
Hari ujian yang masih berlanjut...
Pada setiap harinya aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik, dengan memaksakan tubuh dan mataku untuk terus belajar dari manapun aku bisa mendapatkan pelajaran tersebut.
Pada pagi hari yabg setiap kali aku menghafal materi di lipatan kertas kecil dan berjalan perlahan...
Menghafalkan rumus dengan cara mendengarkan rumus tersebut berkali-kali di telingaku, hingga aku menghafal setiap kata ataupun kalimatnya.
Dan hasilnya yang tidak bisa membuatku kecewa, hingga merasa begitu puas...
Perjuangan yang sedikit aku usahakan dalam hidupku seperti biasanya...
Untuk mencapai tujuanku, dan juga kesuksesan yang menungguku diatas sana..
Aku tidak akan pernah memberikan keringanan kepada diriku sedikitpun... dan karena itu aku bisa memberikan diriku sebuah hasil yang bisa aku nikmati...
Musim dingin ini membuatku terus bergerak tanpa henti, tidak ada satu tarikan nafas panjang ditengah perjalanan... dan juga tidak ada satu tegukan dari air penyegar dengan tangan yang berada disamping pinggang...
Hanya ada langkah kaki yang terus membuat jejak diatas tanah dengan asap yang keluar dari setiap hembusan nafas yang berat ini..
.
.
Hari ini adalah hari terakhir dimana aku sudah menyelesaikan ujian akhir dan bersiap untuk naik ke tingkat yang lebih menguras tenaga.
Dari awal saat aku menginjak sekolah ini... aku sudah menerima resiko untuk merubah diriku yang hanya menginginkan kehidupan tanpa gejolak rintangan yang begitu berat.
*Klek!
Disaat aku membuka pintu rumahku... hawa dingin langsung menyapa pagi ku hingga seluruh tubuhnya bergetar menggigil.
"Dingin sekali... mungkin beberapa hari lagi akan turun salju."
Sambil memeluk diriku untuk menghangatkan tubuh... aku berjalan perlahan menuju depan gerbang rumahku, lalu keluar dengan begitu bergegas..
*Ting!
"[Kamu ada dimana? kami sudah berkumpul di stasiun sekolah.]"
"[Kamu lama sekali, kakak!.]"
"[ Keretaku sedang menuju kesana sebentar lagi, cuaca dingin ini menghambat jalanku dengan baik...]."
"[ Mungkin sudah saatnya untukmu melakukan hibernasi? hhh.]"
"[ Kamu benar... setelah kita semua menghadiri upacara perpisahannya.]"
"[ Itu benar!!..]"
.
.
.
"Maaf menunggu lama."
"Apa keretanya benar-benar terhambat oleh cuaca dingin ini?." Ucap Mai.
"Sepertinya begitu..."
"Yang terpenting, kita semua sudah berkumpul... saatnya berangkat ke sekolah bukan?." Sahut Kuchima.
"Ini perpisahan milikmu, kenapa kita harus pergi ketempat lain?." Ucap Touya.
"Aku hanya mencoba sesuatu yang mungkin bisa merubah tujuan kita."
"Setelah upacara perpisahan ini, kita bisa melakukannya dimana saja." Ucap Nami.
"Mai pun ingin mengikuti apa yang kalian lakukan, boleh kan?."
"Justru kamu sangat diperbolehkan." Balas Nami.
"Apa kalian masih ingin mengobrol disini? aku bisa membeku berdiri terlalu lama disini." Ucapku...
Kita semua berjalan bersama menuju ke sekolah kita... Sekolah Asterisk.
Tempat dimana aku bisa merasakan berbagai hal... seperti banyaknya ikatan yang terhubung didalam kehidupanku.
Aku akui semua tempat pilihanku di sekolah ini cukup baik dan terus menjadi tempat yang menutupi diriku dari berbagai perasaan.
Dua gedung besar yang saling menghimpit sebuah lapangan yang berada ditengahnya...
Hanya karena pergi ke kantin, aku harus berjalan melewati kedua gedung tersebut setiap harinya...
Melewati ramainya lapangan yang dipenuhi oleh para penikmat masa muda...
Saling melepaskan perasaan... bersenang-senang, membangun karakter diri, menjalin hubungan...
Masa muda yang hanya bisa dirasakan sekali dalam seumur hidup seorang manusia...
"Kuchima, kau sudah memutuskan ingin melanjutkan pendidikan dimana?." Tanya Touya ditengah perjalanan.
"Ya... aku akan melanjutkan pendidikan diluar kota... karena aku merasa, disana aku bisa menemukan tujuanku yang selama ini aku cari."
"Luar kota ya... kita tidak bisa sering bertemu lagi kalau begitu."
"..."
"Pada awalnya kita hidup untuk mencari dimana kita bisa berpijak... dan seterusnya adalah mencari tempat dimana kita bisa menikmati setiap usaha yang telah kita berikan disetiap pijakan kita." Ucapku memberikan sebuah kata-kata yang sedikit bermakna..
"Benar yang dikatakan Aoyama... lagipula, dimanapun kakak berada, kita bisa saling menghubungi dan sesekali bertemu." Sambung Nami.
"Seberapa jauhnya kita berada... waktu tidak akan membuat kita semakin jauh..." Sambung Mai.
"Kalian benar... aku tidak akan melupakan setiap perjalanan yang sudah dilalui bersama... festival sekolah... liburan sekolah... pekerjaan OSIS... tanpa adanya bantuan kalian, aku tidak bisa melakukannya sendiri."
"Obrolan ini menjadi semakin berat, lebih baik kita menyimpannya nanti." Ucap Touya sembari menarik nafas panjangnya.
"S-Siapa yang ingin menangis!?."
"Tadi kamu mengalihkan pembicaraan agar tidak terbawa suasana bukan?."
"Aku tidak seperti itu... justru kau yang begitu, karena matamu sedikit berkaca-kaca."
"Eh? yang benar?!."
"Lihat saja sendiri."
"I-Ini hanya sedikit terkena debu saja tadi..." Nami langsung berbalik dan mengelap matanya yang sedikit berkaca-kaca.
"Baiklah, aku kalah." Touya memberikan sapu tangan yang dia punya kepada Nami.
"..."
"..."
"Terima... kasih."
"..."
"Aku sedikit merasa tersentuh melihat mereka, benar begitu?."
"Ya... siapa yang menyangka akan tiba hal seperti ini sekarang... bagaimana menurutmu?."
"Aku hanya mendukung apa yang membuat adikku senang... selagi masih ada kesempatan untuknya."
"Kamu benar..."
"..."
"Mai? kamu tidak apa-apa?." Aku yang melihatnya hanya terdiam sedari tadi.
"Tidak... aku tidak apa apa.." Ucapnya sambil menutup matanya yang sudah sedikit basah.
"Beberapa tahun lagi mungkin kamu bisa menemukan junior yang baik."
"Aku tidak yakin... apa aku bisa seperti Kak Kuchima, Kak Nami, Kak Touya... Kak Sakura dan Kak Yuuki... begitu juga dengan Kakak."
"Kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang mungkin saja lebih baik dari kami, dan semuanya yang kamu miliki baru saja dimulai." Ucap Nami sambil memegang tangannya dengan lembut.
"Um..."
"..."
.
.
.
"Perpisahan untuk kakak kelas kita... sebagai seseorang yang sudah mendampingi kita selama dua tahun ini... dan juga junior kita yang sudah satu tahun bersama kita... semua yang kalian berikan kepada kami... benar-benar sebuah kenangan bagi kami agar kami bisa menjadikannya sebuah bekal persiapan di jenjang pendidikan selanjutnya."
Sebuah pidato yang diberikan oleh ketua OSIS saat ini, yaitu anak kelas 2-A.
Kalimatnya yang menyentuh hati mereka, hingga suara tangisan yang terdengar di sekelilingku... benar-benar sebuah perpisahan yang berarti bagi kita semua.
"Saya hanya bisa mengatakan semua ini kepada para senior.. saya harap, kalian bisa terus melanjutkan perjalanan kalian diluar sana... dengan apa yang sudah kalian tuai kepada kami.. terima kasih."
"Baiklah... sekarang, sebuah pesan kata dari wakil murid kelas tiga... Mantan Ketua OSIS, Kuchima Hiranami.."
"..."
"Baiklah... pertama saya ingin berterimakasih kepada teman-teman seperjuangan yang telah berjuang bersama selama tiga tahun ini melewati masa masa yang sulit untuk dikatakan satu persatu... setiap tahunnya melewati banyak sekali kenangan yang telah kita buat bersama... dan sekarang... kita sudah melepaskan diri dari diri kita masing-masing, untuk meneruskan mimpi kita yang terus melaju hingga melewati langit yang begitu cerah."
"..."
"Terima kasih kalian sudah mengisi hari-hari kita semua dengan apa yang kalian berikan... saya harap kita semua bisa kembali saat sudah menggapai mimpi kita masing-masing."
Kuchima memberikan sebuah kata-kata untuk teman-temannya yaitu anak kelas tiga dengan sangat baik... hingga aku bisa ikut merasakan bagaimana berharganya waktu itu.
"Dan untuk para adik kelasku... seseorang yang telah mendukung kami hingga kami bisa sampai disini... saya ucapkan terima kasih banyak... saya harap dengan apa yang telah kita berikan kepada kalian... bisa membuat kalian memiliki mimpi yang begitu tinggi, dan menggapainya dengan semangat yang membara."
"..."
"Saya sebagai seseorang yang pernah menjadi ketua OSIS di sekolah ini... turut bangga dan bahagia, bisa merasakan waktu ini bersama kalian... maaf jika semenjak saya memimpin... saya memiliki satu atau dua masalah kepada kalian, namun dengan kerja sama kalian... sekolah ini masih bisa terus bertahan hingga saat ini... dan saat ini, saya disini untuk memberikan sebuah kata-kata manis untuk kalian."
"..."
"Kadang resiko yang kamu terima selama berusaha itu adalah sebuah rintangan untuk membuatmu semakin lebih baik lagi... kegagalan mu bukanlah sebuah kesalahan maupun juga dengan kekurangan... tetapi kegagalan itu adalah sebuah dorongan yang paling penting didalam usahamu untuk bisa mewujudkan apa yang ingin kamu capai... semangatlah!."
Didalam aula yang dipenuhi oleh para murid menjadi sangat ramai, semuanya bersorak sorai dengan begitu bahagia..
Cuaca dingin ini menjadi tidak begitu terasa akibat kehangatan yang telah mereka berikan...
"Seharusnya kau tidak mengembalikan sapu tangan ini..." Ucap Touya yang melihat Nami meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan.
"..."
Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka, dan memikirkan Mai yang mungkin juga sedang menangis di barisan bangku diujung sana.
Sayang sekali aku tidak bisa didekatnya... namun aku pun merasa momen seperti ini mungkin akan lebih baik jika mereka berdua bisa melihatnya juga...
"( Sakura... jika kamu disini, mungkin kamu bisa merasakan apa yang kita rasakan... tetapi aku yakin... kamu bisa merasakannya dari sana, dan saat ini kamu sedang berjuang melawan penyakitmu... meskipun aku tidak ada disana untuk menemanimu... tetapi perasaan kami pasti akan tersampaikan kepadamu..)"
Penutupan dari upacara perpisahan yang cukup emosional... hingga pada akhirnya acara ini, ratusan balon yang dilepaskan dari bawah panggung membuat kita semua terkejut hingga tidak menyangka, mereka memberikan kejutan kepada kita semua.
Mereka semua saling menyimpan rasa rindu yang akan terus diingat oleh kakak kelas kita.
Begitu juga dengan Kuchima... selama dia sanggup untuk membuat semua orang tersenyum... dia tetap akan membuat kami tersenyum hingga akhir.
Aku harap dia tahu, bagaimana perasaan kita semua... dan semua yang ada disini... aku ingin dia melihatnya...
Karena kepergiannya hanyalah sebuah perasaan yang tergantung tanpa alasan...
Dan memberikan perpisahan tanpa adanya rasa kehilangan dan kesepian...