My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 31



Saat ini aku sedang dalam masa yang cukup merepotkan...


jujur saja aku sudah mengatakan jika hari ini aku akan menggantikan Touya didepan meja pintu masuk kelas...


Tapi aku yang mampir terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan dan melupakan hal itu sepenuhnya...


"Mencari buku? apa bersenang senang bersama adikmu itu sedang mencari buku?."


"Tidak.."


"Lalu kenapa kau tidak langsung kesini?."


"Aku... ada yang tertinggal dirumah jadi aku menyuruh Mai duluan saja, dan aku kembali kerumah-."


"Aoyama, kamu sudah kembali, maaf merepotkanmu membawa banyak belanjaan kerumah." Dari dalam Sakura datang dan mengatakan hal itu.


Touya menatapku seolah sudah mengetahui kesalahanku.


"Maksudku aku tadi membantu Sakura menaruh bawaannya, sebagai lelaki aku memang harus seperti itu kan?."


"..."


"..."


"Jujur saja, kau membuatku tidak nyaman dan ingin pergi.."


"Pergi? kau bilang ingin pergi?."


"Benar sekali..."


"Kalau begitu pergi saja, aku juga bisa melakukannya tanpamu ini!."


"Ah begitu, aku bisa saja untuk mengambil kembali kuponku itu, karena bagaimanapun aku juga sudah melakukan pekerjaanku.." Sambil berjalan pergi..


"Ah begitu, kalau begitu biar aku saja yang menemani Mai keliling sekolah, karena dia mempunyai kakak yang tidak perhatian.."


"A-Apa kau bilang?."


"Kenapa? kau bilang ingin pergi?."


"Tidak, aku hanya ingin berterima kasih padamu... jadi aku bisa bersantai saja disini.."


"Seriusan?."


"Ya.."


"K-Kau tidak terpancing?."


"Memangnya kenapa?."


"Aku kira kau begitu sangat menyayangi adikmu hingga seperti Siscon ( Terlalu menyayangi adik/kakak) seperti a-." Begitu dia menyadarinya, dia langsung menutup mulutnya...


"Barusan... aku seperti mendengar sesuatu..."


"Apa yang kau dengar? disini terlalu ramai jadi Mungkin kau salah dengar..."


"Ahh begitu... baiklah, kau temani saja Mai untukku, lalu besok aku yang akan menemani Rina untukmu.." Aku memandangnya dengan serangan balik.


"H-Ha! mana bisa seperti itu!."


"Kau bisa, aku juga bisa.."


"S-Sial..."


"Kalau begitu, akui saja kekalahanmu dan aku yang akan menemani Mai.."


"Terserahmu saja!."


"Seriusan... bisakah kalian menghentikan ini? aku merasa seperti hadiah harian yang diperebutkan..." Dari awal dia melihat kita berdua bertengkar hanya masalahnya, membuat dia merasa sangat malu dilihat banyak orang.


"Baiklah, kalau begitu kau mau kemana? keliling dibagian stan makanan dulu?."


"Itu terlalu cepat, aku ingin keliling kelas dulu.."


"Baiklah.."


"Anu... bagaimana jika mencoba rumah hantunya dulu, Mai belum mencobanya kan?."


"Benar juga, kakakku yang berada dikelas ini, tapi aku belum mencobanya sendiri.."


"Jadi?."


"Jadi kita masuk kesini saja dulu.."


"Baiklah... oi pria mata dua yang disana, aku dan adikku ingin masuk.."


"Siapa yang kau sebut mata dua hah!."


"Memangnya kenapa? apa kau ingin marah?."


"Kenapa? kau takut?."


"Takut? mana mungkin aku takut dengan orang yang kalah tanding game yang dia tantang?."


"Kau mengejekku bukan?."


"Tidak, aku sama sekali tidak.."


"S-Sepertinya mereka terlihat akrab.." Sakura melihat pertikaian kami berdua serasa melihat saudara yang bertengkar...


"Mukamu sangat mencurigakan!."


"Mukaku memang sudah seperti ini, kau yang mengejekku bukan?!."


"Tidak, aku sama sekali tidak.." Dia mengikuti perkataanku sebelumnya..


"Tch.."


"Lebih baik aku masuk sendiri saja.." Tidak sanggup melihat keduanya tidak berhenti bertengkar, Mai berjalan kearah pintu masuknya..


"Kau yakin? itu sangat menyeramkan loh.."


"Ek!." Dia berhenti berjalan dan membatu setelah menyadari dirinya yang takut akan hal yang menyeramkan.


"Bahkan ada orang yang menyerah setelah memasuki itu.."


"!!." Kedua orang yang aku bicarakan juga membatu terdiam..


"Y-Yah... karena kakak memaksa, aku akan menerimamu menemaniku.." Sambil mengeluarkan senyum palsunya...


"Baiklah kalau begitu.."


"Tapi bukannya menyenangkan jika kita masuk ramai ramai?." Usul Mai...


"A-Aku sedang sibuk didalam, takutnya akan ada masalah yang serius... baiklah aku pergi dulu ya!." Dengan secepat kilat Sakura langsung kembali masuk kedalam belakang kelas...


"Kalau begitu aku juga-." Touya yang ingin ikut melarikan diri, tetapi kerahnya berhasil aku tahan sehingga dia tidak bisa lari..


"Mau kemana kau?."


"Aku disini sedang sibuk, jadi tidak bisa meninggalkan tem-."


"Kerjaan yang kau lakukan hanya duduk diatas meja pembayaran, bahkan yang lain juga bisa sambil beristirahat... tidak akan lama juga kok.."


"T-Tiba tiba perutku sakit, aku harus pergi ke toilet.."


"Kalau begitu baiklah..."


Wajahnya menjadi sangat berubah drastis menjadi senang.


"Setelah kita masuk kesini.."


"T-Tidak tidak! jangan lagi! kata mereka yang ini akan 10 kali lebih menyeramkan dari percobaan terakhir kali waktu itu!."


"Bukannya itu bagus? sebagai ketua kau bisa melihat perkembangannya lagi kan?."


"Tolong aku Mai, kita kan sudah berteman?."


Ingin berharap Mai bisa menolongnya dari sana, Mai hanya bersiul melihat kesana kemari seperti tidak ingin menolongnya..


"( Maaf kak Touya! aku menyeretmu agar tidak terlalu menyeramkan!...)" Seperti itu katanya...


"Baiklah, aku akan meminta orang lain untuk menjaga meja pembayarannya.."


Setelah aku sudah meminta salah satu orang untuk menggantikan Touya, kami bertiga masuk dengan juga membayar untuk tiga orang...


Perbedaan yang sangat besar, dari yang aku lihat, backsoundnya berbeda dan lebih besar volumenya hingga membuat terkejut saat baru memasuki ruangan itu, hantu yang muncul di layarnya pun terasa sangat realistis dengan ditutupi oleh kain berdarah disekitar layarnya...


Karakter hantu yang semakin banyak dan semakin menyeramkan, properti ruangan yang menambah tingkat horror nya itu cukup menarik...


"K-K-K-Kakak! ini sudah bukan rumah hantu buatan lagi!.." Sambil memegang erat lengan kananku..


"B-Benar... aku sudah tidak kuat.."


"Adikku boleh saja memegang lenganku, tapi kenapa kau juga memegang lenganku?."


Touya yang ketakutan juga memegang lengan kiri ku sambil berjalan pelan dibelakang ku..


"Aku hanya menjagamu agar tidak lari ketakutan dan mengganggu pengunjung yang lain.." Bahkan saat ini dia masih bisa membuat alasan...


"Seperti ini saja kau masih berlagak berani..."


"Waaaaaa!!." Mai berteriak saat ada tangan yang jatuh didepan mukanya..


"Aaaaa!."


"Kenapa kau juga ikut berteriak!."


"A-Aku hanya kaget mendengar teriakan Mai.." Ucap Touya yang juga terkejut...


"Aku khawatir dengan kedua telingaku sekarang..."


"Huwaaaaaaaaaa!!!."


"Aaaaaaa!."


"Wuaaaaa! ada yang memegang kakiku!.'


"Aaaa!! yang memegang kakiku tidak akan kumaafkan!.."


"Aaaaaa..."


"Uwaaaaaa!."


......................


Dan akhirnya aku keluar dari keadaan ini...


"Hufftt... tadi itu sangat menyeramkan.."


"Aku kira jantungku sudah berhenti berdetak.."


"Telingaku masih berdengung sampai sekarang..." Sambil menutup telingaku untuk menetralisir suara..


"M-Maaf, aku tidak pernah mengikuti hal yang seperti ini, dan langsung melihat didalam jarak yang dekat..." Dengan tulus Mai meminta maaf.


"Aku tahu, tidak apa apa... lagipula itu sangat menyenangkan bukan?."


"Um! sangat menyenangkan!."


"A-Aku juga minta maaf berteriak didekatmu, aku juga pertama kali masuk ke tempat seperti i-."


"Tidak akan kumaafkan, lagipula yang merencanakan ini semua bukannya kau sendiri? bahkan kau takut dengan rencana yang kau buat sendiri, menyedihkan, dasar mata empat.."


"Ha? apa yang kau katakan?!."


"Tidak perlu basa basi, kalau berani maju kesini.."


"Kau menantangnya? siapa yang takut dengan orang penyendiri sepertimu.."


"Aku tidak percaya kau bicara seperti itu setelah menggandeng tanganku karena ketakutan oleh hantu buatan.."


Merasa kata kataku mengenai langsung kepadanya, dia langsung menyerah..


"A-Awas saja! kita akan bertanding dengan game yang aku kuasai!."


"Sebelumnya juga kau berkata persis seperti itu.."


"Kali ini pasti aku yang akan menang!."


"Baiklah, aku tunggu kekalahanmu, maksudku kemenanganmu.."


"Hanya menang sekali sudah merasa hebat ha!."


"Jelas sekali aku memang hebat.."


"Benar benar... aku sudah tidak sanggup lagi melihat kondisi seperti ini..."


.


.


.


"Aoyama... Touya..." Seseorang yang memanggil kami berdua, membuat kami berhenti bertengkar...