
*Ding!! Dong! Ding!! Dong!
Suara bel yang berbunyi begitu kencang mengisi seluruh tempat didalam kapal besar yang sedang berada ditengah lautan samudra ini.
Semua orang berdiri menantikan sebuah acara yang begitu ditunggu tunggu oleh setiap keluarga dan tamu, maupun yang ada di dalam kapal, atau diluar daratan dengan menggunakan layar besar.
Menantikan sebuah kebahagiaan yang menjadikan sebuah acara sakral diantara kedua pasangan...
Namun hal itu tidak berlaku dengan kedua mempelai itu sendiri.
"Bi, bagaimana mataku? apa masih ada bekasnya?"
"Tidak ada nona, wajah nona sudah terlihat sangat sempurna dan cantik."
"Kalau begitu aku harus pergi untuk menjamu tamu yang datang."
"Tapi sebaiknya nona Yuuki beristirahat dulu, tadi malam nona menangis tanpa henti, pasti nona sangat lelah."
"Dari awal aku sudah begitu lelah, tapi aku tidak bisa berhenti... karena hari ini sudah menjadi takdirku sendiri."
"..."
"Oh iya Bi, bagaimana dengan teman temanku? apa mereka sudah menerima undangannya?"
"Sudah nona... tapi apa nona yakin tidak memberikan undangan langsung untuk menghadiri acara pernikahan nona disini?"
"Rasanya aku tidak sanggup, kalau melihat teman temanku yang melihat langsung diriku diatas pelaminan... dan juga Sakura..."
"Semuanya pasti akan baik baik saja, nona tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat berat sekarang."
"Um..."
"Nona Yuuki terlihat sangat cantik."
"Terima kasih..."
Kesedihan yang dialami olehnya, kini telah kembali menghilang karena bantuan dari salah satu asisten rumah tangga yang sangat dekat dengannya, bahkan dia selalu memanggilnya sebagai seorang bibi.
.
.
"Apa bekas lebam di wajahku sudah menghilang?"
"Sudah tuan, tidak ada bekas lebam ya g terlihat lagi."
"..."
"Apa tuan Azumi baik baik saja?"
"Seperti yang kau lihat... tapi aku tetap akan keluar untuk menjamu tamu tamu yang sudah berkumpul di aula, dan juga persiapkan semuanya."
"Baik."
"Oh iya, setelah ini... aku akan membebastugaskan kau dan yang lainnya, aku akan memberi kalian gaji dengan tambahan, aku harap kalian bisa menemukan pekerjaan lain yang lebih baik."
"Maaf, saya tidak bisa."
"..."
"Saya dengan yang lainnya tidak akan pergi untuk meninggalkan anda, cukup untuk melepaskan Erlic, karena dia masih memiliki anda depan yang harus ia capai, tapi masa depan kami... ada disini."
"..."
"Bagaimanapun keadaan anda, kami tetap akan melayani anda, sampai kapanpun itu."
"Kalau itu yang kau mau... baiklah."
".."
"Tapi ingat, aku akan berusaha agar tidak memiliki kaitan dengan kalian, dan aku tidak ingin melihat kalian yang berusaha untuk menghubungkan diri kalian sebagai pekerja ataupun mengabdi dibawah keluarga Sakamura."
"Baik."
Saat ini, yang sedang dipikirkan oleh Azumi adalah para bawahannya yang masih setia untuk bersamanya, namun dirinya juga tidak ingin membuat mereka terlibat dengan apa yang kini sedang dijalankan oleh ayahnya sendiri, selepas kemarin malam dia berusaha untuk meminta ayahnya membebastugaskan para asistennya, namun yang didapatkan olehnya hanyalah sebuah luka lebam yang secara paksa murni dari emosi ayahnya sendiri.
Dan sebagai putra darinya, dia tidak bisa melakukan apapun selain patuh terhadap perintahnya... termasuk pernikahan yang saat ini akan menjadi sebuah pilihan terkahir untuknya.
.
.
"Mempelai pria, putra dari keluarga Sakamura, Sakamura Azumi."
Dia berdiri menunggu seorang wanita yang akan menjadi calon istrinya sebentar lagi, dengan segala kesiapan dia sudah menetapkan pilihannya.
"Mempelai wanita, putri dari keluarga Shiraishi... Shiraishi Yuuki."
"Yuuki, kamu sudah siap?"
"Siap Ayah."
Karpet merah yang memberikan sebuah jalan bagi pengantin wanita, yang keluar dari pintu besar... seorang gadis cantik dengan gaun kain putih membawa sebuah buket bunga, dan wajahnya yang ditutup oleh sebuah kain putih.
Berjalan perlahan sambil menggandeng ayahnya dengan terlihat gagah berjalan bersama putrinya, membawanya ke hadapan seorang yang akan meneruskan hidup putrinya.
.
.
"Sepertinya sudah dimulai, apa kau sudah mempersiapkan semua acara ini? Aoyama."
"..."
Aku duduk sambil menatap layar di depanku, dan melihat dirinya yang berjalan perlahan menuju keatas pelaminan untuk berdiri bersama Azumi disana.
"( Yuuki...)"
.
.
Berbeda dengan kondisi diriku yang duduk diam tanpa adanya yang menahan diriku, tempat khusus untuk keluarga dekat Yuuki, saat ini masih terkepung oleh para asisten dari Adam, dan menahan mereka untuk tetap berada di dalam.
"Acaranya sudah ingin dimulai."
"Kita tidak ada waktu lagi bukan?"
"Kita tidak bisa keluar dari sini dengan begitu mudah... dan juga Aoyama masih belum memberikan tanda kepada kita."
"Apa kau yakin saat ini Aoyama sedang bebas? dia pasti juga dalam keadaan seperti ini, tapi dia sendirian."
"Satu hal yang harus kita lakukan, jika suasananya menjadi berantakan dan ricuh, hanya itu kita bisa memanggil panggilan Erlic, dan seperti yang Erlic katakan kemarin, bahwa dia akan datang dengan sesuatu."
"Kalau begitu kita bisa langsung membuat kericuhan disini."
"Saat ini kita berada diatas kapal, sudah tentu tempatnya terbatas... kita tidak bisa asal bergerak begitu saja."
Obrolan Touya dan Kuchima yang diam diam saking berbisik-bisik, memikirkan bagaimana caranya mereka bisa tetap menjalankan misi mereka, tanpa adanya tanda tanda dariku.
Saat ini Touya dan Kuchima berada di jarak yang cukup jauh dengan para saudara jauh Yuuki, karena para asisten sudah diberikan informasi siapa saja orang yang menerobos masuk kedalam kapal, dan siapa yang seorang keluarga dekat Shiraishi Yuuki.
.
.
Kembali pada suasana di aula pernikahan, semua tamu yang melihat seorang Shiraishi Yuuki, berjalan diatas karpet merah, dan gaun panjangnya yang sampai salah satu asisten membantu untuk membawa gaun panjangnya itu.
Azumi menatap seseorang yang akan menikah bersamanya dengan tatapan datar, yang hanya berniat untuk memenuhi apa yang ayahnya perintahkan pada dirinya.
Tidak ada lagi rasa yang berbeda ketika melihat gadis cantik di depannya..
Bahkan rasa sakit yang terasa melekit di wajahnya lebih terasa daripada degupan jantungnya.
Yuuki berjalan dengan perlahan sambil menatap kebawah tanpa ingin mengangkat wajahnya sekalipun, bahkan jika dia mengangkat wajahnya... dirinya merasa akan meneteskan air mata seperti biasanya.
Dan ayahnya mengetahui kalau tangan putrinya gemetaran kaku beliau menggenggam tangannya dengan erat, untuk meyakinkan hatinya.
Sungguh ini adalah sebuah pernikahan yang sama sekali tidak ada rasa cinta maupun sayang karena perasaan mereka berdua yang saling ditarik ulur oleh keadaan yang mencekam.
Hanya ada satu jalan bagi mereka untuk melaksanakan pernikahan tersebut... sebuah hal yang tidak ingin Yuuki rasakan, sampai dia bisa menikmati hidupnya berapapun waktunya.
Namun takdir adalah suatu hal yang tidak bisa diubah begitu saja, karena hanya orang yang memahami isi pikiran dan hatimu yang bisa mengubahnya.
"..."
.
.
"Sepertinya kau terlihat tidak ingin melihat ini? apa kau merasa bahwa melihatnya disana sama saja seperti ternodai oleh takdir? satu hal yang harus kau tahu."
"..."
"Ini semua adalah salahmu."