My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 79



"Tentang pengawal Azumi yang semalam? maksudmu Lawliet Erlic?."


"Ya... apa kau tahu sesuatu tentangnya?."


Setelah apa yang sudah aku alami saat ini, sepertinya aku akan terus menghadapi orang yang bernama Lawliet Erlic ini... karena dia bisa saja memiliki tujuan tersembunyi dari perintah Azumi...


Jadi aku mencari tahu lebih dalam tentangnya, dan aku memanggil Sakura kedalam perpustakaan untuk membahas hal ini.


"Aku tidak tahu lebih dalam... tapi intinya, dia adalah manusia yang diperjualbelikan didalam pasar gelap."


"Diperjualbelikan?." Aku sedikit terkejut saat mendengar itu.


"Um... dia akhirnya dibeli oleh keluarga Sakamura untuk dipekerjakan untuk menjadi pengawal Azumi.."


"Bagaimana dengan kedua orangtuanya?."


"Orang tuanya... tidak ada informasi tentang kedua orang tuanya."


"..."


"Dan orang orang yang gila akan uang menjadikannya sebagai barang jual.."


"Sungguh tidak ada hati nurani.."


Aku sedikit berpikir mengapa dia begitu sensitif saat aku membicarakan tentang hubungan sesuatu hal padanya...


Mungkin karena dia dari kecil sudah menderita tanpa kedua orang tuanya, dan dijadikan sebagai barang yang diperjualbelikan... sehingga ia tidak percaya lagi dengan semua yang berhubungan dengan itu.


"Tetapi aku pernah berbicara padanya... dan dia begitu sangat mempercayai tuan Azumi, hingga menjadi asisten pribadinya yang paling dipercaya... dia tidak akan pernah berbohong maupun menentang perintah tuannnya.."


"Seperti layaknya sebuah asisten robot.."


"Seperti itulah faktanya..."


"Kalau begitu... aku sudah cukup banyak mendengar tentang orang itu... terima kasih."


"Aku tidak keberatan sih, tapi aku sedikit penasaran... kenapa kamu ingin mengetahui tentangnya?."


"Sebenarnya, tadi pagi aku bertemu dengannya..."


"Maksudmu, dia bersekolah disini?."


"Tidak, hanya saja dia terlihat bebas didalam area sekolah."


"Atau ada hal lain yang membuat dia ada disini?."


"Seperti?."


"Sekarang kamu sudah bekerja kembali menjadi pengawal Yuuki bukan? dan pastinya Azumi bisa mengetahui informasi tersebut dengan mudah... lalu dia mengirim asistennya untuk mengawasi kalian berdua agar kalian berada terus dalam pengawasannya."


"Apa apaan itu? benar benar menggangguku."


"Jika Yuuki mengetahuinya... dia akan benar benar marah dengan apa yang Azumi rencanakan.."


"Sebaiknya jangan memberitahukan padanya..."


"Hm?."


"Aku ingin melihat lebih lanjut tentangnya... biarkan situasi ini berlangsung sedikit lebih lama lagi."


"Jika itu yang ingin kamu lakukan, aku tidak ingin menyangkalnya.."


"Terima kasih."


"Ya... oh iya! aku ada sesuatu hal yang ingin aku tunjukkan kepadamu."


"Apa itu?."


Dia membuka jari telunjuknya dan menempelkannya kearah bibirnya.


"Rahasia.... lihat saja nanti saat pulang sekolah."


"..."


"Terserahmu saja..."


"Ah! kalian ternyata ada disini..."


"Yuuki... ada apa?."


Seketika kami merasa jantung kita hampir terguncang, karena tiba tiba dia muncul saat kita sedang membicarakan hal yang tidak boleh ia dengar...


"Aku ingin mengajak kalian makan siang bersama, tapi kalian sudah meninggalkan kelas duluan... sedang membicarakan sesuatu?."


"T-Tidak, kami hanya mengobrol sedikit tentang tugas yang diberikan pada pelajaran sebelumnya saja..." Sakura bisa mengatasinya dan memberikan alasan yang bagus.


"A-Apa aku mengganggu?." Yuuki merasa tidak enak pada kami.


"Tidak tidak, justru kami yang merasa tidak enak karena kamu mencari-cari kita berdua, benar kan, Aoyama?."


"Y-Ya, itu benar..."


"Kalau begitu, ingin makan siang bersama?."


"Um!."


Dan kami bertiga pun pergi keluar perpustakaan hingga kami menyadari jika dia berada didekat pintu luar perpustakaan...


Aku memberikan kode pada Sakura dengan mencoleknya, dan dia pun juga melihat kalau dia benar-benar berada di sekolah ini.


Kami berdua sekarang mengerti, jika ia hanya mengikuti Yuuki, bukan mengikuti diriku maupun yang lain... karena jika dari awal pembicaraanku dengan Sakura sudah ia dengar semua, Azumi akan melakukan sesuatu yang lebih sulit lagi untuk diatasi jika dia tahu...


.


.


.


Beberapa jam kemudian, akhirnya aku sudah menyelesaikan sekolahku hari ini, dan begitu kita semua ingin pulang, Sakura langsung membawaku ketempat sesuatu yang ingin ia tunjukkan... setibanya disana sebuah mobil hitam berhenti didepanku dan Sakura.


Saat aku melihat wajahnya, aku langsung mengenalinya.


"Eh? bibi.."


"Nak Aoyama? sudah lama bibi tidak melihatmu! bagaimana kabarmu?."


"B-Baik baik saja.."


Begitu beberapa tahun yang lalu, saat Sakura menghilang pergi dariku, aku pun juga sudah tidak melihat ibu dan ayahnya Sakura lagi.


"Kamu sudah tumbuh besar ya! Aoyama."


Disampingnya ayahnya Sakura yang berada di tempat duduk juga langsung menyapaku.


"Paman..."


"Ini yang ingin aku tunjukkan padamu... saat aku bilang jika aku bertemu denganmu, orang tuaku langsung bergegas pulang dari luar negeri untuk melihatmu.."


"Dulu bibi sudah menganggapmu seperti anak bibi sendiri... jadi bibi sempat khawatir saat kita semua pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padamu."


"Tidak perlu khawatir... aku juga sudah tahu keadaannya saat itu dari Sakura..."


"Kalau begitu Aoyama! bagaimana kalau kita semua pergi makan makan untuk merayakannya?." Penuh semangat, ayah Sakura mengajakku untuk pergi makan malam bersama mereka.


"Benarkah?."


"Kamu sudah lama bukan? tidak makan bersama-sama."


Sakura melihatku dengan perasaan yang juga gembira karena mungkin dia juga baru bertemu orang tuanya setelah orang tuanya bekerja diluar negeri.


Aku pun juga tidak enak untuk menolak ajakan mereka...


"Kalau begitu, aku tidak keberatan."


"Oh iya! dimana Mai? dulu dia masih sangat kecil... apa sekarang dia ada disini?."


"Kalau Mai, Sakura sudah memanggilnya... sebentar lagi dia datang kok."


"Kak Sakura! Kakak!."


Baru saja dibicarakan, Mai langsung berlari menghampiriku... tetapi saat dia melihat ayah dan ibu Sakura, dia langsung menghentikan langkahnya..


"B-B-Bibi... dan Paman..."


Bibi memberikan senyuman padanya dengan lembut.


Aku juga tidak bisa memberikan ekspresi dengan datar... karena kami berdua sudah menganggap mereka seperti orang tua kami saat kecil, dan selalu membantu nenek setiap hari...


"Bibiii!!!." Dia langsung berlari dan memeluknya.


"Mai... kamu sudah menjadi gadis yang cantik... bibi sampai terkejut melihatmu."


"..."


"Aku jugaa! aku sangat rindu sekali dengan bibi dan juga paman."


Saat mereka yang sedang melepas rindu, Sakura mendekatiku dengan perlahan-lahan.


"Ada apa?." Aku menyadarinya dan langsung mempertanyakan gerak geriknya.


"Apa kamu terkejut?."


"Tentu saja sedikit terkejut... siapa yang bisa menduga hal seperti ini terjadi."


Dia tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan jarinya.


"Mai, apa kamu mau makan bersama?."


"Makan bersama?? tentu saja Mai mau!."


"Kalau begitu, kita langsung berangkat saja... sebelum jalanan malam penuh dengan kendaraan."


Aku dan Mai pun masuk kedalam mobil mereka, tetapi entah mengapa aku berada duduk di posisi pinggir dan disampingku ada Sakura yang duduk sangat dekat denganku hingga bahu kami saling bersentuhan.


Saat Mai, Bibi dan juga Paman sedang asik mengobrol, aku hanya diam karena sebuah kecanggungan ini...


Awalnya aku biasa saja, tetapi setelah meliriknya dan melihat wajahnya yang memerah, aku pun tidak bisa bersikap biasa saja dalam situasi ini...


Saat mobil ayahnya Sakura berbelok begitu cepat, tubuhnya begitu cepat terjatuh disampingku.


"M-Maaf!."


"Tidak... apa apa... ( Sangat canggung!! )"


Dan begitu ibunya melihat kami, beliau langsung mengganti topik ceritanya mengarah ke cerita Sakura.


"Aoyama, apa kamu tahu? saat kita pergi, Sakura begitu lama menangi-."


"Mamaa! j-jangan membicarakan hal itu lagi!."


Sebelum ibunya menyelesaikan ceritanya, Sakura langsung menghentikannya...


"Baiklah, mama tidak akan menceritakan kejadian itu lagi..."


Sakura pun lega mendengarnya, tetapi tidak semudah itu dia bisa menutupinya...


"Tentang itu? ahahaha!! benar, saat itu Sakura menangis sambil memegang jepit rambut yang Aoyama berikan.."


Ayahnya dengan santai langsung mengumbarnya..


Situasinya langsung menjadi sangat berantakan, Wajah Sakura langsung seketika memerah, dan aku pun juga sedikit tetkejut walaupun masih bisa menahan ekspresi datarku... meskipun aku sedikit gugup jadinya.


"Duh papa, padahal Sakura bilang jangan menceritakannya.."


"Eh? benarkah? maaf kalau begitu... padahal papa ingin menambahkan ceritanya saat Sakura ingin-."


"Hentikan cerita tentangkuu!!!."