
"A-Aku akan memanggil dokter! kamu temani dia disini sebentar."
"Baik."
Kak Danki langsung keluar untuk memanggil dokter, ketika Senki sudah mulai berbicara dan membuka matanya perlahan.
"Senki, bertahanlah!."
"Aoyama... apa... itu kau..?."
Suaranya sangat pelan dan lemas, begitu tertatih-tatih dan sulit untuk berbicara panjang.
"Ya, aku disini... aku ada disini, maka dari itu kamu harus bertahan!."
Karena kondisinya yang sangat parah, dia hanya bisa menggerakkan bola matanya saja... wajahnya begitu kaku hingga bernafas pun sulit.
"Kau... disini..."
"..."
"Aku... baru saja... bermimpi tentangmu... saat kau berbica...ra, padaku... kalau kau... sangat senang... bisa bertemu... dengan banyak orang."
Aku hanya mengangguk tidak sanggup melihatnya berbicara seperti itu...
"Itu benar... aku sangat bersyukur, bisa bertemu dengan banyak hal... termasuk kamu "
"Syukur... lah."
"..."
"Maaf... aku, tidak bisa... menepati janjiku..."
"..."
Aku berusaha untuk menahan air mataku, agar dia bisa melihatku yang kini begitu kuat untuk menemaninya disini.
"Sepertinya... aku tidak bisa... merasakan hidup, lebih lama lagi... ya."
"Apa yang kamu bicarakan! kamu harus bertahan bagaimanapun itu!."
Dia hanya tertawa kecil mendengar perkataanku...
"Mustahil... dengan semua yang telah aku alami.."
"..."
"Aoyama... bagaimana hari-hari... yang kau lalui... saat ini?."
"Sangat menyenangkan... setiap harinya penuh dengan kesenangan."
"Baguslah... aku ikut.. senang."
Aku terpaksa berbohong kepadanya... hanya agar dia tidak memikirkan apapun lagi padaku, aku tidak ingin membuatnya lebih dari ini.
Hanya dengan berbicara kepadanya, membuatku sangat sulit untuk berbicara... karena aku tidak akan sanggup untuk menahan kesedihannya.
"Sebenarnya... banyak hal yang... ingin kukatakan padamu... namun, aku tidak bisa memikirkan apapun lagi didalam... kepalaku."
"Kamu tidak perlu memikirkan apa apa... cukup disini dan bertahan..."
Bersamaan dengan Kak Danki yang masuk bersama seorang dokter dan suster, dengan bergesa-gesa mereka memakai baju pelapis dan saat masuk kedalam ruangan ini, dokter itu langsung mengecek kondisi Senki dengan sangat cepat.
Melihat detak jantungnya, kondisi penyakitnya, dan juga memeriksa seluruh bagian yang seharusnya terbilang parah.
"Detak jantungnya sedikit lambat... Suster, tolong ukur suhu tubuh pasien."
"Baik."
Suster itu langsung mengukur suhu tubuhnya, dengan menempelkan alatnya ke dahi dan ketiaknya.
"Suhu tubuh 36,5 derajat."
"Baiklah, kita akan melihat kondisinya dengan baik lagi... untuk anggota keluarganya, tolong temani pasien disini.."
"Baik!."
Aku langsung mundur untuk memberikan tempat kepada Kak Danki, dan dia langsung menggenggam tangannya dengan lembut.
"Aku ada disini, kamu harus bertahan!."
"Abang... maaf... aku membuatmu kerepotan seperti ini."
"Apa yang kamu katakan, jangan memikirkan yang berat berat, cukup bertahan untuk sadar dan terus lihat aku."
Sementara dokter itu mengecek keseluruhannya dengan alat alat medis yang begitu canggih, aku pun tidak tahu dengan beberapa alatnya, hanya bisa melihat kesibukan mereka dibelakang.
Aku hanya terus berdoa dan berharap untuknya, agar dia bisa bertahan lebih lama dan terus berjuang...
Meskipun terbilang mustahil, aku tidak bisa menerima kenyataan yang seperti ini, dia adalah sahabatku... dan aku... harus mengharapkan yang terbaik untuknya...
"Dengan kondisi yang masih cukup parah... saya tidak menduga dia bisa sadar dan berbicara dengan baik..." Ucap dokter yang masih melihat Senki dengan sedikit terpukau karena dia yang bisa sadar ditengah koma.
"Aoyama..."
"..."
Saat dia memanggil namaku, Kak Danki langsung menyuruhku untuk berada disampingnya, dan mendekatinya.
"Ada apa?."
"Aku... hanya ingin tahu... bagaimana keadaan... Sakura?."
"..."
"Dia... apa dia... baik baik saja?."
"..."
Hingga aku menoleh kearah kak Danki, dan dia mengangguk kecil untuk memberikan isyarat agar aku memberitahukannya.
Namun aku tidak bisa... bagaimana bisa aku mengatakan hal itu disaat kondisinya yang seperti ini.
"Sakura... dia..."
"..."
Apa yang harus aku katakan? bagaimana jika kondisinya akan memburuk? dan jika begitu... apa aku tetap harus memberitahukannya??.
Aku terus memikirkannya dan tidak ada jalan lagi selain memberitahukan kepadanya... atau aku tidak akan memberitahukan apapun kepadanya...
Andai saja dia ada disini... aku hanya tidak ingin melihat Senki terluka lebih dalam...
"Senki, kamu harus mementingkan keadaanmu terlebih dahulu... jangan memikirkan yang lain."
Kak Danki membantuku untuk mengalihkan pembicaraan ini, dan menolongku disaat pikiranku begitu berantakan.
Aku sangat berterimakasih kepadanya...
"Oh... ya... sebenarnya... aku ingin memberitahuka-."
*Niitt!! Nitt!!
Tiba tiba tubuhnya kejang-kejang dan bergetar hebat.
"Senki? Senki! dokter! ada apa dengannya??."
Dokter yang berdiri dibelakang kami langsung kembali memeriksa keseluruhan kondisinya.
"Karena sadarnya dia saat ditengah kondisi kritis... tidak heran kalau tubuhnya mengalami penolakan dari hal ini... gejolak yang diberikan oleh penyakitnya membuatnya tidak bisa sadar lebih lama dari ini."
"Lalu harus bagaimana??."
"Sementara pasien akan diberikan obat penenang agar kejang-kejang ini berhenti."
Suster yang membantunya langsung menyuntikkan sesuatu kepada Senki, dan perlahan tubuhnya berhenti dan melemas.
"..."
Detak jantungnya pun sempat melemah, namun syukurnya kembali membaik walaupun tidak normal.
Kita semua menghela nafas dengan berat, setelah kepanikan sesaat yang terjadi padanya.
"Untuk sementara, dia akan beristirahat... kita tidak boleh membebani pikirannya... dia tidak akan bisa bertahan jika seperti itu."
"Kuhk!."
Seperti yang dikatakan oleh dokter, aku dan Kak Danki terpaksa keluar dari ruangan itu untuk membiarkan Senki beristirahat dari gejolak yang sempat terjadi kepadanya...
Tentunya sadarnya dia tadi memberikan peluang waktu lebih panjang untuknya... karena dia berhasil mempertahankan penyakitnya dan ditengah koma.
......................
"Maaf... saya membuatnya menjadi seperti tadi."
"Tidak, justru aku berterimakasih padamu... karena adanya kamu disini... hingga membuatnya menjadi sadar dan bangun dari komanya."
"Tapi... saat itu saya ingin berterimakasih."
"..."
"Anda menolong saya saat dia bertanya tentang Sakura... saat itu saya benar-benar tidak bisa mengatakan apapun kepadanya... karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan."
"Tidak apa-apa... tetapi, kalau ada kesempatan lainnya... apakah aku boleh memberitahukan soal Sakura kepadanya?."
"Kenapa..."
"Sebenarnya, sampai saat itu... dia terus mengigau mengatakan namamu dan juga Sakura... hingga pastinya kalau dia kembali sadar, dia akan bertanya padaku soal itu."
"..."
"Dan juga di saat-saat terakhir ini... kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu kepadanya... biarkan dia mengetahui yang sebenarnya... aku sudah tidak ingin melihatnya... mengharapkan sesuatu.."
"..."
Perkataannya memang benar... jika tidak ada kesempatan untuknya selamat dari semua penyakit yang dideritanya...
Sudah sebaiknya kita memberitahukan sesuatu yang dia inginkan.. karena dia ingin tahu soal keadaan Sakura, saat di akhir.
Namun saat melihat reaksi tubuhnya setelah beberapa menit sadar, hingga mengalami kejang-kejang... aku merasa sangat khawatir akan hal itu terulang kembali.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu repot-repot... saya pulang sendiri saja."
"Tetapi aku aku sudah membawamu kesini... jadi aku harus bertanggungjawab mengantarmu kembali."
"Dari awal saya yang meminta kepada anda untuk ikut menemuinya disini... dan juga anda harus menemaninya, jika dia sadar kembali seperti tadi... kalau tidak ada yang menemaninya.. saya merasa kasihan."
"Baiklah, jika kamu ingin seperti itu..."
"Kalau begitu saya pamit... sampaikan kepada Senki jika dia sudah sadar lagi... kalau aku tidak akan melupakan dirinya."
"Tentu saja."
Dengan senyum tipisnya, aku pergi dari sana sendirian...
Tidak ada takdir yang bisa kita ketahui... apapun bisa terjadi hanya dalam sekejap mata...
Apa yang dialaminya... benar-benar sebuah kejadian yang menggetarkan pikiran dan juga hatiku...
Sungguh...
Dunia ini benar-benar berjalan dengan tanpa dugaan...