
Setelah rencana belajarku kandas akibat Mai yang ingin belajar bersama teman-temannya di rumahku, aku pun harus membeli makanan untuk mereka, namun saat ini aku ditemani oleh salah satu dari temannya yang bernama Atara, maksudku Arata...
"..."
"..."
"Apa kamu tidak ingin memberikan saran untukku, apa yang kalian inginkan?."
"A-Aku? mungkin... makanan cepat saji lebih baik."
"Begitu ya."
"..."
"Hei... apa kau dan Mai saat ini tinggal bersama?."
Aku langsung menghentikan langkahku, saat dia mengatakan hal itu.
"Darimana kamu mengetahuinya?."
"Mengetahui... apa?."
"..."
Dia mencoba untuk mengelak, namun saat aku menatapnya, dia langsung menjawab pertanyaannya.
"A-Aku sudah lama mengetahuinya... karena dia sendiri yang mengatakan hal itu."
"..."
"Aku tahu, itu bukanlah sesuatu yang bisa dipertanyakan langsung oleh orang asing sepertiku... namun sejak awal semester... mereka sering membicarakan tentang itu."
"Dalam hal negatif?."
"..."
"Ya... beberapa dari mereka mengatakan kalau dia mempunyai kakak yang menyeramkan, aneh, dan tidak pantas dengannya... tetapi dia bersikeras membela nama baikmu hingga pada akhirnya dia yang menjadi bahan ejekan."
"..."
"Tetapi sekarang, karena bantuan dari teman-temannya, semua kesalahpahaman tersebut berhasil diselesaikan... dan sekarang tidak ada lagi masalah seperti itu."
"Syukurlah."
"Jadi, bagaimana kalau kau menjawab pertanyaannya sekarang?."
"Tidak... dia tidak tinggal bersamaku."
"Begitu ya."
"Kenapa kamu menanyakan soal itu?."
"T-Tidak apa apa... aku hanya penasaran saja."
"..."
Lalu kami berdua sampai ditempat toko makanan cepat saji, dan aku membeli beberapa hamburger dan kentang, lalu beberapa minuman juga.
"Apa segini cukup?."
"Ya, sudah cukup."
"Kalau begitu kita langsung pulang saja..."
"..."
"Kamu mempunyai Kartu kereta?."
"Kartu kereta?."
"Ya..."
"Apa rumahmu sejauh itu??."
"Jangan bilang kamu tidak memilikinya..."
"Rumahku cukup dekat dengan sekolah, jadi setiap hari aku hanya berjalan saja."
"..."
Aku pun lanjut berjalan untuk pergi ke stasiun.
"Hei, lalu bagaimana denganku?."
"Tenang saja, aku akan membelikan tiket kereta untukmu."
"Bukannya kau tidak mengatakan kartu kereta?."
"Keduanya sama saja."
"Dimana-mana juga kedua itu tidak sama!."
"..."
Setelah perdebatan singkat itu, akhirnya dia mau juga dibelikan tiket kereta, karena saat melihat harga dari kartu kereta yang bisa untuk menaiki kereta kapan saja terlihat sangat mahal.
"Terima kasih."
"Ha?."
"Sudah membelikan tiketnya untukku."
"Tidak masalah."
"Ternyata... kau tidak seburuk yang aku pikirkan."
"Memangnya apa yang kau pikirkan tentangku?."
"Biasanya, saudara tiri itu membenci saudaranya yang lain..."
"Cerita mana yang kamu baca?."
"Aku hanya membayangkannya saja."
"Aku dan Mai hanya hidup tanpa kedua orang tua yang berpisah sejak kecil, jadi kita hanya tinggal bersama nenek... namun saat beberapa bulan yang lalu, nenek meninggalkan kita dan akhirnya saat ini dia tinggal bersama ayahnya."
"T-Ternyata... hal itu bisa terjadi."
"Jadi aku sebagai kakaknya tidak akan berbuat seperti itu, kamu mengerti?."
"Ya... maaf, aku tidak tahu hal seperti itu..."
"Selama kamu mengerti, maka tidak apa-apa."
"..."
"Oh ya..."
Saat kita berdua sudah hampir sampai di rumahku, aku mengatakan sesuatu kepadanya, atau lebih baik kepada mereka namun aku tidak sanggup untuk mengatakannya ke semua temannya.
"Terima kasih, kamu sudah ingin membantunya, tentang masalah tadi."
"I-Itu memang sudah sewajarnya sebagai teman untuk saling membantu."
"Kamu benar, karena Mai adalah satu-satunya orang yang paling penting didalam hidupku... aku tidak ingin membuat hidupnya menjadi lebih buruk, hanya karena keberadaan diriku."
"..."
"..."
"Semua orang pasti memiliki alasan mereka tersendiri, dan dia yang membelamu karena kau adalah orang yang berharga baginya... jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"..."
"Apa menurutmu seperti itu?."
"Aku lihatnya seperti itu."
"Kalau begitu pertahankan penglihatan yang kamu miliki."
"Baiklah."
......................
"Kakak, Arata..."
"Ini makanannya."
"Um! terima kasih kakak!."
"Kalau begitu aku pergi."
"Eh? kakak ingin pergi kemana??."
"Kau ingin kemana?."
"Aku ingin pergi ke kafe terdekat... agar tidak mengganggu kalian."
"Apa yang kakak katakan?!."
"Kenapa kau harus pergi? ini rumahmu sendiri bukan?."
"Tidak, tapi... teman-temanmu akan tidak nyaman."
Setelah mendengar itu, Mai pun tersenyum seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kalau itu, kakak tidak perlu khawatir... dan juga kami butuh kakak yang sebagai seorang senior untuk mengajari kami."
"Ha? kenapa aku harus mengajari kalian?."
"Kau sebagai senior harus memberikan pelajaran untuk adik kelas... benar begitu?."
"Dari awal kalian tidak mengatakan seperti itu."
"Sudahlah, ayo masuk!."
Karena paksaan dari mereka, aku terpaksa untuk ikut belajar dengan mereka...
Sungguh membuatku sedikit gugup dan canggung... karena aku tidak bisa berbicara lancar dengan orang yang baru saja aku kenal...
Aku hanya menemani mereka dan memberikan bantuan saat mereka sedang kesulitan, hingga waktu berjalan hingga sudah sore hari.
"Kak Aoyama, terima kasih sudah membantu kami belajar bersama." Ucap salah satu temannya yang perempuan.
"Tidak masalah."
"Kalau begitu, kita pamit."
"Ari... Arata... sebaiknya kamu menemaninya hingga pulang kerumahnya, karena hari sudah mulai gelap."
"Baiklah."
Dan saat itu, aku memberikan sebuah kartu kereta untuknya.
"Apa ini?."
"Kartu kereta."
"Eh? kenapa??."
"Tiket itu sudah tidak bisa dipakai lagi... bagaimana caranya kamu bisa pulang?."
"..."
Mai hanya tersenyum karena melihatku yang berbuat baik kepadanya.
Dia pun langsung menundukkan kepalanya kepadaku.
"Terima kasih banyak!."
"Y-Ya..."
"Lihat tuh Arata, kakaknya sudah memberikan sedikit kesempatan untukmu." Bisik temannya sambil menyenggol tangannya.
"B-Berisik!."
"Kalau begitu kita pulang dulu."
"Um! hati hati di jalan, kalian berdua."
"Ya."
Mereka berdua pun pulang setelah belajar bersama-sama.
"Terima kasih..."
"Hm?."
"Kamu sudah membantuku."
"Apa yang kamu katakan? sudah seharusnya seperti itu."
"Tetapi biasanya kamu tidak ingin seorang pun mengganggu waktu belajar milikmu."
"Aku hanya berbuat sebaik mungkin sebagai kakakmu, jika tidak... aku akan semakin dipandang buruk."
"Apa Arata mengatakan sesuatu kepadamu?."
"Tidak..."
"..."
"Tetapi dia cukup baik..."
"Mereka berdua memang temanku yang paling baik selama aku bersekolah disini..."
"Begitu ya."
"Apa kamu cemburu?."
"Cemburu?."
"Adikmu memiliki teman laki-laki yang sangat dekat."
"Siapa yang memikirkan hal itu, justru aku khawatir jika dia orang yang tidak baik."
"Kamu tidak perlu khawatirkan adikmu... aku sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik."
"..."
Aku merasa dirinya memang sudah tidak seperti dulu lagi...
Gadis kecil yang takut akan yang lainnya, dan selalu berada di belakangku...
Menangis didekatku, dan hanya berani untuk bermain denganku...
Dan sekarang, dia sudah bisa membuka perasaanya kepada yang lainnya... meskipun ada masalah yang Arata katakan kepadaku.
Namun aku yakin, semua akan baik baik saja jika aku selalu percaya dengannya.
Karena dia adalah adikku yang paling imut...