
*Bruk!
"M-Maaf, aku minta maaf tidak sengaja menabrakmu." Ucap seorang anak perempuan yang tidak sengaja menabrak anak laki laki itu.
"..." Tetapi anak itu hanya melihatnya dengan matanya yang menyeramkan lalu pergi dari tempat itu.
"..."
Seorang anak laki-laki pendiam dan matanya yang membuat semua teman temannya tidak ingin berteman dengannya...
Tetapi di dalam pikiran anak itu hanyalah sebuah cawan kosong yang tidak tahu diisi oleh apa.
.
.
.
"Hei... siapa namamu?." Perempuan itu memanggilnya saat dia sedang duduk belajar.
"..." Tetapi dia tidak merespon bahkan meliriknya sedikitpun.
"Aku Nanami Sakura... panggil saja aku Sakura."
"..."
Bahkan anak itu tidak ingin mendengar perkataannya sedikitpun.
"Sudahlah Sakura... kenapa kamu mau berbicara dengan anak itu..."
"Aku hanya ingin berteman dengannya saja.."
"Tetapi dia tidak memperdulikanmu..."
"..." Sakura terlihat murung.
Saat melihat wajahnya yang murung, temannya itu pun dengan berani mencoba mengajak anak lelaki itu berbicara.
"Hei... jangan diam saja! Sakura ingin berteman denganmu, masa hanya memberitahukan namamu saja tidak mau."
"..." Anak itu masih tidak ingin menjawab.
"Sudahlah Sakura... tidak ada untungnya juga kamu berteman dengannya... dia juga tidak ingin berbicara... jadi kamu jangan bersedih ya?."
"Um.." Dia mengusap air matanya.
Sejak saat itu, anak laki-laki itu semakin hari semakin diganggu oleh teman temannya.
"Dasar monster!."
"Huuu!! pergi saja sana!!."
Mereka semua melemparkan kertas dan benda benda lainnya kearah anak itu.
Hal itu membuat Sakura yang melihatnya merasa tidak tega... saat Sakura ingin menolongnya, temannya melarangnya dan mencoba untuk membantu anak lelaki itu.
"Kalian semua berhenti!! beraninya keroyokan! bagaimana jika guru melihat kalian!." Dengan lantang anak itu berbicara kepada yang lainnya.
Hingga semua yang mengganggu ketakutan dan pergi.
"Kau sudah tidak apa ap-."
"Jangan ikut campur."
"Hah?."
"Jangan ikut campur urusanku..." Dengan datar dia mengatakan itu sambil menatap matanya.
Lalu anak lelaki itu pergi dari sana.
"Kenapa dengan dia! padahal aku sudah membantunya!."
"..."
Semua yang mereka lakukan untuk membuat anak laki-laki itu berbicara hanya membuat jarak mereka semakin jauh dan jauh...
Tidak ada cara lagi untuk berteman dengannya... Sakura sudah berusaha untuk berbicara dengannya setiap hari meskipun tidak ada respon darinya untuk membalasnya... sampai ketika...
"Sakura! ayo cepat kesini!."
"T-Tunggu... aku sudah tidak bisa berlari lagi!.'
"Mereka sudah hampir dekat! tidak ada pilihan lain!."
Mereka berdua yang sedang dikejar oleh preman di sekolahnya karena kejadian adik adik preman itu dibuat menangis oleh temannya Sakura yang melindungi anak laki-laki dari pembullyan.
"Ada dua jalan... kita lewat mana?."
Dengan panik dia mencoba memilih jalan dengan benar.
"Kiri? kita ke kiri? apa sebaiknya ke kanan?."
"Aku sudah tidak kuat... kamu pergi saja."
"Mana mungkin aku meninggalkanmu!."
Saat dia masih dikejar oleh preman dengan membawa Sakura yang sudah kelelahan... ia berpikir untuk pergi mencari tempat persembunyian terlebih dahulu untuk Sakura, tapi hanya ada pertigaan jalan kosong dan tidak ada tempat yang cocok.
"Lewat sini." Suara dari anak laki-laki itu terdengar dari salah satu jalannya.
"Kamu..."
"Tapi mereka masih bisa mengejar kalian... jadi aku mempunyai rencana."
"Rencana? apa itu?."
"..."
Setelah mendengar rencananya, mereka pun setuju dengan itu...
Rencananya adalah, Laki laki itu bersama temannya Sakura memancing mereka di salah satu jalan yang ada... dan disitu Sakura bisa pergi dijalan satunya untuk menghindari mereka.
Setelah itu Sakura sudah bergerak pergi kejalan yang sudah diberitahukan.
"Kenapa kau ingin membantuku.."
"Mereka mengejar kalian karena kalian keras kepala masih ingin membantuku..."
"Aku juga sebenarnya tidak ingin menolongmu... jika bukan karena Sakura, aku tidak akan melakukannya."
"Terserahmu..."
Lalu kami masih menunggu para preman itu muncul didepan kami.
"Itu mereka berdua! cepat!."
"Mereka sudah melihat kita... ayo cepat."
"Ya!."
Mereka berdua berlari dijalan yang berbeda dengan yang Sakura lalui, agar mereka terpancing untuk mengejar kita berdua.
Setelah lamanya berlari tak kunjung selesai... kini kita berdua dihadapi oleh sebuah jalan buntu.
"Jalan buntu.."
"Apa tidak ada jalan lain?!."
"Tidak ada... jika kita kembali kesana, mungkin mereka sudah datang."
"Lalu bagaimana?."
"Tidak ada jalan lain... mereka datang bukan untuk membunuh kita."
"Apa maksudmu?."
"Kau takut babak belur?."
"Siapapun juga tidak ingin babak belur!."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan kepada mereka..."
"Jadi... kita hanya pasrah disini?."
"..." Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak ingin menjawab kebenarannya.
"Ahh sial! baiklah aku ikuti apa mau mu sekarang." Dia pun sudah tidak bisa membela dirinya lagi.
"Kenapa.."
"Ha?."
"Kenapa kau selalu ikut campur hanya karena anak perempuan itu... jika kau tidak melakukannya... kau tidak akan seperti ini."
"Kau tidak perlu tahu... aku hanya ingin membantunya yang kasihan kepadamu... dia memberikan simpati kepadamu... tapi kau tidak membalasnya, bahkan meresponnya... aku cukup benci dengan sifatmu yang sangat cuek."
"Aku tidak bermaksud membenci kalian... aku hanya tidak ingin merasa terganggu... tetapi kalian terus menerus menolongku..."
"Sekarang memang benar aku akan tertimpa masalah dari kebaikanku sendiri... tetapi aku tidak ingin menjadikan diriku ini seseorang yang hanya melihat orang lain ditindas."
"Omongan darimu terdengar bagus."
"Hem! benarkan? aku Murasaki Senki... panggil saja Senki... tidak apa apa jika kau tidak ingin menjawabnya."
"Kizuku Aoyama... terserahmu memanggilku apa."
"..." Dia melihat anak laki-laki yang bernama Kizuku Aoyama itu dengan sedikit terkejut dan tidak menduganya.
"Apa? itu hanya sebuah nama... tidak perlu disembunyikan berlebihan."
"Haha! baiklah... Aoyama... terdengar keren."
Setelah perbincangan yang cukup memberikan sebuah momen yang menegangkan saat dimana kita berdua hanya bisa menunggu mereka yang datang untuk memukuli kita.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari belokan depan dalam jumlah banyak... kita hanya bisa menunggu dengan pasrah saat tidak ada yang bisa kita lakukan... dibelakang kita hanya ada sebuah dinding tinggi yang mustahil untuk kita panjat.
"Itu mereka! mereka terjebak! hahaha!."
"Lucu sekali!! mereka tidak bisa kabur lagi!!."
Mereka mendekati kita berdua dengan perasaan bahagia setelah mengejar-ngejar kita jauh sekali.
"Kalian akan tahu, akibatnya melawan adik adik kami!."
"..."
Kami berdua hanya bersiap untuk bertahan dari pukulan mereka.
"Bersiaplah!." Mereka langsung berlari kearah kita dengan genggaman tangan yang siap memukul kapan saja.
"Berhenti!!!."
Suara itu terdengar dari belakang kami tepatnya dari balik dinding itu.
Dua orang melompati dinding yang tingginya hampir dua kali tinggi orang dewasa.
"Guru?!."
"Abang?!."
Saat mereka berdua mendarat dengan sangat bergaya ditengah tengah kita semua.
"Siapa yang berani mengganggu muridku?."
"Apa kalian masih mempunyai otak untuk berpikir melukai adikku?."
Kedatangan mereka membuat para preman kakak kelas itu ketakutan... karena.
"I-Itu bukannya kak Danki?!! senior yang memiliki bela diri mematikan?! dan siapa paman berotot itu!."
"Haiya... mereka mengenal anak muda ini... tapi tidak mengenalku..."
"Aku tidak akan segan segan untuk membalasnya jika kalian masih ingin berencana melukai adikku... pergi cepat!."
"B-Baik! ? m-maafkan kami!."
Lalu para preman itu pergi ketakutan saat tidak bisa maju lagi.
"Aku? oh iya... hei!! gadis kecil!! semuanya sudah aman!." Dia berteriak kearah dinding itu.
"Benarkah! syukurlah!." dan ternyata dibalik dinding itu ada Sakura yang menolong kita berdua.
"Sakura? apa itu kau?."
"Iya! apa kalian baik baik saja?."
"Ya! terima kasih!."
"Maaf guru, aku tidak berani melawan mereka.."
"Apa yang kau katakan? mereka lebih tua diatas kau... dan juga kau juga belum terlalu bisa melakukan bela diri."
"..."
"Aoyama... siapa paman ini?."
"Dia guruku..."
"Oh begitu ya... terima kasih paman."
"Santai saja... aku kebetulan berada didekat sini dan melihat kalian... sebenarnya siapa mereka yang mengejar kalian?."
"Mereka biasanya anak nakal dari kelas 4... dan suka mengganggu anak kelas bawahnya agar ingin terlihat berkuasa." Jelas dari kakaknya Senki.
"Lalu? kau?."
"Oh, aku Murasaki Danki, aku juga hanya anak sekolah SMP yang satu gedung disekolah yang sama."
"Begitu ya... baiklah, aku sudah paham."
"Aoyama... terima kasih sudah membantu aku dan juga Sakura."
"Tidak perlu dipikirkan... kalian juga sudah keras kepala selalu menolongku... jadi anggap saja kita impas." Ia pun melangkah ingin pergi.
"Aoyama."
Senki memanggilku dari belakang dan menghentikan langkahku.
"Sekarang kau adalah temanku! mulai besok, aku akan terus mengajakmu untuk bermain bersama sama... dengan Sakura juga! ya?."
"..."
"Terserah.." Lalu ia pergi tanpa memberikan balasan yang pasti.
......................
Esoknya didalam kelas...
"Aoyama! pagi!." Ucap Senki yang langsung memberikan salam padaku.
"..." Tetapi aku tidak membalasnya dan hanya meliriknya sebentar.
Walaupun aku hanya meliriknya sekilas, dia tersenyum senang dan merasa sapaannya itu dibalas setelah sekian lama.
"Senki, selamat pagi."
"Sakura, pagi."
Setelah menyapa Senki, ia pun melihat Aoyama.
"Pagi.." sambil melihatku.
"..."
Senki menyenggol pundakku untuk memaksaku menjawabnya.
"Ya."
Sakura pun merasa senang saat Aoyama membalas sapaannya, begitupun juga dengan Senki.
"Cuek sekali ya..."
"Sekali lagi, namaku Nanami Sakura... maaf jika aku selalu mengganggumu terus menerus."
"..."
Sakura yang tidak mendengar balasannya, hanya bisa menerimanya dengan ikhlas, tetapi berbeda dengan Senki yang melihat Aoyama dengan yakin.
"Kizuku Aoyama, bebas memanggilku apa... dan juga aku minta maaf selalu cuek padamu."
Sakura merasa tidak percaya jika Aoyama membalas perkenalannya.
"Um! terima kasih... Ao!." Dengan senyuman yang pertama kali ia lihat.
"Ao, tidak buruk juga... sekarang kita sudah menjadi teman kan? Aoyama!." Senki merangkulku dari belakang.
"O-Oi, kau sangat berat."
"Tidak apa apa, kita kan sudah berteman."
"Perkataanmu sangat terpaksa sekali..."
"Pft haha." Sakura tertawa melihat tingkah laku mereka berdua...
Dan disambung oleh Senki yang juga tertawa dengan situasi ini.
Setelah itu dan seterusnya... kami bertiga selalu bersama hingga bertahun tahun...
Pertemanan yang sangat indah ini selalu terjadi kapan saja dan dimana pun tempatnya...
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita melewati waktu bersama hingga berada disekolah SMP yang sama.
"Pagi! Aoyama!."
"Pagi..."
"Eh? dimana Sakura? perasaan dia sudah berangkat duluan tadi."
"Aku tidak tahu... terakhir dia pergi entah kemana.."
"Begitu ya? baiklah, aku juga ingin menaruh tasku."
Lalu Senki masuk kedalam kelas, sedangkan aku berjalan jalan sebentar di lorong.
Saat aku ingin pergi ke arah kananku, tiba tiba Sakura muncul didepanku.
"Ao, sedang apa kamu disini?."
"Sakura... tidak ada yang sedang kulakukan... aku hanya berjalan jalan sebentar."
"Benarkah? apa aku boleh ikut denganmu?."
"I-Ikut denganku?."
"Um... aku habis mengantarkan buku ke ruang guru... dan sekarang aku sedang senggang."
"Baiklah, terserahmu saja."
"Hhe."
Lalu dia mengikutiku berjalan disampingku sambil bersenandung.
Suaranya yang sangat merdu membuatku merasa nyaman... tetapi aku tidak bisa terus seperti ini... karena sejak lama aku merasakan sebuah perasaan yang berbeda saat didekatnya.
"Ada apa?." Dia sadar saat aku sedang merasa gugup.
"T-Tidak ada..." Aku mengalihkannya sambil mengambil permen batang rasa blue mint yang aku suka.
"Hm..?." dia melirikku sangat lama saat aku membuka bungkus permen itu.
Saat aku ingin memakannya, tiba tiba ia mengambil permen itu dari tanganku.
"Oi! itu permen terakhirku.."
"Hap..." Dia langsung memakan permen itu.
"B-Benar benar kau makan."
"Hhe... kalau begitu, aku kembalikan padamu." Setelah itu dia menarik kembali permen batang itu dari mulutnya.
"J-Jangan konyol, mana mungkin aku ingin memakan itu."
"Haha, aku juga bercanda, aku tidak akan mengembalikannya."
"Dasar pencuri."
"Biar saja.."
Saat kita berdua sedang bercanda didepan taman, Senki yang mencari kita berdua akhirnya melihat kita.
"Ah itu dia, Aoya-." Dia ingin memanggilnya, tetapi dia juga melihat Sakura yang sedang bersama Aoyama.
Senki melihat mereka berdua dari kejauhan terlihat sangat senang... tetapi entah mengapa kini Senki merasa jika ia tidak ingin melihat hal seperti itu... hatinya seperti terlubangi oleh sesuatu.
Pertemanan yang awalnya begitu dekat... kini ikatan itu terasa lebih renggang saat ada sebuah rasa cinta diantara mereka...
Sebuah rasa yang bisa menghancurkan ikatan yang lebih spesial dari rasa cinta...
Namun cinta itu buta... ia tidak akan bisa melihat hal lain lagi selain hal yang ia cintai...
Saat beberapa hari ini Sakura lebih sering mendekati Aoyama yang setiap harinya sendiri diatas bangkunya...
Senki berpikir jika Sakura merasa kasihan saat melihatnya sendiri... tidak dengannya yang memiliki banyak teman dan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman temannya.
Ia merasa sekarang Aoyama bersikap cuek seperti itu karena sengaja untuk mendapatkan perhatian dari Sakura.
Dan hal itu membuat pemikiran Senki terhadap pandangannya pada Aoyama telah berubah.
"Oh... Senki." Aoyama yang tidak sengaja melihat Senki ditengah lorong saat jam istirahat.
"..." Tetapi Senki melihatnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya... dan Senki pergi begitu saja dari sana.
"..."
Kini ikatan yang terlihat sangat kuat dan tebal, seketika putus oleh api cemburu yang membuat perpisahan ini menghancurkan segalanya...
Mereka tidak lagi seperti dulu... semuanya mengurusi hidup mereka masing masing...
Sebuah pemikiran yang menurut Aoyama adalah benar... dan ia sudah menetapkan pilihannya untuk menyatakan isi hatinya pada seseorang yang membuat sebuah ikatan persahabatan ini hancur...
Tetapi semua harapan itu tidak terjadi lagi untuknya... semuanya sudah hancur... persahabatan, perasaan, cinta, bahkan pertemanan yang awalnya berjalan baik, sudah menjadi rantai yang hancur akibat karat.
.
.
.
"Kenapa!! kenapa kau membiarkannya pergi!." Sambil memegang kerahnya.
"Memangnya aku siapa? aku tidak bisa memaksanya."
"Kau siapa? kau bilang kau ini siapa? setelah semua ini kau menganggap dirimu itu bukan siapa siapa?."
"Aku memang bukan siapa siapanya... semenjak saat itu aku bukanlah siapa siapa."
"Kau!!." Tangan satunya yang ingin memukulku, tetapi dia masih menahannya.
Aku yang menatapnya dengan mata kosong dan sudah tidak ingin mengharapkan apapun yang ada di dunia ini...
Hatiku yang sepenuhnya diisi oleh rasa cinta... rasa itu sudah berubah menjadi racun yang mematikan.
Sejak saat itu dia juga sudah tidak ada disekolah ini... mereka berdua sudah pergi menghilang dari pandangan gelapku.
Semua yang sudah kita bangun bersama sama... kini hancur dengan mudahnya...
.
.
Namun saat ini... ia kembali dihadapan ku dengan penampilan yang tidak berbeda dengan dulu...
Murasaki Senki... dia berada didalam rumahku saat ini...