
"Huh... setelah semua ini... tubuh ini berasa ingin tidur saja seharian..."
Aku kembali menuju ruang kamarku, dan begitu aku masuk, Sakura sudah menyambut kedatanganku sambil duduk diatas tempat tidurnya.
Aku mencium aroma shampoo miliknya yang begitu harum, karena mungkin saja dia baru saja selesai pergi mandi... dan syukurlah aku tidak masuk disaat waktu yang buruk...
"Kau sudah memakai kamar mandi?."
"Sudah..."
"Kalau begitu aku ingin memakai kamar mandinya."
"Tunggu dulu."
"..."
Telapak tangannya menepuk-nepuk tempat tidur yang sedang ia duduki.
"Duduk disini... aku ingin mengobati luka lebamnya..."
"Tidak perlu, ini hanya luka ke-."
Seketika aku terdiam begitu melihat tatapannya yang seketika berubah saat menatapku.
Karena tidak ada pilihan lain, aku pun terpaksa untuk menuruti perkataannya.
Lalu dia membuka kotak kesehatan dan mengambil kapas dan obat lebam...
"Kenapa kamu menerima perkataannya? padahal kamu dari dulu orangnya selalu tidak pernah terpancing dengan kata kata orang lain.."
Sambil memberikan obat lebam itu secara perlahan pada luka didekat mulutku.
"Itu hanya candaan kecil saja... aku tidak peduli dengan dia yang menghinaku.."
"Tetapi terlihat jelas kamu peduli dengan hal itu..."
"Aku bukan mempedulikan tentang itu... tapi aku melakukan hal itu karena dia telah menghinamu..."
Mendengar itu membuatnya menjadi salah tingkah dan mengobatiku sedikit kuat.
"A-Apa maksudmu, jangan berkata hal itu dengan santai."
"Duh."
"Maaf! apa aku menekannya terlalu kencang??."
"Ya... kau menekannya terlalu kencang."
"L-Lagian! kamu mengatakan hal itu secara tiba-tiba!."
"Baiklah baiklah, maaf tentang itu!."
"Lihat! kamu mengatakan maaf lagi.."
"Ah, maa- maksudku ya... seperti itu.."
Lalu dia melanjutkan untuk mengobati luka di wajahku.
"Terima kasih... sudah melakukan hal itu untukku... tapi aku ingin, lain kali kamu jangan melakukan hal seperti itu lagi... sesekali peduli dengan dirimu sendiri."
"..."
"Memang dari dulu kamu selalu seperti itu, suka sekali melakukan hal yang membahayakan dirimu, hanya untuk membantuku..."
Dia berbicara sambil tertawa kecil, tetapi perasaan sebenarnya adalah kesedihan yang ia tahan dengan matanya yang sedikit berkaca kaca dan dia memejamkan matanya agar bisa menghapus air matanya...
"Aku tahu... mungkin karena aku yang terus menerus membuatmu khawatir... aku senang tapi, aku juga... aku juga..."
Dia menundukkan wajahnya kebawah, sehingga rambutnya menutupi wajah yang sedang merasakan kesedihan...
Aku menggapai lengannya yang saat itu masih berada didepan wajahku, dan menarik tangannya agar wajahnya terangkat sehingga aku bisa melihat jelas wajahnya...
Ya, wajahnya yang sudah dihiasi oleh air mata yang menetes dari matanya...
"M-Maaf! mataku hanya terkena sedikit debu saja."
Dia langsung menarik lengannya dan menghapus air mata itu...
"..."
"Apa kau masih ingat... saat kita bertengkar hanya karena sebuah tempat tidur... waktu itu kau sangat menginginkan tempat tidur yang berada diatas... seperti tempat tidur ini..."
"..."
"Lalu, karena saat itu hujan lebat... suara petir nya terdengar sangat kencang jika berada diatas... lalu pada akhirnya kau tidur disampingku sambil memelukku... padahal aku sudah memberikanmu bantal dan boneka untuk kau peluk... tetapi kau hanya ingin memegang lenganku karena ketakutan.."
"T-Tunggu! jangan menceritakan kejadian itu.."
Aku menatapnya begitu dalam sehingga dia hanya menatapku diam dengan matanya yang masih lembab...
"Sakura... mau berapa tahun pun aku lewati... kau tetap menjadi seseorang yang pertama kali menerimaku sebagai seorang yang normal... bahkan aku pikir, hanya kau satu-satunya orang yang pernah mengisi perasaanku dulu... jadi, aku melakukan semua ini tidak tanpa alasan... itulah yang aku pikirkan semenjak aku bertemu kembali denganmu saat itu... walaupun ada sedikit rasa menyebalkan karena bertemu denganmu lagi disini..."
"Kamu memberikan kata kata terakhir paling buruk yang pernah ada..."
"Aku bukanlah seorang penulis..."
"Kau tidak suka dengan perkataanku?."
"B-Bukannya seperti itu! aku... menyukainya... soal jawaban yang kamu berikan..."
"Syukurlah... ternyata kau masih tetap tidak merepotkan seperti yang aku bayangkan.."
"D-Diam... aku masih belum mengatakan kalau aku menerimanya..."
"Jangan berlagak menjadi gadis yang merepotkan, kau tidak bisa merubah kebiasaan dirimu yang selalu khawatir diam diam padaku bukan?."
"Siapa yang mengatakan itu!?."
"Buktinya kau menungguku disini hanya untuk mengobati luka di wajahku..."
"Itu karena kamu tidak pernah bisa menjaga dirimu sendiri... aku sudah selesai mengobatimu, pergi mandi sana."
"Tapi... kau masih ada disini."
"Baiklah baiklah aku keluar!."
"Aku hanya bercanda..."
"Sekali lagi aku akan benar-benar memukulmu!."
Aku pun langsung bergegas pergi kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhku dari keringat yang sudah mengering saat tes terakhir...
.
.
Setelah aku menggunakan kamar mandi lebih dari 30 menit lamanya akhirnya aku selesai dan keluar dari kamar mandi...
Lalu aku melihatnya yang sudah tertidur pulas dan posisi tidurnya masih sama dengan saat dia duduk dipinggir tempat tidurnya... jadi kakinya masih berada diluar tempat tidur...
"Huh... setidaknya tidur dengan benar..."
......................
"Mmmhh!!."
Sakura terbangun saat tengah malam hari, dan melihat dirinya yang sudah tidur dalam posisi ditengah tempat tidur dan terselimuti seluruhnya, hingga membuatnya sedikit terkejut.
"Tunggu! apa yang baru saja terjadi?!."
Dia segera turun dari tempat tidurnya, dan langsung terdiam begitu melihatku yang sedang tidur sambil duduk diatas kursi dan kepalaku hanya bersandar diatas tangan yang berada diatas meja...
"Kenapa bisa bisanya kamu tidur disini... bisa bisa kamu terkena demam... duh..."
Sakura begitu khawatir denganku yang selama ini tidur hanya duduk diatas kursi...
Lalu dia sedikit menurunkan dengkulnya dan matanya setara dengan mataku yang saat itu sedang tertidur.
"Kamu yang membenarkan posisi tidurku ya... terima kasih.."
Tangannya perlahan meraih rambutku, dan mengelusnya dengan lembut.
"Maaf jika aku egois kepadamu... aku hanya tidak ingin... Ao meninggalkanku begitu cepat... karena aku juga merasa kesepian jika Ao tidak menyapaku... mungkin aku sedikit iri dengan melihatmu dan Yuuki berdua... tetapi aku telah membuat pilihanku sendiri... dan pilihan itu membuat Ao merasa terpuruk... bagaimana bisa aku dengan mudahnya ingin meminta suatu hal padamu... untuk terus bersamaku..."
Ditengah malam yang dingin... aku yang terlelap tidur dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi sehingga saat pada pagi harinya...
"Ao..."
Suara yang samar samar memanggilku, dan menarik diriku yang berada didalam mimpi...
"Ao, bangunlah.."
Aku perlahan membuka mataku... dan telat didepan mataku, ada Sakura dengan rambutnya yang masih sedikit terlihat basah dan diikat kebelakang... lalu memakai seragam putih dan rok pendek seperti biasa...
"Ao, jika kamu tidur terus... nanti kamu bisa telat lho!."
"Hm... ya..."
Aku membangkitkan tubuhku dan duduk disana beberapa detik untuk memberikan waktuku berpikir...
"Selamat pagi... Ao."
Dia menyambut diriku dengan senyuman manis pada pagi hari ini... dan aku juga sadar jika aku tertidur diatas tempat tidurnya.
"Tunggu... apa semalaman aku tidur disini??."
Aku ingat, terakhir kali aku sedang membaca buku tebal yang diberikan kepada masing masing dari kita.
"Um! soalnya semalam kamu tertidur diatas kursi... jadi aku memindahkanmu.."
"L-Lalu... bagaimana denganmu?? kau mengangkat badanku sendirian??."
"Lupakan saja malam itu... karena tidak ada sesuatu yang harus kamu ketahui."
Sambil menempelkan jari telunjuknya tepat pada bibirnya, dan mengedipkan salah satu matanya.
Antara bingung dan senang karena dia sudah kembali ceria, atau aku yang mempertanyakan apa yang terjadi semalam?.
Rasanya malam itu hanya seperti sebuah mimpi..