My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 190



1 hari menuju ke acara pernikahan...


"Karena dia ingin bertemu denganmu sendiri, maka kita tidak boleh mengambil resiko... biarkan hal ini berjalan dengan apa yang dia mau, lalu menunggu sampai mereka berdua berhasil menyelamatkan Celestia." Erlic mempersiapkan rencananya kepada kita semua.


"Aku dan Touya akan menyelinap bersama dengan ibunya Celestia."


"Aku sudah tahu bagaimana detail pada setiap rencana dan ceritanya... namun mengapa baru sekarang aku digunakan? kemarin kalian kemana saja??"


"Karena kemarin kemarin juga tidak ada yang perlu kau lakukan, jadi sekarang kau dengan Kuchima akan masuk secara diam diam kesana."


"Baiklah, aku mengerti... mendapatkan misi dadakan juga tidak terlalu buruk."


Satu hal yang aku belum mempertanyakannya adalah apa yang Erlic lakukan saat itu... maka dari itu aku penasaran dengan apa yang nanti dirinya lakukan, dan aku pun bertanya kepadanya langsung, "Erlic, bagaimana denganmu? apa kau akan naik ke kapal itu?."


"Sayangnya aku tidak bisa."


"Bukannya kau harus bersama dengan Azumi disana?."


"Tidak kali ini... Tuan Azumi sendiri yang meminta diriku untuk tidak ikut ke kapal itu, dan dia memerintahkan diriku untuk tidak mengikuti apapun itu termasuk acaranya."


Seperti apa yang Azumi katakan kepadanya... bahwa dia tidak ingin Erlic terlibat atas acara maupun rencana jahat dari ayahnya sendiri, maka dari itu dia menyuruh Erlic untuk pergi menjauh sejauh-jauhnya agar dia tidak terlihat memiliki hubungan dengan keluarga Sakamura.


"..."


"Namun aku tetap akan di tempat acara setelah pernikahannya bersama dengan adikmu... jika ada sesuatu hal yang terjadi, aku akan melindunginya."


"Baiklah... terima kasih."


"Apa kau juga bisa melindungi adikku Nami? dia juga berada disana."


"Tidak masalah, kalian fokus untuk melakukan apa yang harus kalian lakukan disana, urusan diluar kapal... itu adalah urusanku."


"Terima kasih."


"Omong omong... kemana Mai dan Nami pergi tadi?." Aku yang dari awal tidak melihat mereka sejak kedatangan mereka tadi pagi ke rumahku, lalu beberapa menit kemudian sudah pergi lagi.


"Oh, mereka sedang membeli pakaian jas untuk kita, mungkin saja ujung ujungnya mereka akan pergi ke toko Celles milik ibunya Celestia." jawab Erlic kepadaku.


"Tapi, apa kalian tidak memperhitungkan bagaimana kalau disana terjadi pertengkaran dan acaranya menjadi berantakan?."


"Saat itu, sebisa mungkin kita melakukannya dengan diam diam, namun jika tidak bisa... sebuah hal yang sudah aku persiapkan akan datang begitu mendengar sebuah informasi dari kalian jika rencananya berantakan."


"Hal apa?."


"Lihat saja besok, kalau kalian gagal diam diam."


"Begitu ya."


"Itu seperti dia meragukan kita..."


"Yang penting semua harus berjalan, dan Celestia harus bisa diselamatkan."


"Tenang saja, aku pasti akan menyelamatkannya." Kuchima mengatakan hal itu dengan begitu serius, karena dirinya masih belum menerima kesalahannya kepada Celestia.


"Aku akan membantumu, jangan membebani dirimu sendiri." Touya langsung merangkul pundak Kuchima untuk mencairkan suasananya.


"Aku percaya padamu."


"Hehe, memang seharusnya seperti itu."


Setelah rapat terakhir ini pun, Erlic berencana untuk pergi duluan, untuk mengurus sesuatu..."Kalau begitu aku ingin pamit duluan, karena ada urusan yang harus aku lakukan."


"Baiklah, hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi."


"Pasti... kalau begitu sampai ketemu besok."


"Ya.."


Dia langsung pergi setelah berpamitan dengan kita semua...


"Aoyama, aku ingin berbicara denganmu sebentar."


Setelah Azumi pergi, Touya langsung mendekatiku untuk sesuatu hal.


"Boleh... katakan saja."


"Kalau begitu aku akan menunggu mereka berdua pulang di depan saja." Kuchima yang memahami situasinya langsung mencari alasan untuk pergi dari sana.


.


.


"Apa kau benar-benar percaya dengan anak itu?"


"Memangnya ada apa?"


"Dia adalah seorang asisten Azumi, dan kau tahu sendiri bagaimana Azumi memandang dirimu... dan juga apa kau sendiri tidak pernah berpikir jika saja dia ingin menjebak dirimu? nyatanya dia tidak berencana untuk ikut menaiki kapalnya."


"Aku tahu perasaanmu, tapi tidak akan ada yang terjadi diluar rencana ini... kita harus mempercayainya."


"Bagaimana kau bisa mempercayainya begitu mudah?."


"Karena dia adalah orang yang sama sepertiku."


"..."


"Seseorang yang ditinggalkan sendirian dalam hidupnya dan berakhir dipertemukan dengan kehidupannya yang baru, jujur saja beberapa minggu yang lalu aku masih merasa seperti apa yang kau pikirkan... namun itu semua seakan tidaklah benar, karena dia benar-benar membantuku, untuk masalah ini, maupun masalah keluargaku yang sebenarnya."


"Jadi, kau sudah menemukan keluargamu?."


"Aku masih tidak bisa melihat secercah cahaya tentang keberadaan adikku, namun bagaimanapun juga aku percaya bahwa adikku masih hidup."


"Jika kau memang merasa seperti itu, aku hanya bisa mendukungmu dari belakang, kau tahu? sebenarnya dari kemarin aku menunggumu untuk memanggilku dan memerlukan bantuan dariku."


"Apa kau sebegitu berharap untuk membantuku?."


"Itulah seorang sahabat."


"..."


Touya adalah orang pertama yang mengubah pandanganku begitu aku pertama kali masuk ke sekolah SMA.


Dan dia adalah satu-satunya orang yang memaksaku untuk menerimanya sebagai seorang teman, dan hal itu membuatku sangat jengkel saat dulu dia selalu menggangguku.


Namun, sekarang dia menjadi andalanku sebagai seorang teman... ataupun sahabat.


"Apa yang ingin kau lakukan, setelah melakukan ini semua?."


"Melanjutkan sekolahku?."


"Setelah itu?."


"Melanjutkan kehidupanku..."


"Apa kau tidak ada hal lain yang lebih normal?."


"Dari awal kehidupanku selalu biasa saja, dan aku tidak memikirkan banyak hal... setelah itu."


"..."


"Yang ingin aku lakukan... adalah memenuhi keinginannya, dan setelah itu semua selesai, aku ingin berusaha melupakannya dan menghilangkan semua tentangnya didalam kepalaku... bukan bermaksud tidak menghargai dirinya, namun aku... memenuhi keinginan terakhirnya."


"Aku tahu, seperti apa yang ingin dirimu lakukan, dan apa yang harus kau lakukan... sampai kapanpun itu, jika kau memerlukan bantuan ku untuk melupakannya... panggil saja aku."


"Memangnya kau bisa apa?."


"Aku akan menghantam kepalamu dengan tanganku sampai kau kehilangan ingatan.."


"Mungkin saja kau juga akan kehilangan ingatanmu."


"Kau benar..."


......................


"Aoyama, Kak Touya, kak Kuchima... kalian sudah selesai menggantinya?."


"Sempurna!."


"Aku sudah."


"Percaya diri menurun."


*Sreett!


"Wah! kalian bertiga terlihat sangat keren."


"Benar... penampilan kalian langsung berbeda."


"Memangnya... seperti itu?." Aku melihat diriku sendiri lewat cermin, namun aku merasa bahwa itu masih diriku sendiri.


"Yah, pakaiannya memang sudah sangat bagus."


"Hahaha! bagaimana? apa aku cukup menawan?." sambil bergaya dia memamerkan ketampanannya di depan kami.


"Kenapa dia tidak melepas kacamatanya dari dulu saja?."


"Mungkin dari dulu lupa kalau dia memakai kacamata."


"B-Bagus kok..." di sisi lain Nami memujinya diam diam dengan tampak wajahnya yang memerah dan mencoba untuk mengalihkan pandangannya.


"..."


"..."


"..."


Kami bertiga hanya bisa melihat mereka dengan tatapan pasrah akan hubungan mereka yang tidak ada kepastiannya.


"Semua ini diberikan oleh beliau secara cuma-cuma, karena sebagai rasa terima kasih beliau untuk kita."


"Tapi... apa tidak apa apa kalau jas ini rusak?." Touya mencoba meregangkan tubuhnya lebih bebas untuk mencoba kelenturan pakaiannya.


"Memangnya apa yang ingin kau lakukan? berenang?."


"Maksudku jika sesuatu terjadi disana, pasti bukan kejadian yang bisa dihindarkan lagi kalau kita harus membela diri."


"Usahakan agar tidak merusaknya saja."


"Lalu bagaimana dengan kalian berdua?." dengan polosnya aku menanyakan pakaian yang nanti Mai dan Nami akan pakai.


"E-Eh? kenapa harus kita juga?."


"K-kita bisa memakainya besok malam saat acara setelah pernikahan bukan?."


"Ha? itu tidak adil... Aoyama, Kuchima dan aku sudah mencoba pakaiannya di depan kalian, jadi kalian juga harus melakukannya."


"Mmhh..."


"..."


Mereka berdua hanya bisa diam tak berkata karena dipaksa untuk mencoba pakaiannya juga.


"B-Baiklah... hanya sebentar saja ya! ayo kak Nami!."


"Eh? aku belum bilang ingin memakainya disini!."


Mereka berdua pun masuk kedalam kamar untuk mengganti dengan pakaian milik mereka.


.


.


"B-Bagaimana?."


"Jangan melihatnya terlalu serius seperti itu!."


Mereka berdua sangat cantik ketika memakai sebuah gaun dengan model yang berbeda, Nami memakai model gaun yang sedikit lebih dewasa dan Mai gaun yang berumbai dan memiliki warna polos.


"Kalian berdua sangat cocok menggunakan gaun itu." pujian pertama dilemparkan oleh Kuchima yang sedari awal dia hanya berniat untuk memuji.


"Ya... lumayan." ditambah dengan pujian singkat dariku yang mencoba untuk tidak melihat mereka secara berlebihan.


"U-Um... Sangat cantik... M-Maksudku lumayan bagus!."


Terima... kasih."


"..."


Mereka berdua tersipu malu ketika mendapatkan pujian positif tentang gaun yang mereka pakai.


"Kenapa denganmu? seperti tidak ingin melihatku sedikit lebih lama, apa gaunnya tidak cocok?." Mai mendekatiku dengan mempertanyakan sikapku saat melihat gaun miliknya.


"T-Tidak, aku sudah bilang kalau lumayan... kamu sangat cocok."


"Hmm, benarkah?."


"Ya... saking cocoknya aku tidak ingin melihatmu karena bisa bisa aku mendapati langkah yang salah."


"Hmph! padahal kamu bisa menanggapinya dengan seperti biasanya... tapi aku sangat senang kamu merasa seperti itu."


"..."


"A-Apa yang sedang kau lakukan??."


"Aku hanya ingin membenarkan rambutmu! makanya jangan bergerak."


"Kau terlalu dekat! jangan dekat-dekat seperti itu!."


Mereka berdua bertengkar hanya karena perkara kecil, seperti biasa... mereka benar-benar tidak memahami perasaan mereka satu sama lain, sampai kita bertiga berharap agar mereka berdua sadar dengan perasaan mereka masing-masing.


"Semoga saja besok kita bisa melakukannya."


"Kita pasti bisa menyelamatkan Celestia, dan juga Yuuki."


"Ya..."


......................


"Huh... melelahkan sekali."


Malamnya aku menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidurku setelah sekian lama aku tidak bisa menikmati secara perlahan selimut yang dingin karena terkena angin malam terlalu lama, dan empuknya bantal milikku.


Dan begitu berbaring, aku memikirkan bagaimana tentang acara pernikahannya besok..


Karena mungkin saja aku bisa bertemu langsung dengannya, setelah sudah begitu lama aku tidak melihat ataupun mengobrol dengannya ketika terakhir kali saat hari ujian.


"Besok.. apa aku benar-benar bisa melakukannya."


Rasa keraguan yang perlahan datang ketika aku melamun memikirkan hal tersebut, namun aku kembali tersadar ketika mengingat dirinya.


"Sakura..."


Bagaimanapun ini adalah keinginan dirinya sendiri, dan aku sudah memutuskan untuk melakukan semua keinginannya... maka dari itu.


"Aku akan menyelamatkannya.."