
"Aoyama, apa kau sudah mengerjakan tugas selama liburan kemarin?."
"Sejak hari pertama pun aku sudah menyelesaikannya."
"Tidak mungkin! aku saja baru teringat hingga begadang hanya untuk mengerjakan semua tugas itu..."
"Kebiasaan buruk dirimu memang harus segera dihilangkan."
"Mau bagaimana lagi, aku sudah sangat lelah dan saat itu aku tidak ada pikiran sedetikpun untuk mengerjakannya."
"Aku tidak ingin memberikan komentar apapun..."
Disaat aku yang sudah duduk didalam kelas menunggu jam pelajaran dimulai, namun ada suatu hal yang lebih aku nantikan, yaitu Sakura yang sampai jam segini masih belum datang kesekolah.
"Ehh?? benarkah??!."
Tiba-tiba suara yang begitu ramai terdengar didepan pintu kelas, dan aku langsung memusatkan perhatianku kepada dia yang sedang berjalan masuk sambil mengobrol bersama teman-temannya.
Aku terus melihatinya hingga akhirnya dia juga melirikku, namun dia hanya membalas tatapanku dengan senyum tipis lalu kembali sibuk dengan teman sekelasnya.
Aku yang tidak bisa berbuat apapun kembali hanya bisa menunggu disaat waktu yang tepat untuk berbicara kepadanya.
Setelah Sakura yang sudah duduk ditempatnya, aku pun sadar jika Yuuki tidak bersamanya...
"Touya, apa kamu tahu kabarnya Yuuki? jam pelajaran sudah ingin dimulai, kupikir tadi dia berangkat bersama Sakura."
"Eh? apa kau tidak tahu??."
"Kenapa?."
"Padahal kau yang selalu bersamanya, tapi sekarang kau tidak tahu keadaannya."
"Aku pun tidak selalu tahu segala hal... memangnya ada apa?."
"Yuuki memberikan surat izin untuk tidak mengikuti pelajaran hingga ujian akhir selesai... dan mungkin saja dia akan keluar..."
"T-Tunggu, apa maksudnya?? aku tidak pernah mendengar soal itu!."
"Apa kau benar-benar tidak tahu apa apa?? justru aku merasa prihatin karena aku pikir kau sedang memikirkannya..."
"Aku... tidak tahu."
"Surat izin tersebut baru saja diberikan tadi pagi, dan Sakura yang memberikan informasi tersebut padaku."
"Bukannya Sakura baru saja datang?."
"Dia sudah datang pagi buta kesini, dia menungguku lalu memberikan suratnya, dan dia meminta izin untuk pergi sebentar.."
Aku begitu tidak percaya jika kejadian seperti itu benar benar ada...
Aku semakin tidak sabar menunggu jam istirahat selesai dan berbicara padanya...
Awalnya aku ingin membahas langsung kepada Yuuki, namun karena kita sudah tidak bisa bertemu kembali, maka akan semakin sulit untuk berbicara padanya.
*Kringg!!
Suara bel jam istirahat berbunyi, dan semua murid yang langsung bersemangat berhamburan keluar kelas, begitupun juga denganku yang langsung bangkir dari kursi lalu menemui Sakura yang berada didepan.
"Sakura, aku ingin membicarakan sesuatu padamu..."
Aku sengaja menghentikan obrolannya dengan teman-temannya, karena aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama.
"A-Ah, ya... baiklah.."
Sakura yang sedikit terkejut karena kedatanganku, namun dia menerima permintaanku meskipun teman-temannya berbisik-bisik berbicara mengenaiku...
Lalu aku pun mengajaknya untuk berbicara dibelakang sekolah yaitu taman yang biasanya aku bisa menikmati waktuku sendirian.
.
.
.
"Ao... m-memangnya, apa yang ingin kamu bica-."
Saat aku berbalik, aku langsung memeluknya dengan erat hingga dia begitu kebingungan.
"..."
"Maaf... kemarin aku tidak bisa mengerti perasaanmu... aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu... maka dari itu aku tidak bisa berpikir lebih baik saat itu."
"T-Tunggu... apa yang kamu maksud? aku tidak marah denganmu."
"Eh?."
"Aku mengerti apa yang sedang kamu inginkan waktu itu... aku pun minta maaf karena tidak menyadari hal itu."
"..."
"Jadi, aku sama sekali tidak marah denganmu.."
"J-Jadi... kamu benar-benar tidak marah kepadaku?."
"Um..." Dia mengangguk pelan sambil tersenyum lembut kepadaku.
"Syukurlah... aku pikir kamu benar-benar tidak ingin berbicara padaku lagi..."
"Aku tidak mungkin seperti itu..."
"B-Benar juga... oh iya! tujuanku mengajakmu kesini, aku ingin mempertanyakan masalah tentang Yuuki saat ini."
"..."
"Saat ini aku benar-benar tidak tahu dengan masalah yang sudah menimpa keluarganya, tapi aku pikir kamu tahu masalahnya... jadi, bisakah kamu memberikan informasi ten-."
"Bisakah kita tidak membahas hal itu?."
"Eh? apa... maksudnya?."
"Aku ingin... kamu tidak membahas masalah itu didepanku."
Sakura yang kini sedang berbicara didepanku, perkataannya tampak berbeda dari ekspresinya yang masih tersenyum seperti biasanya kepadaku... namun..
"Bukannya kamu juga sedang membantunya?? aku juga tidak bisa diam saja, karena aku pun juga seorang penga-."
"Kalau begitu, jangan bertanya padaku..."
Nada bicaranya begitu datar, dan aku tidak bisa memahami apa yang sedang dia pikirkan.
"Sakura..."
"Ao, apa kamu tahu? dari dulu hingga sekarang pun, aku sangat mencintaimu... aku ingin bersamamu, dan memilikimu sepenuhnya."
"..."
"Namun, semenjak kamu mengenalnya, rasanya aku semakin jauh darimu... perhatianmu terus dihalangi olehnya... saat ini pun... kamu masih memikirkannya."
Aku tidak bisa berpikir akan dirinya yang sedang berbicara sembarangan, aku begitu tidak paham dengan jalan pikirannya...
"Jadi... aku hanya ingin meminta satu hal darimu.."
Dia mendekatiku dan langsung mencium bibirku yang saat ini sedang berdiri terpaku melihatnya yang seperti itu...
Matanya menatapku begitu dalam, kedua tangannya yang cukup dingin menyentuh kedua pipiku dan menyentuh kedua telingaku...
Wajahnya begitu dekat, dan aku tidak bisa menjauhkan dirinya dariku.
"Bisakah kamu melupakannya... saat ini hingga seterusnya... kamu hanya mempunyai diriku, tidak ada yang bisa mempunyai perasaan kepadamu..."
"( Apa yang sedang dia katakan... aku benar-benar... tidak mengerti...)"
Pikiranku yang mulai kosong, dan tidak bisa berpikir apapun...
Tatapannya yang terus menatap mataku, dan saat ini aku seperti berada ditempat yang berbeda... seperti... berada didalam ruangan kosong serba putih...
Bahkan sampai sekarang perasaan itu tidak bisa aku lupakan... karena rasanya begitu sulit...
Namun sekarang... aku bisa merasakan pertama kalinya seseorang yang peduli kepadaku... Touya... Kuchima... Nami... dan juga dia...
Dari yang awalnya aku tidak bisa bertahan hidup setiap harinya jika mereka terus mengganggu keseharianku...
Sekarang aku tidak bisa... melupakan mereka semua yang kini sudah berada didalam ingatanku...
Maka dari itu... aku tidak bisa membiarkannya sendirian... menghadapi masalah yang sedang ia hadapi...
Aku yang mengenalnya disaat dirinya masih berada didalam sangkar... dan kini dia bisa merasakan bebas dari dalam sangkar tersebut, namun masih ada sesuatu yang mengikatnya...
Aku sudah berjanji untuk membantunya keluar dari semua itu...
Dan dia sudah mempercayai diriku sepenuhnya... jadi, jika aku melepaskan semuanya begitu saja...
Aku hanyalah seorang sampah yang hanya berharga ketika berbicara, namun tidak bisa melakukannya...
"..."
Aku memegang kedua bahunya, dan mendorongnya perlahan sampai dia merasa sedikit terkejut dengan apa yang aku lakukan.
"Maaf... jika kamu memintaku membuang segala kepedulian yang aku miliki... melepaskan tanggung jawab yang aku genggam... dan melenyapkan perasaan yang sudah aku simpan... aku tidak akan bisa melakukan hal itu."
Benar... aku hanyalah seorang pecundang...
Pecundang yang benar-benar busuk, dan tidak bisa memikirkan perasaan orang lain...
Aku pun sempat berpikir... untuk apa aku diselamatkan... kenapa aku tidak bisa mati saja bersama kedua orang tuaku...
Namun semua itu... mereka bisa memberikan alasan dari semua hal yang aku pertanyakan didalam kepalaku...
Yaitu sebuah ikatan...
Ikatan yang masih terikat maupun yang sudah saling berhubungan...
Satu persatu.... aku bisa memiliki ikatan didalam hidupku...
Dan aku tidak akan melepaskan semua ikatan berharga tersebut...
"Begitu ya..."
"Sakura... aku tidak ingin menyalahkan dirimu... bagaimanapun juga, aku tetap mencitaim-."
Jarinya menyentuh bibirku dan membuat suaraku terhentikan.
"Aku tahu... aku tahu..."
"..."
"Kamu sudah melewati semua hal sendirian... hingga kini... kamu masih berusaha yang terbaik... namun tujuanmu kini sudah berubah bukan?."
"..."
"Kamu bukan lagi Ao yang hanya ingin menikmati hidup sendirian, bertahan hidup sendirian... menjalani kehidupan ini seorang diri... sekarang kamu memiliki mereka, dan itu yang membuat tujuanmu berubah.."
"..."
"Aku benar-benar bahagia... meskipun sebagian didalam hati ini merasakan sebaliknya... tetapi begitu melihat dirimu yang sangat menikmati hari-hari baru, aku pun ikut menikmatinya..."
"..."
"Aku hanya ingin hidup denganmu..."
Air matanya yang menetes, dan terlihat memantulkan cahaya dari matahari diatas sana...
Tangannya bergetar ketika menyentuh wajahku...
Sampai aku tidak bisa memalingkan mataku dari wajahnya...
"Aku ingin bersamamu selamanya... menikmati indahnya waktu yang berjalan disaat aku bisa menyentuh tanganmu setiap saat... merasakan hangatnya pelukanmu... dan membicarakan banyak hal bersamamu.."
Wajahnya kini sudah begitu basah dengan air matanya... dan dia tidak sanggup lagi untuk menatapku dengan matanya yang kini meneteskan air mata...
"Maaf... aku tidak seharusnya berkata seperti ini... aku... memang sangat bodoh.."
"Kamu tidak bodoh!!."
Aku menarik lengannya sehingga dia hanya bisa melihat wajahku...
"..."
"Semua perkataanmu... semua permintaan egois yang kamu inginkan... aku akan menuruti semua itu... aku akan hidup bersamamu, selamanya, sampai kapanpun itu! aku akan terus menggenggam tanganmu dan memberikan kehangatan kepadamu setiap saat! maka dari itu... kamu tidak salah.."
"..."
Aku merunduk untuk menatapnya... dan dia terdiam menatapku dengan matanya yang sudah begitu basah...
Aku mengelus pipinya dan membersihkan semua air mata itu dari wajahnya yang begitu cantik...
Aku hanya ingin melihat senyumannya kembali...
"Sakura... meskipun sekarang bukanlah waktu yang tepat... namun aku tidak peduli... sekarang ini... aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.."
Aku menekuk salah satu lutut kakiku dan memegang tangannya yang begitu lembut.
"Sakura... aku ingin... menikahi dirimu... dan hidup bersamamu.."
"..."
Matanya yang tidak sanggup menatapku, kini terbuka begitu lebar, dan begitu terkejut dengan apa yang aku katakan.
"Apa kamu, ingin menerimaku... sebagai seseorang yang menemani dirimu, kapanpun itu... aku akan membuatmu bahagia seumur hidup, dan terus berada disamping sisimu selamanya..."
Semua perkataan yang benar-benar aku keluarkan dari lubuk hatiku... kepadanya...
"Aku... aku tidak tahu... aku tidak tahu harus mengatakan apa... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan yang begitu bahagia ini..."
Dia berusaha melepaskan tangannya, dan tidak ingin melihat wajahku yang begitu serius mengatakannya.
Aku berdiri dan menggenggam kedua tangannya dengan lembut...
"Kamu tidak perlu menjawabnya langsung... aku akan menunggu jawabanmu... sampai kamu benar-benar menginginkannya.."
"..."
Aku mendekatkan wajahku perlahan, dan dia hanya diam menatapku dengan pipinya yang sudah begitu merah...
Lalu aku mencium bibirnya yang sedikit basah, memeluknya dengan erat, dan tidak ingin melepaskan kehangatan ini begitu cepat.
......................
Sampai saat itu, aku tidak berkata apapun tentang hal lain kepadanya, dan sampai pada malam harinya...
"A-Ao..."
"Sakura... aku ingin mendengar perasaanmu langsung... saat ini juga..."
Didalam kamar yang begitu gelap... cahaya bulan yang menembus jendela kamarku... kita yang berada didalam ruangan bersama...
"Um..."
Aku menjatuhkan tubuhku diatasnya, dan memberikan kehangatan dimalam hari yang cukup dingin ini...
Dia memelukku begitu erat karena merasakan kenikmatan yang tidak bisa ia tahan kembali...
Rasa yang tidak bisa diberikan dengan sebuah kata-kata...
Hanya ada diriku dengannya...
Menghabiskan waktu yang memberikan kita berdua kesempatan untuk bersama...
Aku berharap... waktu tidak akan mengkhianati perasaan ini... sampai kapanpun itu...