
"Mereka menahan putri seorang pemilik perusahaan busana..."
"Benar, dan ini adalah masalah yang saat ini saya- tidak... maksud saya masalah yang saat ini kami hadapi langsung untuk berhadapan dengan mereka."
"Apa kau yakin... bisa melakukan hal ini?."
"Selama ini saya merasa ragu dan bimbang, namun... saya memiliki tanggung jawab yang harus saya lakukan... dan juga saya sudah berjanji untuk menolongnya, apapun itu."
"Baiklah, jika kau bersikeras untuk melakukannya, namun satu hal yang harus kau ingat... dirimu juga akan menjadi bahaya kalau mereka mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya... darimana kau berasal, dimana kau hidup, dan siapa yang bersamamu... kau harus bisa menanggung resiko tersebut."
"Saya mengerti.."
"Dan jika kau ingin mengetahui tentang Adam... seperti yang kau katakan dan kau lakukan saat dia menculik temanmu... dia sangat takut akan kehilangan apa yang sudah ia miliki, dan dia akan melakukan apapun selagi itu bisa membuatnya kembali bebas, maka dari itu... hasilnya akan ditentukan saat acara pernikahan tersebut... karena dia sudah memberikanmu penyelesaian untuk bertemu, namun waspadalah... meskipun sifat buruknya yang menjadikan kelemahan untuknya, tapi dia bukan sekedar orang yang bisa menghancurkan hidup orang lain dengan mudah."
"..."
"Tapi... tidak seharusnya kau melakukan hal seperti ini, Aoyama... hidupmu tidak perlu menjadi kehidupan yang sulit, kau bisa fokus untuk sekolahmu, dan dimana kau akan pergi nantinya... kau bisa membahayakan dirimu sendiri, dengan memaksakan dirimu untuk masuk kedalam masalah dunia yang tidak sepatutnya untukmu, karena kau-."
"Aku adalah orang yang penting?."
"..."
"Aku tidak perduli dengan apa yang ada dalam hidupku... dan juga siapapun mereka yang bersamaku, keluarga, teman, saudara... atau hal lainnya... aku tidak akan meninggalkan mereka sendiri... meskipun resikonya aku bisa menjadi seorang yang paling penyendiri di dunia ini."
"..."
Terlihat matanya membulat saat mendengar sebuah kalimat yang terasa tidak asing bagi dirinya.
.
.
"*Apa yang kau lakukan disini, Kurokami? sebaiknya kau menyendiri di kelas dan menyibukkan dirimu sendiri dengan pelajaran pelajaran yang memenuhi isi kepalamu."
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja..."
"Mereka juga akan memukuli wajahmu, dan hanya untuk menolong seorang berandalan sampah seperti diriku... sebaiknya kau pergi dari sini*.."
"*Aku tidak peduli..."
"..."
"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada hidupku, dan aku tidak ingin memikirkan perkataan orang orang sepertimu... keluargaku, teman temanku, sahabatku maupun pacarku, apapun itu... aku tidak akan meninggalkan kalian sendirian, meskipun aku akan menyendiri seumur hidupku."
"..."
"Kita bisa melakukan ini bersama-sama... Kizuku Naoto*!."
.
.
Kepingan masa lalu yang kini kembali diingat olehnya, membuatnya tersenyum dan ikut berdiri untuk melangkah mendekatiku.
Dan dia meletakkan telapak tangannya diatas pundakku, sambil menatapku bangga.
"Lakukan apa yang kau inginkan.."
Dirinya pergi setelah mengucapkan hal itu... melangkah menuju pintu keluar.
"( Putramu tidak ada bedanya sama sekali dengan dirimu... Nijiro Kurakami.)"
......................
"Kamu sedang berada dimana sekarang?."
"Aku... ada dirumah."
"Kalau begitu kamu bisa menjemput aku disini? kita sudah selesai membuat gaun pernikahan kak Yuuki, sangat cantik sekali, pokoknya kamu akan menyesal kalau tidak melihatnya."
"Itu hanyalah sebuah gaun, tapi aku akan kesana."
"Baiklah, aku tunggu disini.."
"Mai..."
"Hm? ada apa?."
"Terima kasih."
"Ha? ada apa denganmu? pokoknya cepat datang kesini!."
*Niitt Niitt
"Huh... percuma saja, aku tidak bisa mengatakan rasa bersalahku padanya..."
Setelah apa yang sudah aku lalui bersamanya, aku terus menganggap bahwa dirinya telah mendapatkan orang tua yang sangat buruk, sampai aku sanggup mengurus dan menjaganya sendiri.
Aku menyalahkan secara sepihak atas kesalahannya... tanpa aku tahu, jika semua itu dia lakukan karena diriku.
Rasa bersalah sekaligus menyesal... namun hal yang paling aku pikirkan adalah dirinya... aku sudah menghancurkan hidupnya sejak dulu, dan membuatnya tidak bisa merasakan hangatnya bersama kedua orang tuanya.
Andai saja dari awal aku tahu akan hal ini... aku tidak akan pernah ingin bertemu dengannya, dengan mereka... dan hidupnya akan menjadi lebih baik lagi.
Aku selalu memikirkan, bagaimana rasanya jika Mai tidak pernah merasakan hal seperti ini... pasti dirinya akan sangat bahagia ketimbang bersama denganku.
Namun selama ini aku tidak ingin sama sekali memikirkan hal seperti itu... entah dirinya senang atau tidak, namun satu hal yang pasti harus aku lakukan...
Adalah menjaganya hingga dirinya telah mampu hidup sendirian tanpa membutuhkan sosok pendukung lagi bagi dirinya sendiri.
......................
"Tidak apa apa, lagipula sudah seharusnya saya membantu diri anda, karena anda juga telah membantu kami dan memberikan perhatian bagi kami."
"Setelah aku berbicara panjang dengan mereka, aku mengerti betapa pentingnya orang itu bagi kalian... dan mungkin perasaan yang aku rasakan, pastinya putriku juga merasakannya hal yang sama... maka dari itu aku paham."
"Terima kasih atas pengertian anda, saya berjanji, akan membawa pulang putri anda dengan selamat."
"Baiklah."
"Kalau begitu saya permisi."
"Ya..."
Aku pun kembali ke mobil yang dikendarai Erlic, dan mereka berdua juga sudah berada didalam menungguku mengobrol dengan beliau.
.
.
"Hari ini, aku sudah berbicara padanya."
"Maksudmu, dengan ayah angkat kau?."
"Ya..."
"Eh? tadi kamu pergi mengobrol dengan ayah? bukannya tadi kamu mengatakan kalau sedang berada dirumah."
"K-Kalau itu... yah tidak ada bedanya."
"Jelas ada bedanya!."
Ditengah suasana yang mulai memanas, Erlic menyelipkan pertanyaan padaku..."Apa yang beliau katakan?."
"Dia hanya memeringati diriku, dan juga... memberitahukan kepadaku soal masa lalu yang juga pernah kamu bicarakan padaku."
"Yang... mana?."
"Sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Shiraishi dan Sakamura... beliau adalah ayahku."
"J-Jadi kau sudah tahu??." Tiba tiba dia memalingkan wajahnya kearahku.
"Oi, depan! lihat depan! kamu sedang berkendara!."
"O-Oh ya... aku lupa."
"Huh, hampir saja..."
"Erlic, kamu hampir membahayakan kita semua disini!."
Nami yang juga hampir terkejut ketika mobilnya berjalan tak seimbang membuatnya hampir ingin menyebutkan kalimat terakhirnya.
"Tahu! kamu hampir membuat kami dalam bahaya."
"Ya maaf, aku tidak sengaja... lagipula, kita sudah sampai di depan rumahmu."
"Oh benar juga, kalau begitu aku pulang duluan, terima kasih tumpangannya."
Nami pun langsung keluar dari mobil setelah sampai di tujuannya.
"Kalau begitu tinggal mengantarkan kalian berdua."
"Tunggu sebentar."
Aku menghentikan Erlic yang ingin menginjak gasnya.
Aku terus melihat Nami yang masih berjalan menuju kedalam rumahnya, dan membuat Erlic paham mengapa aku menghentikan dirinya.
Dan sampai dia membuka pintu rumahnya, dia berhenti ketika masih melihat mobil kita yang berada didepan rumahnya.
Dirinya sempat kebingungan namun beberapa saat kemudian dia sadar kalau mereka ingin memastikan bahwa dirinya baik baik saja sampai kedalam rumah.
Lalu dia memberikan tanda seperti mengacungkan jempol karena dia sudah baik baik saja, melambaikan tangannya kepada kita lalu menutup pintunya.
"Baiklah, seharusnya sudah tidak apa apa."
"Kalau begitu-."
"Tunggu."
"Apa lagi?." Terlihat wajah yang sudah lelah menunggu lama, dia pun kembali mengangkat kakinya dari pedal gas.
"Antar kami ke rumah Mai saja."
"Kenapa? aku bisa sekalian mengantar mu ke rumahmu."
"Um, daripada kamu harus naik kereta, jaraknya cukup jauh."
Mereka berdua bingung dengan apa yang ingin aku lakukan.
"Aku ingin berbicara padamu nanti, jadi aku turun saja disana sekalian."
"Ohh.. begitu."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian."
"Sekali lagi tolong."
"Tidak apa apa.."