
"Apa maksudnya?."
Aku mempertanyakan tentang dia yang kini berada diatas tubuhku dan menatapku begitu lembut.
"Bukannya hal ini diperbolehkan? kita bukan saudara kandung."
"Sepertinya kamu terlalu banyak menonton drama, lebih baik menyingkir dari atas tubuhku dulu."
"Tidak mau... aku ingin seperti ini... dan selanjutnya..."
Dia mendekatkan wajahnya kepadaku sembari memejamkan matanya...
Hal ini berlangsung dengan cepat, sesaat dia yang kini menghalangiku dengan kedua tangannya dan tubuhnya yang berada diatas kepalaku.
Hingga wajahnya sudah hampir dekat...
*Tak!
"Aduh!."
Aku menyentil dahinya hingga dia terduduk sembari memegang dahinya yang sedikit merah.
"Apa yang Kakak lakukan! sakit tahu!."
"Lihat? kamu masih memanggilku dengan seorang Kakak."
Begitu menyadari hal itu, dia langsung menutup mulutnya meskipun sudah telat untuk menghilangkan perkataannya tadi.
"Kamu benar-benar tidak cocok seperti itu... jadi berhentilah melakukan hal yang konyol."
"P-Padahal aku serius!."
"Justru karena keseriusan itu, kamu tidak diterima."
"Hmph! memangnya apa salahnya jika kita mengubah status hubungan kita?."
"Jika itu terjadi... Maka sama saja seperti kamu meninggalkanku sebagai seorang adik, dan aku tidak menginginkan hal itu."
"..."
"Bagaimanapun juga, kamu adalah seseorang yang telah bersamaku hingga kecil... Maka dari itu, aku tidak ingin membuat semua hal itu hancur hanya karena ini."
"A-Aku tahu... bodoh."
"Kalau begitu, kamu ingin duduk disitu terus?."
"Aku ingin tidur di kamarku saja... disini sempit."
Dia pun langsung membawa kembali bantalnya dan keluar dari kamarku.
"Kenapa dia tidak mengatakan hal itu daritadi? huh... ada ada saja."
.
.
Sebaliknya, apa yang aku kira itu hanyalah candaan yang dia berikan, ternyata pernyataan tadi memang benar-benar ia nyatakan dengan serius, hingga dia terduduk bersandar didepan pintu kamarku, sambil menutup bagian bawah wajahnya dengan bantal.
Wajahnya yang begitu merah tidak terlalu terlihat olehku karena didalam kamar yang tidak ada cahaya dan gelap... sedangkan dadanya terasa begitu sesak dan berdegup kencang tidak bisa berhenti...
Dia sudah berusaha untuk mengutarakannya, namun sayang, semua itu hanya dianggap sebuah candaan baginya.
"Ternyata memang tidak bisa... mungkin aku terlalu lama menikmati waktu sebagai saudaranya... hingga didalam hatinya sudah tidak ada kesempatan untukku, huh menyebalkan sekali..."
"Menyebalkan... sekali..."
Tanpa disadarinya, air matanya keluar dan dia menangis sambil menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisnya tidak terdengar olehku yang berasa didalam kamar itu.
......................
*Kringg!! Kringg!!
*Klek!
Aku kembali terbangun oleh suara alarm pagi yang sama seperti sebelumnya...
Kebiasaan baru atau bisa dikatakan aku telah kembali kedalam kebiasaan diriku dulu...
Aku pun bersiap-siap ingin pergi kesekolah, namun aku melihat ada makanan dan sebuah kotak bekal dengan secarik kertas berisi kata-kata.
"Jangan sampai ada yang tersisa! dasar kakak bodoh!."
Sebuah kalimat yang berbanding terbalik dengan yang kemarin kemarin, dan juga dia menggambar sebuah hati yang sudah terbelah menjadi dua.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan? dia benar-benar..."
Aku pun segera menghabiskan sarapannya dan memasukkan bekal tersebut kedalam tasku... dan saat itu aku tidak sengaja menemukan surat yang ia berikan untukku...
Jika aku terus menatapi surat berisi kata-kata tersebut... Aku semakin sulit untuk melupakannya... maka dari itu aku memasukkan surat itu kedalam kotak kecil dan menyimpannya didalam lemari bajuku.
Mungkin perkataan Mai ada benarnya juga... jika aku harus fokus terhadap sesuatu, untuk melupakannya...
Maka dari itu, ujian akhir ini akan menjadi sebuah tempat untukku agar bisa melupakan semua ini, dan fokus untuk mendapatkan nilai yang terbaik dari yang terbaik.
Saat aku membuka gerbang rumahku... aku melihat rumah itu yang kini sudah kosong dan sepi... tidak ada orang yang tinggal didalamnya... dan tidak ada yang menyapaku kembali.
"Selamat pagi... Aoyama."
Tiba-tiba kepalaku membayangkan hal itu, dan aku menggelengkan kepalaku agar ingatan itu tidak mengganggu pikiranku.
"Apa yang sedang aku pikirkan..."
Aku pun melanjutkan perjalananku ke sekolah... Saat menaiki kereta, bahkan turun dari stasiun... Semuanya terasa seperti biasa dan biasa... tidak ada kata spesial didalamnya...
"Aoyama!."
Seseorang memanggil namaku didepan jalan, disaat aku hanya melamun menikmati udara pagi hari ini dengan mata yang masih mengantuk.
"Kuchima, Nami..."
Aku mendekati mereka, tidak hanya mereka berdua... namun disana juga terdapat Touya yang saat ini tidak melihat wajahku.
"..."
"..."
Touya masih tidak ingin memalingkan wajahnya kearahku, hingga Nami yang berada disampingnya langsung memukul pundaknya.
"Apa yang kamu lakukan?! jangan malah diam diam seperti itu!."
"Aduh! sakit! kenapa kau memukulku?!."
Pukulan itu membuatnya berbalik dan tidak sengaja melihatku.
"A-Aoyama... tentang kemarin... aku minta maaf."
Dia pun meminta maaf kepadaku, dan tentunya dia tidak berani melihat wajahku.
"..."
"Tidak... Harusnya aku yang minta maaf padamu, aku tidak bisa menyadarkan diriku sendiri, dan mengatakan yang tidak-tidak."
"Itu tidak benar! aku yang bersalah karena tidak tahu masalahmu sebenarnya! aku memarahi sifatmu... padahal kau yang paling merasa tertekan karena kamu yang sudah mempunyai hubungan dengan Sakura, namun dia pergi da-."
Seketika semuanya langsung memelototinya, begitupun juga denganku yang terkejut akan hal itu.
"Kenapa kamu tahu tentang itu??."
"Huh, kamu memang sangat bodoh." Ucap Nami yang tidak habis pikiran dengan Touya.
Kuchima pun juga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"A-Ah... soal itu..."
"Baiklah, lupakan saja."
"Eh?."
"..."
"Aku tidak terlalu memikirkannya lagi, dan saat ini... aku sudah berusaha untuk membuat kehidupan yang baru, seperti yang dia katakan..."
"..."
Mereka bertiga langsung merasa tidak enak dan bersedih, karena apa yang kurasakan ini, seperti mereka bisa merasakannya juga..
"Kenapa kalian diam saja? sebaiknya kita harus bergegas berangkat... atau kita bisa telat."
"Benar juga!."
"Ini semua karena Touya!."
"Kenapa salahku?!!."
"Kamu terlalu bodoh!."
"Memangnya dimana letak kesalahanku?!."
Sebuah perjalanan yang begitu tenang dan seperti biasa... kebiasaan yang baru untukku, dan untuk mereka...
Kita bercanda tawa dan mengobrol asik ditengah perjalanan... membicarakan tentang hidup kita masing-masing.
"Benar juga... sebentar lagi, Kuchima akan segera lulus bukan??." Tanya Touya yang mengingatnya.
"Um... hanya tinggal beberapa minggu lagi."
"Kau harus benar-benar memperhatikan nilai! atau tidak kau tidak bisa melanjutkan kuliah."
"Aku tahu... lagipula aku sudah mendapatkan beasiswa."
"Eh?? bagaimana bisa?!!."
"Kamu mendapatkan beasiswa?."
Touya dan aku terkejut dengan perkataannya.
"Yah... karena bantuan dari sekolah ini juga, dan aku bisa melanjutkan masa depanku."
"Itu juga karena kakakku pintar bukan?."
"Tetapi berbeda dengan adiknya... sangat berbeda."
"A-Apa yang kamu katakan?! aku pun tidak kalah pintar dari kakakku!."
"Aku tidak percaya."
"Seharusnya kamu yang tidak bisa dipercaya, kacamatamu hanya sebagai hiasan saja, tapi isi kepalanya kosong."
"Gini-gini aku juga berencana akan mendapatkan beasiswa!."
"Hmph! omong kosong."
"K-Kau memang menyebalkan..."
Melihat tingkah mereka berdua, tanpa sadar aku tersenyum dan menikmati obrolan ini meskipun hanya mengikuti arusnya.
"Syukurlah, kamu terlihat sudah baik-baik saja."
Kuchima yang sadar akan wajahku langsung merasa senang.
"Y-Ya... seperti itulah."
"Meskipun banyak hal yang telah menjatuhkan kita... memang yang paling benar adalah bangkit dan terus berjalan.."
"..."
"Kamu benar..."
Ya... apapun masalah yang telah membuatku terjatuh.
Aku masih harus bangkit untuk memperjuangkan hidupku yang hanya ditujukan untuk diriku sendiri...