My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 25



"Haahhh... akhirnya aku bisa istirahat." Setelah masuk kedalam rumahku, Mai menaruh tasnya sambil pergi kekamar untuk mengganti baju.


Setelah kami sampai dirumah dan juga waktu sudah menunjukkan pukul 07.21 malam, terpaksa Mai untuk menginap disini karena dia juga masih akan ikut padaku besok ke festival sekolah hari kedua.


Festival budaya sekolah dilakukan selama 3 hari dan pada hari ketiga waktu menuju petang adalah pentas seni setiap kelas yang dilakukan didalam gedung olahraga yang cukup besar, cocok untuk melakukan berbagai hal disana.


Lalu malamnya akan diadakan pesta api unggun dengan sebuah api unggun yang cukup besar dan para siswa akan berkumpul disekitar sana untuk menikmati masa muda mereka yang penuh dengan rasa bahagia.


Walaupun aku sebagai pengecualiannya, dan ikut melaksanakan festival ini tanpa adanya rasa senang sedikitpun.


"Hm? kakak, kenapa kamu melamun saja dari tadi disana?."


"H-Hah?."


"Aku bilang, kenapa kamu berdiri didepan pintu seperti itu dari tadi?."


"O-Owh maaf.." Aku pun sadar jika aku dari tadi hanya berpikir tidak jelas sambil melamun didepan pintu luar.


"Huuhh... rasanya sedih dan senangku campur aduk.."


"Apa maksudmu?."


"Kakakku kini sudah merasakan masa romantisnya... aku merasa sudah tidak bisa seperti dulu kembali." Sambil berpura pura merasa sedih..


"Apa yang kau katakan.."


"Yaa... sepertinya aku harus lebih bisa mengurus diriku sendiri... karena kakakku juga sedang sibuk dengan masalahnya.."


"Sungguh... dari tadi apa yang kau katakan.."


"Lalu kenapa tadi kakak melamun didepan pintu selama lebih dari 5 menit?."


"Aku hanya sedang berpikir sesuatu.."


"Sesuatu? sesuatu itu apa?."


"Kenapa aku harus memberitahukan kepadamu.."


"Tentang kak Sakura?."


"Sudah kubilang kenapa harus mengatakannya kepadamu."


"Tentang Touya?."


"Siapa yang ingin memikirkan orang itu."


"Tentang aku sendiri?.'


"Setiap hari memang aku selalu memikirkan hidupmu.."


"K-Kalau yang itu jangan terlalu jujur!." Tujuan ingin membuat kakaknya mengatakannya, dia malah mendapatkan serangan..


"Bagaimana aku bisa berbohong tenta-."


"Bagaimana dengan kak Yuuki?."


"..." Terdiam sejenak..


"Huhh, ternyata memang kak Yuuki.."


Setelah dia menebak benar apa yang sedang kupikirkan dari tadi dan melihatku terdiam tak berkata apapun... entah perasaan apa yang Mai rasa..


"Apa yang kakak sukai dari dia?." Sambil mengambil posisi senyaman mungkin.


"Ha? sejak kapan aku mengatakan jika aku menyukainya?."


"Jadi, kenapa kamu memikirkannya?."


"Aku hanya sedikit bingung dengan apa yang dia pikirkan.."


"Memangnya ada apa?."


"Ceritanya sedikit panjang.."


"Ceritakan saja, duduk disini cepat!."


"Aku sudah lelah, buat apa aku menceritakannya juga padamu."


"Hanya sebentar saja... anggap saja istirahat."


"Aku sangat lelah.'


"Ayolah."


"Kapan kapan saja.."


"Nanti akan aku buatkan ikan presto kesukaanmu."


................


"Jadi begitu..." Akhirnya aku menjelaskan semuanya ke Mai.


"Jelas sih... kakak memang tidak pernah peka dengan perasaan orang lain.."


"Kenapa aku yang salah?."


"Memang kakak yang salah... aku jadi sedikit kesal mendengar ceritamu.."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?."


"Entahlah, pikirkan saja sendiri.." Dia berdiri sambil menguncir rambutnya menjadi bentuk ponytail.


"Jika kau menyuruhku seperti itu, aku juga tidak tahu.."


"Kalau begitu biar aku beritahu bagaimana cara memahami perasaan orang lain.."


"Bagaimana?."


Sambil menggunakan celemek merah muda berumbainya dia berbalik kearahku.


"Woah, sejak kapan kau membelinya? itu sangat imut... harusnya kau mengatakannya lebih awal agar aku bisa membeli banyak..."


"A-Aku ingin mengujimu! jangan malah menatapku seperti itu, bodoh!." Wajahnya sangat merah saat melihat kakaknya yang sangat antusias melihat dirinya.


"Jadi... apa ujiannya?."


"Ehem... menurutmu, k-kenapa aku membeli ini padahal masih ada yang bagus?."


"Hm... karena kau menyukainya?."


"Salah.."


"Karena sedang diskon?."


"Salah."


"Kau suka dengan warnanya?."


"Aku memang suka dengan warnanya, tapi tetap salah.."


"Kau ingin mengoleksinya?."


"Tidak.."


"Hmm.... ah! sepertinya aku tahu.."


"A-Apa!." Dengan wajah yang percaya masih ada harapan.


"..."


"Kau sedang cosplay menjadi maid yang kau lihat didalam seri anime bukan?." Dengan yakin aku menjawabnya..


"..."


"Benar kan?."


"..."


"K-Kenapa kau terlihat marah?.'


"..."


"M-Mai... bajunya jangan diremukkan... nanti kusut dan aku tidak bisa memfotony-."


*Buk!!


................


*Klek!


"Huh... benar benar parah, jangan jangan EQ-mu itu rendah ya?." Sambil memasukkan ikan setengah jadinya itu kedalam oven.


"Mwana kutahu..( Aku benar benar tidak boleh terkena pukulannya lagi...)" Pipinya yang sedikit bengkak karena tinjuan dari adiknya yang sangat menyeramkan.


"Seharusnya kakak besok berbicara kepadanya, kamu membuatnya merasa bersalah.."


"Hah? kenapa aku harus melakukan hal yang sangat merepotkan seperti itu? aku juga tidak peduli dengan yang dia kata-."


Saat aku melihatnya, dengan panci hitam itu dia menatapku dengan penuh rasa amarah yang akan memberikan sebuah ciuman dari bawah panci itu.


"M-Maaf, baiklah akan aku usahakan sebisanya..( Menyeramkan! gadis yang sudah tumbuh besar itu menyeramkan!..)"


"Aku juga akan disana, jadi jangan harap kakak bisa bebas..."


"Y-Ya...."


Beberapa menit kemudian, masakannya sudah matang dan aromanya tercium sangat harum hingga menusuk kedalam hidungku.


"Aromanya sangat enak." Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kakak makan saja terlebih dahulu, aku ingin mandi."


"Kalau begitu aku akan menunggumu."


"Duluan saja aku bilang.."


"Tidak, mana mungkin aku mendahulukan orang yang memasaknya."


"Kalau begitu, aku akan lama loh."


"Biarkan saja, berapa lama pun itu aku akan menunggumu... karena lebih baik makan bersama.."


"Ternyata kamu peka juga... apa kepekaannya hanya tumpul saat tentang perempuan saja?." Gumamnya dengan volume yang kecil.


"Apa yang kau katakan?."


"Tidak ada apa apa, dah aku mandi dulu.." Sambil menutup pintu kamar mandi.


"Ya.."


Dan tidak lama kemudian saat aku sedang menata piring dan minum diatas meja, Mai keluar dari kamarnya.


"Haahh segar sekali!.."


"Kalau begitu duduklah, sepertinya masih hangat.."


"Mm!."


Lalu kami berdua menikmati makanan itu dengan lahap..


"Enak! sepertinya sudah lama aku tidak merasakannya.."


"Benarkah? tapi wajahmu terlihat biasa saja.."


"Wajahku memang seperti ini.."


"Kakak harus bisa mengekspresikan diri kakak agar lebih terlihat meyakinkan."


"Memangnya apa yang kurang dari wajahku?."


"Matamu... walau kamu tersenyum ataupun marah, matamu tetap berbentuk seperti tidak ada emosi apa apa.." Sambil menunjuk wajahku dengan sendoknya.


"Benarkah? sangat disayangkan tapi ini memang seperti ini..."


"Huh... padahal wajahmu cukup meyakinkan, tapi kenapa kamu tidak pernah laku.."


"Kau sedang mengejekku?."


"Tidak, aku tidak mengatakan jika kamu tidak bisa berhubungan dengan orang lain..'


"Itu... jelas jelas kau sedang mengejekku.."


"Aku tidak merasa seperti itu.."


"Kalau begitu... makan juga sayurannya." Aku menaruh beberapa sayuran diatas piringnya.


"K-Kakak! seenaknya menaruh tomat disini! aku kan tidak menyukainya.."


"Kalau kau tidak memakannya, kau tidak akan sehat.."


"Ini hanya tomat, tidak berpengaruh apa apa!."


"Mana ada, sudahlah makan saja.."


"Hmph!."


Lalu kami melanjutkan menyantap makanannya hingga habis..


"Aku sudah kenyang... terimakasih makanannya."


"Sama sama... jika ingin memakannya lagi, jangan lupa jika itu tidak gratis.."


"Ya ya, jangan lupa juga untuk sikat gigimu." Aku sambil berjalan kearah toilet untuk sikat gigi.


"Ya.."


................


"Tiba tiba aku mengantuk sekali... sepertinya malam ini aku tidak bisa belajar dulu.."


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:34 dan setelah aku bermain game sebentar, aku merasa mengantuk dan tidak bisa belajar dengan keadaan seperti ini.


Lalu aku berbaring diatas kasurku dan melamun sebentar sambil melihat langit langit.


*Niittt Niittt


Suara dering telepon dari ponselku yang berada diatas mejaku berbunyi, lalu aku mengangkatnya dengan lemas.


"Halo.."


"Oh Ao.."


"Sakura? kenapa kau meneleponku malam malam seperti ini?."


"Itu... apa kamu sedang ada masalah dengan Yuuki?."


"Ah.. sedikit.."


"Begitu ya... dia terus memikirkannya sampai melamun saat mandi maupun makan, bahkan dia hampir saja terjatuh dari tempat tidur.."


"Sampai segitunya?."


"Aku juga tidak tahu, dia hanya menggumam tidak jelas seperti kebingungan.."


"Seperti itu..."


"Sebaiknya kamu berbicara kepadanya besok... aku yakin dia ingin mengatakan sesuatu..'


"Tapi apa dia tidak mendengarkan kita?."


"Dia sudah tidur, setelah berguling beberapa kali sambil memeluk guling nya lalu tertidur.."


"Pasti kau kesulitan untuk tidur bersamanya.."


"Itu sudah biasa... dari kecil dia memang seperti itu... kadang sebelum tidur maupun saat tidur." Sambil tertawa kecil.


"Begitu ya.."


"Sudah dulu ya, aku takut membangunkannya.."


"Ya.."


"Selamat malam... dan juga selamat tidur.."


"Baiklah, kau juga.."


Lalu dia menutup teleponnya.


"Hahh... berbicara kepadanya huh? terlihat akan merepotkan sekali... tetapi mungkin tidak masalah."


Lalu aku mematikan lampu dan langsung tertidur dalam beberapa menit sambil mendengarkan alunan musik.


.


.


.


*Ceklek