My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 149



"Kringg!! Kringg!!


Suara bel yang menunjukkan waktu ujian kedua pun dimulai... dan pengawas yang sama dan juga membawa tablet tersebut kembali dengan kertas ujiannya.


Seperti biasa, pengawas itu membagikan kertas ujian kepada kami sembari mengecek meja meja kami..


"Baiklah... waktu ujian, dimulai sekarang."


Semua murid langsung mengerjakan ujiannya dan di ujian kali ini kupikir adalah ujian termudah untuk selama ini... karena mata pelajaran yang terbilang cukup mudah juga...


Aku bisa mengisi setiap soalnya dengan baik dan cepat.


Hingga hanya pada 30 menit setelah ujian dimulai, aku selesai mengerjakannya.


Tetapi tidak hanya aku saja yang selesai mengerjakan ujian tersebut... Beberapa murid lainnya juga telah selesai mengerjakan ujian itu dengan cepat.


Hingga pengawas tersebut kebingungan dengan semua ini.


"Kalian sangat cepat mengerjakannya... apa semudah itu?."


Semua hanya terdiam sambil sedikit tersenyum akibat hasil dari usaha belajar mereka yang tidak sia-sia.


.


.


Semua telah selesai mengerjakannya, dan saat aku ingin mengambil ponselku didalam tas, pengawas tersebut memanggilku dari meja guru.


"Kamu... tolong kesini sebentar." panggilnya.


Aku pun berjalan mendekatinya, dan dia mengangkat tumpukan kertas dan memberikannya kepadaku.


"Tolong bantu saya membawanya."


"Baik..lah."


Aku pun menerima permintaannya meskipun sedikit kurang sopan... Mungkin karena sifatnya memang sedikit keras jadi aku membiarkannya.


Setelah sampai didepan ruang guru, dia berbalik dan memberikan tabletnya kepadaku.


"Apa kamu ingin menolong saya untuk memegangi ini? saya ingin mengecek kertas kertas ujiannya."


"O-Oh baiklah..."


Aku mengambil tablet tersebut, dan pengawas itu masuk kedalam ruangan guru.


"Touya? kamu disana?."


Aku mendengar suara yang tentunya berasal dari tablet tersebut... aku pun langsung melihat layarnya dan sadar jika audio panggilan tablet ini sedang dalam keadaan mati... hanya ada kamera video yang sengaja aku arahkan kebawah.


"Kenapa kamu mengarahkan kameranya kebawah? dan juga nyalakan audionya."


"..." Aku hanya diam sambil menatap wajahnya yang masih sibuk mengatur layar kameranya disana.


"( Dia terlihat baik-baik saja... syukurlah..)"


"Hei Touya! ada yang ingin aku tanyakan padamu!."


".."


"I-Ini tentang Aoyama... karena aku sudah lama tidak melihatnya..."


"( Kenapa dia mengatakan soal diriku kepada Touya? apa dari dulu dia selalu seperti ini? )"


"Kamu tahu... akhir-akhir ini aku sering memikirkannya, aku merasa sedikit bersalah karena menghilang tiba-tiba darinya tanpa memberitahukan kepadanya..."


"..."


Aku hanya bisa melihat wajahnya yang kini terlihat sedih karena hal itu.


"Aku selalu menyusahkan dirinya sampai saat berpisah pun tetap menyusahkan dia... aku ingin meminta maaf padanya, tetapi aku tidak mempunyai waktu untuk i-."


"Aoyama.."


Touya yang datang memanggilku membuatku terkejut hingga tak sadar jariku menekan tombol nyalakan audio.


"Maaf, aku tadi izin ke toilet sebentar... jadinya kau yang disuruh oleh pengawas itu."


"Tidak apa-apa, lagipula aku sedang senggang."


"Baiklah kalau begitu, aku tunggu didepan."


"Ya.."


Touya pun pergi dan aku kembali melihat layarnya... Aku bingung mengapa layarnya hanya hitam gelap.


Seketika aku tersadar jika audio panggilanku menyala, hingga aku merasa sedikit malu akibat mendengarkan omongannya sedari tadi, dan dia tahu akan hal itu.


Namun yang paling merasa malu adalah dirinya.


"( Jadi... sedari tadi aku sedang mengobrol dengannya... aku membicarakan didepannya langsung?? aaaa, memalukan sekali!!..)"


Dengan kameranya yang ia jatuhkan hingga tidak bisa terlihat, namun semua omongannya sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.


"Anu... Yuuki?."


"..."


"Anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi, tetapi... kenapa hanya aku yang tidak kamu beritahukan tentang kepergian kamu?."


"K-Kenapa kamu tidak mengatakan kalau daritadi yang memegang kameranya kamu!?..."


Akhirnya dia pun berbicara meskipun layarnya masih berwarna hitam.


"Yah... aku hanya tidak ingin membuatmu tahu saja."


"Kamu sengaja melakukan itu?!!."


"Seperti itu.."


"Kalau begitu, aku ingin mematikan panggilan videonya.."


"T-Tunggu dulu! aku ingin berbicara kepadamu."


"Tidak bisa... aku sedang sibuk."


"..."


"Ya?."


"Sebentar saja.."


"Baiklah... tapi, apa kamu tidak membuka videonya?."


"Kenapa aku harus melakukannya?!."


"Rasanya agak aneh kalau aku tidak berbicara sambil melihat wajahmu."


"M-Memangnya aku peduli dengan itu!."


"Hanya sebentar saja..."


"..."


"..."


"B-Baiklah..."


Dia pun membuka kameranya, dan aku bisa melihat wajahnya yang sebagian tertutupi oleh boneka yang sedang ia peluk..


Boneka itu adalah boneka besar yang waktu itu ia beli saat kita berdua pergi ke taman akuarium.


"Kamu masih memiliki bonekanya.."


"B-Berisik... cepat katakan atau aku akan mematikannya.."


"Baiklah baiklah..."


"..."


"Aku ingin meminta maaf, karena saat itu... aku tidak menyusul dirimu begitu keluarga Sakamura menjemputmu..."


"..."


"Dan aku tidak bisa menemanimu disaat-saat seperti ini... dan seseorang yang satu-satunya orang terdekatmu... sekarang aku sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi..."


"..."


"Saat ini... aku ingin menebus semua kesalahanku padamu... dan juga aku akan membantu masalah keluargamu "


"..."


"Karena aku sudah berjanji padamu dulu... kalau janjiku adalah membuatmu terus bisa menikmati waktu i-."


"Apa kamu lupa."


"..."


"Ayahku sudah menghentikan langsung pekerjaanmu, dan sekarang kamu sudah bukan lagi seorang asisten."


"Aku tahu, tapi sekarang aku hanya ing-."


"Apa yang kamu inginkan sekarang? kamu sudah tidak mempunyai hubungan apapun denganku... jadi kamu tidak ada sedikitpun tanggung jawab mengenaiku."


"Yuuki..."


"Dan juga... aku tidak menyukai dirimu saat ini..."


"..."


"Semudah itu kamu menyerah... dan melupakannya begitu cepat... ada apa dengan dirimu?."


"Apa yang kamu katakan..."


"Mulai saat ini... aku ingin untuk kamu tidak mengurusi masalah tentangku apapun itu, dan anggap semua ini hanyalah pertemuan yang tidak diharapkan..."


"Itu tidak benar... aku tidak bisa melepaskan dirimu begitu sa-."


Tiba-tiba panggilan videonya berakhir begitu saja..


"..."


*Klek!


"Aoyama, terima kasih sudah membantu saya."


"..."


Aku memberikan tablet tersebut kepadanya, setelah dia keluar dari ruang guru.


"Kenapa dengan wajahmu? kelihatannya sedikit pucat.. apa kamu sedang sakit?." Ucap pengawasan tersebut saat melihat wajahku yang begitu lemas dan pucat.


"Tidak apa apa... saya baik baik saja."


"Baiklah, kalau begitu setelah ini kamu langsung segera pulang dan beristirahat... atau besok kamu tidak bisa mengikuti ujiannya lagi karena sakit."


"Baik... saya pamit untuk pulang."


Rasanya seperti diriku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi untuknya...


Karena dirinya sendiri pun telah melepaskan diriku seperti tidak ingin aku untuk berhubungan dengannya sedikitpun.


Aku tahu mungkin dia memang sudah tidak bisa menerimaku lagi...


Kesalahan yang pernah aku lakukan... menjadikan sebuah lubang didalam hatinya... dan bagaimanapun juga aku tidak bisa menutup lubang tersebut.


Inilah balasannya padaku, aku mengerti tentang hal itu...


Tetapi aku bisa melihat wajahnya yang berkata demikian... terlihat tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya.


Aku bisa melihatnya... dia sedang membutuhkan seseorang untuk mengisi kekosongan tersebut..


Meskipun diriku tidak bisa diterima olehnya... aku tetap yakin jika dia tidak ingin mengatakan hal tersebut...


Maka dari itu...


Aku tetap akan menolongnya.