My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 144



"Ahh... akhirnya aku bisa beristirahat juga..."


Beliau duduk diatas sofa sambil meminum soda dingin dan menikmati angin yang berhembus dari tamannya...


"..."


"Sudah aku duga, bekerja dengannya cukup menghasilkan banyak cuan... dia memang orang yang sangat baik."


"..."


Meskipun dia sedang berbicara, namun aku yang masih diam sambil melamun didekatnya, dan tidak mendengarkan perkataannya.


"Apa kamu merasa lelah?."


"Bukannya anda mengatakan... kalau ingin memberikan latihan padaku?."


"Hm? bukannya baru saja kita habis berlatih?."


"Yang anda maksud itu bukanlah sebuah latihan seperti biasanya... itu hanya berjualan!."


Aku sedikit terbawa emosi karena setelah semua ini, ternyata yang aku dapatkan hanyalah rasa lelah dan sangat sulit untuk memikirkan apa yang sebenarnya beliau inginkan.


"Lalu... bagaimana perasaanmu sekarang?."


"Apa yang anda maksud?."


"Perasaanmu setelah bekerja disana."


"Tentu saja!... huh... sudahlah, saya ingin segera pulang saja."


Aku berdiri dan berjalan menuju keluar gerbang rumahnya.


"Apa didalam kepalamu... sudah sedikit ringan?."


Langkahku berhenti saat beliau mengatakan hal itu.


"Cobalah rasakan sebentar... bagaimana perasaanmu saat ini, selain rasa lelah akibat bekerja.."


"..."


"Disaat lelahnya tubuh seseorang, mereka akan melupakan masalah mereka sekejap, lalu beberapa saat kemudian, mereka kembali memikirkan masalah tersebut... namun, pasti mereka akan merasakan masalah tersebut sangatlah ringan... tidak seperti sebelumnya..."


"..."


"Mungkin kamu berkata akan berusaha untuk melepaskannya, dan melupakannya dari pikiranmu, benar begitu?."


"Tidak! aku tidak pernah ingin melupakannya..."


"Namun kenyataannya seperti itu... dan hal itu karena pikiranmu yang dipenuhi oleh rasa negatif seperti rasa bersalah... kehilangan... maupun takdir yang merubah kenyataannya."


Aku sontak terdiam setelah dia menyadarkan diriku dengan perkataannya.


"Kamu masih bisa melakukan apa yang bisa kamu lakukan... tanpa adanya kehadiran seseorang bukanlah sebuah hal yang bisa membuatmu menarik banyaknya beban yang terikat didalam dirimu... meskipun kamu sudah mengatakan ingin merubah hal tersebut, maka hal itu hanya akan menjadi sebuah halangan bagimu... Aoyama... tanpa adanya perasaan yang kuat, kamu tidak akan bisa memutuskan apa yang harus kamu lakukan."


"Kalau begitu... apa yang sebaiknya harus saya lakukan.."


"Dengarkan isi hatimu... apa yang sebenarnya kamu inginkan, dan jangan lupa bahwa kamu memiliki orang lain yang bisa membantumu, mereka semua ada di sekitarmu..."


"..."


"Saat ini, rasa lelah yang kamu rasakan, adalah halangan yang akan menjadi dinding pertama yang menghalangi keinginanmu..."


"Guru... terima kasih, dan juga saya minta maaf atas sikap saya."


Aku membungkukkan tubuhku dihadapannya... karena aku merasa bahwa aku tidak salah untuk menghormatinya...


"Sekarang aku hanya bisa menyadarkan pada dirimu, tentang apa yang seharusnya kamu lakukan saat ini... jadi..."


"Baik, saya izin untuk pamit."


"Kamu harus bisa berpikir... kemana arah tujuanmu."


Aku mengangguk yakin dengan ucapannya, lalu pergi meninggalkan Dojo tersebut dan langsung berlari sembari meraih ponselku.


*Niitt! Niitt!!


Namun tidak ada jawaban sama sekali...


"Apa dia sudah sibuk mengurusi pernikahannya?? tidak mungkin... Erlic mengatakan kalau pernikahan itu akan dilakukan beberapa minggu setelah ujian akhir."


Lalu aku mencoba menelepon yang lainnya kembali, karena keberuntungan ini membuatku bisa mendapatkan nomor teleponnya.


*Niitt! Niitt!


*Klek!


"..!!."


"Halo."


"H-Halo! pa- maksudku tuan!."


"Aoyama...?."


"..."


"Saya harus berbicara kepadanya, tetapi nomor teleponnya tidak bisa dihubungi."


"Aoyama... Sepertinya kamu sudah terlalu bersikap berlebihan didepanku."


"..."


"Meneleponku seperti ini, dan langsung membicarakan putriku."


"..."


"Maaf, jika kamu mencari putriku, dia tidak ada disini... dan juga, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu."


"..."


"Untuk sekarang, kamu sudah tidak lagi bekerja sebagai pengawalnya, pekerjaanmu akan dicabut, bersamaan dengan Sakura."


"Tunggu... saya tidak melakukan kesalahan-kesalahan apapun!."


"Kamu memang tidak berbuat kesalahan dengan aturan, namun ini adalah keinginanku, maka dari itu... aku berterimakasih sebagai ayah dari putriku, dan aku harap untuk seterusnya... kamu tidak berurusan kembali dengannya."


*Klek!


Sungguh diriku benar-benar tidak bisa menduga hal ini terjadi, dan Kepala Keluarga Shiraishi berbicara seperti itu kepadaku...


Aku tidak bisa menghubungi Yuuki, dan begitu juga aku tidak bisa mendapatkan kesempatan dari ayahnya...


Benar-benar sebuah jalan buntu, namun aku masih memiliki beberapa kesempatan yang bisa aku dapatkan.


"Aku... harus menemuinya."


Sembari memikirkan apa yang beliau ucapkan, aku berusaha untuk mencari jati diriku, dan berlari entah kemana aku pergi...


Sepanjang jalan ini, aku tidak bisa memutuskan apa yang terbaik untuk diriku, dan apa yang terbaik untuk aku lakukan...


Karena kepergiannya yang begitu membuatku merasa seperti tertahankan oleh sesuatu hingga aku tidak sanggup untuk membuat pilihan...


Meskipun dia berkata sedemikian rupa, seseorang yang lemah sepertiku tidak akan bisa menghadapi kenyataan yang pahit ini..


Begitu banyak hal yang harus aku lakukan, namun semua itu hanyalah sebuah halangan bagiku untuk saat ini.


Maka dari itu, aku berusaha untuk melupakan segalanya... melupakan hari ujian itu, melupakan diriku, dan juga melupakannya...


Sesuatu yang harus aku lakukan hanyalah satu hal, dan seharusnya aku bisa menyadari hal itu sebelum ini semua terjadi.


Sungguh aku merasa bersalah kepadanya... aku tidak bisa menyadari perasaannya disaat dulu aku mengungkapkan perasaanku..


Andaikan semua ini terjadi dari jauh-jauh hari, maka aku bisa lebih menikmati waktu bersamanya... atau mungkin tidak seperti itu.


*Ding Dong!!


Jika benar hal itu akan terjadi disaat aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu waktu itu... maka aku tidak akan mendekatimu kembali, dan berpura-pura hanya menjadi seorang teman seperti yang dilakukan oleh Senki...


Dan aku sempat berpikir, apakah dia mengetahui tentang keadaan Sakura dulu... karena dia yang lebih mengenalnya sebelum diriku.


Jika benar begitu, maka aku mungkin seharusnya sadar dan merasa bersalah... karena diriku yang tidak tahu apapun tentang Sakura, dengan tiba-tiba datang menyukainya...


Lalu memutuskan hubungan sahabat ini dengannya...


"Maaf, siapa anda?."


Jika kamu menginginkan diriku untuk melupakanmu... maaf... aku tidak akan sanggup untuk melakukannya...


Dan karena itu aku melakukan hal ini... untukmu...


"Maaf... apa saya bisa bertemu dengan... Tuan Azumi Sakamura?."


"..."


Pelayan tersebut melihatiku dari ujung kaki sampai wajahku.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar."


Mungkin pilihanku terdengar begitu bodoh, namun hanya ini yang bisa aku lakukan..


Dengan mempercayai perkataan Erlic, dan membicarakan masalahnya langsung kepada Azumi...


Aku yakin aku sama sekali belum terlambat... karema Yuuki pasti sedang menungguku... dan itu yang pasti Sakura inginkan..


Karena dia adalah orang yang lebih mempedulikan sahabatnya, bahkan diriku pun sulit untuk mengambil posisi tersebut.


Sungguh disayangkan, namun itulah hal yang paling aku sukai darinya...


Semua yang dia miliki, bahkan dari detail sekecil apapun itu...


Tidak mungkin aku bisa melupakan semua itu...


"Kau... apa yang sedang kau lakukan disini?!."


"Azumi... aku perlu berbicara sesuatu denganmu..."