
Malam ini aku dan Mai makan malam bersama dengan keluarga Sakura yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami juga...
Tetapi karena tempat makan yang kita tuju adalah restoran ternama dan terkenal dengan pengunjung yang begitu berkelas, membuatku merasa tidak begitu nyaman dengan suasananya...
Kami berlima duduk dimeja yang berbentuk bundar, aku duduk disamping Sakura dan Mai...
Begitu melihat para pengunjung dengan pakaian mereka yang terlihat seperti orang-orang penting maupun pemerintah atas, rasanya seperti diriku ini begitu kecil dan merasa akan tersingkirkan dengan orang-orang ini...
"Ada apa? apa kamu gugup?." Sakura yang menyadari jika aku terlihat begitu kaku...
"Jelas saja... aku tidak pernah makan ditempat seperti ini..."
"Tenang aja, nanti juga terbiasa kok."
"Uh... ( Begitu ramai hingga membuatku ingin meledak..)"
"Sangat disayangkan ya... neneknya Mai tidak ingin datang..." Ibu Sakura terlihat sedikit murung karena beliau tidak bisa mengajak nenek.
Sebelum kesini, kami sudah pergi kerumah nenek untuk mengajaknya makan bersama, tetapi beliau menolak untuk ikut dan menyuruh kita pergi bersenang-senang saja...
"Tapi nenek juga senang karena melihat paman dan bibi menemuinya... mungkin itu sudah cukup untuk membuat nenek senang.." Mai mencoba untuk membuat beliau kembali senang
"Sepertinya kamu benar... setelah ini bagaimana jika kita membelikan sesuatu untuk nenek?."
"Um! pasti nenek akan senang.."
"Kita lupa mengucapkan selamat sudah lulus dan berhasil masuk ke SMA." Paman pun memberikan ucapan selamat untuk Mai karena sudah lulus jenjang sekolah menengah.
"Selamat ya... apa Mai ingin sesuatu untuk dibeli?."
"T-Tidak usah repot-repot... Mai juga sudah senang bisa pergi bersama bibi dan juga paman hari ini..."
Mai dengan paman dan Bibi terlihat begitu dekat seperti orang tua dan anak, karena dari dulu kami selalu bermain dan terkadang menginap dirumah mereka beberapa minggu hingga kami menganggap mereka seperti orang tua kami...
Saat kecil Mai tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dekat dengan ibunya sendiri, ia hanya dekat dengan ayahnya sampai ibunya bercerai dan berpisah, ayahnya pun juga meninggalkannya...
Karena mereka bertiga yang masih asik asiknya mengobrol, aku pun berusaha untuk menyibukkan diriku sendiri dengan menyeruput kopi hitam yang harganya dua puluh kali lipat dari kopi rumahan yang biasa aku minum.
Berbeda denganku, Sakura begitu terlihat sangat anggun dengan gaun yang dipakainya meskipun hanya berdiam diri sambil melakukan berbagai hal dengan mempertahankan posisinya...
Aku tidak terlalu menyukai saat aku memakai jas yang membuatku terlihat begitu kaku, tapi aku berusaha untuk tetap percaya diri dan tidak terlalu banyak bergerak...
Saat aku sedang ingin menelan kopi yang sudah kuminum, tiba tiba paman mempertanyakan pertanyaan yang begitu mengejutkanku.
"Aoyama... apa kamu sudah mempunyai seorang pacar?."
"Pftt! uhuk! a-apa maksud paman tiba tiba menanyakan itu."
Tidak hanya aku saja, Sakura pun juga terkejut mendengarnya.
"Paman hanya penasaran saja... Sakura pun juga belum punya kan?."
"P-Papa! jangan bertanya tentang hal seperti itu!."
"Bibi dengar, Aoyama bekerja sebagai pengawalnya nona Yuuki kan? sama seperti Sakura."
"Iya... karena aku juga membutuhkan uang untuk menghidupi diriku sendiri dan juga Mai."
"Kamu selalu bekerja keras ya... bibi tidak tahu apa anak bibi bekerja dengan benar atau tidak."
"Aku bekerja dengan benar! iya kan, Ao?."
"Bisa dibilang seperti itu..."
"Kamu mengatakan seolah aku benar-benar tidak bekerja dengan benar.."
"Kalau begitu baguslah...bibi dan paman tidak perlu khawatir lagi denganmu... karena kamu sudah bisa menghidupi dirimu sendiri bahkan adikmu Mai."
"Aku juga ingin berterimakasih, karena sudah membantu merawat Mai sewaktu kecil dan juga selalu memberikan perhatian kepada kita."
"Um! bibi sudah Mai anggap seperti ibu Mai sendiri... Mai sangat berterimakasih."
"Bibi senang mendengarnya... kalian berdua adalah anak yang baik... jika kalian butuh apa apa, jangan sungkan untuk meminta tolong pada paman dan juga bibi ya.."
"Kalian juga harus lebih semangat untuk belajar dan meraih cita-cita kalian..."
"Terima kasih paman dan juga bibi..."
"Tapi, tidak ada rencana untuk mendekati anak paman?." Beliau berbisik-bisik kepadaku tetapi tetap saja masih terdengar olehnya.
Aku hanya diam dan tidak bisa menjawab... atau mungkin tidak ingin menjawabnya...
"Ahaha, baiklah baiklah.."
Kami pun menghabiskan makanan kami sambil mengobrol banyak hal dan langsung beranjak untuk pulang setelah selesai makan...
......................
"Aoyama... Mai... sampai ketemu lagi ya."
"Um! bibi dan juga paman hati hati dijalan.."
"Terima kasih sudah mengajak kami makan malam... jaga diri paman dan juga bibi."
"Sakura juga, mama dan papa pergi dulu."
"Baik, mama dan papa jaga kesehatan kalian berdua disana..."
Sakura langsung memeluk kedua orang tuanya yang akan pergi kembali keluar negeri untuk menjalani pekerjaan mereka disana...
"Baiklah, kalian semua... sampai jumpa lagi."
"Ya.."
Dan mereka pun pergi untuk mengejar waktu...
"Kakak, aku duluan masuk ya."
"Ya..."
"..."
Saat aku juga ingin masuk, aku melihat Sakura yang masih berdiri sambil melihat mobil mereka yang perlahan menjauh dan menghilang.
"Kau masih ingin bersama mereka?."
"Eh, tidak... aku hanya sedikit kesepian saja... padahal sebelumnya aku merasa baik baik saja... tetapi entah mengapa ditinggal seperti itu terasa sedikit menyedihkan."
"Kau ingin masuk dan meminum sesuatu untuk menenangkan dirimu?."
"Tidak... aku baik baik saja."
"Baiklah kalau begitu, jangan terlalu lama disini... kau bisa sakit."
Aku pun meninggalkannya disana dan ingin masuk kedalam rumah.
"Ao, tunggu!."
Tetapi dia menghentikanku untuk masuk kedalam.
"Ada apa?."
Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia langsung mengurung niatnya.
"Aku hanya... ingin berterimakasih saja... kamu sudah ingin makan malam bersama keluargaku..."
"Apa yang kau ucapkan? aneh sekali... justru aku yang mengucapkan terimakasih kepadamu, dan lagipula aku dan Mai juga senang bisa bertemu dengan paman dan Bibi kembali... tidak ada yang perlu diucapkan."
"Tidak, bukan itu."
"Eh? maksudnya?."
"Aku berterimakasih padamu... karena kamu memberikan kesempatan kedua padaku..."
"Kesempatan kedua?."
"Dah, aku masuk ya... sampai ketemu besok pagi, Ao!."
Dia berlari dengan meninggalkan senyumannya yang manis kepadaku, hingga aku pun tidak tahu ingin melakukan apa...
"sebenarnya apa yang Sakura katakan tadi?... ya sudahlah, disini sangat dingin... lebih baik aku cepat cepat masuk kedalam..."
Hari ini adalah hari yang begitu tidak diduga... aku bertemu dengan orang yang membantu nenek untuk merawatku dan Mai saat kecil... mereka selalu mengajak kami berpergian kemana saja dan bersenang-senang layaknya sebuah keluarga...
Dan sekarang aku bisa merawat diriku sendiri dan Mai berkat beliau yang selalu sabar meladeni kami saat kecil...
Bahkan keluarga pun bisa ditemukan tanpa adanya sebuah hubungan darah...