
"Ayo, cepatlah."
"Kenapa harus malam malam seperti ini? aku sudah sangat mengantuk."
"Aku tidak bisa tidur tahu! temani aku jalan-jalan sebentar."
"Kau bisa melakukan hal lain selain berjalan-jalan di malam hari kan."
"Pikirkan saja manfaatnya, ini juga baik untuk kamu."
"Baiklah baiklah..."
Saat itu, dia datang ke rumahku diam diam melewati jendela kamarku... entah apa yang dia pikirkan, tapi tanpa memberitahukan hal ini padaku sebelumnya, dia datang dan menyuruhku untuk keluar diam diam.
"Melakukan hal seperti ini lumayan menyenangkan bukan? suasananya yang hening dan menenangkan."
"Ya... lumayan."
"Karena orang tuaku pergi beberapa hari yang lalu... aku sendirian di rumah dan sama sekali tidak ada seseorang yang menemaniku... biasanya mamaku mengajarkanku sesuatu jika pada waktu seperti ini."
"Sesuatu?."
"Hmm... bisa dibilang banyak hal... semua yang mama ketahui, dia memberitahukan semuanya kepadaku."
"Bukannya bibi yang menjaga rumahmu ada disana?."
"Dia selalu sibuk mengurus rumahnya, tidak ada waktu untukku."
"Jadi, aku hanya menjadi seseorang yang mengisi waktu bosan dirimu saja?."
"Hanya kamu orang yang bisa aku mintai tolong."
"Bagaimana dengan Senki? dia bisa datang ke rumahmu segera kalau kau menghubunginya."
"Sejak Senki pindah ke luar daerah, dia selalu sibuk dan tidak bisa datang... entah kenapa, aku merasa semakin jauh dengannya."
"..."
"Apa kamu tahu sesuatu?."
"Eh? ah t-tidak..."
"Hm? wajahmu terlihat tidak menyakinkan." Dia mendekatiku dan menatap wajahku dengan begitu dekat.
"A-Apa?."
"Aku hanya merasa ada yang kamu sembunyikan dariku, benar?."
"Sama sekali tidak, aku tidak menyembunyikan apapun darimu."
"Benarkah?."
"Um..."
"Kalau begitu baiklah." Dia pun kembali berbalik dan berjalan.
Aku yang saat itu masih merasa sedikit canggung dan resah, karena masalah Senki yang semakin hari dia menjauhiku dan tidak hanya aku saja... dia juga menjauhinya seperti dia menjauhiku... dan aku ingin mempertanyakan soal itu, hanya saja aku merasa sedikit ragu-ragu.
"Anu, Sakura... aku ingin membicarakan tentang Sen-."
"..."
Aku terhenti begitu melihatnya yang berdiri diam sambil melihat sebuah tempat...
"Ada apa?."
Sebuah taman dengan terdapat taman bermain kanak-kanak...
"Biasanya, saat sore atau siang hari... tempat ini sangat ramai."
"Karena banyak orang yang bermain disini."
"Tetapi sekarang, tidak ada satupun orang kecuali kita berdua... suasananya jadi sangat nyaman."
"Kau benar..."
"Andai saja jika taman ini selalu sepi seperti ini, mungkin kamu akan selalu ikut denganku bermain disini dari dulu."
"Maaf saja, tapi aku memang tidak bisa menahan diri jika berada ditengah keramaian."
"Kamu benar."
Dia berjalan masuk kedalam taman dengan melewati pagar kecil yang mudah dilewati.
"Apa yang kau lakukan?."
"Aku ingin bermain ayunan."
"Jangan bersikap seperti anak kecil."
"Terkadang kita membutuhkan sebuah hiburan meskipun bukan untuk usia kita."
"Dasar..."
Aku hanya bisa mengikutinya masuk kedalam taman dan berjalan ditengah rerumputan lalu duduk diatas ayunan.
"Ternyata aku masih merasakan sedikit rasa menyenangkan." Sambil tertawa kecil saat dia mengayunkan tempatnya.
"Jangan terlalu tinggi! nanti kau bisa jatuh."
"Um, aku tahu."
Dia pun membuat ayunannya semakin cepat, dan entah mengapa dia justru kegirangan saat ayunan itu naik keatas udara.
"Waaah, tinggi sekali."
"Hei sudah aku bilang jangan terlalu tinggi!."
"Tapi ini menyenangkan, Ao, kamu juga coba."
"Aku tidak ingin mencobanya."
"Ayolah, ini sangat menyenangkan."
Karena bujukan darinya, aku mencoba coba perlahan mendorong dan menghempaskan ayunannya.
Perlahan-lahan ayunannya mulai naik lebih tinggi, dan berayun lebih cepat.
"Cobalah lebih cepat lagi."
"Aku sedang mencobanya."
Aku berusaha mengayunkan tubuhku agar lebih kuat, dan ketika berada dibawah... aku melesat keatas begitu tinggi, dan diriku terpukau saat melihat pemandangan kota dari taman bermain, dan sinar rembulan yang menyinari seluruhnya.
"..."
Seketika aku terdiam sesaat begitu merasakannya...
Pemandangan yang tidak pernah aku lihat, kini menjadi sebuah hal yang pertama kali untukku lihat.
"Bagaimana?."
"Aku bisa melihat kota dari sini... sangat indah."
"Iya kan."
"..."
"Sekarang kamu yang terlihat seperti anak kecil." Ejeknya sambil menertawakan diriku yang saat ini masih terduduk mengayun diatas ayunan.
"A-Aku hanya mengikuti apa yang kau suruh!."
"Hahaha.. baiklah, aku minta maaf."
"..."
"Tcih!."
"Kau kedinginan?."
"Um... sepertinya aku memakai jaket terlalu tipis..."
Melihatnya yang kedinginan aku pun berdiri dan melepaskan jaketku untuknya.
"Aku baik baik saja kok."
"Kau kedinginan, dan aku bisa menahannya.."
"Tapi ini milikmu... aku tidak bisa menerimanya... kamu bisa kedinginan."
"Jika kau sakit, aku tidak ingin bertanggung jawab, dan aku saat ini lebih kuat menahannya daripada kau... jadi pakailah."
"Duh..."
Dia pun pasrah dan memakai jaketku...
"Terima kasih..."
"Ya..."
Seketika suasananya menjadi sedikit canggung, karena tidak ada yang bisa aku bicarakan kepadanya..
Berdua diatas ayunan sambil menatap bulan dan bintang-bintang... membuat diriku sedikit sulit untuk menatap wajahnya.
"Hei Ao... setelah lulus nanti, kamu akan bersekolah dimana?."
"Aku ingin bersekolah di sekolah yang bagus, dan tempat dimana aku bisa mendapatkan beasiswa untuk ke jenjang selanjutnya."
"Tapi dimana?."
"Dimana saja..."
"Maksudku, apa ada sekolah yang kamu incar?."
"Asterisk... disana bukannya berisi murid-murid dari keluarga yang kaya dan besar?."
"Tidak hanya kasta yang mereka inginkan... tetapi nilai."
"Kalau kamu aku yakin pasti kamu bisa melakukannya."
"Bagaimana denganmu?."
"Aku... mungkin aku masih memikirkannya... masih ada waktu satu tahun lebih."
"Begitu ya..."
"Tapi... bagaimana jika kita memiliki tujuan sekolah yang berbeda? dan berpisah."
"Kita masih bisa bertemu kembali... hanya karena berbeda sekolah, bukannya kita tidak bisa bertemu lagi."
"Um... aku ingin tetap bersamamu.."
"Maksudmu?."
"Eh, tidak! m-maksudku jika kita bisa satu sekolah lagi, mungkin terdengar menyenangkan.. bersama Senki juga."
"..."
"..."
"Sakura... bagaimana menurutmu... tentang Senki."
"Maksudnya?."
"Kau sudah lama mengenalnya, dan aku tahu kau pasti mengetahui sebagian besar tentangnya."
"Karena kita sudah bersama sejak taman kanak-kanak... aku sudah mengenalnya cukup dekat... seperti yang kamu tahu, dia sangat tegas dan baik... meskipun terlihat begitu keras... namun didalam hatinya sangat lembut."
"..."
"Maka dari itu... aku tidak ingin kehilangan seseorang sepertinya."
"..."
Saat itu, hariku terasa begitu sesak... dan didalam pikiranku seperti ingin melakukan sesuatu yang tidak akan membuat diriku menyesal...
Aku menyukainya, dan sudah lama aku memendam perasaan ini padanya...
Namun, aku pikir aku tidak bisa menggantikan posisi Senki yang kini sudah begitu dekat dengannya.
Berbeda denganku, kita baru bertemu saat sekolah dasar.. dan dari awal saat aku melihat mereka... mereka terlihat sangat dekat, seperti layaknya seorang saudara.
Hal yang aku ketahui, jika Senki menyukai Sakura... dan aku pun juga menyukainya.
Kita berdua saling menyukainya, hingga mungkin ini yang membuat akhir-akhir ini Senki menghindari diriku... dan juga Sakura.
Bagai pilihan yang sulit untukku... namun keduanya benar-benar berharga bagi diriku.
"Ao?."
"Eh ya, ada apa?."
"Kenapa kamu melamun seperti itu, membuatku takut saja."
"Maaf, mungkin aku sudah cukup mengantuk."
"Begitu ya... baiklah, sepertinya kita sudah cukup untuk menghabiskan waktu disini."
Dia berdiri dan merapihkan bajunya yang sedikit kusut.
"..."
"Ada apa? bukannya kamu ingin pulang?."
"Oh ya, benar..." Aku yang masih melamun kembali disadarkan olehnya dan aku langsung bangkit dari tempat ayunan tersebut.
Kita berdua pun berjalan bersama pulang, namun sebelum itu aku sebagai seorang laki-laki harus mengantarkannya pulang terlebih dahulu..
"Rumahku jaraknya cukup jauh dengan rumahmu, apa tidak apa-apa?."
"Sudah seharusnya aku menemanimu... malam malam seperti ini, bagaimana bisa aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian."
"Apa kamu takut kehilanganku?."
"Aku tidak mengatakan itu."
"Hha, sayang sekali... aku kira kamu takut kehilanganku."
"Memangnya kau bisa pergi kemana? hanya pulang ke rumahmu saja."
"Kalau memang aku benar-benar pergi... apa yang kamu lakukan?."
"Tidak ada."
"Bohong."
"Benar, aku tidak melakukan apapun."
"Aku tidak percaya, tapi jika itu benar... aku sedikit kecewa, hmph!."
"Ha? jika memang kau yang meninggalkanku... seharusnya kau yang bersalah."
"..."
"Meninggalkan seseorang tanpa memberitahukan padanya... menurutku itu cukup kejam."
"A-Apa yang kamu katakan, aku hanya bercanda mengenai tadi... jangan dianggap terlalu serius, duh.."
"Kau sendiri yang mulai membicarakannya."
"Kalau begitu kita bicarakan yang lainnya."
"Tidak bisa, kau sudah sampai di rumahmu."
"Oh ya.. benar juga.." Sekilas terlihat rasa kecewa di wajahnya, namun dia masih bisa menyembunyikannya didepanku.
"Kalau begitu aku pulang."
"Ao, tunggu."
Saat aku berbalik dan ingin pulang, suaranya yang memanggilku dari belakang membuat langkahku terhenti dan berbalik kembali kearahnya.
"Ada apa?."
"Itu... anu.."
"Ha?."
"Apa kamu... mau berjanji padaku?."
"Berjanji? tentang apa?."
"Sampai kapanpun itu... aku ingin kamu untuk tidak pernah meninggalkanku... apapun itu alasannya."
"..."
Wajahnya yang memerah tidak terlalu terlihat sebab cahaya bulannya sedikit merubah warna pada wajahnya.
"M-Maaf... permintaanku terlalu egois, tidak seharusnya aku mengatakan hal i-."
"Aku berjanji."
"..."
"Aku berjanji, tidak akan meninggalkanmu, apapun itu alasannya."
"..."
Jarak kami yang sedikit jauh, namun aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.
Setelah sadar akan air matanya yang jatuh, dia langsung menutup wajahnya dengan lengan jaket milikku yang sedikit kebesaran untuknya.
"Maaf... aku hanya merasa sedikit senang ketika mendengarnya.."
"..."
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya yang begitu lucu... rasanya perasaan ini benar-benar tidak bisa menghilang begitu saja.
"Eh? oh tidak! aku membuat jaket milikmu kotor."
"Tidak apa-apa, kau bisa mengembalikan besok."
"M-Maaf.."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu, aku masuk dulu."
"Ya..."
"Selamat malam... Ao."
"Selamat malam."
"..."
Setelah senyuman manisnya yang diberikan kepadaku, dia pun bergegas masuk kedalam rumahnya sehingga aku tidak bisa menikmati senyuman itu terlalu lama.
Apa yang ia katakan tadi terdengar sedikit egois, namun aku tidak keberatan untuk melakukannya... karena... aku juga tidak ingin meninggalkannya.
"Baiklah, saatnya pu...lang."
"Aoyama..."
"Senki..."