My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 50



"Jika kau merasa bersalah dengan ini, aku tidak akan menyangkalnya.."


"Eh?."


"Maka dari itu... sebagai balasan agar aku memaafkanmu... ceritakan kepadaku."


"T-Tunggu! apa yang kamu katakan sebelumnya jelas jelas berbeda!."


"Oh jelas... kau harus bertanggung jawab atas lukaku ini.."


"Ha!! kamu curang! aku jadi sedikit kesal denganmu!..." Dia menggembungkan pipinya itu seakan ingin menangis.


"Aku akan menghitungnya dari tiga.."


"A-Aku belum bilang ingin berbicara!."


"Dua..." Aku tidak memperdulikan perkataannya dan tetap berhitung.


"Mm!!." Dia menahan emosinya dengan menggenggam tangannya.


"Sa-."


"Baiklah baiklah, aku akan mengatakannya!.." Dan akhirnya aku berhasil melawan sifat keras kepalanya.


"Bagus kalau begitu.."


"T-Tapi... aku harus memberikan syarat."


"Syarat apa?."


Dia mulai memasang senyum mencurigakannya itu.


"Kamu harus mengabulkan satu permintaanku... tidak ada aturan dan syarat tambahan."


"ha? apaan itu? aku tidak menerimanya."


"Ini agar kita sama sama adil... jadi tidak ada kerugian dari satu sama lain.."


"Tidak tidak... jelas sekali disini aku yang paling dirugikan."


"Memangnya apa alasan kamu yang paling dirugikan disini?."


"Aku mendapat luka seperti ini... jadi seharusnya sudah setimpal."


"Tetapi... kamu juga sudah mendapatkan keuntungan dari itu."


"Keuntungan apa?."


"Saat aku mengobati lukamu... kamu selalu melihatku tanpa berkedip sedikitpun... dan juga aku sudah memberikanmu pelayanan yang lebih dari pelanggan yang lainnya.."


"T-Tunggu! itu.."


"Apa? atau kamu ingin memberikan alasannya? kenapa kamu terus melihatku seperti itu?."


"( Sial... aku dijebak oleh serangan ku sendiri..)."


"Jadi... bagaimana? tuan?." Dia terus memojokkanku dengan syarat yang ia inginkan.


"Huh... baiklah, terserah denganmu."


"Semudah itu?."


"Memangnya apa lagi yang harus kulakukan?."


"Ya udah... aku akan menerimanya."


"Kalau begitu?."


"T-Tapi... jangan beritahu siapapun tentang ini... ya?."


"Apa aku terlihat seperti orang yang suka berbicara?."


"Um... baiklah.."


Dia mulai menceritakanku tentang masalahnya itu... saat dia yang diancam oleh Azumi, dan keresahan nya dengan teman temannya yang bisa saja dijadikan sebagai senjata mereka...


"Jadi, itulah kenapa kau tidak ingin berada di dekat yang lainnya?."


"Um..."


Azumi sudah mengetahui saat dimana dia sedang bersama yang lainnya... dan juga dia bukan orang yang akan berpikir terlebih dahulu sebelum bergerak...


"Tetapi, selama masih berada dengan yang lainnya... itu tidak akan terjadi."


"Bagaimana dengan mereka berdua?."


"Maksudmu Sakura dan juga Touya? kalau Sakura dia adalah keluarga dibawah naungan ayahmu... kurasa mereka tidak akan berani melakukan apapun kepadanya."


"Touya?."


"Dia sudah besar, dia bisa melindungi dirinya sendiri." Dengan sikap tidak peduli.


"Terdengar sangat buruk."


"Yah... jika memang mereka mengincar kedua orang itu... kita masih berada di area sekolah... bagaimana cara mereka melakukan sesuatu pada mereka? mengalihkan perhatian seluruh murid?."


"Benar juga... tidak mungkin mereka bisa mengalihkan seluruh orang disekolah ini.." Dia sedikit lega dan tertawa kecil...


Tetapi entah kenapa...saat aku berkata seperti itu dan ditambah oleh perkataan Yuuki... aku jadi mengingat kejadian saat ada bom asap di depan lapangan sekolah.


"Sebelumnya... apa kau sempat mendengar atau melihat ledakan dengan asap tebal di depan lapangan?."


"Um... aku melihatnya... itu sangat besar dan berisik... semuanya menjadi berkumpul... untuk... melihat...nya." Dia pun juga mulai sadar dengan tujuan aku bertanya tentang hal ini.


"Siapa yang ingin meledakkan bom asap saat sedang ramainya?."


"M-Mungkin saja itu seperti kejutan?."


"Bagaimana jika bukan?."


"J-Jangan menakutiku seperti itu!."


"B-Baiklah... kalau begitu aku ganti bajuku terlebih dahulu.."


"Oh ya... benar..." Aku tidak sengaja menatapnya lagi.


"Matamu sedang melihat kemana?!.." Dia menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Kalau begitu cepatlah, jangan mengundang lebih banyak perhatian."


"T-Tapi... bagaimana menurutmu?." Dan lagi lagi posisi yang seperti ini... membuat pilihan tersulit untukku.


Tapi sayangnya.


"Menurutku? bukannya memastikan yang lainnya terlebih dahulu? apa kau tidak bisa menelepon Sakura?." Sayangnya aku sama sekali tidak peka dengan pertanyaannya.


"B-Bukan itu yang aku maksud! bodoh! cepat keluar dari sini, aku ingin mengganti pakaianku!." Dia mendorong ku keluar dari sana dan dia langsung menutup pintunya.


"Ada apa dengannya? merepotkan sekali.."


Sambil menunggu, aku mencoba untuk menelepon Touya, meski aku tidak peduli dia ingin diculik atau tidak... ruginya pasti berada pada orang yang menculiknya.


*Tiiiit


"Halo, Aoyama? ada apa?."


"Ck, ternyata kau masih selamat."


"A-Apa maksudnya?! selamat dari apa?!.."


"Tidak ada... aku matikan teleponnya."


"Tunggu! jawab dulu pertanyaannya! selamat dari apa?! dan juga... dimana adikk-"


*Tiiiitt


Aku langsung menutup teleponnya saat sudah mengetahui jika Touya tidak ada masalah apapun.


Dan tak lama kemudian, Yuuki keluar dari ruangannya dengan memakai seragam sekolah biasa.


"Maaf menunggu lama."


"Ya... baru saja aku menelepon Touya, sayangnya dia masih tidak ada apa apa.."


"A-Apa aku tadi mendengar 'sayangnya'?." Sekarang dia mulai meragukan hubunganku dengan Touya.


"Bagaimana denganmu? kau sudah menelepon Sakura?."


"Sudah... syukurlah tidak ada yang terjadi."


"kalau begitu, kita langsung ke kelasmu... mereka sudah menunggu kita."


"Kamu benar.."


Lalu kami berdua lanjut berjalan ke kelas Yuuki untuk menemani Mai dan juga Rina disana.


Tetapi saat dalam perjalanan, sesekali dia melirik ku dalam diam... aku menyadarinya tetapi aku sengaja untuk menghiraukan nya.


"..."


"Hei Aoyama.." Dan akhirnya dia memanggilku setelah beberapa kali terlihat ragu untuk berbicara.


"Hm?."


"Aku hanya ingin bertanya... a-apa tadi pagi kamu... pergi dengan Sakura?."


Aku sedikit terkejut tetapi masih bisa mengendalikan wajahku dengan datar.


"Bagaimana kau bisa tahu?."


"Tadi... saat aku menelepon Sakura... dia tidak sengaja mengatakan seperti itu."


"Kau benar... aku hanya menemaninya sebagai permintaan rasa terima kasihku kemarin."


"Begitu... ya."


Dan situasinya kembali menjadi sunyi tidak ada kelanjutan lagi..


"..."


"..."


"A-Apa..." Tiba tiba dia kembali ingin mengatakan sesuatu.


"A-Apa... aku boleh... meminta seperti itu?." Wajah manisnya itu saat malu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan... seperti seekor singa jinak yang ingin dimanja.


"Kau bilang tidak ada syarat dan bebas ingin meminta apa saja... jadi apa yang kau inginkan... dan tidak lebih dari batasan ku.."


"K-Kalau begitu.." Dia ingin mengatakan sesuatu seperti sebuah permintaan yang dia inginkan kepadaku... langkahnya berhenti dan begitu juga denganku...


Ditengah keramaian ini... aku merasa hanya bisa mendengar apa yang dia katakan... suara berisik orang orang di sekitar seperti hanya suara tidak jelas, buram, dan samar samar.


"Aku... aku ingin... k-ka-."


"Aoyama, Yuuki."


Dia belum menyelesaikan permintaannya saat itu, karena Kuchima yang memanggil kita berdua dari dekat dan mengejutkan kita berdua.


"Kuchima...."


"Ketua OSIS.."


"Maaf... aku hanya ingin menanyakan sesuatu dengan kalian."


Jam sudah menunjukkan pukul 13.50, dan 40 menit lagi acara pentas seni siswa sudah ingin dimulai...


"Apa yang ingin kau tanyakan?."


"..."


"Apa... kalian melihat Nami adikku?."