
6 Hari menuju ke acara pernikahan...
*Ding Dong!
*Klingking!
Suara lonceng yang berada di sisi atas pintu berbunyi saat pintu tersebut dibuka, dan pagi ini aku datang ke toko busananya karena sebuah misi.
"Aku kira kamu datang lebih telat."
"Jalur kereta hari ini sangat lancar, aku bisa lebih cepat kesini."
"Begitu ya, kalau begitu masuk saja..."
"Baik, permisi."
"Sudah lama sejak hampir beberapa bulan yang lalu kita bertemu, apa kamu kesini untuk memesan sesuatu untuk liburan panjang?."
"Tidak, aku hanya ingin bicara padamu."
"Bicara? seharusnya kamu mengatakan hal itu saat kemarin kamu mengabari aku, kita bisa bertemu di tempat yang nyaman."
"Aku pikir kamu sedang sibuk-sibuknya mengurus bisnis busana ini."
"Yang paling sibuk hanyalah ibuku, aku membantunya sedikit sedikit saja."
"..."
"Kamu tunggu di dalam, aku akan mengambilkan minum untukmu."
"Kamar ini?." Aku sedikit ragu karena sebelumnya saat aku kesini... saat tidak sengaja aku memasuki ruangan yang salah, dan membuat suasana menjadi canggung.
"Sudah tidak ada lagi yang bisa aku sembunyikan darimu, lagipula aku sedikit mengurangi isinya... jadi tidak apa apa."
"Sepertinya kamu mengambil antisipasi yang tepat."
"Agar tidak ada lagi orang yang tersesat didalam toko busana milikku." Dia langsung pergi setelah mengejekku sedikit.
"Itu terdengar sedikit lucu..."
Aku pun masuk kedalam kamarnya, dan benar apa yang dia katakan.
Isi dalam kamarnya tidak seramai saat seperti sebelumnya, meskipun memang masih ada beberapa action fiture dan poster poster yang tertempel di dinding.
Aku berjalan-jalan sedikit dan perhatianku tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada diatas meja belajarnya.
Lebih tepatnya itu adalah sebuah foto keluarga, dia dengan kedua orang tuanya... saat dirinya terlihat masih kecil didalam foto ini.
"..."
"Foto itu diambil saat kedua orang tuaku memulai sebuah usaha... usaha yang kini sudah cukup besar."
Tiba tiba dia sudah berada didalam kamar dengan membawa sebuah minuman untukku.
"Oh..."
Aku pun duduk di dekatnya, sambil menerima secangkir teh hangat yang aromanya begitu harum.
"Aku cukup mahir membuat teh, jadi aku rasa teh itu cocok untukmu."
"Terima kasih..."
Aku sedikit menyeruput teh buatannya, dan rasanya yang sangat kental dan hangatnya melewati leherku hingga terasa begitu nikmat.
"Enak sekali..."
"Benarkah? syukurlah kalau kamu menyukainya."
"Tidak hanya mengurus sebuah bisnis, ternyata kamu mahir dalam hal seperti ini juga."
"T-Tidak kok, ini hanya karena dulu aku sering berkunjung ke rumah nenekku saat kecil, dan dia selalu mengajarkan diriku cara membuat teh tradisional... namun semenjak beliau sudah tiada, beliau memberikan semua alat alat tradisional pembuat teh padaku, mungkin beliau sudah menentukan siapa penerusnya."
"Beliau pasti bangga jika melihatmu bisa membuat teh seenak ini."
"Kamu terlalu memujiku berlebihan, tapi terima kasih..."
".."
"Jadi, ada apa? kamu ingin membicarakan padaku soal?."
Tanpa basa basi, aku pun langsung menuju ke inti masalahnya.
"Soal Yuuki."
"Yuuki... maksudmu... Shiraishi Yuuki?."
"Apa kamu tahu sesuatu tentangnya?."
"Tentu saja... saat ini bahkan ibuku sedang sangat sibuk membuat gaun pernikahan miliknya... dan juga, apa juga sudah tahu??."
"Ya... tentu saja."
"Menjadi seseorang yang berada di sebuah keluarga yang cukup besar... terlihat sangat sulit ya."
"Kamu benar... tapi ada hal lain soal itu yang ingin aku bicarakan padamu."
"Adam Company..."
"..."
"Apa kamu tahu tentang itu?."
"Bagaimana kamu bisa tahu soal perusahaan tersebut...?."
"Jika kamu sudah tahu dasarnya tentang perusahaan itu... mungkin kamu akan mengerti tentang masalah yang akan aku katakan."
"..."
"Acara pernikahan antar keluarga besar, Shiraishi dan Sakamura... terdapat dalang dibalik rencana tersebut, yaitu perusahaan Adam yang selama ini berada dibelakang perusahaan keluarga besar Sakamura."
"Tunggu! tidak mungkin..."
"Dan juga."
Aku memberikan formulir dari perusahaan Adam yang sudah aku salin sebelum aku datang kesini, dan yang aslinya berada pada Erlic yang masih sibuk mengurus urusan yang lain.
"Darimana kamu bisa mendapatkan ini?."
"Ceritanya agak panjang, tapi intinya, formulir ini diberikan kepada Sakamura Azumi sebagai orang yang menandatangani formulir tersebut."
"Dia sedang dijebak."
"Kamu tahu sesuatu?."
"Pokoknya, jangan sekali-kali berhubungan dengan perusahaan ini... sebaiknya kamu peringatkan mereka agar tidak terlambat, atau jika kertas yang asli masih ada padamu, berarti semuanya belum terlambat."
"Memangnya ada apa? jika kamu tahu sesuatu, katakan padaku."
"..."
"Celestia..."
"Maaf... tapi aku tidak ingin membahas persoalan tersebut... jika tidak ada yang kamu perlukan lagi, aku sedang sibuk untuk bekerja."
"Saat ini, keluarga Shiraishi benar-benar akan hancur jika pernikahan tersebut terjadi."
"..."
"Sakamura bekerja sama dengan perusahaan Adam untuk mengambil warisan perusahaan yang sudah jatuh kepada keluarga Shiraishi... dan aku tidak bisa meninggalkan Yuuki seperti itu."
"Kenapa."
"..."
"Kenapa kamu masih mempedulikan orang lain, sedangkan kamu sudah memiliki seseorang dalam hidup kamu."
"..."
"Jika ada waktu luang yang bisa kamu dapatkan, seharusnya kamu bersama dengan pacarmu Sakura, bukannya mencari perhatian ke perempuan lain."
"Kamu tidak tahu apa yang telah terjadi, aku melakukan ini benar benar untuk menolongnya."
"Apa kamu tidak bisa memahami perasaan perempuan? bagaimana jika Sakura tahu akan hal i-."
"Sakura sudah tiada!."
Akibat perkataannya yang membuatku menjadi sedikit terpancing, aku pun terbawa suasana sampai sedikit meninggikan suaraku di depannya.
"..."
Wajahnya begitu terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Jangan bercanda, apa kamu tahu apa yang kamu katakan tadi?."
"Apa wajahku benar-benar terlihat ingin bercanda? dia sudah pergi dua bulan yang lalu... dan sekarang ini... saat ini aku sedang berusaha untuk memenuhi permintaan terakhirnya, yaitu menolong Yuuki beserta keluarganya, dia adalah sahabatnya sejak kecil."
"..."
"Maka dari itu, aku tidak ingin membicarakan tentang dirinya kembali... aku tidak mau..."
Setelah itu, dirinya merasa begitu bersalah saat mengungkit namanya di depanku.
"Maaf... aku sangat merasa bersalah."
"Hanya kamu satu satunya orang yang saat ini aku percayai... tolong, bantu aku."
"..."
Diriku yang seperti ini tidak bisa melakukan hal banyak untuk dirinya, karena aku adalah seseorang yang hanya bergerak di belakang layar... tanpa terkecuali.
Dan apa yang harus aku lakukan saat ini hanya sekedar sebuah hal yang bisa aku lakukan, untuk membuatnya bahagia.
Jika Yuuki memiliki jodohnya sendiri, maka aku tidak berhak untuk mencampuri urusannya.
Yang saat ini aku lakukan adalah membantu keluarganya karena mereka juga sudah membantu meringankan kehidupan diriku dengan bekerja menjadi seorang pengawal, namun gaji yang diberikan setiap bulan benar benar lebih dari perkiraan.
Dan yang paling utama dari niat diriku ini... memenuhi permintaan Sakura, dan membuatnya tenang tanpa mengkhawatirkan siapapun yang ada disini...
"Baiklah... namun sebelum itu... ada yang harus aku tunjukkan kepadamu."