My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 153



"Apa... maksudnya."


"Tempo hari yang lalu, saat aku dan dia sedang berkendara... saat itu jalan begitu licin karena hujan yang begitu deras... truk besar berkecepatan tinggi datang dari belakang kita dengan membunyikan klakson berkali-kali..."


"..."


"Karena saat itu hujan sangat deras, dan aku tidak bisa mendengar klakson dari truk tersebut, hingga aku baru menyadarinya saat lampu yang begitu terang datang dari belakang, dan aku menoleh kebelakang..."


"..."


"Sebuah truk besar itu begitu dekat, dan suara klakson itu baru terdengar hingga aku membanting setir kesamping, namun aku tidak sempat karena belakang motorku tersenggol oleh bagian truk tersebut hingga kita berdua terjatuh... dan aku masih baik baik saja karena aku masih terjatuh bersama motorku di samping."


"..."


"Namun Senki... karena menabrak bagian ujung truk tersebut, dia terpental hingga kepalanya membentur besi jalan dengan sangat keras..."


Saat itu tangannya sangat bergetar dan air matanya menetes keatas tangannya...


Aku juga tidak bisa melakukan apa apa dengan kaki yang gemetaran ini... mataku tidak ingin berkedip, dan mulutku tidak ingin tertutup... aku tidak bisa membayangkan kejadian tersebut... terjadi kepadanya.


"Aku melihat tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri... darah yang bercampur dengan air hujan mengalir di sepanjang jalan... aku tahu... aku tahu saat itu yang terjadi kepadanya... aku tidak sanggup! melihatnya terbaring di rumah sakit tak berdaya... sudah berbulan-bulan dia tidak sadarkan diri.. semua ini... salahku.."


Dia menangis tersedu-sedu, hingga tubuhnya sedikit kejang-kejang karena tubuhnya yang sudah begitu lemas dan kurus.


"Tenanglah! jangan membuat tubuh Anda sakit!."


"Seharusnya aku yang disana... aku yang mengalaminya... seharusnya aku yang mati tidak berdaya disana!! bukan dia!! bukan dia!!."


"Kak Danki..."


"Aku sudah tidak sanggup hidup di dunia ini... setiap harinya melihat dirinya yang masih tidak sadarkan diri dalam koma... bertahan hidup... meskipun aku tahu dia sudah tidak bisa bertahan lagi."


"..."


Entah apa yang saat ini aku rasakan... gejolak emosi yang tak karuan begitu bergejolak didalam diriku... sangat berat... namun aku sadar jika Kak Danki lah yang lebih merasakannya... aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa melihat adiknya berhari-hari disana...


"Aku mengenal dirinya sejak dulu... dan terakhir kita bertemu, saat itu... satu tahun yang lalu... saat itu... kita berjanji akan bertemu suatu saat nanti."


"..."


"Tapi aku tidak tahu... dia mengalami kejadian seperti ini..."


"Maaf..."


"Tidak... anda tidak boleh menyalahkan diri anda..."


"Semua ini memang salahku... karena diriku, dia menjadi seperti itu."


"Semua sudah ada yang mengatur takdir kita... dan takdir kita tidak ada yang bisa menduganya."


"..."


"Aku bisa merasakan kesedihannya... namun aku tidak bisa membayangkan perasaan anda saat ini..."


"..."


"Jadi saya harap... anda mengerti dengan keadaan Senki saat ini, karena hanya anda yang berada disampingnya sampai nanti..."


Sejak dulu Senki hanya tinggal bersama kakaknya karena kedua orang tuanya yang meninggal saat dia kecil, dulu aku merasakan beratnya menjadi dirinya saat itu dan dia masih bisa bersikap tegar dan sangat berbeda dariku.


Dia yang mengubah diriku dengan Sakura, dan juga dia adalah orang pertama yang berani mendekatiku dan berkenalan kepadaku... saat itu...


Aku merasa bersalah... memang gal itu yang harus aku rasakan disaat aku mengetahui kabarnya...


Masuk kedalam hidupnya, mengambil seseorang yang ia cintai, lalu pergi dengan kata-kata manis sehingga dia mendapatkan takdir yang berbeda denganku.


"Kamu benar... maaf."


"..."


"Jika dia sudah sadar nanti... aku akan mengatakan padanya tentangmu... dan juga, apa kamu masih mengenal dekat dengan salah seorang temannya lagi? seorang gadis yang pernah bersama dengan kalian."


"Sakura..."


"Ya, itu... aku menemukan foto kalian bertiga didalam dompetnya, jadi aku tidak lupa dengan kalian berdua."


"..."


Benar juga... aku tidak tahu apa yang Senki rasakan jika tahu Sakura juga sudah tidak ada disini...


Aku harus mengatakan apa padanya... aku hanya bisa mengatakan semua ini kepada kakaknya, dan lagi-lagi kakaknya akan mengetahui sesuatu hal yang pastinya akan menjadi penderitaan adiknya.


"Kak Danki..."


Meskipun begitu aku harus mengatakannya... karena tidak ada lagi harapan yang tersisa, untuknya... untukku... dan juga dia.


"Saya juga ingin mengatakan... kalau Sakura saat ini, karena penyakit lama yang dideritanya... dia."


"A-Ada apa?."


Dia berdiri saat aku merasa gugup dan terbata-bata begitu mengatakannya...


"Hal buruknya aku... tidak tahu kabarnya saat ini... namun dia sendiri memberikan sebuah pesan padaku, dan pergi menghilang begitu saja..."


"..."


"A-Aku benar benar tidak tahu bagaimana keadaannya! aku tidak bisa menganggapnya pergi begitu saja! tetapi... ini soal penyakit yang dideritanya cukup parah... harapan apa lagi yang bisa aku gunakan."


"..."


"Aku yang terlalu bodoh tidak bisa menyadari perasaannya, hingga aku merasa menyesal... dan mencoba untuk menerimanya... menerima kesalahanku sendiri... terdengar sangat bodoh."


"Aku paham dengan apa yang kamu rasakan."


"Dan saat aku tahu keadaan Senki saat ini... aku semakin bersalah atas mereka."


"Jadi... begitu..."


"Aku tidak tahu apa tanggapan Senki atas kenyataan ini... aku tidak sanggup membayangkan hal itu."


"Aku yakin pasti dia sangat sedih, namun jika memang benar saat ini dia bisa mengetahuinya... dia pasti akan lebih mengkhawatirkan dirimu.."


"..."


"Senki memang sikapnya sedikit angkuh dan cuek, namun didalam hatinya sangatlah lembut.. aku tahu akan seperti itu."


"..."


"Jadi tidak ada dari kita yang harus disesali, itu yang kamu katakan bukan?."


"Ya..."


"Aku turut prihatin atas hal itu... karena meskipun ada pada kalian bertiga, aku juga melihat kalian sebagai adikku kamu tahu? karena dari dulu Senki selalu menceritakan tentang kalian berdua, hingga aku cukup mengenal kalian."


"..."


Hanya ada aku dan mereka... dulunya menjadi sebuah kehidupan yang begitu indah, berbagi momen kepada mereka... sampai saat kita berpisah, meskipun ada sedikit konflik, pada akhirnya kita berdua bisa mengatasi dan memperbaikinya.


Namun aku tidak rela berpisah dengan cara seperti ini...


Mengapa mereka berdua mengalami kejadian yang tidak bisa aku duga...


Seperti sebuah kutukan, namun siapa yang menjadi penyebabnya... jika mempertanyakan siapa orangnya, aku akan menunjuk diriku sendiri.


Karena diriku lah yang masuk kedalam kehidupan mereka... merasa seperti sebuah benalu... namun mereka tidak menganggap diriku seperti itu, dan membuat rasa bersalah timbul didalam pikiranku.


"Aku akan pergi... senang bisa bertemu denganmu disini."


Dia menepuk pundakku dan berjalan melewatiku...


Namun didalam pikiranku sekilas ada sesuatu yang harus aku lakukan saat ini... entah darimana datangnya, namun spontan aku berbalik dan menghentikan langkahnya.


"Kak Danki.."


Dia berbalik kearahku, masih dengan wajah lesunya.


"Ada apa?."


"Aku ingin... menemuinya."