
"..."
"Aoyama.. bagaimana? apa sudah ada kabar?."
Nami dan Mai yang sudah kembali dari toilet langsung menanyakan keadaan Sakura yang masih berada didalam.
"Dokter sedang mengecek keadaannya didalam, jadi tidak perlu khawatir..."
"Syukurlah... semoga Sakura tidak kenapa-kenapa."
"..."
"Kakak... kamu kenapa?."
Entah bagaimana dia bisa mengetahui jika aku sedang ada masalah, hanya dengan melihat wajahku sebentar...
"Aku? memangnya ada yang berbeda dari wajahku?."
"Apa kakak juga sedang sakit? kakak terlihat sedikit pucat.."
"O-Oh... mungkin aku hanya kurang istirahat selama pelatihan... pulang dari sini aku akan beristirahat..."
"..."
Tetap saja aku bisa melihat wajah Mai yang begitu khawatir saat melihatku.
Dan beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan Sakura, lalu kita semua berdiri bersamaan dengan Touya dan Kuchima yang juga sudah sampai.
"Aoyama, bagaimana?."
"Aku juga belum tahu..."
"Dokter, bagaimana keadaannya?."
Dokter itu sempat melirik kearahku, dan aku hanya bisa berusaha percaya kepadanya atas apa yang sudah aku katakan.
"Kondisi dik Sakura sudah sangat baik... dan juga boleh pulang sekarang..."
"Benarkah?! syukurlah!."
Semuanya langsung merasa begitu gembira, karena informasi yang diberikan oleh dokter sebelum dia langsung pergi untuk kembali pada pekerjaannya yang lain.
Apa aku juga harus merasa senang...
Lalu kami semua masuk kedalam ruangannya dan melihat Sakura yang duduk dengan ditemani oleh Yuuki.
"Kak Sakura! aku sangat khawatir denganmu!."
Sama seperti dia saat bertemu denganku tadi, Mai juga langsung memeluknya yang masih duduk diatas tempat tidur.
"Syukurlah kamu baik baik saja..."
"Jangan membuat kita semua khawatir dong."
"Maaf maaf, mungkin karena aku kelelahan, jadi seperti ini... maafkan aku."
"Asalkan kamu sudah sembuh, itu lebih baik daripada soal yang lainnya."
Semuanya begitu lega saat melihat senyuman Sakura yang kembali muncul pada wajahnya, sedangkan aku semakin terpuruk begitu melihat dirinya.
Aku yang berada dibelakang mereka, dihampiri oleh Yuuki, dan aku langsung menanyakan padanya apa yang dokter katakan.
"Dokter tadi... apa yang dia katakan?."
"Katanya, Sakura sudah membaik... dan hari ini dia boleh pulang... lalu dokter mengatakan kepada Sakura untuk jangan terlalu memaksakan diri.."
"..."
"Tetapi... entah kenapa... aku merasa seperti ada yang salah..."
"..."
Mereka benar-benar seperti seorang saudara, sesusah apapun, pasti salah satu dari mereka merasa ada yang membuatnya kurang nyaman...
"Yang terpenting Sakura sudah membaik, dan kau juga tahu yang dokter katakan? maka kita harus percaya dengan perkataannya..."
"Um... beberapa hari terakhir aku menjadi banyak waktu senggang... dan juga ponselmu sama sekali tidak bisa dihubungi."
"Mau bagaimana lagi, saat pelatihan, setiap orang harus meletakkan ponselnya dan tidak boleh memakainya selama pelatihan."
"Aku tahu... tapi rasanya begitu sunyi..."
"Kenapa kau menjadi begitu kesepian? apa karena tidak adanya aku, kau jadi seperti ini?."
"A-Apa yang kamu katakan! aku tidak merasa seperti itu, bodoh!."
"Baiklah baiklah.."
"Aku mau keluar untuk memanggil supir.."
"Apa perlu aku temani?."
"Aku ingin dengan Nami saja." Dengan nada sedikit tinggi dan sepertinya dia sedikit marah denganku.
"Huh..."
Lalu kami semua pulang dengan menggunakan sebuah masing-masing mobil yang diambil dari rumah keluarga besar Yuuki...
Sesampainya dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul 13.45, karena kita terlalu lama diluar, dan tak terasa jika hari ini terlewatkan begitu cepat...
"Oah... kamu membersihkan rumah dengan baik."
"Tidak ada yang bisa aku lakukan... jadi aku jarang menggunakan banyak ruangan.."
"Aku mengerti... setidaknya berikan aku sedikit pujian." Dia mengatakan hal itu sambil memalingkan wajahnya.
"Baiklah, kau memang adikku yang paling pintar, baik, dan juga imut."
Tiba tiba wajahnya langsung memerah, karena apa yang aku katakan padanya.
"Agak memalukan... tapi t-terima kasih..."
"Kenapa jadi serba salah..."
"P-Pokoknya hari ini juga kakak harus beristirahat! Mai akan mengerjakan semuanya, dan makan malam juga Mai yang masak... kakak harus membaringkan tubuh kakak diatas kasur untuk hari ini, dengar?."
"B-Bukannya itu agak berlebihan?."
"..."
Seketika dia diam sambil menatap wajahku dan tidak bisa menutup mulutnya.
"Ada apa?."
"Kakak... apa kamu benar-benar kakakku?."
"Ha? apa maksudnya?."
"Tidak, kakakku seharusnya akan sangat senang bahkan melebihi waktu yang aku berikan... tapi sekarang semua itu dianggap agak berlebihan... kamu bukan seperti kakakku, siapa kamu?."
"H-Hah? aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan.."
"Aaaa seharusnya kakak senang akan hal itu... tetapi kenapa kakak sudah tidak senang dengan apa yang aku berikan, tidur seharian lho! apa kakak tidak menginginkannya??."
"Sebenarnya sih aku menginginkan hal itu... tapi, yang dulu dan yang sekarang mungkin bisa berubah bukan?."
Tiba tiba dia duduk diatas soda sambil melipat lututnya dan memeluk kakinya sendiri.
"Kakak sudah berubah, aku pasti sudah akan tidak dipedulikan lagi, pasti kakak akan selalu keluar dan pergi, pasti kakak tidak akan memakan masakan ku lagi, pasti kakak sudah tidak bergantung padaku lagi."
Dia mengatakan itu dengan sangat cepat dan berulang-ulang kali, seperti seorang yang sedang menolak kenyataan.
"O-Oi... tenanglah... aku masih seperti diriku yang biasa.."
"Bohong... kamu sudah berubah." Dengan suaranya yang begitu pelan.
"( Bagaimana aku bisa berbicara padanya... memangnya apa yang berubah dari diriku? apa aku semakin buruk dalam menjalankan kehidupan?..)"
"Aku mau mencuci pakaian kotor dulu..."
"Biar aku ban-."
Dia langsung berbalik kearahku yang ingin melangkah dan seperti seekor kucing yang ingin direbut makanannya.
Dan dia memberikan sebuah isyarat dengan tangannya yaitu menunjuk kearah kamarku, dan kearah bawah yaitu kearah tempat tidurku.
Aku yang tidak bisa menghadapinya hanya bisa menurutinya...
"Semakin hari dia semakin seperti seorang yang ingin merawat hidupku... tidur saja deh..."
Aku masuk kedalam kamarku, dan rasanya sangat sejuk, semuanya terlihat sangat bersih dan rapih, begitu juga ruangannya yang harum akan aroma buah... dia benar benar sangat baik dalam mengurus rumah... rasanya aku tidak bisa melepaskannya dan dia pergi... tetapi memangnya aku siapa, dia juga akan menemukan seseorang yang akan menjadi teman seumur hidupnya, dan hidup bahagia... aku yakin akan hal itu, karena dia adalah adikku yang paling terbaik...
Lalu aku membuka tas milikku lalu tidak sengaja menemukan sebuah gelang perak yang memiliki simbol hewan seekor pinguin, dan aku langsung sadar kalau ini harusnya aku juga sudah memberikan kepada Mai..
"Aoyama... kau memang orang yang terburuk.."
......................
"Dasar kakak, seenaknya mengatakan itu... memangnya dia siapa? pura pura ingin menjadi mandiri.. biasanya aku selalu mengurus semuanya... ingin beranjak dewasa sendirian... sombong sekali."
Dia terus mengomel sendirian didalam dapur sambil memasukkan baku kotor kedalam mesin cuci.
"Dimana pemutihnya? oh iya, aku baru membelinya kemarin, harusnya ada didepan.."
Dia berjalan keluar dapur untuk mengambil pemutih pakaian.
"Ini dia..."
Saat dia ingin kembali, dia melihat sesuatu yang mengkilap yaitu sebuah gelang diatas meja makan, dan secarik kertas.
Dia yang penasaran lalu mengambilnya dan membuka lipatan kertas tersebut.
"Perasaan, tadi aku tidak melihat ini disini..."
Saat dia membukanya, dia langsung terdiam dan tidak bergerak selama beberapa detik.
.
.
.
"Harusnya dia akan melihat gelang itu kalau diatas meja makan... saatnya istirahat.."
"Aaaa!."
Tiba tiba aku mendengar sebuah teriakan dari luar, dan aku tahu jika dia sudah mendapatkan gelang dan kertas berisikan kata-kata yang sedikit aku berikan untuk kerja kerasnya membersihkan kamarku.
"Kakaak!! aku sangat menyayangimuu!!!."
Dia masih berteriak seperti itu hingga membuatku malu sendiri.
"Dasar! jangan berteriak sekeras itu!."