My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 194



"( Bagaimana situasinya?.)"


"Situasi sudah kacau dari belakang, dik Touya dan Kuchima maupun Dik Aoyama, mereka telah ditahan disana."


"( Kalau begitu sudah diputuskan, kita langsung membuat kericuhan disana..)"


"Bagaimana dengan pernikahannya?"


"( Pernikahannya akan berjalan sesuai semestinya, dan semua akan gagal ketika mereka mulai melakukan ucap pernikahannya..)"


"Kalau begitu aku hanya bisa mengikuti apa yang kamu inginkan, tidak semestinya anak berumur enam belas tahun memerintahkan orang tua sih."


"( Saya mohon maaf...)"


"Lagipula ini untuk seseorang bukan? tidak aku sangka, dia mempunyai adik kandung yang lain."


"( ... )"


"Tidak seharusnya aku mengatakan itu ya, kalau begitu aku akan pergi untuk membantu dik Aoyama, kamu akan kesini sesuai rencana kan?"


"( Ya, setelah semua ini aku akan menyelesaikannya...)"


"Baiklah kalau begitu."


*Niitt


"Sekarang... dimana ruangan yang dik Aoyama masuki?"


......................


*Tok! Tok! Tok!


"Tuan Adam."


"Sakamura, bukannya anda harus menemani putra anda dibawah?"


"Sakamura...!"


"Aku ingin bersenang-senang disini, setelah tahu... Kizuku Aoyama berada disini..."


Dia tersenyum menyeringai ketika melihat diriku yang tidak bisa melakukan apapun disini.


"..."


"Kalau begitu aku ingin pergi melihat keadaan gadis itu." Adam berjalan menuju pintu luar, namun aku langsung menghalanginya.


"Dimana dia?!"


"Menyingkir dari hadapanku."


"Sebelum kau memberitahukan dimana dia."


"..."


"Dasar tidak tahu diri, keadaan seperti ini pun kau masih ingin membuat tuan Adam sibuk."


Tiba tiba ada dua orang pria besar yang langsung menahan kedua lenganku dan melemparkan tubuhku ke sudut ruangan.


*Bukk!


"Ughh!"


Dan Adam pun langsung keluar dari ruangan ini tanpa mendengarkan perkataanku.


"Adam! jangan pergi!! dimana dia?!"


Begitu pintu di tutup, saat ini hanya ada aku, Sakamura, dan juga dua penjaga itu.


"Kuhk!"


"Akhirnya aku bisa melihatmu tertunduk seperti sampah yang sebenarnya."


"..."


Dia mendekatiku untuk melihat lebih dalam penderitaannya, namun aku langsung merubah posisi untuk menyerangnya.


"Sampai kau melakukan itu, aku tidak akan segan segan melukai mereka yang berada di ruang khusus keluarga Shiraishi."


"Kau sangat pengecut."


"Memang benar... asalkan kau sudah menjadi tikus mati."


Dia langsung menarik rambutku hingga belakang kepalaku terbentur dinding.


"Aghh!"


"Dari awal, kau selalu mengganggu semua rencana yang sudah aku buat untuk menghancurkan keluarga Shiraishi... bahkan sampai pada akhirnya, kau masih berusaha untuk menghalangiku!"


"Kau seharusnya bisa berpikir, kalau aku berusaha untuk menyadarkan dirimu saat ini."


"Heh! kau? ingin menyadarkan diriku? seharusnya kau yang sadar, dengan siapa kau berhadapan!"


"Orang seperti dirimu yang sudah sepenuhnya buta akan harta, sepertinya otakmu juga sudah mati."


*Buk!!


Dia langsung memukul wajahku dengan keras sampai aku tersungkur ke lantai.


"Kau masih berani untuk menghina, jangan sok kuat dengan memasang wajah menjijikkan seperti itu!"


Dan dia menendang perutku berkali-kali dengan meluapkan seluruh kekesalannya.


Sampai dirinya puas, dia tidak henti-hentinya menendang ku dengan wajah yang begitu senang dan puas.


Aku berusaha untuk bertahan, namun setiap kali aku ingin menarik nafas, dia langsung menendang perutku dan hampir mengenai dadaku, sampai aku terbatuk-batuk karena gagal untuk menarik nafasku.


"Sekarang apa yang bisa kau ucapkan? ingin memberikan nasehat lagi?"


Saat dia sudah berhenti menendangi perutku lagi, aku langsung mengambil nafasku banyak banyak, untuk melancarkan pernafasannya, namun setiap aku menarik nafas, rasa sakit akibat tendangannya langsung terasa lebih menyakitkan.


"..."


"Katakan sesuatu, bedebah kecil."


"Aku akan membuatmu menyesal atas semua yang sudah kau lakukan."


"..."


Dia langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengarkan ancaman dariku.


Dengan tampilan yang sudah berantakan, aku masih bisa mengatakan hal seperti itu, hanya seperti memberikannya sebuah lelucon.


"Bagus! kau sangat pandai dalam berbicara... membuatku tidak akan bosan untuk menghajar dirimu!"


Saat dia ingin menendang wajahku, tiba tiba pintu ruangan ini rusak begitu saja dan terbuka lebar.


"Apa ini?!"


Kedua penjaga itu langsung terkejut dan mendekati daun pintu yang sudah terpisah dari pintunya, namun saat mereka mendekat, tiba tiba seseorang langsung menghantam tubuh mereka hanya dengan kedua lengannya.


"Arrghh!"


"Ughh!"


"Siapa itu?!"


"..."


"Apa dik Aoyama berada disini?"


Kedua tangannya yang masih memegang kedua penjaga yang pingsan itu dan menjatuhkannya, langsung tersenyum kecil melihatku yang tersungkur tak berdaya dibawah.


"S-Siapa kau?!"


"Aoyama, apa kamu memang selemah itu? bagaimana dengan semua yang sudah aku ajarkan kepadamu."


"Guru... Baki."


Aku langsung bangkit perlahan sambil memegangi perutku yang masih merasa sakit, dan Sakamura langsung ketakutan sambil menolah kearahku dan guru berkali-kali dengan resah.


"Bagaimana dengan yang ini?"


"Jangan... aku ingin membicarakan sesuatu dengannya."


"A-Apa yang ingin kalian lakukan?! jangan mendekat!"


Dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik jas hitamnya, namun sebelum dia menodongkan pisau itu kearahku, aku langsung menyikut perutnya hingga dia melepaskan pisaunya.


"Ughh!"


Dia terjatuh dan menyeret tubuhnya kebelakang sampai dia tidak bisa mundur lagi.


"T-Tunggu! jangan mendekat! aku akan memanggil semua penjagaku jika kau mendekat!"


"Dimana Celestia."


"Apa urusanku denganmu!"


"..."


"Sampai kapanpun aku tidak akan ingin memberitahukan apapun dengan manusia rendahan seperti kau!"


Aku kembali mundur untuk mengambil sebuah pisau yang terjatuh dari tangannya, dan mendekati dirinya yang ketakutan karena aku yang menggenggam sebilah pisau.


"A-Apa yang ingin kau lakukan?!."


Aku mengarahkan ujung pisau itu kearah wajahnya, dengan genggaman yang sangat kuat, saking kuatnya tanganku sampai gemetar hebat.


"Dik Aoyama..."


"..."


"M-Memangnya apa yang kau bisa lakukan hah?! manusia sampah sepertimu tidak akan sanggup untuk membunuh orang!" Meskipun dia gemetaran ketakutan dan panik, namun mulutnya tidak berhenti untuk menghina diriku.


"..."


"Lakukan saja dasar rendahan!! aku akan menginjak injak wajahmu jika aku bisa membalas kau!"


Rasanya aku benar-benar begitu emosi, bahkan aku sempat kehilangan kesadaranku dan ingin mendorong tanganku langsung kearah tubuhnya.


Mendengarkan suaranya saja sudah membuatku muak, dan juga melihat wajahnya yang ketakutan namun masih bisa menyeringai dengan tatapan merendahkan diriku.


Aku yang dulu tidak akan peduli dengan omongan manusia manusia yang terus menghina diriku.


Karena sampai kapanpun mulut mereka berbicara, maka balasannya akan tetap menunggu kapanpun dia berada.


Namun selama hidupku... aku tidak pernah melihat balasan langsung semua perkataan dari orang yang menghina diriku.


Karena itu... aku pikir melakukan langsung balasannya akan terlihat lebih baik...


"Kau tidak akan bisa melakukan apapun! dasar sampah rendahan!"


*Swuuut!!


Aku langsung mengayunkan pisau itu kearahnya, dan seketika seluruh isi ruangan ini sunyi tanpa adanya suara yang bisa kudengar kembali...


Tidak ada lagi hinaan yang mengganggu telingaku...


Dan juga tidak ada hal yang aku benci lagi...