
7 hari menuju ke acara pernikahan...
*Tok! Tok! Tok!
"Masuk..."
"Permisi tuan Azumi... ada perlu apa anda memanggil saya."
"Tidak, hanya saja aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu."
"..."
"Orang orang yang memukuli dirimu beberapa hari yang lalu, aku sudah membalas mereka satu persatu... dengan ganjaran yang sangat besar."
"Anda... tidak perlu melakukan hal yang bisa membuat diri anda dalam bahaya."
"Namun aku juga tidak bisa membiarkan dirimu dalam bahaya..."
"..."
"Jika mereka mencoba untuk menggunakan dirimu sebagai pelampiasan dari kebencian mereka kepadaku... maka aku sendiri yang harus melakukannya, karena tidak akan ada yang bisa mengganggu dirimu lagi."
"Tuan Azumi... terima kasih banyak..."
"Akhir-akhir ini, kau jarang terlihat disini... apa ada sesuatu yang sedang kau sibukkan?."
"Tidak ada, saya hanya melakukan sedikit hal untuk mengisi waktu luang saya, tentu saja... saya tidak akan meninggalkan atau melalaikan tugas saya, dan saya akan langsung datang menghampiri anda jika anda membutuhkan saya."
"Baiklah baiklah, aku tahu... justru lebih baik untukmu, agar kau tahu... betapa berbedanya dunia luar dengan tempat ini."
"..."
"Kalau begitu, aku masih sibuk mengurusi segala hal untuk acara pernikahan ini..."
"Maaf Tuan Azumi... soal itu, apa saya boleh bertanya tentang keadaan anda?."
"Aku baik-baik, seharusnya seperti itu... kau tidak perlu khawatir akan hal itu."
"Tapi... bagaimana jika..."
"Masalah ayahku? aku tidak bisa melakukan apapun... yang ada aku hanya menjadi seorang anjing peliharaannya, dan mengikuti segala hal yang diinginkan dirinya, dan pada saat itu tiba... jika semua ini telah terbongkar dan hancur, aku mau kau pergi dari diriku sejauh-jauhnya."
"M-Memangnya... kenapa?."
"Aku tidak ingin kau juga terlibat akan masalah yang dilakukan oleh ayahku, jadi kau harus pergi dan anggap saja semua ini tidak pernah ada didalam kehidupanmu."
"Itu tidak mungkin! anda sudah menolong hidup saya, dan saya juga tidak akan pernah meninggalkan anda! sampai kapanpun itu... saya tidak akan meninggalkan anda menghadapi masalah itu!."
"Aku juga termasuk orang yang menjadi dalang dibalik semua ini, karena aku membantu ayahku untuk melakukan rencananya... jadi tidak ada yang bisa aku lakukan, selain ini... dan aku tidak ingin membawa dirimu kedalam masalahku..."
"Tapi aku tidak-."
"Sebaiknya kau pikirkan dari sudut pandang lain... untuk apa aku membawamu kesini, dan memberikan sebuah kehidupan baru untukmu."
"..."
Dia berdiri setelah menutup buku miliknya, dan berjalan melewati Erlic yang kini sedang terdiam mematung didepannya.
"Hidupmu masih sangat panjang... dan juga... kau sendiri mengatakan ingin mencari kakakmu yang hilang, maka dari itu... teruslah berlari ke luar dunia, dan lihat baik-baik... tidak seutuhnya tempat itu gelap."
"..."
Azumi pun pergi keluar dari ruangannya, dan meninggalkan Erlic sendirian terdiam disana.
Dari saat Erlic kecil, dia hanya seorang anak yang terlantar... anak yang diperjualbelikan oleh orang orang yang tidak memiliki hati nurani..
Namun kedatangan Azumi, menjadikan sebuah awal kehidupan yang baru bagi dirinya...
Memberikan sebuah harapan dan rasa syukur... dan mengurus dirinya dari saat dirinya kecil...
Maka dari itu, Erlic benar-benar tidak ingin meninggalkan tuannya sendirian menghadapi masalah yang diciptakan oleh ayahnya, hingga dia terus menerus menuruti apa kata ayah nya sendiri untuk melakukan sebuah kejahatan.
Dan Azumi telah memberikan sebuah tempat untuknya... begitu dirinya telah kehilangan seseorang yang dia cintai... saat kecelakaan itu...
"..."
Sebelumnya dia mengecek sekitar luar ruangan, dan menutup pintu tersebut...
Dan dia mendekati meja yang sebelumnya dipakai oleh Azumi, lalu membuka sebuah dokumen yang telah dikerjakan oleh Azumi beberapa saat yang lalu.
Dia membaca setiap awal dari lembarannya, untuk mencari bagian yang dia cari...
Satu dokumen tidak menghasilkan apa apa, dan dia pun membuka dokumen yang lainnya.
Berkali-kali dia mengecek dengan sangat baik baik sambil melihat pintu yang masih dalam keadaan tertutup untuk mengawasinya.
Dan setelah dia mengecek beberapa dokumen tersebut, akhirnya dia menemukan sesuatu yang dia cari.
"Ada..."
Dia membaca setiap kalimat dan paragraf didalam satu lembar tersebut, dan mencari sebuah jawaban untuk melanjutkan misinya ini.
"Sakamura Business... Marriage between families... Shiraishi's business... support... Celles..."
Dari sekian banyak pendukung dari acara pernikahan tersebut, dia melihat satu persatu sampai memperhatikan sebuah nama Celles... dia tidak tahu jenis perusahaan atau bagian dari mana... dan dia juga tidak mempunyai waktu untuk mencari tahu satu persatu.
Dan dia pun kembali mencari petunjuk, namun ada sebuah kertas yang terjatuh dari atas meja karena tersenggol oleh tangannya.
Dia bergegas untuk mengambilnya, namun matanya langsung teralihkan dengan kertas yang dia pungut tadi.
"Adam's..."
Sebuah kertas formulir persetujuan yang tidak ada sangkut pautnya dengan acara itu, dan dia melihat sebuah perusahaan Adam yang menegaskan dalam sebuah perjanjian... dengan nama yang harus menandatangani adalah Azumi sendiri.
Dirinya merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dengan formulir persetujuan tersebut.. dan saat dia ingin membaca lebih detail, dia mendengar sebuah suara langkah kaki dari luar ruangan.
Dia langsung bergegas merapihkan semuanya ditempat semula dan berjalan menjauh dari meja Azumi lalu duduk di sofa yang berada diujung ruangan.
*Klek!
Erlic langsung berdiri begitu Azumi masuk kedalam ruangan.
"Kau masih disini?."
"Saya baru saja menelepon teman saya dan setelah ini saya ingin mohon izin pamit untuk menghadiri pertemuan."
"Begitu ya... baiklah, aku izinkan... tapi jangan lupakan hal ini... jika kau bertemu dengan seseorang yang ingin mengincar dirimu... jangan coba-coba menyembunyikan masalah tersebut."
"Baik.."
Lalu Azumi pun duduk di bangkunya dan kembali mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menumpuk diatas mejanya.
Dengan sedikit berkeringat, Erlic mencoba berjalan seperti biasa meninggalkan ruangan itu.
"Erlic.."
Begitu suara Azumi datang memanggilnya, langkahnya langsung berhenti dan berbalik kearahnya.
"Ada apa... Tuan Azumi."
"Tolong katakan pada bibi, buatkan aku kopi dan sesuatu yang bisa menemaniku mengerjakan semua ini."
"Baik, kalau begitu saya akan segera memberitahu kepadanya segera."
Erlic merasa lega dan langsung keluar untuk pergi ke dapur dan mengatakan kepada asisten rumah untuk membuatkan kopi dan sesuatu untuk Tuan Azumi.
Dan dia juga telah melewati sedikit hal yang begitu menegangkan... karena kini dibalik bajunya terdapat sebuah kertas formulir yang sebelumnya ada diatas meja tersebut.
Erlic menyembunyikan formulir tersebut langsung kedalam bajunya saat sebelum Azumi masuk kedalam ruangan.
Dia melakukan hal ini karena kertas tersebut berada di tumpukan kertas yang sama sekali belum disentuh oleh Azumi, dan isinya pun kosong.
Sebelum Azumi menandatangani formulir itu, Erlic berusaha untuk menyembunyikannya agar tidak ada sesuatu hal buruk terjadi.