali ketempat kelas kami.


"Owh Sakura, kau sudah membawa orang ini kesini." Touya yang melihat kami kembali.


"Apa ada masalah?."


"Tidak ada yang serius, hanya saja banyaknya orang yang berkunjung karena rumah hantu kita ini sudah menjadi populer."


"Kalau begitu syukurlah."


"Kau tidak istirahat?." Sambil melempar pendek botol minum kearahnya.


"Sebenarnya aku sudah diberi waktu istirahat oleh teman teman yang lain, tapi tidak ada yang mengajakku jadi aku diam disini saja." Sambil memasang wajah cemberut seperti anak kecil yang tidak diajak main.


"Memangnya kau anak kecil, jika ingin istirahat tinggal istirahat saja apa susahnya.."


"Bagaimana kalau kita bertiga berkunjung ke kelas cafenya Yuuki saja?."


"Kalian belum kesana?."


"Ya, kami belum sempat kesana.."


"Kalau begitu tunggu aku menyelesaikan ini terlebih dahulu, kalian tunggu saja didepan."


"Sepertinya aku akan menyusul nanti, jam segini mungkin Mai sudah sampai."


"Ah benar, ajak saja sekalian Mai kesana."


"Ya.."


................


"Terima kasih telah mampir di cafe kita."


Semakin siang, semakin banyak yang datang ke kelas Yuuki untuk istirahat jam makan siang, karena itu dia kembali bekerja untuk membantu teman temannya.


"..." Saat sedang ditengah pekerjaan, Yuuki masih membayangkan kejadian saat didalam perpustakaan.


"( Apa yang aku pikirkan! ini semua karena orang itu melakukan seperti itu...tapi....dipikir pikir... Aoyama tidak kesini ya...)"


Saat melihatnya melamun, temannya langsung menepuk pundak Yuuki.


"Hei, apa yang sedang kamu pikirkan?."


"Eh... t-tidak...aku tidak memikirkan apa apa."


"Benarkah? wajahmu terlihat merah."


"Siapa bilang! sudahlah, lebih baik kita lanjut bekerja.."


"Haha, baiklah."


"( Kenapa aku harus memikirkan yang tidak penting, aku harus fokus!.)"


Selain itu Mai yang sudah sampai disekolah kakaknya.


"Kalau tidak salah...kelasnya kakak ada di... lantai 3?."


Saat Mai yang sudah sampai kesekolah kakaknya, dia mencari cari letak kelas kakaknya itu ditengah keramaian...tetapi seorang lelaki datang dengan beberapa pengawal dibelakangnya.


"Hai nona kecil, sedang mencari sesuatu?."


................


"Huh..."


"Kenapa Ao?."


"Sinyal disini sangat jelek, aku tidak bisa meneleponnya."


"Tunggu saja sebentar lagi, bukannya kamu sudah memberitahu letak kelasmu kepada Mai?."


"Memang aku sudah memberinya...tapi dalam keramaian dibawah itu, bagaimana dia bisa mencarinya dengan mudah.."


"Benar juga...dibawah terlihat sangat ramai.." Sambil melihat jendela keluar dari lantai atas.


Saat Sakura masih melihat jendela sedangkan aku yang masih berusaha meneleponnya, tiba tiba suara Sakura membuatku terkejut.


"A-Ao!."


"Ada apa?."


"Disana...Mai."


"Owh, kau sudah menemukannya di keramaian seperti ini? dimana dia?." Sambil mencari keberadaan adiknya di daerah yang Sakura tunjuk.


"Tapi..."


"Tidak mungkin?! Sakamura Azumi!!!." Melihat Mai yang sedang berbicara dengan seorang lelaki luar dengan beberapa pengawal dibelakangnya, tidak lain itu adalah Sakamura Azumi..


Melihat itu aku langsung berlari kebawah untuk menghampirinya.


"Ao!." Sakura yang juga ikut kebawah mengejar ku yang sudah berlari terlebih dahulu.


"Hm?."