
*Brak!
"..."
"Nona Yuuki? kenapa anda menangis seperti itu?? apa ada yang terjadi diluar?."
Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya yang kini entah untuk apa dia merasa seperti itu.
"Sudah larut malam, Nona Yuuki harus beristirahat... apa mau bibi buatkan susu atau teh?."
"Tidak... aku akan langsung beristirahat didalam kamar saja."
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa apa langsung katakan pada bibi... bibi tidak ingin membuatmu ada masalah disini, karena beberapa hari lagi kamu juga akan pindah ke luar kota untuk bersekolah disana."
"Baik, aku mengerti."
Dengan langkah yang berat ia menuju ke kamarnya... memikirkan kejadian yang telah dialami olehnya dan perkataan yang dikatakan oleh Senki.
Dirinya tidak mampu untuk memberikan pengertian terhadap Senki untuk memperbaiki hubungan yang retak... namun sekarang hubungan tersebut sudah rusak... dan tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.
Tentu saja, mendengar pernyataan Senki membuatnya sedikit terkejut, dan tidak menyangka jika orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri selama ini telah menyimpan rasa padanya.
Hingga kini Senki tahu, apa sebenarnya isi hatinya... dia yang menyukaiku selama ini, dan juga bersamaan memikirkan tentang dirinya yang sudah tidak bisa bersama-sama lagi... karena beberapa hari lagi dia akan pergi dan keluar dari sekolah itu, untuk bersekolah di sekolah khusus yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan... seharusnya bukan seperti ini... seharusnya aku mengatakan kepadanya... aku ingin berpisah dengan mereka sebagai seorang teman... namun karena perkataan Senki... semuanya menjadi berantakan..."
Meringkuk sendirian didalam kamarnya yang gelap dan memikirkan segala sesuatu yang membuatnya menjadi khawatir sekaligus resah.
Namun sekilas didalam pikirannya dia ingin meneleponku dan membicarakan hal ini...
Dia pun mengambil ponselnya yang berada diatas meja didekat tempat tidur, dan meraihnya...
Didalam layar ponselnya sudah terlihat kontak milikku dan jarinya ingin menyentuh tombol ikon telepon..
Tetapi dia masih ragu untuk menceritakan hal itu.. karena pasti aku akan bertanya tentang alasan mengapa dia menolak perasaan Senki..
Dia tidak ingin memberitahukan kepadaku jika semua itu karena dirinya menyukaiku, dan dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya hanya melewati sebuah telepon.
"Aahh... membingungkan sekali... aku tidak bisa mengatakan hal itu kepadanya langsung..."
Dia pun mengurungkan niatnya untuk meneleponku dan ingin meletakkan ponselnya kembali.
Namun saat dia ingin meletakkan ponselnya, tiba tiba...
*Nittt!! Niitt!
Dia langsung terkejut karena ponselnya berbunyi dan bergetar, saat dia melihat layarnya... dia semakin terkejut karena yang meneleponnya adalah aku...
Dia pikir aku bisa melihat status onlinenya disana, dan meneleponnya langsung.
Karena dia tidak ingin membuatku menunggu terlalu lama, tanpa berpikir panjang dia langsung mengangkat teleponnya.
"H-Halo Ao... ada apa?."
"O-Oh ya, tidak... aku hanya ingin menelepon kau saja."
"Eh? padahal beberapa jam yang lalu kita habis ketemuan."
"Yah, bukannya tidak ada apa apa... aku hanya ingin bertanya padamu."
Sambil menjatuhkan diri diatas tempat tidur dan mencari posisi yang nyaman, dia melanjutkan pembicaraannya denganku.
"Apa itu?."
"Tadi... apa kau habis bertemu dengan Senki?."
"Kamu tahu itu?."
"Kita sempat berpapasan saat aku ingin berjalan pulang."
"Lalu?."
"Sikapnya padaku memang berbeda dari biasanya... aku... tidak tahu apa yang bisa aku lakukan kepadanya, dan juga aku tidak ingin membuatnya menjadi seperti ini terus menerus."
"..."
"Aku merasa sedikit bersalah... karena selama ini membiarkannya sendirian seperti itu, tetapi aku tidak bisa membantunya...hanya saja... aku bingung harus berbuat apa."
"Kalau kamu sendiri... apa kamu ada masalah padanya?."
"Kupikir... tidak ada... akhir-akhir ini aku pun jarang berbicara padanya, dan juga dia selalu menghindar dariku."
"Apa kamu marah padanya?."
"Sama sekali tidak... aku tidak menyimpan amarah maupun benci kepadanya, justru aku ingin berusaha agar dia atau kita bisa kembali lagi."
"Syukurlah."
"Ada apa?."
"Tidak... hanya saja aku lega, karena kamu tidak ada masalah apapun dengannya."
"Tapi kenapa justru aku yang berbicara tentangnya! aku yang duluan bertanya kepadamu tentangnya."
"Ahaha maaf maaf, habisnya kamu terlalu serius menceritakannya."
"Jadi bagaimana? apa dia datang ke rumahmu?."
"Um, tadi dia datang ke rumahku dan berbincang-bincang sebentar."
"Tentang apa?."
"Kenapa kamu ingin tahu?."
"Ha? memangnya kenapa? kau tidak ingin memberitahukan kepadaku?."
"Tidak, hanya saja... bukan hal yang penting dan harus aku beritahu kepadamu."
"Benarkah begitu?.'
"Apa kamu tidak percaya pada perkataanku?."
"Baiklah, aku percaya."
"Kalau begitu bagus."
"Tapi... apa kau merasakannya juga? sesuatu yang berbeda padanya."
"Kalau itu... mungkin Senki memang bersikap lebih datar dan tidak seperti biasanya... dan seperti biasa dia hanya mengobrol denganku lalu pergi... tidak lebih dari itu."
"Tapi untunglah, dia tidak ada masalah denganmu... aku khawatir dia juga bersikap seperti itu kepadamu karena memiliki masalah denganmu."
"Kamu khawatir?."
"Kenapa memangnya?."
"Tidak... hanya saja aku sedikit terkesan padamu... kamu tidak ingin menyalahkan Senki, dan tetap berusaha untuk memperbaiki hubungannya.."
"Tidak... justru aku merasa bersalah... karena sepertinya, kedatanganku dari awal pada kalian bukanlah hal yang baik."
"Apa yang kamu katakan!?." Dia langsung bangun dari tidurnya dan kini sedang marah dengan apa yang aku katakan.
"A-Apa?."
"Aku tidak menyukai perkataanmu tadi... itu sama sekali tidak benar!."
"Tapi, memang seperti itu... aku merasa hubungan kalian menjadi renggang karena kehadiranku."
"Apa kamu tidak ingat? saat aku dan Senki pertama kali mendekatimu saat itu... kamu yang masih enggan untuk berbicara, namun dia berusaha untuk membuatmu berbicara... dan juga akhirnya dia berhasil membuatmu berbicara namamu kepadaku... semua yang dia lakukan itu hanya untukmu."
"Tapi... bagaimana jika, dia melakukan hal itu... karena dirimu? saat itu, aku yang tidak ingin berbicara padamu dan membuatmu bersedih... hingga dia menjadi bergerak untuk membantumu, bukan untukku."
"..."
"Mungkin dia hanya melakukan semua itu untukmu, dan aku merasa seperti itu karena telah mengganggu kalian... meskipun agak telah untukku menyadari hal itu."
"Dari dulu, aku senang bisa mengenalmu... dan kamu juga pernah menyelamatkan hidupku saat kejadian beberapa tahun yang lalu... jika kamu tidak ada disana, entah apa yang terjadi pada diriku..."
"..."
"Jadi, kamu tidak boleh berkata seperti itu... soal Senki... dia pasti akan mengerti dengan sendirinya... aku tahu itu."
"Baiklah."
"Jika sekali lagi aku mendengar kamu mengatakan hal seperti itu, aku akan membencimu, kamu dengar?."
"Ya, aku dengar... terima kasih."
"Kalau begitu aku sudah selesai, aku akan mematikannya, selamat ma-."
"Tunggu sebentar, kenapa kamu seenaknya pergi begitu saja?!."
"Memangnya apa ada yang harus dibicarakan?."
"Setidaknya... k-kita bisa berbicara lebih panjang lagi.'
"Ini sudah larut malam, besok kita juga harus bersekolah... memangnya kau tidak mengantuk?."
"Daripada mengantuk, saat ini aku sedang bosan dan jenuh... banyak sekali hal yang aku pikirkan."
"Orang sepertimu ternyata bisa memikirkan banyak hal."
"A-Aku memang bisa!."
"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?."
"..."
"Ao... apa kamu pernah berpikir... untuk menyukai seseorang?."
"Kenapa jadi membahas hal itu?!."
"Aku hanya ingin mengobrol denganmu saja."
"Tapi kita bisa membahas hal lain daripada yang ini..."
"Aku maunya yang ini, jadi kamu harus menjawabnya."
"Huh... jika memang aku pernah menyukai seseorang, kenapa?."
"Benarkah? apa kamu ingin memberitahukan siapa?."
"Siapa yang mau memberitahukan hal itu!."
"Pelit."
"Kau sendiri, saat ini... apa kau juga sedang menyukai seseorang?."
"Aku tidak menanyakan tentang saat ini kepadamu tadi!."
"Itu salah dirimu sendiri."
"Curang sekali... kalau saat ini... m-mungkin ada..."
"Mungkin?."
"Pokoknya semacam itu! aku tidak ingin mengatakan yang lebih dari ini..."
"Oh begitu... jadi sekarang kau tidak ingin mengatakan kepadaku... baiklah kalau begitu."
"Bukan itu maksudku! Ao, jangan marah seperti itu dong."
"Aku hanya bercanda, apa kau merasa takut jika aku marah padamu?."
"K-Kamu sangat menyebalkan!."
"Maaf kalau begitu."
"Baiklah, aku maafkan... dengan satu syarat."
"Kenapa harus menggunakan syarat?."
"Kalau tidak mau ya sudah, aku akan marah padamu."
"Kau merepotkan sekali... apa syaratnya?."
"Hm... besok, temani aku jalan-jalan."
"Kemana?."
"Kemana saja, menghabiskan waktu... berdua?."
"Kalau kau mau seperti itu, aku tidak keberatan..."
"Kamu mau?."
"Ya... aku mau."
"..."
Dibalik telepon, Sakura merasa sangat senang sambil berguling diatas tempat tidur tanpa bersuara.
Entah apa yang bisa aku dengarkan selain suara gaduh didalam ponselku.
"Sakura? kau tidak apa apa?."
"Eh, ya, a-aku tidak apa apa kok."
"Apa apaan nada bicaramu? apa kau senang saat aku menerima permintaan kau untuk menemanimu jalan jalan?."
"S-Siapa yang mengatakan hal itu! tadi... tadi aku hanya minum sebentar, tenggorokanku sedikit sakit."
"Kau tidak apa apa??." Seketika aku menjadi panik saat dia memberitahu keadaannya.
"Tidak apa apa kok, hanya kering saja..."
"Syukurlah.."
"Kamu terlalu khawatir." Sambil tertawa kecil didalam telepon.
"Memangnya tidak boleh?."
"Boleh kok, justru aku merasa senang mendengar itu."
"Selama kau senang, tidak apa apa."
"..."
"Sakura..."
"Hm?."
"Kau... tidak akan pergi bukan?."
Seketika dirinya langsung terdiam, saat mendengar perkataanku...
Dirinya kembali teringat soal perpindahan sekolah itu... dan dia berpikir untuk memberitahukan hal itu kepadaku... namun dia tidak mampu untuk mengatakan hal itu diatas janji yang telah aku katakan padanya.
"Tidak... kenapa kamu mengatakan hal itu?."
"Tidak... hanya saja saat aku memikirkan masalah Senki... aku juga memikirkan tentangmu, jika kau juga merasa dirik-."
"Hm? apa yang tadi kamu katakan?."
"T-Tidak! tidak apa apa?."
"Hampir saja kamu membuatku membencimu."
"Apa kau benar-benar akan membenciku jika aku mengatakan hal itu?."
"Hmm... mungkin aku tidak bisa melakukannya, karena kamu."
"Aku?."
"K-Kamu..."
Tiba tiba saja dia salah bicara sampai tidak bisa membenarkan perkataannya yang tadi membuatnya tersipu malu sampai wajahnya memerah.
"K-Kamu... orang yang paling dekat denganku, dan aku tidak bisa membencimu.."
"Ohh... begitu."
"Sudah malam, aku ingin tidur... kalau kamu masih mau mengobrol denganku, besok saat kamu menemaniku jalan-jalan."
"Ya baiklah."
"Selamat malam... Ao."
"Selamat malam.."
Sesaat setelah dia mematikan teleponnya, dia langsung memegang dadanya yang sedari tadi tiada henti hentinya berdegup kencang.
"Ternyata memang... aku tidak bisa mengatakannya..."