
Hari keduaku dalam pelatihan yang semakin hari semakin melelahkan...
Dan pada saat pagi harinya kami melakukan olahraga pagi seperti biasanya, seperti perenggangan otot, berlari, dan hal lainnya yang sangat menguras tenaga...
Hari ini mungkin hanya satu kali tes tidak seperti kemarin, karena besok adalah tes terakhir dalam pelatihan yang sangat melelahkan ini..
"Hei Ao... apa kamu tidak ingin melakukan hal lain selain membaca buku?."
Sakura yang melihatiku dari beberapa jam yang lalu dan aku terus duduk diatas kursi meja belajar dan membaca buku dengan tenang hingga waktu sudah hampir petang.
"Hari ini satu satunya waktu dimana aku bisa bebas... maka waktu seperti ini tidak akan aku lewatkan, aku hanya ingin menikmati waktuku sendiri."
"Kamu selalu seperti itu... sekali kali berpikirlah untuk melakukan sesuatu yang tidak membosankan... tidak baik membaca terlalu lama."
"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?."
Matanya langsung berbinar binar seakan telah mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia tetap bertahan dengan sifatnya yang tenang.
"Bagaimana kalau pergi ke taman yang ada diatas gedung ini? katanya tamannya sangat bagus."
Aku sudah melihatnya kemarin saat sedang mengobrol dengan Erlic, tapi apa boleh buat...
"Aku malas berjalan..."
"Jadi, kamu tidak mau?."
"Bukannya tidak mau... tapi."
"Kebetulan sekarang jam empat sore... aku ingin melihat matahari terbenam disana."
"Kau banyak sekali mau nya."
"Memangnya kenapa... kalau kamu tidak mau ya sudah."
Pipinya mengembung dan melipat tangannya sambil duduk diatas kasurnya..
Entah ini hanya perasaanku saja, tetapi sifat Sakura sekarang menjadi berubah saat kemarin malam...
Dan aku juga kesini untuk membuatnya tidak marah lagi padaku, jadi... sebaiknya aku menuruti apa yang dia mau sekarang.
"Yah... sesekali menghirup udara segar ada baiknya juga." Aku menutup bukunya dan berdiri dari kursi...
Wajahnya langsung kembali ceria dan bergegas bangun dari tempat tidurnya.
"Kau terlihat senang sekali."
"Kapan lagi aku bisa mengajakmu semudah ini."
"Yah, kau benar."
Lalu kami pergi ke lift untuk pergi kelantai paling atas atau lantai atap.
Lalu, begitu kita sampai disana, mata kami langsung dimanjakan oleh warna warni bunga yang menghiasi taman, dan banyak sekali tanaman hijau yang membuat udara disini menjadi sangat segar.
"Uwaah tidak aku sangka ternyata memang benar benar ada taman diatas atap seindah ini!."
"Gedung ini benar benar memiliki semuanya..."
Angin sejuk pada sore hari berhembus begitu pelan dan menyejukkan... matahari yang ingin terbenam pun perlahan memberikan pancaran sinarnya yang begitu hangat...
Dia melipat kedua lututnya sambil memegang rok panjang merah muda yang ia kenakan dengan baju blouse rumbai berwarna putih dengan pita kuning di rambutnya sambil mengelus pelan kelopak bunga yang mekar dengan jarinya.
"Rasanya seperti mengenang masa kecil ya... kalau seperti ini."
"Ah... ya."
"..."
"Andai saja waktu seperti ini bisa bertahan sedikit lebih lama..."
"Kau bilang apa?."
"Tidak... aku hanya terpesona dengan keindahan bunga bunga ini."
Sakura berhasil menghindar saat dia tidak sengaja mengeluarkan kalimat itu... dan untungnya aku tidak mendengar apa yang dia katakan.
Saat aku masih melihatinya yang sibuk dengan keindahan taman ini, tidak sengaja tanganku meraba sesuatu didalam kantung celanaku.
Dan itu adalah sebuah kalung... dengan gambar seekor ikan berwarna perak yang terbuat dari permata, harganya memang sedikit menguras isi dompetku, tetapi aku langsung sadar... jika kalung ini memang dari beberapa hari yang lalu aku ingin memberikan padanya karena waktu itu aku tidak menepati janjinya...
"Sa-."
"Wahh! Ao, lihat! matahari terbenam... sangat indah!."
Dia yang sudah berdiri melihat matahari terbenam memberikan warna oranye yang sangat kental, dan hangatnya begitu terasa sembari hembusan angin mengibarkan rambut hitamnya...
Aku pun juga menikmati keindahan itu karena mungkin aku yang seharian tidak pernah melihat matahari terbenam, dan sedikit tertegun melihatnya...
"Kau benar..."
"Maaf ya... aku membuatmu melakukan banyak hal hanya untukku... aku sudah cukup mengerti dan mulai mencoba untuk menerimanya... lagipula aku masih bisa bertemu denganmu seperti sekarang saja sudah membuatku senang."
"Sakura."
"Hm?."
"Aku tahu... waktu itu aku sempat mengingkari janjiku... tetapi bukannya aku tidak peduli dengan itu, aku hanya tidak tahu cara agar aku bisa memberikan balasan untuk itu... maka dari itu, aku sempat membeli ini untukmu, sebenarnya aku ingin memberikan ini saat setelah hari itu, tetapi kau selalu menjauhiku sehingga aku tidak ada kesempatan untuk memberikan kepadamu."
Aku memberikan kalung itu kepadanya, dengan perasaan yang begitu takut akan salah dengan hadiahnya...
"Y-Yah... aku hanya bisa membeli kalung itu saja, karena ka-."
Aku semakin panik saat melihatnya yang mengeluarkan air matanya yang mengalir di pipinya.
"T-Tunggu, apa ada yang salah??."
"Tidak... hanya saja... entah kenapa aku merasa senang..."
"..."
Dia menatap kalung itu dengan penuh perasaan, dan aku menghembuskan nafasku karena lega...
"Terima kasih... aku sangat menyukainya."
Dia tersenyum kepadaku begitu manis, dan menggenggam kalung itu dengan erat, seperti enggan untuk melepaskannya.
Bersamaan dengan matahari yang sudah hampir sepenuhnya tenggelam dalam gelapnya malam...
Aku merasa diriku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dari awal... tetapi begitu banyak pikiran yang terus menerus membuatku ragu dalam bertindak...
Tetapi, saat makan malam di kantin gedung...
"Um!! kue buatan tempat ini sangat enak, Ao, kamu ingin mencobanya?."
"Tidak, aku tidak usah."
"Kenapa? ini benar-benar enak kok, ayo, aah."
Dia berusaha untuk menyuapiku dengan kue yang dia makan, bukannya aku tidak suka atau apa... tapi ini adalah tempat umum... meskipun tidak ada orang yang datang pada jam segini, dan kantin menjadi sepi.
"Tapi..."
"Aku sudah menunggu terlalu lama..."
"Baiklah baiklah."
Dengan pasrah aku memakan suapannya dan memang, rasa kue ini sangat enak, tetapi entah mengapa aku merasa ingin pulang dari tempat ini langsung.
"Bagaimana?."
"Ya... rasanya sangat enak?"
"Benar kan."
Lalu saat aku ingin melanjutkan makanku, tiba tiba dia kembali menempel padaku.
"Apa itu?."
"Ini? pasta daging... lumayan untuk buatan kantin."
"Eh~ terlihat enak... apa aku boleh mencobanya?."
"Bo- eh?."
"Aaa."
Dia membuka mulutnya seakan memaksaku untuk menyuapinya.
"( Tunggu! apa aku harus membalasnya? tidak tidak, ini tidak seperti plot cerita romantis yang hanya datang disaat momen yang tepat... apa dia tidak memikirkan hal lain??.)"
Tidak ada cara lain jika dia sudah membuka mulutnya terlalu lama untuk menungguku menyuapinya, jadi aku lagi lagi terpaksa untuk menyuapinya.
"Um!! kamu benar, pastanya sangat lembut."
"Sebenarnya kau hanya ingin mengerjai aku bukan?."
"Hm? apa seperti itu?."
Dengan tampang pura pura polos sambil memasukkan kue itu kedalam mulutnya.
Mungkin aku hanya membiarkannya saja...
Dan malam pun tiba, tetapi malam ini cuacanya agak buruk, dan hujan lebat...
Aku yang habis membaca buku, dan sudah mengantuk akhirnya menaruh bukunya dan memejamkan mataku...
Suara rintikan hujan lebat itu menjadi lagu tidur untukku, meskipun beberapa kali suara petir yang cukup keras datang berkali-kali.
Dan saat aku sudah ingin kehilangan kesadaranku, tiba tiba ada yang menyentuh punggungku dibelakang...
"Ao... Ao... Ao bangunlah."
Dengan suara yang sedikit ketakutan dia membangunkanku yang sudah hampir ingin tertidur.
Aku membuka mataku dan melihat ternyata Sakura yang memanjat tangga tempat tidurku.
"Kenapa kau membangunkanku malam malam seperti ini..?"
"Ao... aku tidak bisa tidur dengan tenang... karena suara petir nya sangat kencang."
"Ha?."
"Sudah aku bilang, aku tidak bisa tidur!."
"Lalu, kau ingin apa?."
"T-Temani aku... dibawah... s-sampai aku tertidur saja kok."
"Huh... baiklah, aku akan menemanimu."
Aku pun terpaksa turun saat aku sudah begitu mengantuk.
"Jangan berdiri disitu terus..."
"Lalu aku harus apa?."
Dia bergeser dan menepuk tempat tidurnya yang masih tersisa..
"Disini... temani aku disini... aku mohon."
"Tapi..."
Dia menatapku seperti ingin menangis karena suara petir nya yang semakin keras... karena aku juga sangat sangat mengantuk, dengan mudahnya aku menerimanya dengan mudah.
Lalu aku tidur tepat disampingnya, dan tetap menjaga jarak darinya.
Dan dia sudah tenang dan tidur dengan membelakangiku...
"Ao... kamu masih bangun?."
Tidak ada balasan dariku, dan saat dia berbalik, ternyata aku sudah tertidur pulas tanpa menunggunya tidur.
Dia bergeser lebih dekat dan dekat denganku, hingga tangannya berada diatas dadaku, dan kepalanya berada dibawah lenganku.
"Aku sangat mencintaimu... bahkan aku tidak bisa berhenti untuk menatapmu dengan jantung yang berdegup begitu kencang... seperti ini..."