
"..."
Aku berdiri ditengah pusat kota tepatnya taman khusus untuk istirahat, karena disitulah tempat yang dia katakan saat sepulang sekolah dan pada akhirnya aku datang pertama hingga menunggu sendirian disana hampir 10 menit.
"M-Maaf menunggu!."
Aku mendengar suaranya yang kulihat dia sedang berlari kecil dengan baju dress pendek berwarna putih agak ke biru biruan, karena cuaca hari ini cukup panas, maka aku paham jika sekarang dia memakai baju tipis yang sangat sejuk agar tidak terlalu panas.
"Apa kau pergi ketempat lain dulu sebelumnya?."
"T-Tidak! lagipula aku hanya telat sekitar sepuluh menit... ya maaf.."
Aku sedikit menyadari perubahan sifatnya yang sedikit lembek dari biasanya.
Sebelum aku membuat suasana jadi tidak nyaman, aku langsung mencoba mengganti suasana meskipun tidak tahu caranya.
"Aku hanya bercanda, jangan dibawa serius seperti itu."
"S-Siapa yang dibawa serius seperti itu..."
Lalu kita pun tiba didepan akuarium yaitu tempat wisata yang termasuk akuarium terbesar di negara ini, terlihat ada miniatur paus biru yang sangat besar menghiasi papan selamat datang bagi para pengunjung.
"Waah! besar sekali... aku penasaran bagaimana isi didalamnya."
"Apa kau belum pernah pergi ke akuarium?."
Dia menggelengkan kepalanya dengan tidak enak, padahal justru aku yang jadi tidak enak bertanya seperti itu.
"Aku tidak pernah pergi ketempat seperti ini dari dulu... karena ayahku selalu bilang semuanya bisa aku lihat didalam ponselku."
Ayah yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, atau memang dari kecil Yuuki tidak pernah diberikan perhatian sehingga dia hanya bisa berada didalam kamarnya melihat semua wisata dari layar kaca.
"Bagaimana denganmu?."
"Aku... sepertinya pernah sekali saat wisata sekolah waktu sekolah dasar... tetapi saat itu aku hanya duduk didepan lobi karena tidak ingin masuk kedalam..."
"Kenapa?."
"Karena sangat ramai... aku tidak bisa menahan diri berdiri disana."
"Kamu memang orang yang aneh... apa kamu memang penyendiri dari kecil.."
"Nyatanya seperti itu, tetapi sepertinya kita harus membeli tiket terlebih dahulu... kau tunggu saja disini."
"Tidak, aku juga ingin membeli tiketnya."
"Tenang saja, ini hanya tiket masuk, daripada kau jiga ikut mengantri... lebih baik aku saja yang membelinya."
"Begitu ya, maaf ya merepotkanmu."
"Tidak masalah.."
Lalu aku pergi mengantri untuk membeli 2 tiket masuk untukku dan juga Yuuki.
Meskipun ini adalah hari kerja, tetapi antriannya bukan main main panjangnya... hingga menghabiskan hampir setengah jam lebih waktu yang kupakai hanya untuk membeli tiket.
.
.
.
"Maaf lama, huh... antriannya sangat panjang." Sambil memberikan tiket kepadanya.
"A-Apa kamu butuh tisu? wajahmu sangat berkeringat."
"Terima kasih." Aku pun mengambil tisu darinya.
"Oh iya, aku tadi membelikanmu minuman, karena mungkin kamu lelah berdiri terus menerus."
"Apa tidak merepotkanmu?."
"Kamu sudah membantuku membelikan tiket, jadi aku harus membalasnya."
Dia memaksa memberikan minuman botol kepadaku, jadi aku terpaksa menerimanya karena memang energiku terkuras lumayan banyak saat berdesak desakkan disana.
Tetapi saat Yuuki juga ingin meminum minumannya, dia heran mengapa tutup botolnya sangat sulit sekali dibuka, hingga dia menyadari jika yang ia pegang seharusnya dia berikan kepadaku, dan minuman yang sudah aku minum itu adalah minuman miliknya yang sudah dia minum duluan.
"A-Anu A-Aoyama... itu... ini... minumannya..." Dia begitu gelagapan hingga wajahnya memerah.
"Ada apa?."
"T-Tidak! tidak ada apa apa."
Dia lebih memilih diam dan pasrah dengan hal itu, meskipun membuat teringat terus didalam pikirannya.
"Kalau begitu ayo kita masuk... atau nanti akan jadi lebih ramai."
"B-Benar juga."
Lalu kami berdua masuk kedalam wisata akuarium yang sangat besar itu, tentu saja tidak hanya luarnya yang bagus, tetapi begitu melihat isinya, ratusan jenis ikan langsung terlihat dimata kita dan warna air yang sangat biru membuat kita melihatnya sangat takjub.
"Huwaa! besar sekali! lihat Aoyama! banyak sekali ikan.."
"Ternyata berbeda dengan yang kulihat di internet... melihat dengan langsung bisa terlihat dari sudut manapun."
Kami berjalan kesana kemari terasa seperti ditengah lautan dan bisa melihat begitu banyak jenis ikan ikan dari yang kecil hingga yang besar.
Sampai kita masuk kedalam terowongan akuarium, kita bisa melihat banyak hewan laut seperti hiu, pari, ubur ubur dan masih banyak ikan ikan unik lainnya.
Aku memang sangat terkesan melihat itu semua, tetapi disisi lain aku melihatnya yang sangat gembira melihat itu semua, matanya seperti berbinar-binar dan mulutnya tidak pernah berhenti tersenyum.
"Aoyama, lihat diatas sana... ikan itu berenang berkelompok dan sangat banyak."
"Disini namanya adalah ikan pelagis... sepertinya itu ikan yang cocok untuk orang sepertimu."
"A-Apa kamu sedang mengejekku?."
"Lalu, ikan apa yang kau suka?."
"Hm... sepertinya aku pernah membacanya didalam buku, tapi dimana ikannya..."
Dia terlihat sedang mencari cari ikan itu ditengah akuarium yang begitu besar.
"Ah ini! ikan ini!."
"Ikan ini? kenapa?."
Ikan itu berbentuk seperti segitiga dan siripnya yang begitu panjang dan warna tubuhnya yang belang belang.
"Kamu tahu? kalau ikan ini adalah ikan yang paling setia."
"Darimana kau tahu?."
Dia terlihat begitu senang saat menjelaskannya, hingga dia telat menyadari jika situasinya menjadi canggung.
"B-Bukan maksudku aku suka melihat pasangan orang lain! hanya saja sifat ikan itu sangat setia... ya... gadis gadis yang lain pun juga ingin memiliki orang yang setia kepadanya."
Dia berkata dengan penuh perasaan hingga terlihat diwajahnya perasaan sedih dan aku yang melihatnya langsung memegang tangannya yang sedang memegang kaca akuarium itu.
"E-Eh? ada apa?."
"Sebelah sini."
Aku mengajaknya pergi ke seberang akuarium dan memperlihatkan kepada seekor ikan yang kusuka.
"Wah! ikan apa ini?! lucu sekali..."
"Blue Line Grouper... termasuk ikan ganas, dan memakan semua ikan yang berada didekatnya."
"Eh? aku tidak jadi menyukainya..."
"Karena itu dia sendiri, dia hidup dengan apa yang hanya ia lakukan... tidak membutuhkan ikan lain untuknya hidup... tetapi meski begitu dia yang ditakuti... karena tentu saja karena dia akan memakan ikan yang mendekatinya."
"Kamu menyukai ikan seperti ini?."
"Aku hanya suka caranya hidup... hidupnya sangatlah simpel, jika ada ikan lain yang mengganggunya, dia akan memakannya langsung... ya, tidak semua ikan bisa dia makan sih..."
"Apa aku harus menjauhimu karena mengganggumu? atau nanti aku yang akan dimakan?."
"Sudah kubilang aku hanya... baiklah, jika kau ingin menjauh dariku mungkin sekarang adalah waktu yang tepat."
"A-Aku hanya bercanda! jangan membuat aku jadi seperti orang jahat!."
"Ada apa? kenapa kau tidak pergi? atau kau ingin mendapatkan sesuatu yang buruk dariku?."
Aku menatapnya tajam dan membuatnya sedikit takut.
"H-Hei... tadi hanya bercanda saja bukan? jangan menakutiku seperti itu..."
Dia perlahan mundur dan aku melanjutkan hal seperti ini hingga dia lebih ketakutan dari sebelumnya.
"Kau tidak pergi?."
"Tidak! jangan melakukan hal seperti itu dong!."
*Tap.
Aku berhasil memotret wajahnya yang sedang ketakutan dan memperlihatkan hasil foto itu kepadanya.
"Aku mendapatkan foto bagus."
"T-Tidak! hapus itu! hapus sekarang!."
Dia berusaha menggapai tanganku tetapi karena aku lebih tinggi, dia tidak bisa mengambilnya.
"Aoyama! jangan terus terusan menjahiliku seperti ini! kamu sangat menyebalkan!."
"Terserah kau bilang apa, foto ini tidak akan terhapus secara otomatis meskipun kau marah."
"Ahh! kamu benar-benar membuatku... baiklah, aku akan memotret wajahmu juga."
"Untuk apa kau memfoto wajahku?."
"Untuk aku simpan dan kucetak agar kamu merasakan malunya!."
"Sudahlah, jangan lupa kita harus memotret tempat dan foto bukti untuk tugas."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! berikan ekspresimu!."
"Tapi itu memang benar-benar tugas... sudahlah, aku bisa membuatnya sendiri."
Aku pun berjalan pergi untuk memfoto tempat tempat yang bagus untuk dijadikan foto tempat.
"T-Tunggu! jangan tinggalkan aku! dasar menyebalkan!."
Pada akhirnya dia ingin mengikuti perkataanku dan memfoto tempat yang menarik hingga akhirnya tinggal foto kelompok yaitu foto kita berdua disini.
"Mohon untuk lebih mendekat lagi."
Kami meminta orang yang memang bekerja untuk memfoto pengunjung ditempat yang sangat bagus, karena dibelakangnya terdapat akuarium dengan ikan ikan warna warni yang sangat indah.
"Apa ini kurang dekat?."
"A-Ayolah, agara ini cepat selesai.."
"Huh..."
Lalu kami terpaksa berdekatan hingga kedua bahu kami saling menempel, dan orang itu meminta kita untuk membuat pose.
"Posenya agar lebih bagus."
"Pose?."
"Apa yang harus kita lakukan?."
Kita berdua sama sama tidak mengerti karena dalam kehidupan mereka jarang sekali berfoto bersama sama.
"Seperti berpelukan, atau berpegangan tangan."
"Berpelukan??."
"B-Berpegangan tangan?."
Terkadang situasi seperti membuat menjadi lebih sulit, dan kami bahkan tidak mengerti apakah hal itu biasa karena hanya untuk sebuah foto.
"Ayo, pegangan."
Ini adalah kesalahpahaman, karena dia mengira kita adalah sepasang kekasih atau pacar, jadi dia merekomendasikan hal yang seperti itu.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain..."
"U-Um."
Aku pun memegang tangannya yang lembut dan sedikit dingin, aku bisa merasakan dari telapak tangannya.
"Bagus, tetap seperti itu... tersenyum."
*Cekrek!
Itu adalah momen yang tidak bisa aku lupa, karena momen itu adalah satu satunya saat dimana aku telah dibodohi oleh kesalahpahaman orang itu.
"Dasar pasangan muda..."
Orang itu benar-benar salah paham...