My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 68



*Kringgg kringg!


Suara alarm pagi hari yang menyapaku untuk memulai hari dengan lebih baik.


"Hooaamm..."


"Pagi... kakak."


Aku melihat adikku yang sedang membuat sarapan pagi didalam dapur.


"Pagi..."


"Oh iya... ada yang ingin kukatakan padamu."


"Ada apa?." Dengan wajah yang masih lesu, aku duduk di kursi meja makan.


"Kemarin, kak Sakura memberikanku ini... katanya untuk kita memakannya."


"Woah..." Aku melihat sebuah hal yang jarang kulihat.


"Katanya kak Sakura habis mendapatkannya cukup banyak... jadi dia memberikan beberapa."


"Apa tidak apa apa dia memberikan ini?."


"Justru kak Sakura yang memaksa untuk menerimanya, jadi aku merasa tidak enak."


"Ini adalah mangga miyazaki! salah satu jenis mangga termahal di dunia..."


"Kalau begitu, biar Mai yang memotongnya."


"Ya, tolong."


Buah mangga yang termasuk mangga termahal di dunia, yaitu mangga miyazaki...


Saat Mai memotong buah tersebut... dari awal saat melihatnya... terlihat sangat lembut sekali...


Dan wanginya yang langsung menusuk kedalam hidung, membuat buah ini menarik perhatianku di pagi hari.


"Nih."


"Terima kasih."


Aku memakan buah tersebut, dan saat gigitan pertama... dagingnya yang meleleh didalam mulutku... manisnya yang membuatku ingin menikmatinya lebih lama...


"Enak!."


"Um! manis dan lembut!."


"Beruntung sekali aku bisa memakannya dalam hidupku... aku harus berterimakasih padanya."


"Sepertinya kakak terlihat sangat menyukainya?."


"Itu sudah jelas bukan? di dunia ini memiliki banyak hal yang sangat istimewa... dunia menciptakan harta karun... kita sebagai manusia hanya bisa menemukan harta tersebut... meskipun banyak harta dunia yang disalahgunakan oleh mereka..."


"Lalu apa yang membuat kakak sangat senang?."


"Huh... kau dengar ini... populasi manusia yang hidup didalam bumi... keistimewaan isi dunia... mereka memiliki perbandingan yang sangat jauh... dan mereka yang memiliki kuasa bisa dengan mudah merasakan bahkan memiliki hal tersebut... dan hal itu berbeda dengan kita yang tidak memiliki kuasa apapun... setidaknya keistimewaan dunia yang bisa kita rasakan setiap hari adalah tanah yang kita pijak... udara yang kita hirup... pemandangan yang kita lihat... dan alam yang menyediakan bahan makanan untuk kita rasakan..."


"..."


"Suatu barang bisa dirasakan semua orang... tetapi hanya bisa dimiliki seorang... itulah kebutuhan yang harus dimiliki setiap manusia."


"Padahal kakak selalu mengurung diri sendiri didalam kamar... tetapi kakak tahu banyak hal diluar sana."


"Tanpa keluar pun aku bisa melihat dunia...itu yang dinamakan keuntungan kemajuan teknologi."


"Tch, perasaan setiap hari aku hanya mendengar suara game ataupun kartun."


"Itu bukan kartun..."


"Aku melihatnya seperti kartun."


"Kartun dan anime adalah mahakarya yang berbeda... meskipun sekilas terlihat sama... isinya jelas jelas berbeda."


"Memangnya apa yang berbeda dari keduanya?."


"Meskipun kuberitahu, kau tidak akan mengerti."


"Huuu... berarti selagi kakak tidak bisa membuktikannya, aku masih menganggapnya kartun."


"Terserahmu..."


Aku mengambil potongan mangga terakhir diatas piring.


"Aahh!! itu bagianku!."


"Memangnya kenapa ini bagianmu?."


"Bukannya jelas jelas itu ada diatas piringku!."


"Yang diatas piringku dengan piringmu sama... apa bedanya?."


"Meskipun kuberitahu, kakak tidak bisa mengerti.."


"Kalau begitu, sampai kamu bisa membuktikan perbedaan mangga yang diatas piringmu dengan piringku... aku akan memakannya."


"A-."


"Kenapa? kau sudah tahu bukan? perbedaannya?." Sambil tersenyum meledek kearahnya.


"K-Kenapa aku mempunyai kakak yang begitu pintar.."


"Jika sudah mengerti, itu sudah cukup... buka mulutmu."


"Memangnya kena- umm!! mm!."


Saat dia membuka mulutnya, aku langsung menyuapinya dengan potongan terakhir mangga itu.


"Kalau begitu, aku ingin sarapan... dimana sarapanku?."


Sebelum menjawabnya, dia mengunyah buah itu dan menelannya seperti seekor tupai.


"T-Tunggu sebentar!."


"Baiklah."


*Niittt niittt


Dering ponselku berbunyi saat aku sedang menunggu sarapanku yang dibuat oleh Mai.


"Siapa yang meneleponku...?." Sedikit kesal karena menggangguku.


"Kenapa tidak mengangkatnya saja? siapa tahu penting."


Saat aku melihat nomor yang meneleponku, harapan baik berakhir begitu saja.


"Huh... ini tidak ada pentingnya." Dengan pasrah aku tidak ingin bersikap tidak sopan dan terpaksa mengangkatnya.


"Oi! kenapa kau sangat lama sekali mengangkat teleponku??."


"Seharusnya kau yang harus berpikir... aku sedang sibuk disini..."


"Apa yang kau lakukan? jarang sekali sedang sibuk di hari libur seperti ini?."


"Menunggu sarapan dari adikku."


*Pong!


"Aku mendengar sesuatu seperti ponk..."


"Tidak... bukan apa apa..." Sambil memegang kepalaku yang terkena ciuman dari pancinya.


"Begitu ya..."


"Jadi? ada urusan apa kau meneleponku di pagi hari?."


"Jadi begini... kau tahu jika liburan akan berakhir seminggu lagi kan?."


"Ya."


"Dan saat awal liburan, kita diberikan tugas khusus liburan bukan?."


"Ya."


"Kupikir saat aku ingin mengerjakannya... aku rasa lebih bagus jika sebuah tugas dilakukan bersama sama."


"Itu menurutmu."


"T-Tapi itu benar kan?."


"Ya."


"Jadi bagaimana jika kita mengerjakan tugas bersa-"


"Aku sudah selesai.."


*Tit...


Aku langsung menutup teleponnya.


"Ada apa dengan kak Touya?."


"Tidak ada apa apa, dia hanya bertanya kucing dan anjing mana yang lebih menggemaskan."


"Benarkah? apa dia ingin membeli hewan peliharaan?."


"Iya, yang bisa menyelesaikan tugas."


"Tugas? maksudnya tugas apa?."


"..."


"..."


*Ponk!!


"Memangnya aku bodoh... mana ada hewan yang bisa mengerjakan tugas liburan sekolah."


"Bisakah kau sedikit mengasihani kepalaku?."


"Ah iya... kakak benar... aku harus menjaga agar pancinya tidak rusak." Sambil mengelus panci yang mencium kepalaku dua kali.


"Jika bukan karena sarapan yang aku tunggu... dari awal aku sudah-..."


"Hm? sudah apa?." Dia mengangkat kembali senjatanya.


"S-Sudah kelaparan... kan aku menunggunya.."


"Hmph... baik."


"( Hidupku selamat... )"


*Nitt nittt


"Lagi?." Dengan heran aku melihat ponselku yang berdering.


"Tidak baik mengabaikannya loh."


"Huh..."


Saat aku dengan lemas mengambil ponselnya, saat kulihat nomornya, ternyata yang meneleponku adalah Yuuki.


"Ternyata bukan dia..."


"Kalau begitu angkat."


"Baik baik."


"Halo, Aoyama?."


"Ada apa? aku sedang sibuk."


"Sibuk apanya, padahal kamu sedang me- mph!!."


Sebelum aku mendengarnya hingga selesai, dia seperti langsung menutup mulutnya untuk tidak berbicara.


"Ada apa?."


"T-Tidak tidak! maksudku padahal kamu biasanya tidak sibuk!."


"Aku bukan sepenuhnya pengangguran."


"Ada yang ingin kukatakan padamu."


"Apa?."


"Kamu tahu kan? jika liburan sekolah akan berakhir seminggu lagi?."


"Ya."


"Dan juga saat awal liburan kita diberikan tugas liburan sekolah bukan?."


"Ya."


"S-Sebenarnya aku ingin belajar mengetahui pendapat dari orang lain... agar aku bisa memiliki banyak jawaban dari orang lain..."


"Lalu?."


"J-Jika kamu belum mengerjakannya... bagaimana jika kita mengerjakannya bersa-."


"Aku sudah selesai, tidak perlu."


*Tit!


"Aku seperti mendengar hal yang sudah kudengar sebelumnya... apa yang kak Yuuki katakan?."


"Tidak ada apa apa... dia hanya bertanya ikan atau burung, mana yang lebih bagus."


"O-Oh... kak Yuuki ingin memelihara hewan juga?."


"Sepertinya begitu..."


"H-Haha, sepertinya semua orang sedang kesepian."


Saat Mai ingin lanjut memasak, tiba tiba dering ponselku berbunyi kembali.


*Niittt nittt.


"S-Siapa lagi?."


"Sakura..."


"Kalau begitu cepat angkat."


"Um."


"Oh halo Aoyama."


"Ada apa?."


"A-Aku hanya ingin tahu... jawaban tugas liburan sekolahmu, agar aku bisa menambah pengetahuanku..."


"Tugasku... baiklah..."


"Benarkah?!! kalau begitu bagaimana jika aku ajak Yuuki dan To-."


"Maaf, tidak menerima tamu lebih."


*Tit!


"Kak Sakura berbicara apa?."


"Tidak ada... hanya bertanya bunglon dan kadal lebih keren yang mana..."


"S-Sepertinya semuanya ingin memelihara hewan peliharaan ya?."


"Begitulah..."


"Aku seperti mengulangi kejadian yang sama tiga kali."


"Hanya perasaanmu saja..."


"K-Kakak benar, mungkin hanya perasaanku saja ya? hahaha."


*Niittt nittt


"..."


"S-Siapa lagi?."


"Guru Baki."


"Huh... untung saja."


Lalu aku mengangkat telepon yang keempat kalinya.


"Halo Oyama!."


"Tumben sekali guru meneleponku... ada apa?."


"Bukan berarti aku ingin merasakan makanan adikmu, tapi aku ada urusan denganmu..."


"Guru baki... kapan aku mengatakan jika adikku memasak makanan."


"..."


"..."


"Menebak!! ya! aku hanya menebaknya saja! kenapa? apa tebakanku benar? mwahaha aku memang sakti!."


"Jadi apa yang guru inginkan?."


"Ehem, jadi begini... aku memiliki sebuah pekerjaan... dan kebetulan pekerjaan ini berhubungan dengan tugas liburan seperti tugas sekolahmu... jadi bolehkah aku melihat catatan tugasmu untuk bukti pekerjaanku? aku ingin melihat langsung."


"Kalau hanya sebentar, aku tidak keberatan."


"Ini dia yang kuharapkan dari muridku... tapi... bolehkah aku membawa ketiga temanku-."


"Tolak sepenuhnya, dah!."


*Tit!


"Apa yang paman baki katakan?."


"Tidak ada... hanya bertanya macan dan singa, mana yang lebih aman untuk dipelihara."


"Ahaha, paman ingin memelihara hewan buas, ada ada saja ya."


"Begitulah..."


"..."


"..."


"Empat orang bertanya tentang hewan peliharaan... DARIMANA MASUK AKALNYA SEMUA INI?!!!!..."


*Ponk!